Cinta Sesudah Menikah

Cinta Sesudah Menikah
Duel


__ADS_3

Hari sudah berganti. Luna dan Boy tengah berlari pagi sambil menyusuri setiap jalan di kampung itu. luna memakai celana longgar panjang, baju dres panjang selutut. Kerudung panjang dan cadarnya, tidak lupa kaos kaki dan sepatu. Boy memakai baju santai yang di balut dengan jaket hitam yang senada dengan celana pendeknya serta sepatu yang serasi dengan Luna.membuat Boy terlihat tampan plus plus pagi itu. Menikmati indahnya pemandangan di kampung itu, Luna mengajak Boy ke daerah pesawahan yang kemarin sempat Boy ingin singgah di sana.


Boy sangat betah berlama lama di sana, begitu juga Willy dan beberapa pengawal ikut menikmati keindahan alam itu. keindahannya memanjakan mata dan menyegarkan fikiran, yang biasanya bergelut dengan pekerjaan dan tugas kantor yang menumpuk setiap hari. Kini otaknya seolah terolah kembali menjadi fresh..


Sepulangnya dari sana, Luna nampak kelelahan karena ia mengajak balap lari Boy sambil bercanda ria.


"Ayo naik sayang"


Boy berjongkok, ia hendak menggendong Luna


"Hah beneran? Baiklah"


Brugg.. Dengan sigap Luna langsung menjatuhkan tubuhnya ke punggung Boy, sampai Boy terdorong ke depan


"Aduh hati hati dong sayang"


Kemudian mereka tertawa berdua dan Boy menggendong Luna dengan manja. Bau keringatpun seperti bau kasturi. Ya karena Boy suka sekali memakai minyak wangi dan membuat siapa saja betah di di dekatnya. Luna sangat nyaman dalan gendongan Boy. Begitu juga Boy, baginya menggendong Luna itu sangat membahagiakan


Sampai mereka sampai di suatu lapangan dan di sana terlihat sekelompok orang tengah melakukan latihan bela diri dan silat. Kelompok lelaki di pimpin oleh laki laki. Dan kelompok perempuan di pimpin oleh perempuan. Terdengar sorak semangat dari mereka tatkala sedang berlatih.


Boy menurunkan Luna di sana, mereka menonton latihan itu.


"Sayang kamu dulu jago sekali bela diri, apa sekarang masih bisa? " tanya Boy sambil ia fokus memperhatikan mereka yang berlatih di sana.


"Aku trauma kak Boy"


Ucap Luna, kemudian Boy melirik ke arah Luna dan langsung saja Luna menghajar Boy tanpa aba aba dulu. Bukkk.. Bukk.. Bukkk.... Beberapa pukulan ke arah Boy. Namun Boy berhasil menangkis pukulan Luna dengan keahlian bela diri yang di miliki Boy. Luna terus menghajar Boy tapi Boy tidak melawannya hanya menghindar dan terus menangkis setiap pukulan itu. Luna melakukannya dengan serius dan nampak tersenyum tipis karena ia berhasil membuat Boy kewalahan dengan serangan bertubi tubi dari nya... Hingga akhirnya Boy berhasil melipat tangan Luna ke belakang sampai Luna tidak bisa melawan lagi.


Willy bertepuk tangan melihat keahlian Luna dan Boy.


Begitupun orang orang yang berada di sana takjub pada bela diri yang dilakukan Luna dan Boy itu.


Luna berusaha melepaskan tangannya yang di lipat Boy ke belakang


"Cukup sayang,, oke cukup,, aku tidak mau melukaimu" ucap Boy dengan nafas ngosngosan karena serangan tiba tiba Luna itu.


"Kenapa suamiku? Kamu takut aku mengalahkanmu? "


"Ishh kamu ini, aku takut kamu kena pukulan ku sayang.. Sudah ah"


Boy melepas tangan Luna sampai Luna terbebas.


"Huuhh.. Ternyata suamiku jago bela diri ya"


Luna bernafas dengan lega sekarang.


"Iya harus dong sayang. Aku ini orang penting dan harus bisa jaga diri, jika suatu saat ada kejadian yang tidak di inginkan aku bisa melawan.. Hehe"


"Hmm baiklah.. Kamu benar juga, berarti aku bisa berlatih bersamamu setiap hari..iya kan? "


"Iya boleh.. Asal tidak melukaimu, itu saja.. Mana apa ada yang sakit tadi? " tanya Boy sambil memeriksa tangan Luna, takutnya ada pukulan yang ia tidak sengaja pada Luna.


"Tidak ada suamiku, justru kamu yang kena pukulku, apa sakit? "


"Tidaklah,, aku kan menangkisnya"


Luna tersenyum, mereka tersenyum


kemudian mereka melihat sekeliling orang orang memperhatikan mereka, membuat Luna dan Boy malu.


Lalu mereka melanjutkan perjalanan menuju rumahnya, sambil senyum senyum mengingat kejadian tadi. Berhubung belum sempat sarapan karena sepagi buta mereka berolah raga lari pagi itu, mereka sarapan pagi bersama pagi itu.


Menjelang siang mereka menghabiskan waktu di ladang yang terdapat banyak sapi di sana. Peternakan sapi milik warga sekitar. Di sana pemandangannya tidak jauh indah dari pemandangan sawah tadi



I Love alam. Ada yang kenal tempat ini? 😘😘.


Di sana mereka mengambil foto bersama yang di potret oleh Willy. Ya Willy menjadi fotografer saja karena si jomblo tampan itu belum ada pasangan.


Setelah itu willy kembali sibuk dengan laptopnya.ia duduk di kursi bambu di ladang itu. Ntah apa yang di lakukan Willy karena sangat sibuk sekali. Oh ternyata dia memberi laporan pada nyonya Lidya tentang keadaan Boy bersama Luna.


"Sayang.. Ini peternakan milik warga apa milik desa? "


Tanya Boy. Ia kepo banget dengan semua yang ada di sana. Sambil ia memeluk Luna dari belakang.


"Ini milik warga sayang.. Rata rata warga beternak dan bercocok tanam disini, dari itulah mereka menafkahi keluarga mereka"


"Oowh begitu.. Bagus ya pemandangan di sini"


"Bagus sekali".


Untuk menghilangkan rasa bosan, Kemudian Luna mengambil beberapa busur panah dari rumah dibantu oleh pelayannya. Kebetulan jarak rumahnya tidak jauh dari sana.


Luna dan Boy bermain panahan di sana.


Luna tengah asyik membidik sasaran yang akan dipanahnya, dan panah melesat. Tapi Boy malah mengganggunya dengan mencolek pinggang Luna, itu membuat Luna kegelian dan tertawa. Sampai anak panah melesat ke sembarang arah


"Diem dong a". Luna risih pada Boy


Kembali lagi ia fokus melihat sasaran, dan Boy kembali mengganggunya dengan terus mencoleknya.

__ADS_1


"A. Ayo dong... Luna gak bisa konsen ini" Luna melirik Boy dengan menyipitkan matanya, tapi Boy malah tersenyum genit padanya.


"Abisnya kamu malah asik sendiri, aku di cuekin kan". Ucap Boy dengan sedikit manyun


"Sebentaaar aja ya,, aku kangen banget udah lama gak main panahan di alam bebas"


Luna kembali fokus membidik sasaran dan Boy kembali mencoleknya


"A.. Bisa diem gak sih!!!!" Luna kesal sekarang.


Ia menggertakkan kakinya ke tanah


lalu menghempaskan busur panahnya ke bawah.


Kemudian beranjak dari sana


Boy tertawa, karena ia berhasil membuat Luna kesal


"Iya oke sayang.. Maaf ya.. Ayo kita main panahan lagi" ajaknya


"Gak mau!"


Luna masih kesal


"Ayo dong sayang"


Boy mengambil panahannya dan menarik Luna ke tempat semula.


Boy berdiri di belakang Luna, ia menempelkan pipinya di pipi Luna, melingkarkan tangannya ke depan sambil memegang busur panahnya, kemudian Boy fokus membidik ke arah sasaran.


Dagdigdug jantung Luna, ia hanya diam terpaku di sana


"A emangnya bisa? "


"Bisa dong sayang.. Kamu lihat ya,, kalau sampai anak panah ini pas mengenai sasaran, itu artinya cintaku bukan bohongan sama kamu". Ucap Boy dengan percaya diri. Luna tersenyum sambil mengangkat alisnya. Kemudian Boy melesatkan panahnya ke arah sasaran. Shoottt.. Panah melesat pas mengenai titik sasaran. Itu Membuatnya bangga, ia tersenyum puas dibuatnya. Padahal ia tidak mahir mahir amat main panahan. Dan yang tadi itu benar benar kebetulan


Luna takjub pada suaminya, ia menutup mulutnya karena merasa terharu


"Lihatkan sayang,, itu artinya cintaku full nggak setengah setengah.." Cupp.. Kecupan di dahi Luna


Luna tertawa


"Apa si a,, emangnya kopi tora bika. Haha"


Boy juga ikut tertawa. Kemudian Luna merebut panahan nya dari Boy dan ia juga melakukan hal sama seperti Boy.


Luna mengambil anak panah yang satu lagi dan siap melesatkan ke arah sasaran


"Lihat ya a " ucap Luna, ia memfokuskan pandangannya ke depan, kemudian.. Shotttt... Panah pas mengenai anak panah yang menancap oleh Boy tadi, hingga membuat panah yang menancap itu terbelah menjadi dua.


"Oh my god..." Boy menarik rambutnya sendiri, ia benar benar takjub. Langsung saja ia memeluk Luna dengan bangga.


"Kamu benar benar luar biasa,, terima kasih sayang".


Cupp... Cupp.. Cupp... Kecupan bertubi tubi di dahi Luna. Mereka saling pandang dan tersenyum.


Mereka terus memainkan panahnya sampai puas.


"Sudah yukk, kita istirahat dulu". Pinta Luna dan disetujui oleh Boy.


Mereka duduk di sambil Willy yang tengah asyik menonton youtube dari tadi.


Luna dan Boy minum dulu melepas dahaga


"Sedang lihat apa kak Will?" tanya Luna


"Ini nona,, perkembangan dan kemajuan negara C. Luar biasa sekali. Pemimpinnya juga hebat bisa sampai seperti ini.. Ck ckk.." ucap Willy sambil fokus pada layar laptop nya.


Luna hanya mengernyitkan bibirnya


"Untunglah itu bukan pemimpin negara ini" ucap Luna


"Lhaa kenapa nona? "


"Karena dia bukan muslim kak Will, emangnya mau dipimpin oleh orang muna***?. Satu lagi.. Kita tidak boleh membanggakan orang orang fasik seperti itu, biarpun hebat dari segi keduniaan tapi Mungkin tidak berarti apa apa di sisi Allah".


"Maksudnya bagaimana Nona?"


"Gini ya, aku kasih tau biar kamu faham.. Mm aku akan ceritakan suatu kisah.. Dengarkan baik baik dan simak baik baik, biar tidak gagal fokus oke"


Willy dan Boy memasang lebar kedua telinga mereka dan mendengarkan perkataan Luna.


"Sayyidatina Rubayyi' binti mu'awidz Radhiyallahu 'anhuma adalah shahabiyah anshar. Ia sering ikut berperang bersama baginda Nabi sholallahu 'alaihi wassalam. Dalam peperangan, ia sering membantu mengobati orang orang yang terluka, dan mengangkat jenazah orang yang mati syahid."


"Sayyidina mu'awidz Radhiyallahu 'anhu adalah salah seorang yang membunuh Abu Jahal. "


"Tau siapa abu Jahal?" tanya Luna


" Iya itu seorang pemimpin kaum kafir ya nona"


"benar sekali. Abu Jahal mati pada saat perang badar, awalnya Abu Jahal dilumpuhkan oleh dua anak Anshar yang bernama sayyidina Mu'adz bin Amr bin jamuh dan sayyidina Mu'adz bin Afra Radhiyallahu 'anhum. Sayyidina Mu'adz bin Amr Rhadiyallahu 'anhuma pernah berkata "aku mendengar bahwa tidak ada orang yang dapat membunuh abu Jahal. Ia dijaga sangat ketat. Sejak saat itu, aku berfikir akulah yang akan membunuhnya "

__ADS_1


Kedua anak itu berjalan kaki, sedangkan Abu Jahal mengendarai kuda. Ketika itu Abu Jahal sedang mengatur barisan. Kedua anak itu berlari medekati Abu Jahal. Karena Abu Jahal mengendarai kuda, maka sulit menyerangnya secara langsung. Oleh karena itu, salah seorang anak itu menyerang kuda abu Jahal, dan anak lain menyerang kaki Abu Jahal. Dengan serangan itu, kuda pun terjatuh dan Abu Jahal juga terjatuh. Kedua sahabat kecil itupun meninggalkan Abu Jahal dalam keadaan menggelepar tidak dapat berdiri. Kemudian saudara mereka, sayyidina mu'awidz bin afra Radhiyallahu 'anhu pun datang. Karena kuatir abu jahal akan bangun dan lari, ia melumpuhkannya. Saat itu Abu Jahal belum terbunuh. Lalu, datanglah sayyidina Abdullah bin mas'ud Rhadiyallahu 'anhu yang langsung memenggal kepala Abu Jahal.


Sayyidina Mu'adz bin Amr Rhadiyallahu 'anhu berkata "ketika aku menyerang kaki Abu Jahal, anaknya, ikrimah sedang bersamanya. Ia menyerang pundaku sehingga tanganku terputus, hanya tersisa sedikit kulit. Kugantungkan tanganku di punggung, dan selama sehari penuh aku berjuang dengan satu tangan saja. Ketika tangan itu mulai mengganggu gerakanku, kuinjak dan kutarik dengan kuat hingga terputus, lalu kubuang"..


Mereka terkidik membayangkannya


" Ya Allah mengerikan sekali. Itu anak kecil lhoh kak, tapi semangat juangnya dalam berjihad sangat kuat.. Kita patut iri pada mereka.." ucap Luna


"Oke kita kembali ke hal yang aku maksud ya..


Suatu hari, sayyidatina Rubayyi' kedatangan seorang wanita penjual minyak wangi bernama asma' Rhadiyallahu 'anha bersama beberapa wanita lain. Kemudian mereka bertanya tentang nama, keadaan dan alamat, sebagaimana kebiasaan kaum wanita. Ketika mereka mendengar nama ayah sayyidatina Rubayyi' Rhadiyallahu 'anha yaitu Mu'awidz Rhadiyallahu anhu, mereka berkata "jadi kamu anak orang yang membunuh pemimpinnya?", karena abu Jahal salah satu pemimpin bangsa arab kala itu. Mendengar hal itu , Rubayyi' marah. Lalu berkata "aku adalah anak orang yang membunuh budaknya". Sayyidatina Rubayyi' mengatakan demikian karena ia merasa tidak senang jika abu Jahal dikatakan sebagai pemimpin bagi ayahnya.ia membalasnya dengan berkata "Abu Jahal adalah budak bagi ayahnya". Mendengar abu Jahal disebut sebagai budak, maka sayyidatina asma' pun marah, ia berkata kepada sayyidatina Rubayyi' "aku tidak akan menjual minyak wangi kepadamu". Sayyidatina Rubayyi' pun membalasnya dengan berkata "akupun tidak akan membeli minyak wangi darimu. Aku tidak pernah melihat minyak wangi yang lebih buruk dan lebih busuk daripada minyak wangimu".


Sayyidatina Rubayyi' Rhadiyallahu 'anha berkata demikian, sengaja mengatakan minyak wanginya berbau busuk untuk menasehatinya.


"Demikianlah kecintaan dan semangat agama sayyidatina Rubayyi' Rhadiyallahu 'anha. Ia tidak senang apabila ada orang yang menyebut nama musuh musuh islam sebagai pemimpin. Sedangkan kita sekarang sering menyanjung nyanjung musuh musuh islam. Jika dilarang berbuat demikian, maka kita akan di juluki orang yang berpandangan sempit. Padahal baginda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda "jangan mengatakan orang munafik itu sebagai pemimpin. Jika ia telah menjadi pemimpinmu. Berarti kamu sudah menyebabkan Allah Subhanahu Wata'ala murka". Jelas Luna


"ashtaghfirullah, saya tadi sempat terkagum dengan pemimpin negara itu.. Terima kasih nona telah memberi tahu saya" ucap will.


"Sama sama kak willy"


"Pintar sekali istriku" puji Boy


"Sepertinya nona banyak tau? " tanya Willy


"Kita harus banyak tau biar banyak ilmu. Hehehe"


"Nah aku setuju itu"


*******


Waktu telah menunjukan sore hari.. Ketika mereka tengah asyik mengobrol. Rendi datang menemui Luna di sana.


"Assalamualaikum,, " sapa Rendi dengan senyum ramahnya.


Mereka bertiga melirik ke arah Rendi dan menjawab salam


"Waalaikumsalam "


"A Rendi" ucap Luna,, ia bahagia sekali melihat Rendi dan langsung memeluknya sekilas dan menyalaminya.


"A rendi apa kabar? Kapan datang? "


"Alhamdulillah aa baik, aa baru aja datang dan langsung aja ke sini.. Karena kata emak, kalian ada di sini" ucapnya


"Hai kak ipar" ucap Boy sambil tersenyum dan menyalami Rendi, begitu juga Willy.


"Oh hey adi ipar,, apa kabar semuanya?"


"Alhamdulillah kami baik kak" ucap Boy.


"A rendi ayo duduk dulu" ajak Luna. Rendi ikut duduk di sana. Kemudian mereka basa basi beberapa hal.


"O iya neng, nih aa bawakan oleh oleh" Rendi menunjukan sebuah benda dalam kantong yang ditentengnya.


"Apa ini a?" Luna membukanya "siwak?.. Waaw.. Banyak sekali.. Alhamdulillah.. Kebetulan siwak punya Luna udah tinggal sedikit.. Terima kasih ya a" ia tampak bahagia sekali.


"Iya neng sama sama,, itu sengaja beli banyak buat di bagikan juga ke tetangga,, dan kebetulan kamu ada di sini, jadi ini buat kalian sebagian" ucap Rendi.


Luna tersenyum


"Sayang,, lihatlah kita tidak perlu membeli lagi, a Rendi bagi... Hehehe" ucap Luna pada Boy sambil memperlihatkan siwak itu


Boy juga tersenyum


"Iya neng,, terimakasih kak Rendi " ucap Boy


"Iya sama sama"


"Kak Willy juga lho, nanti aku bagi di rumah ya" ucap Luna pada Willy


"Oh iya, terima kasih nona, terima kasih kak Rendi "


"Sama sama"


Mereka tampak bahagia sekali dengan hadiah dari Rendi.


"O ya neng kamu sudah bertemu teh Nina? Bagaimana sikapnya sama kamu? Apa dia jahat sama kamu? "


"Sudah a, dia gak pernah jahat a,, kemarin saja kita akrab.. Iya kan a Boy" ucapnya sambil mengedipkan mataya dengan genit pada Boy.. Dan Boy tersenyum


"Iya iya sayang.. Teh Nina baik sekali kak Rendi" ucap Boy


"Ohh syukurlah kalau dia sudah berubah.. Maafkan teh Nina yang dulu ya neng, mungkin sikapnya dulu kurang baik sama kamu"


"A udahlah itu udah berlalu.. Luna sudah melupakannya dan memaafkannya "


"Kamu memang baik hati neng.. "


"O iya,, a Rendi belum ketemu mereka, Naila dan Nazlan sudah menunggu pasti.. Aa pulang dulu ya neng"


"Oh iya atuh a,, sekali lagi terima kasih ya untuk siwaknya"

__ADS_1


"Iya neng, a pergi dulu.. Assalamualaikum" ucapnya sambil tersenyum dan beranjak dari sana.


"Waalaikumsalam"


__ADS_2