Cinta Setelah Penyesalan

Cinta Setelah Penyesalan
Gugup


__ADS_3

**Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺**


Pedho masuk kedalam mobil. Tak lupa lelaki itu membuka jas nya yang terkena darah. Jangan sampai Leona melihat dirinya seperti ini, bisa-bisa kekasih nya itu curiga.


"Apa semuanya sudah siap, Ricard?" tanya Pedho sambil menggulung jas nya hingga sampai siku.


"Saya sudah menyiapkan semua nya, Tuan," jawab Ricard.


"Bagus, Ricard. Terima kasih," sahut Pedho tersenyum. "Astaga, aku lupa Ricard." Lelaki itu menepuk jidatnya.


"Lupa apa, Tuan?" kening Ricard berkerut sambil melirik Pedho yang duduk dibangku penumpang.


"Cincin nya masih di pakai Leona," sahut Pedho mendesah. "Tidak mungkin aku meminta dia melepaskan cincin itu, lalu aku pasang lagi. Tidak lucu 'kan?" ujar Pedho sambil menertawakan dirinya. Saking gugup dan tidak sabar untuk melamar wanita itu, dia sampai lupa bahwa cincin yang pernah dia belikan untuk Leona telah dia pasang di jari manis wanita itu saat koma.


Ricard ikut terkekeh, "Beli yang baru saja, Tuan," saran Ricard.


"Ya, kamu benar. Seperti nya aku harus beli yang baru," ucap Pedho menggeleng memikirkan tingkahnya. "Aish, dia pasti akan mengomel jika aku beri dua cincin, Ricard. Kamu tahu sendiri, Leona seperti apa." Pedho mendesah pelan.


Lelaki itu kembali tersenyum seperti orang gila. Baru saja dia menghilangkan nyawa orang. Sekarang ia malah terlihat bahagia. Tentu saja bahagia, sebentar lagi Leona akan menjadi miliknya. Dia sudah melamar Leona secara resmi pada kedua orang tua dari kekasih nya itu. Dan Pedho bersyukur karena kedua orang tua Leona, memberi restu padanya.


"Ricard, pesan cincin seperti yang kemarin. Pastikan sederhana akan tetapi elegan!" perintah Pedho keluar dari mobil.


"Baik, Tuan," sahut Ricard membungkuk hormat.


Pedho masuk kedalam apartemen nya. Dia akan membersihkan diri sebelum bertemu Leona. Tidak mungkin dia bertemu kekasihnya itu dalam keadaan baju yang yang berlumuran darah seperti ini. Bisa-bisa wanita itu akan mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.


Ricard menatap punggung Pedho sambil menggeleng saja.


"Saya berharap, Anda dan Nona benar-benar bahagia, Tuan," gumam Ricard.


Asisten setia itu masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan apartemen Pedho.


.


.


.


"Yun, kenapa aku dandani seperti ini?" protes Leona

__ADS_1


"Supaya kamu cantik, Cinta. Sudah jangan protes," sergah Yuna.


Leona memakai gaun mewah yang telah dipesan jauh-jauh hari oleh Pedho. Wanita itu tidak tahu jika gaun yang sedang dia pakai adalah pemberi dari sang kekasih hati.


"Kenapa wajah mu kusut seperti itu?" tanya Yuna menahan senyum nya.


"Tahu ah, aku sedang kesal. Kak Pedho, kemana ya? Apa dia sudah kembali ke Indonesia? Kenapa dia tidak mengabariku?" ucap Leona kesal. Setelah pulang dari rumah sakit, lelaki yang sudah menjadi kekasih nya itu memang jarang menemui nya. Bahkan memberikan kabar pun tidak.


"Cie yang lagi rindu, cie," ledek Yuna.


"Siapa juga yang rindu?" kilah Leona memalingkan wajahnya. Pipi nya bersemu merah.


Juliet masuk kedalam kamar Leona sambil membawa nampan berisi makanan dan segelas air putih.


"Sayang, makan dulu," ucap Juliet lembut


"Ya sudah kamu, makan dulu. Nanti baru aku rias lagi," ujar Yuna.


Leona mengangguk. Kadang dia diperlakukan seperti anak kecil. Apa-apa tidak boleh di lakukan sendiri, apalagi Luiz terlihat benar-benar posesif padanya. Seolah takut jika adiknya itu akan tergores walau hanya sedikit.


"Minum obat nya." Juliet memberikan beberapa butir obat pada anak perempuan nya itu.


Tak lupa Yuna memasang rambut palsu di kepala Leona, karena rambut sahabat nya itu belum tumbuh kembali. Entah berapa lama waktu yang di butuhkan untuk menumbuhkan rambut yang dulu nya panjang tergerai.


"Ya ampun, Na. Kamu cantik sekali!" seru Yuna menganggumi kecantikan Leona.


Begitu juga dengan Juliet, putrinya ini memang sangat cantik dan anggun. Riasan sederhana ala Yuna saja bisa mempermak wajah Leona seperti seorang model papan atas.


"Sebenarnya aku di dandani secantik ini, mau diajak kemana sih, Yun?" tanya Leona protes. Dari tadi Yuna tak menjawab pertanyaan nya.


Wajah Yuna yang tadi nya tersenyum manis berubah masam saat mendengar pertanyaan sahabat nya itu.


"Ck, kamu ini. Sudah kukatakan jangan banyak protes. Diam saja," sergah Yuna memutar bola matanya malas.


Leona menatap pantulan diri nya didepan cermin. Matanya berkaca-kaca saat melihat betapa cantik dirinya dengan balutan gaun mahal ini. Namun, Leona sadar bahwa hidupnya takkan lama lagi. Bahkan bisa bertahan hingga saat ini adalah sebuah anugerah.


"Ayo Sayang." Juliet menggandeng tangan Leona keluar dari kamar.


Leona mengangguk dan mengikuti kemana ibu nya dan Yuna akan membawa dia pergi. Dalam hati wanita itu terus bertanya-tanya dan bingung saat dirinya didandani.

__ADS_1


Abraham, Luiz dan Andika sudah menunggu diruang tamu. Ketiganya berdiri ketika melihat sosok wanita yang di iring oleh Juliet dan Yuna.


Abraham menatap kagum pada putrinya tersebut. Leona tak hanya cantik tapi juga terlihat anggun dan berkelas.


"Dad, Kak. Aku mau di bawa kemana?" tanya Leona.


"Nanti kamu akan tahu, Sayang," jawab Abraham.


Untuk kali ini Leona tak lagi bertanya. Wanita itu pasrah saat dirinya di ajak masuk kedalam mobil.


Mobil mereka sampai disebuah taman yang sudah dirias dengan cantik. Leona turun dengan tangan Luiz yang menuntunnya.


"Kak." Mulut Leona terbuka lebar saat melihat keindahan taman yang di hiasi oleh ribuan bunga.


"Ayo, Sayang," ajak Luiz.


Luiz melingkar tangan Leona pada lengannya agar adiknya itu memeluk lengan kekarnya.


"Kak, ini tempat apa?" tanya Leona berdecak kagum melihat banyak bunga yang berjejeran.


"Kamu suka?" ujar Luiz sambil tersenyum.


"Suka sekali, Kak. Aku benar-benar menyukai nya," jawab Leona sumringah.


Leona pernah bermimpi, dia ingin di lamar dengan seribu bunga. Leona menyukai bunga mawar berwarna putih. Menurut nya putih itu adalah melambangkan kesucian.


"Kak, banyak sekali bunga disini!" seru Leona.


Luiz terkekeh. Tak heran jika Leona sesenang ini jika melihat bunga mawar putih, dia memang pencinta bunga.


Disana tampak seorang laki-laki berdiri dengan membelakangi Luiz dan Leona. Lelaki itu memasukkan kedua tangan disaku celananya.


"Kak, itu siapa?" tanya Leona menelisik tubuh lelaki itu dari belakang. "Seperti Kak Pedho," gumam nya yang masih didengar oleh Luiz.


Lelaki itu berbalik dan menampilkan senyum manis nya. Bahkan tanpa sadar dia menggeleng saat melihat Leona yang begitu cantik malam ini.


"Kak Pedho," ucap Leona.


Luiz menyerahkan tangan Leona pada Pedho. Tugas nya untuk menjaga Leona, sudah selesai. Setelah ini dia akan biarkan adiknya hidup bahagia. Semoga tak ada lagi drama yang membuat air mata adiknya itu berjatuhan.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2