Cinta Setelah Penyesalan

Cinta Setelah Penyesalan
Gadis kecil.


__ADS_3

**Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺**


Luiz dan Lea masih saling menatap satu sama lain. Keduanya seolah larut dalam tatapan tak biasa itu.


"Om," panggil Lea


"Ehhh." Luiz langsung tersadar.


"Lea tahu kok Om, kalau Lea ini cantik!" goda gadis tersebut dengan mengedipkan matanya jahil pada Luiz.


Luiz mendelik dan menatap aneh gadis yang ada didalam pelukkan nya ini.


"Om, sampai kapan mau peluk Lea? Haus kasih sayang ya Om?" ledek Lea seraya melipat bibirnya menahan tawa.


"Cih, dasar gadis aneh," cibir Luiz.


"Om, Lea pakai kursi roda saja yaa. Soalnya kaki Lea sakit kalau mau jalan," lirih Lea.


Entah kenapa ucapan sendu Lea begitu menusuk dihati Luiz. Hatinya seperti terenyuh, apalagi ketika melihat wajah sendu dan polos gadis ini.


"Biar saya gendong," ucap Luiz langsung mengangkat tubuh kecil Lea.


"Terima kasih Om. Om tampan, ehh tapi nanti kalau istri Om salah paham bagaimana? Lea tidak mau dituduh pelakor Om," ujar Lea takut. Ya pasti lelaki yang menggendongnya ini sudah memiliki istri dan aneh.


Luiz tak menjawab, lelaki itu membawa Lea keluar dari ruangan nya. Wajah nya tampak datar tanpa ekspresi, sulit ditebak apa yang sedang dia pikirkan. Sementara Lea masih saja berceloteh dengan tangan yang melingkar di leher Luiz. Padahal lelaki yang menggendong nya itu tak menanggapi apa yang dia katakan.


Para dokter dan perawat menatap mereka. Keduanya menjadi pusat perhatian, dalam hati bertanya-tanya siapa gadis yang digendong Luiz? Pasalnya Luiz di duga dekat dengan Yuna, sahabat adiknya. Karena Yuna hampir setiap hari datang kerumah sakit untuk membawakan Luiz makanan.


Luiz dan Lea masuk kedalam ruangan Andika yang tengah makan siang bersama Yuna.


"Kak Dika," panggil Lea setengah berteriak.


"Astaga, bisakah kamu tidak berteriak?" protes Luiz. Apalagi Lea berteriak didekat telinganya, membuat lelaki tampan itu terkejut.


"Lea," ucap Andika. Sontak lelaki itu berdiri dari duduknya.

__ADS_1


Yuna juga berdiri, dia menatap heran ketika Luiz menggendong Lea. Ada apa sebenarnya? Siapa gadis kecil itu? Kenapa harus digendong dan lagi tangan Lea yang melingkar di leher Luiz. Membuat mereka seperti pasangan. Walau dilihat dari sisi mana pun, keduanya tidak cocok lantaran usia yang berpaut jauh.


Luiz meletakkan Lea diatas brangkar yang ada diruangan Andika. Brangkar yang khusus untuk memeriksa pasien nya.


"Lea, kamu kenapa?" tanya Andika panik.


"Sakit, Kak," renggek gadis itu manja.


"Kakak akan periksa. Kamu tahan," ucap Andika mengambil alat medis nya lelaki itu tampak panik.


Luiz memerhatikan Andika merawat Lea. Sebenarnya siapa gadis ini? Kenapa Andika begitu panik? Sebelum nya Luiz belum pernah bertemu Andika. Begitu juga dengan Yuna, apalagi melihat wajah Lea pucat seolah membuat Yuna ingat pada sahabatnya yang sekarang masih menetap di New York.


"Badan kamu panas. Tunggu sebentar." Andika mengambil alat pengukur suhu lalu meletakkan dibawah ketiak Lea.


"Kamu dengan siapa kesini, kenapa tidak langsung keruangan Kakak tadi?" omel Andika. "Kamu itu kebiasaan, Kakak sudah ingatkan tidak boleh kemana-mana sendiri," sambungnya. "Daddy sama Mommy kemana?" tanya dokter tersebut dengan pertanyaan bertubi-tubi.


Lea memutar bola matanya malas. Andika ini sama saja seperti ibu nya yang suka mengomel hanya karena kesalahan kecil.


"Sudahlah Kak, jangan mengomel terus. Telinga ku bisa tuli kalau Kakak terus mengoceh didepan ku," gerutu Lea.


"Kamu ini yaa...." Rasanya Andika ingin meremas wajah Lea, saking gemas nya dengan gadis tersebut. "Kakak akan suntikkan obat anti nyeri. Kamu tahan sedikit," ucap Andika.


Tidak lama kemudian Lea terdiam dan perlahan matanya terlelap. Seperti nya Andika memberikan obat penenang juga agar Lea tak terlalu merasakan sakit.


Andika menyelimuti wanita yang tertidur itu, lalu mengecup keningnya dengan sayang.


"Dika, dia siapa?" tanya Luiz penasaran. "Kekasih mu?" sambung Luiz langsung menebak.


Andika tertawa pelan, kenapa wajah luiz tampak panik ketika melihat Lea. Apakah lelaki ini merasakan sesuatu yang berbeda saat bersama gadis kecil seperti Lea?


"Dia Lea, adik sepupu ku," jawab Andika.


"Apa yang terjadi padanya?" tanya Luiz melirik Lea yang terbaring diatas ranjang.


Andika menghela nafas panjang, "Dia menderita Kanker Pembuluh Darah," sahut lelaki itu.

__ADS_1


Luiz menatap Andika tak percaya. Bagaimana bisa gadis belia seperti Lea menderita penyakit seganas itu? Biasanya kanker pembuluh darah diderita oleh orang-orang yang lanjut usia. Meski kanker juga menyerang manusia yang berusia masih muda, tapi ini kasus langka dan bahkan hampir jarang terjadi diperaban dunia.


"Kamu serius?" tanya Luiz memastikan.


Andika mengangguk, "Kami sudah berusaha melakukan pengobatan. Namun, tetap kondisi Lea tidak berubah. Malah semakin menurun," jelas Andika lagi yang turut menatap Lea diatas ranjang.


Sementara Yuna menyimak percakapan kedua pria dewasa tersebut. Tatapannya masih melekat pada Luiz. Bagaimanapun, Yuna tak bisa bohong jika dia mencintai Luiz. Namun, sayang seribu sayang cinta yang dia harapkan menjadi tempat terakhir untuk berlabuh. Malah harus kandas saat dia tahu bahwa lelaki tersebut tak menginginkan dia ada.


.


.


.


"Lea bangun, Nak," panggil seorang wanita paruh baya.


Mata gadis itu terbuka lebar ketika mendengar suara yang memanggil nya.


"Mommy," lirih nya melihat kearah sang ibu.


"Iya ini Mommy, Sayang," sahut wanita tersebut sembari mendaratkan kecupan hangat di kening anak tunggal nya tersebut.


Luiz masih berada diruangan Andika. Dia sampai melupakan bahwa perut nya belum terisi. Seharian dia menemani Lea. Entah, kenapa hatinya khawatir dan sedikit panik. Lea mengingatkannya pada sang adik, Leona. Yang kini masih menjalani perawatan di New York.


"Di mana yang sakit?" tanya wanita paruh baya itu mengusap kepala putri kecilnya. Lea baru menginjak usia 18 tahun dan dia masih duduk dibangku sekolah menengah atas, sebentar lagi dia akan menyelesaikan pendidikan nya lalu melanjutkan ke perguruan tinggi.


"Disini, Mom," sambil menunjukkan perut nya. "Lea belum makan," sambung nya.


Sang ibu terkekeh. Lea walaupun sedang sakit tapi dia tidak bermasalah dengan nafsu makannya. Bahkan gadis tersebut, makan apa saja selama halal dan tidak menyebabkan penyakit. Mungkin itu yang membuat daya tahan tubuh Lea kuat, sehingga dia tidak mudah drop.


"Kakak sudah pesan kan makan buat kamu. Tunggu sebentar ya," sambung Andika ikut menimpali. Lea sudah seperti adik kandungnya sendiri. Apalagi Andika anak tunggal yang tak memiliki saudara.


"Kak, Lea mau ayam geprek," pintanya.


"Tidak boleh Lea. Kamu tidak boleh makan yang pedas-pedas," tolak Andika.

__ADS_1


Diam-diam Luiz tersenyum tipis. Sosok Lea benar-benar mengingatkan nya pada Leona. Apalagi jika sedang meminta sesuatu seperti ini, pasti Leona akan melakukan segala cara agar apa yang ingin dia makan di kabulkan oleh sang kakak.


Bersambung...


__ADS_2