
Di meja makan, Luna duduk diantara Briand dan Bianka. Ia sedang tidak ingin duduk di samping Boy. Ibu Lidya dan ayah Mirza faham dengan suasana hati Luna. Mereka membiarkannya karena itu urusan Luna dan Boy.
Boy selesai mandi dan sudah rapih, ia ikut bergabung di ruang makan.
"Malam semuanya" sapa Boy.
"Malam" jawab mereka. Kecuali Luna, ia hanya diam.
Melihat Luna tidak duduk ditempat yang biasa. Boy menyuruh Bianka untuk berpindah
"Stt. Biy.. Geser dong" bisik Boy pada Bianka
Bianka mengangguk dan pindah tempat duduk.
", terimakasih adikku yang cantik". Boy duduk di kursi yang tadi bianka tempati
"Iya kak"
Menyadari Boy di sisinya, Luna lantas memalingkan wajahnya ke arah Briand dan memiringkan kursinya menghadap Briand, sambil menopang pipinya dengan tangan yang di tekukan ke meja makan. Briand memandang Luna dengan keheranan. Luna tersenyum pada Briand
Boy menghela nafas karena sikap Luna yang acuh.
"Sayang,, madep sini dong.." pinta Boy
Tapi Luna malah tidak peduli
"Heii" Boy mengguncang bahu Luna
Wajah cemberutnya ia perlihatkan pada Lidya, Lidya hanya mengangkat bahu dan tidak mau ikut campur.
Makan dimulai, Boy mengambilkan nasi dan lauk untuk Luna
"Sayang,, makan ya" Boy menyodorkan nasinya
Luna melirik nasinya
"Makasih" singkatnya, kemudian makan sambil menghadap Briand, dan mengobrol berdua dengannya.
"Kak Luna kenapa? Lagi marahan ya sama kak Boy?" tanya Briand
"Mm.. Aku lagi pengen begini aja, hei ternyata kamu tampan sekali ya kalau dari dekat" ucap Luna sambil senyum senyum dengan sesekali melirik Briand, dan mengunyah makanannya.
Boy diam saja, dia berfikir bahwa Luna hanya ingin membuatnya cemburu.
Briand tersenyum
"Baru nyadar ya kak ipar.. Hehe"
"Iya..kenapa aku baru nyadar ya.. Hehe,, kamu udah punya pacar Briand?"
"Nggak lah kak.. Ngapain pacaran" ucap Briand sambil fokus pada nasinya
"Boong banget sih kak Bray.." tukas Bianka
"Apaan sih Biy,, aku emang gak punya pacar wew" sahut Briand
"Terus ngapain banyak chattan sama perempuan?" tanya Bianka
"Itukan cuma chattan Biy, gak lebih.. Aku cuma kasian aja sama mereka terus ngejar-ngejar. Tapi kakak gak suka sama mereka" ucap Briand.
"Briand, kalau sampai ayah tau kamu pacaran, ayah akan seret kamu ke kantor KUA langsung.. Mau kamu!" ancam Ayah Mirza
"Ishh.. Ayah janganlah.. Briand gak pacaran kok" Briand cemberut.
"Kamu masih sekolah Bray, fokus sekolah! ,, satu lagi, jangan suka mainin perempuan!" tegas Mirza dengan tatapan tajamnya.
"Iya ayah"
"Kamu suka chattan sama banyak perempuan Briand?" tanya Luna
"Iya kak"
"Apa mereka menyukaimu?"
"Iya,, bahkan berkali kali nembak Briand, tapi Briand tolak.. Dan.."
"Briand cuma boongan saja perhatian sama mereka" bisik Briand pada Luna, sambil terkekeh.
"Briand itu gak baik tau!" bentak Luna
"Kamu berikan harapan palsu sama mereka?, itu artinya kamu bohongi mereka, nanti kalau mereka terluka, kamu mau tanggung jawab?"
Luna berkata dengan mengerutkan dahinya, seolah tidak suka dengan ucapan Briand barusan.
Briand hanya diam.
Kena omel lagi gue..! Batin Briand
__ADS_1
"Coba kamu pikirkan Briand, jika hal itu terjadi pada adik perempuanmu, atau saudara perempuanmu, bagaimana perasaanmu kalau mereka menjadi korban kebohongan lelaki!"
"Iya.. Iya kak ipar.. Briand khilaf"
"Jangan lakukan itu lagi Briand! jika kamu suka, ya bilang suka, jika tidak ya katakan yang sebenarnya"
"Ingat ya! .. Apa yang kamu lakukan bisa jadi akan kembali sama kamu, suatu saat nanti, dan kamu jangan kaget atau bertanya jika hal itu terjadi sama kamu.. "
"Karma?? Gak mau lah kak..."
"Bukan karma, tapi itu sudah menjadi suatu kepastian yang sudah ditentukan oleh Allah, segala yang baik yang kamu lakukan akan kembali padamu, begitu juga keburukan. Mestinya kita hati hati" jelas Luna
Briand menghela nafas, ia sadar sekarang.
"Terima kasih nasihatnya kak ipar"
"Iya adik.. Maaf ya, aku tadi bentak kamu" ucap Luna
"Gapapa kak" ucapnya dengan tersenyum
Ayah Mirza dan ibu Lidya juga tersenyum mendengar nasehat Luna, mereka setuju dengan ucapan Luna. Begitu juga Bianka dan Boy.
Hening..
Luna masih berhadapan dengan Briand dan mengacuhkan Boy yang terus menggodanya.
Kemudian Boy mencolek pinggul Luna hingga Luna terperanjat..
"Diem!" ucapnya dengan sedikit berbisik sambil melirik Boy sekejap.
"Ayo dong sayang,, aku dicuekin terus dari tadi. Kenapa?"
"Pikir aja sendiri" tukasnya
"Hhh.. Kamu tadi siang itu salah faham sayang"
"Aku gak mau bicara sama kamu"
"Jangan gitu dong"
Boy hanya memandang punggung Luna.
Hening..
"Kak ipar, gimana caranya supaya orang yang kita sukai, juga menyukai kita, aku galau nih kak.. Mikha cuek banget sama Briand" tanya Briand memecah keheningan
"Briand!!!" tegasnya
Briand tersenyum menyeringai
"Tenang ayah.. Aku kan cuma bertanya sama kak Luna"
"Mm,, ayah biarlah. Namanya juga lagi masanya puber, itu wajar kan? Asalkan perasaannya tidak melebihi batas" ucap Luna
Ayah Mirza menggeleng, karena ada benarnya ucapan Luna. Dulu juga ia pernah merasakan hal yang sama ketika masih remaja.
"Kenapa emangnya Briand?" tanya Luna
"Itu, kak.. Mikha cuek banget sama cowok, apalagi sama Briand"
"Yaa bisa jadi kan karena kamu banyak mempermainkan wanita, atau di sebut juga playboy kan? Itu yang biasanya wanita ilfiel sama cowok. Coba deh kamu fikirkan.. Apa kamu mau sama perempuan yang banyak bergaul sama cowok?. Gak mau kan?"
"Iya sihh.. Benar juga kak ipar.."
"Nahh.. Itulah"
"Jadi Briand harus ngapain?"
"Kak Luna saranin, kamu jangan terlalu mengejar apalagi membuatnya ilfiel, kamu bergaul dengan sewajarnya saja sama dia, dan buktikan kalau kamu tidak lagi playboy dan suka mempermainkan wanita. Nanti dia juga berbalik perhatian sama kamu bahkan mungkin menyukaimu diam diam. Itu jika kamu benar benar berubah menjadi lebih baik"
"Satu lagi Briand, tundukan pandanganmu dari perempuan lain. Dan fokuslah pada tujuanmu" jelas Luna
"Wahh. Keren kak ipar.. Baiklah, Briand akan mencoba lakukan itu"
"Iya Briand, tapi kamu harus menjaga jarak dan jangan sampai melakukan hal yang tidak sepantasnya kamu lakukan.. Faham kan?" tanya Luna
"Siap kak Luna, aku faham"
Luna tersenyum. Mereka tersenyum
Beruntung sekali Briand mempunyai ipar sebijak Luna. Dia senang sekali.
Makan malam sudah selesai.
Ayah dan ibu sudah bubar, Bianka dan Briand juga sudah bubar menuju kamar masing masing.
Luna hendak bangkit dari duduknya. Tapi Boy menahannya, ia meraih tangannya dan Luna duduk lagi di kursinya. Kemudian Boy memutar kursinya agar Luna berhadapan dengannya. Luna hanya menunduk dengan ekspresi masam.
__ADS_1
Boy tidak sanggup lagi terus di cueki Luna. Boy membuka cadarnya Luna, karena di sana tidak ada orang lain
"Sayang,, dengarkan aku.. Aku minta maaf soal kejadian tadi siang"
"Oke aku salah, aku benar benar minta maaf.. Tadi itu.."
"Apa??"
"Kamu mau memperkenalkan calon istri barumu itu, ohh iya. Dia memang cantik dan cocok buat kamu"
Ucap Luna dengan perasaan membara.
"heii... Kenapa kamu berkata seperti itu?"
"Dia bukan calon istriku, dia teman lamaku, sayang"
"Teman tapi mesra sekali" tukas Luna
"Tidak,, mesra dari mana..."
"Kamu dekat sekali dengan dia.. Foto foto, senang sekali sepertinya kamu"
Boy frustasi dan mengacak ngacak rambutnya.
Ini gara gara kirana, coba saja aku kemarin menolak berpoto sama dia. Batinnya
"enggak sayang.. Tolonglah... Kamu hanya salah faham oke. Aku tidak akan menikah lagi.. aku sudah bilang kan sama kamu..!"
"Hati manusia siapa yang tau a, hanya dirinya dan tuhan yang tau, perasaan itu gampang berubah bisa jadi sekarang a, besok b, besoknya lagi c... " ucap Luna dengan memandang Boy tajam.
"Sayang, perasaanku tidak berubah, aku sayang sama kamu dan tidak mau aku menikah lagi. Tolong percaya lah.."
"Aku kangen sama kamu".
Boy memeluknya, tapi Luna mendorong Boy.
"Aku lagi ingin sendiri" ucap Luna sambil pergi bergegas dari sana menuju kamarnya.
Boy kembali muram dan hanya memandang Luna yang menjauh darinya.
Beberapa saat kemudian, Boy menyusul Luna ke kamar, namun Luna mengunci pintunya dan mengurung sendiri di kamar.
Boy memanggil-manggil Luna, tapi Luna diam saja.
Kemudian Boy menghampiri ibu Lidya yang sedang nonton televisi.
"Ibu, bujuk Luna dong, biar maafin Boy"
"Kenapa harus ibu, ya kamu sendiri yang harus berusaha membujuknya"
"Tolonglah bu,"
"Itu karena salah kamu sendiri, kenapa tadi tidak langsung mengejarnya siang? Istrimu sedang hamil, perasaanya sangat sensitif Boy. Kamu harus hati hati.. "
"Iya bu, Boy nyesel sekarang"
"Jangan menyerah Boy,,, semangat..!! " ucap Lidya memberi semangat sambil tersenyum padanya
Boy semakin galau, pasalnya ia sudah berusaha membujuk Luna. Tapi Luna acuh saja
Kemudian ia menghampiri ayah Mirza yang berada di ruang kerjanya, kala itu mirza sedang memeriksa data hasil kerja Bastian di turki lewat laptopnya .
Boy duduk di sofa dan bengong, tatapannya kosong. Mirza melirik, kemudian duduk bersama Boy.
"Kenapa kamu Boy?" tanya ayah mirza
"Ayah.. Apa ibu pernah marah sama ayah, sampai ibu tidak mau bicara?" tanya Boy
"pernah Boy, 23 tahun yang lalu. Dan itu membuat ayah sangat menyesal dan trauma. Kejadiannya sama seperti kamu alami ini. cemburu"
"Benarkah ayah? Cerita dong ayah" pinta Boy
"Kamu yakin mau dengarkan cerita ayah?"
Boy mengangguk
"Ayah tidak mau lah,, nanti kamu tertawa lagi"
"Ayolah ayah"
"tidak Boy, ayah saranin sama kamu, jangan sekali lagi membuat istrimu cemburu. Karena kalau wanita sudah cemburu apalagi sampai marah sekali. Susah diajak baikan lagi. Di rumah juga akan terasa hampa. Benarkan?"
"Ck.. Benar ayah,, terus Boy harus bagaimana?"
__ADS_1
"Sabarlah nak" ucap Mirza dengan senyumannya