Cinta Setelah Penyesalan

Cinta Setelah Penyesalan
Bersyukur


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Luiz dan Andika masih berjuang diruang operasi. Keduanya tak mau menyerah, meski nyatanya detak jantung wanita itu sudah berhenti dan bahkan seluruh alat medis sudah tak berfungsi


“Leona, aku mohon bangun." Andika sambil menekan-nekan CPR didada Ara, air mata luruh bersamaan dengan ucapannya.


“Leona, come on Leona Come on," ucap Luiz juga berusaha kembali mengontrol deteksi jantung Leona.


Sedangkan para dokter dan perawat yang lainnya hanya diam saja menyaksikan. Mereka sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi. Karena memang Leona tidak bisa diselamatkan. Bagaimana mungkin selamat dalam keadaan sakit luar biasa, dia harus melakukan operasi yang tentunya kan menghancurkan bagian perutnya.


“LEONA," teriak Pedho memeluk tubuh sang istri. Dia menangis dengan histeris. Sedangkan Luiz dan Andika sudah mematung ditempatnya seluruh tubuhnya serasa melumpuh seketika.


“LEONA."


Tit tit tit tit tit tit tit


“Dok."


Andika menatap layar monitor yang bergaris-garis bengkok.


“Cepat atur deteksi jantungnya Dik!" perintah Luiz dengan keringat dingin didahinya.


Kedua pria itu tersandar didinding. Mereka hampir saja mati jantungan ketika melihat jantung Leona berhenti beberapa menit dan sebuah keajaiban terjadi dimana detak jantung Leona kembali lagi.


"Andika. Luiz, bagaimana istriku? Bagaimana Leona?" tanya Pedho dengan simbahan air mata.


"Dia kembali," sahut Luiz menyeka air matanya dengan kasar.


“Hiks, terima kasih sudah kembali, Sayang," ucap Pedho dengan nafas tersenggal-senggal dan begitu juga dengan Luiz dan Andika.


Luiz menyeka keringat yang membasahi dahinya. Dia setengah mati berjuang agar Leona bisa kembali hidup dan usahanya tak sia-sia. Adik nya kembali lagi. Dia takut wanita itu pergi. Jika Leona pergi entah bagaimana kehidupan Pedho dan ketiga anaknya. Ketiga anak kembar itu bahkan belum pernah melihat wajah sang ibu.


“Pindahkan pasien ke ruang rawat inap!" perintah Luiz.


“Baik Dok," sahut salah satu perawat sambil mendorong brangkar Leona keluar dari ruangan.


Pedho ikut mendorong brangkar istrinya. Tangan lelaki itu tak lepas mengenggam tangan pucat dan dingin sang istri. Air mata sudah tak terhitung berapa jumlah nya yang keluar dari pipi. Harapan Pedho, semoga sang istri baik-baik saja dan segera bangun untuk menyusui ketiga anak kembarnya.


Luiz dan Andika keluar dari ruang operasi. Wajah kedua pria itu tampak kusut dan nafas mereka seakan tersekat.


“Bagaimana operasinya, Son?" cecar Abraham tak sabar. Operasi yang berjalan selama beberapa jam itu membuat mereka khawatir dan juga takut.

__ADS_1


Luiz dan Andika tak menjawab kedua pria itu malah terduduk dikursi tunggu depan operasi. Kedua nya masih belum ingin bicara dan ingin menenangkan pikiran mereka.


Kejadian tadi mengingatkan kembali ketika Leona dinyatakan meninggal saat di New York. Rasanya jantung seperti berhenti berdetak. Tak ada orang yang akan baik-baik saja ketika harus mengikhlaskan orang yang di cintai, pergi untuk selamanya.


Abraham dan Alexander menatap keduanya bingung, bukannya menjawab Luiz dan Andika malah melamun seperti orang yang baru saja melihat hantu.


.


.


.


Sementara Juliet, Anjani dan juga Yuna serta Lea menjaga bayi Leona diruang bayi. Mereka menenangkan ketiga bayi itu yang menangis sedari tadi. Sejak keluar dari ruang operasi ketiga nya terus menangis tanpa henti.


"Wah, Kak dia cantik sekali!" seru Lea menciumi wajah anak Leona yang di gendong Yuna.


"Ck, Lea jangan cium-cium. Kamu tidak lihat dia sedang menangis," protes Yuna kesal. Bukan Yuna tak suka Lea, tetapi saat dia melihat kedekatan Luiz dan Lea, hatinya seketika menjerit sakit.


"Ihh Kak, Lea 'kan gemes," sergah Lea tak mau kalah. "Rasanya ingin menikah juga. Tapi kata Kak Dhika, Lea masih kecil," ucapnya lesu dengan bibir menggerecut.


Juliet dan Anjani tersenyum saja kearah Lea. Gadis cantik ini, dari tadi terus saja berceloteh mengajak ketiga bayi Leona bicara. Bukannya menurut, ketiga bayi itu malah menangis.


Pantas saja Luiz selalu emosi jika bersama Lea karena gadis ini memang memiliki hobby membuat orang marah.


.


.


.


“Son," panggil Abraham menepuk bahu Luiz yang masih belum juga sadar dari lamunannya


“Hiks hiks hiks hiks hiks hiks." Tiba-tiba tangis Luiz pecah, membuat Abraham dan Alexander kebingungan.


“Son, ada apa?” tanya Abraham panik.


Luiz tak menjawab dia malah menangis dengan menutup kedua wajahnya. Sudah tak peduli lagi dengan gengsi dan harga diri. Saat ini dia hanya ingin menangis meluapkan semua perasaannya, perasaan syukur dan senang karena Leona bertahan dan kembali lagi.


“Andika, apa yang terjadi?” tanya Alexander pada sahabat anaknya itu.


“Dhika," panggil Alexander sekali lagi. Dia mulai khawatir jika terjadi sesuatu pada Leona. “Dhika, kata kan padaku apa yang terjadi? Apa Leona baik-baik saja? Katakan Andika!" desak Alexander menguncang tubuh Andika. Dia menatap dokter itu dengan tatapan memohon agar Andika menjelaskan apa yang terjadi dan kenapa Luiz seperti orang gila yang menangis tanpa sebab?

__ADS_1


“Kita hampir kehilangan Leona," jawab Andika pelan, tetapi matanya malah menatap kedepan. Dia masih belum bisa menormalkan perasaan dan emosinya.


“Apa maksudmu?" tanya Abraham menarik kerah kemeja Andika. yang ditutupi jas dokternya.


Andika menatao Abraham, “Jantung Leona sempat berhenti beberapa menit dan aliran darah dalam tubuhnya berhenti mengalir serta seluruh alat medis tak berfungsi."


Abraha terdiam mematung tanpa sadar cengkraman tangannya dikerah baju Andika terlepas. Jantungnya seakan ikut berhenti saat mendengar ucapan Andika.


“Dan dia kembali lagi," lanjut Andika.


“Leona."


Abraham langsung berlari keruang rawat putrinya. Dia tidak bisa bayangkan jika Leona benar-benar pergi meninggalkannya.


.


.


Diruangan bayi…..


Juliet, Anjani dan Yuna mengendong masing-masing bayi Leona. Bayi-bayi yang tadi sempat menangis histeris, kini tidur dengan lelap dalam gendongan mereka.


“Ya ampun mereka menggemaskan sekali," ucap Lea menoel-noel hidung bayi perempuan yang ada digendongan Yuna. “Kak, wajahnya sangat mirip dengan Kak Leona," timpal Lea menujuk wajah bayi itu


"Iya, iyalah Lea. Masa iya dia mirip kamu," ketus Yuna.


"Yaellah sensian amat sih, Kak. Sama saja seperti Om Dokter," sindir Lea.


Juliet terkekeh, awalnya dia sedikit heran melihat sikap Lea yang masih kekanak-kanakan. Namun, setelah mengenal gadis itu, Juliet menyukai Lea yang apa adanya.


“Iya Lea. Namanya juga anak Kak Leona yang harus mirip sama Mommy nya," jelas Juliet ikut menimpali.


"Tante, boleh Lea gendong sebentar. Kali saja bisa menular, he." Gadis itu cenggesan.


Juliet dan Anjani tertawa pelan. Lea seperti hiburan di kala mereka tegang saat menanti kelahiran anak-anak Leona.


"Boleh, Sayang. Ini," sahut Juliet memberikan bayi pertama Leona pada Lea.


"Wah, dia tampan sekali, Tante. Mirip Daddy nya!" seru Lea terkekeh sambil memberikan ciuman hangat di kening putra pertama Pedho dan Leona.


**Bersambung.... **

__ADS_1


__ADS_2