
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Jika bisa menyesal iya dia sangat menyesal. Namun, wanita itu tahu sekedar menyesal takkan membuat kondisi tubuhnya kembali membaik. Bahkan hari berganti, tak ada perubahan sama sekali. Padahal dia sudah melakukan pengobatan diluar negeri. Dia hanya sembuh beberapa bulan. Lalu penyakit nya masih menatap dan tinggal didalam tubuh serta bersemayam dengan nyaman.
Dia ingin hidup normal seperti wanita pada umumnya. Menikah dan bahagia. Memiliki anak lalu menua bersama. Namun, kenapa justru justru rasa sakit ini seperti ingin menghilangkannya dari permukaan bumi. Tubuhnya sakit, terkadang nafasnya terasa tercekat. Seakan ada sesuatu yang menahan. Dia ingin menyerah melawan penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Akan tetapi hati memaksa dia untuk berjuang sampai titik darah penghabisan.
Leona Juliet, berharap punya kehidupan layaknya perempuan lain. Setelah terjebak dalam hubungan pernikahan selama lima tahun. Dia diuji dengan penyakit yang sewaktu-waktu bisa membuat tubuh berhenti bekerja. Padahal, dia manusia biasa tapi kenapa Tuhan memberikan ujian diluar batas kemampuan nya. Bolehkah Leona marah dan menyalahkan takdir yang diperuntukkan padanya? Kenapa harus dia? Tidak adakah orang yang lebih kuat dari dia.
"Sayang," sang suami memeluk wanita itu dari belakang. "Kenapa hmmm?" tanya Pedho sembari membenam wajahnya di cekuk leher sang istri. "Apa kamu merasa tidak nyaman?" sambungnya memeluk semakin erat perempuan itu. Mencari kenyamanan didalam pelukkan istrinya.
Namun Leona malah terdiam menatap kosong kedepan. Tak ada niat untuknya membalas pelukan suaminya.
Entahlah, sejak dia tahu kenapa suaminya tidak mau menyentuh dirinya dunia terasa runtuh. Hancur berkeping-keping. Pernikahan yang dia inginkan bahagia malah membawanya kepada luka yang mendalam.
"Sayang." Pria itu membalikkan tubuh istrinya "Kenapa menangis?" tanya nya, menyeka air mata wanita cantik tersebut. "Apa sakit lagi?" sambungnya tampak khawatir.
"Kak," panggil Leona. Dia memberanikan diri menatap suaminya. "Kakak tidak bahagia bersamaku?" Dia menatap suaminya dengan dalam. Ingin tahu jawaban dari mulut suaminya. Leona tak ingin menjadi beban karena dia sakit.
"Kamu bicara apa, Sayang? Aku bahagia bersamamu. Tidak ada yang membuat aku bahagia didunia selain kamu," ucap Pedho jujur tangannya menempel diwajah sang istri.
Wanita itu tersenyum getir. Semua orang bisa mengatakan cinta. Tapi tidak semua orang bisa membuktikan cinta.
"Kak, kenapa selama kita menikah Kakak tidak pernah menyentuh ku?" tanya Leona sambil menatap suaminya meminta agar pria itu menjelaskan padanya.
Pedho malah terdiam. Tangannya terlepas dari wajah istrinya. Dia tidak tahu harus jawab apa? Ini akan sangat menyakiti hati wanita yang dia cintai ini.
"Sayang aku_"
"Jika aku memang tidak bisa memuaskan Kakak. Kita cerai saja," putus Leona dengan suara memekik. Dia lelah, kehadiran nya seperti tak dianggap. Bukan karena perlakukan Pedho, tapi lelaki itu enggan menyentuh dirinya.
Deg
Lelaki tersebut menggeleng dengan cepat. Tidak sampai kapan pun dia tidak akan pernah menceraikan Leona, istri tercinta nya.
"Sayang kamu bicara apa? Bagaimana aku berpikir kamu tidak bisa memuaskan ku. Maafkan aku, Sayang. Aku mencintaimu. Tolong jangan ucapkan kata perpisahan itu, aku tidak sanggup," mohon Pedho dengan memegang bahu istrinya sambil menangis.
Leona menepis tangan suaminya, "Jika Kakak mencintaiku kenapa Kakak tidak pernah menyentuh ku? Bahkan kita menikah sudah sebulan tapi kita tidak pernah malam pertama. Bukankah itu tandanya Kakak tidak mencintaiku? Lalu untuk apa Kakak menikahi ku? Hanya untuk pajangan, hah?" sentak Leona menangis dengan hebat.
"Apa gunanya kita menikah, Kak? Aku ingin hamil, aku ingin punya anak. Aku ingin bahagia. Aku ingin kita bersama," sambung Leona tersungkur didepan Pedho sembari air mata keluar dengan deras.
"Sayang_"
__ADS_1
"Jangan sentuh aku," pekik Leona menepis tangan pria itu
"Sayang, bukan aku tidak mau. Hanya_" ucapan Pedho menggantung. Hal dia katakan akan menyakiti hati istrinya itu.
"Hanya apa Kak. Hanya karena aku sakit?" tuding Leona menyeka air matanya dengan kasar
"Kamu tidak boleh hamil, Sayang. Jika aku menyentuhmu dan kamu hamil itu bahaya. Aku tidak sanggup harus kehilangan mu. Aku lebih baik tidak memiliki keturunan daripada kehilangan mu. Kamu begitu berarti untukku," ucap Pedho ikut tersungkur didepan Leona.
Tubuh wanita itu luruh dilantai. Sekejam inikah hidup? Kenapa dengan hidupnya? Kenapa dia berbeda? Kenapa dia tidak boleh hamil? Apakah tak ada kesempatan baginya untuk mendapat gelar seorang Ibu? Leona ingin memiliki anak seperti wanita lain.
"Hamil berbahaya untukmu. Kamu bisa saja hamil tapi ini terlalu beresiko, Sayang. Dan jika memakai pil penunda kehamilan itu akan berbahaya untuk tubuhmu," ucap Pedho. Terpaksa dia mengatakan yang sebenarnya. Padahal dia sudah berjanji tidak ingin menjelaskan apapun pada istrinya. Ini akan menyakiti wanita itu.
"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks," Leona menutup wajahnya.
Perempuan rapuh tersebu menangis dengan hebat. Tangisnya sampai tak terdengar. Lirihan. Rintihan. Kekecewaan. Terdengar memilukan. Raungan dan tatapan memenuhi dadanya.
"Sayang," ucap Pedho.
Pria itu merengkuh tubuh istrinya. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan selain memeluk wanita ini. Dia juga rapuh, sama seperti Leona. Bahkan jika Leona tahu, tidak ada yang lain dipikiran Pedho selain istrinya. Dia sebenarnya tidak siap menjawab setiap pertanyaan yang keluar dari mulut istrinya itu.
"Aku tidak butuh apapun, Sayang. Aku rela tidak memenuhi kebutuhan biologis ku asal itu tidak membuatku kehilangan mu. Kamu jantungku. Aku tidak tahu, seperti apa hidupku tanpa kamu," ungkap Pedho, tangannya memeluk tubuh lemah Leona.
Leona ambruk dipelukkan sang suami. Matanya terpejam kian erat. Tubuhnya sudah tak mampu menahan sakit. Sel kanker itu sudah menyebar ke bagian otak dan saraf.
"Sayang," panggil Pedho.
Pedho menggendong istrinya dengan berlari. Lalu segera menuju rumah sakit.
Didalam mobil tangisnya kembali pecah. Apalagi melihat wajah wanita itu yang begitu pucat. Darah segar mengalir keluar dari hidung istrinya.
Rasa takut kehilangan kembali menghantui pikiran. Semua pengobatan telah di jalani. Para dokter sudah angkat tangan dan menyerah serta mengatakan bahwa Leona takkan bisa sembuh.
.
.
.
.
Pedho mengusap kepala plontos Leona. Sekarang mereka sedang berada dirumah sakit terbesar di New York.
__ADS_1
Pedho memutuskan membawa Leona kembali ke Amerika. Dia tidak akan menyerah mengobati penyakit sang istri. Dia yakin jika setiap penyakit pasti ada obatnya.
"Kak," panggil Leona tersenyum menatap suaminya.
"Iya Sayang?" sahut Pedho tersenyum hangat. Tapi matanya berkaca-kaca.
"Bisa ambilkan buku itu Kak," pintanya sambil menunjuk buku yang ada diatas nakas.
"Tentu saja. Apa sih yang tidak untuk istriku ini?" goda Pedho mencolek hidung sang istri sambil terkekeh gemes
Dia mengambil buku yang ditunjuk istrinya. Sebenarnya dia penasaran apa isi buku itu?
"Ini Sayang," seraya memberikan buku itu pada Leona.
"Terima kasih Suami," godanya
Leona membuka lembar buku tersebut. Senyum nya mengembang seolah tak lekang oleh waktu.
"Kak, lihat ini." Dia menunjukkan gambar didalam buku. Gambar itu adalah hasil lukisan nya.
"Apa ini, Sayang?" tanya Pedho melihat gambar yang ditunjuk istrinya.
"Ini kita, Kak." Dia meraba gambar tersebut. "Suatu hari nanti, kita akan punya anak. Kita akan merawat nya. Kita akan membesarkannya bersama. Kita akan bahagia, Kak!" seru Leona menjelaskan gambar ditangan nya.
Hati Pedho mencelos. Sakit. Patah. Hancur. Mendengar ucapan Leona.
"Ini impianku Kak. Tidak salah 'kan aku bermimpi? Barangkali Tuhan kasihan dan mau memberiku sedikit waktu untuk bahagia," lirihnya terdengar menyayat hati.
"Sayang." Pedho mengenggam tangan istrinya
"Kak, ayo kita ucapkan amin bersama. Semoga doaku terkabul dan impianku menjadi nyata," ujarnya dengan semangat. Siapa tahu Tuhan memberinya bahagia kali ini.
Pedho mengangguk dan mengiyakan ucapan sang istri meski hatinya berteriak menahan perih.
"Kak, naik sini peluk aku." Dia menepuk ruang kosong di ranjangnya.
"Iya Sayang," sahut Pedho tersenyum.
Pedho naik keatas ranjang. Lalu memeluk wanita itu. Setiap malam. Selalu seperti itu. Tidur saling berpelukkan.
Bersambung.
__ADS_1