
**Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡**
"Kak, dia siapa?" tanya Leona. Ia masih penasaran siapa perempuan cantik yang datang menemui Pedho tadi.
"Mau tahu saja atau mau tahu banget?" goda Pedho menarik hidung Leona.
"Kakak," renggek Leona kesal. Pedho suka sekali menarik hidung nya sama saja seperti Luiz. "Aku benar-benar penasaran Kak, dia siapa?" sambung Leona sambil mengusap hidungnya. Entah kenapa hatinya terganggu dengan kehadiran Tessa.
"Kenapa? Kamu cemburu?" goda Pedho mengedipkan matanya jahil. Sifat dingin seperti es nya akan cair hanya bersama Leona. Wanita yang berstatus janda ini seperti memiliki magnet tersendiri untuk Pedho.
"Siapa yang cemburu?" tanya Leona memalingkan wajahnya karena gugup pipinya sudah merah merona karena ketahuan cemburu oleh lelaki itu.
Pedho tersenyum. Ia akan senang jika Leona cemburu, itulah yang dia inginkan. Bukankah jila wanita ini cemburu artinya Leona sudah memiliki rasa padanya. Semoga saja, bukan hanya angan-angan Pedho.
"Ya sudah kita makan dulu. Nanti saya cerita," ucap Pedho.
"Kakak harus cerita, awas kalau tidak cerita. Aku akan merajuk dan tidak mau bicara dengan Kakak," ancam Leona. Wanita ini jika jiwa penasaran nya sudah merasuk pasti harus dituntaskan agar tidak terus bertanya-tanya.
Pedho geleng-geleng kepala sambil tersenyum simpul. Inilah hal yang paling dia sukai dari Leona. Wanita ini selalu menciptakan tawa disaat ia lelah, mendengar celotehan dan omelan Leona seperti dentingan alarm untuk Pedho agar ia semakin maju untuk memperjuangkan cinta nya.
"Ini kamu yang masak?" Pedho membuka tutup rantang nasi yang Leona bawa.
"Tentu," jawab Leona dengan bangga. Ia menyukai memasak karena Leona suka makan.
Mereka berdua makan sesekali di selingi dengan tawa. Jujur saja Leona merasa nyaman berada disamping Pedho. Ia merasa di lindungi dan terlindungi. Sifat Pedho yang perhatian dan lemah lembut membuat hati Leona menghangat. Ini tidak pernah ia dapatkan pada mantan suaminya, Pedro. Jangankan perhatian, sapaan ramah pun tidak pernah ia dengar dari lelaki tersebut.
"Minum," Pedho memberikan segelas air putih pada Leona.
"Terima kasih Kak." Pedho membantu wanita itu memegang gelas ditangannya.
"Hah, kenyang nya." Leona mengusap perut nya. "Perut kenyang. Hati senang. Marilah tidur." Wanita itu menguap.
"Hem, dilarang tidur," ucap Pedho setengah menggoda. "Tadi katanya mau dengar cerita," sambungnya
"Hehehe iya Kak. Hampir lupa," Leona cenggesan sambil menggaruk tengkuknya.
__ADS_1
"Duduk disini," Pedho menepuk ruang kosong di samping nya.
"Kenapa harus dekat-dekat?" Leona menatap Pedho curiga.
Pedho terkekeh. Wanita seperti Leona tidak akan mudah ditipu. Dia mudah curiga dan sensitif.
"Supaya saya bisa gigit kamu," goda Pedho tertawa pelan. Bersama Leona tawanya sangat murah. Bahkan tak segan-segan ia jahil.
Benar kata pepatah sifat asli laki-laki akan terlihat jika ia bersama dengan wanita yang ia cintai. Begitu juga dengan wanita sifat cerewet dan manja nya akan tampak apabila bersama dengan pria yang tepat.
"Kesini cepat," desak Pedho melambaikan tangannya.
Leona menutut lalu duduk disamping Pedho dengan hati-hati. Ia sedikit takut apalagi Pedho pria dewasa. Selama ini ia tak pernah berdekatan dengan mantan suaminya Pedro dalam posisi intim. Lelaki itu memang menatap nya jijik.
"Kak," Leona terkejut saat Pedho menariknya kedalam pelukannya.
"Jangan takut. Saya tidak akan melakukan hal yang tidak baik sama kamu," ucap Pedho yang seakan tahu tatapan mata Leona.
Leona mengangguk, ia percaya itu. Selama ini Pedho menjaganya dengan baik dan perlahan Leona akan terbiasa dengan perhatian kecil dari Pedho.
Leona mengangguk. Tanpa sadar tangan wanita itu melingkar di perut Pedho. Kenapa pelukan ini sangat nyaman dan hangat? Semua rasa takut di hati Leona seakan menghilang ketika mendengar detak jantung Pedho.
"Dia mantan kekasih saya," jelas Pedho menghela nafas panjang.
Sontak Leona melepaskan pelukan nya. Bibirnya menggerecut kesal. Dia sudah curiga bahwa wanita tersebut memiliki hubungan dengan Pedho. Terlihat dari tatapan mata Tessa saat melihat lelaki tersebut.
"Ohh mantan Kakak," ketus Leona melipat kedua tangannya didada.
Pedho menahan senyumnya. Wanita ini kalau cemburu benar-benar menggemaskan. Namun Pedho suka. Hanya saja sayang Leona belum mau mengakui perasaannya.
"Iya dia mantan kekasih saya. Dulu saya sangat menyayangi dia. Dia wanita yang baik," ucap Pedho menahan senyum. Pria itu sengaja memanas-manasi Leona, ia suka melihat pipi Leona yang merah menahan cemburu.
"Sampai sekarang?" tuding Leona memincingkan matanya dengan kedua tangan yang terlipat didada.
"Mau nya?" goda Pedho.
__ADS_1
"Tahu ahh," Leona menghentakkan kaki nya kesal. Dia tidak tahu mengapa hatinya terasa teriris saat tahu jika wanita itu adalah mantan Pedho.
"Cie yang cemburu," ledek Pedho setengah menggoda Leona. Pria tampan itu tertawa lebar.
"Jangan ge-er yaa Kak, siapa juga yang cemburu," kilah Leona berusaha menyembunyikan perasaan nya. Padahal dia memang cemburu.
Pedho tersenyum simpul, gemes. Hatinya senang dan bahagia ketika Leona cemburu. Tak sia-sia cinta yang ia perjuangkan selama ini. Semoga saja, hati Leona sungguh-sungguh berpaut padanya.
Pedho kembali menarik wanita itu hingga membentur dadanya.
"Kakak," kesal Leona. Pedho ini selalu suka membuatnya terkejut.
"Terima kasih sudah cemburu," ucap Pedho tersenyum simpul.
Leona terdiam. Benarkah ia cemburu? Apa begitu terlihat jika dirinya menyimpan rasa kesal saat Pedho membahas tentang Tessa.
Leona malu sendiri saat ketahuan dirinya tengah cemburu. Entahlah, dia langsung emosi saat tahu jika Tessa itu mantan dari Pedho. Apa semua wanita seperti itu, akan emosi saat tahu mantan dari kekasih nya?
"Aku cemburu?" ulang Leona menatap Pedho.
Pedho mengangguk, "Iya kamu cemburu," jawab Pedho terkekeh.
"Masa iya?" Leona bingung sendiri. Ia saja belum tahu perasaan nya pada Pedho. "Eitss jangan salah paham Kakak tampan, mantan adik iparmu ini tidak cemburu. Aku hanya tidak suka saja mendengar nya Kak," kilah Leona beralasan. Padahal hatinya memang panas ketika Pedho menjelaskan masalah mantan kekasihnya nya.
"Yakin tidak cemburu?" rasanya Pedho ingin tertawa selebar-lebarnya mendengar Leona yang masih beralasan. Dia semakin yakin untuk menaklukan hati wanita cantik ini.
"Yakinlah," jawab Leona cepat. Ia berusaha menyembunyikan senyumnya.
Pedho mengusap punggung Leona. Keduanya saling memeluk. Mereka adalah orang-orang yang sedang merasakan patah hati karena ditinggalkan dan dikhianati oleh orang yang mereka cintai.
Pedho ditinggalkan oleh Tessa karena wanita itu memilih karier dan pria lain. Di banding dirinya yang tengah merasakan debaran cinta. Patah hati yang Pedho rasakan sempat membuat ia tak percaya akan kata cinta. Setelah ia bertemu Leona lima tahun lalu ia kembali di patahkan, ketika tahu bahwa Pedro menikahi wanita yang ia cintai tersebut.
Begitu juga Leona, Pedro adalah pria yang telah mematahkan hatinya dengan hebat. Ia pikir, hati Pedro bisa ia gapai dengan perasaan nya yang dalam. Namun, kenyataan nya perpisahan lah yang menjadi jawaban dari permasalahan rumah tangga mereka selama ini.
Bersambung....
__ADS_1