Cinta Setelah Penyesalan

Cinta Setelah Penyesalan
Kecewa


__ADS_3

Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡


"Kamu benar-benar keterlaluan Tasya!" hardik Lena kecewa pada putri nya itu


Uhuk uhuk uhuk uhuk


Wanita itu terbatuk-batuk. Kerongkongan nya terasa gatal. Apalagi kondisinya belum pulih sama sekali.


"Maaf Bu, aku tidak bisa mempertahankan nya. Apa kata orang nanti jika aku melahirkan seorang anak tanpa suami," ucap Tasya.


"Tapi kamu tidak bisa mengambil keputusan cepat dengan mengugurkan bayi tidak berdosa itu Tasya," ucap Lena memegang dadanya.


Lena syok ketika mendengar pengakuan Tasya yang hamil anak pria yang telah beristri dan lebih parahnya lagi pria itu sama sekali tak mengakui kandungan Tasya. Sehingga membuat pikiran Tasya buntu dan ia melakukan aborsi di usia kandungan yang baru menginjak empat minggu.


"Aku tidak menginginkan nya, Bu," sahut Tasya. Ia tak bisa bayangkan bagaimana ia melahirkan tanpa seorang suami dan terlebih anak yang dia kandung adalah anak pria beristri.


Lena menggeleng sambil menangis kecewa. Lena adalah anak perempuan satu-satunya. Lena sangat menyanyangi Tasya. Dia tidak mau masa depan putrinya itu hancur. Namun, Lena sudah menghancurkan sendiri masa depan nya.


"Kamu sudah membuat Ibu kecewa Tasya," bentak Lena. "Ibu tidak habis pikir, apa yang ada di pikiran kamu. Kamu tega mengkhianati Nak Pedro yang tulus mencintai kamu. Bahkan ia rela menduakan istrinya demi kamu. Tapi kamu malah menyakiti nya," ucap Lena berderai air mata. "Sudah berapa kali Ibu peringatkan memang akan ada hukum karma, saat kamu mengambil milik orang lain," imbuh Lena sambil menyeka air matanya.


Tasya memutar bola matanya malas. Sebenarnya ia paling jengkel melihat air mata ibu nya. Wanita itu seperti tak ada penyesalan sama sekali.


"Ternyata Ibu yang kecewa padaku. Aku tidak peduli," ujar Tasya santai.


"Tasya, kamu benar-benar tidak punya hati," sambung Tama. Kakak Tasya yang paling tua dan sekarang sudah menikah serta memiliki dua orang anak.


"Sudah lah. Kakak urus saja Ibu. Bilang sama Ibu jaga mulut kalau bicara. Aku mau pergi dulu," wanita itu mengambil tas nya lalu melenggang pergi.


"Bu," Tama mengusap punggung Lena. "Sabar yaa, Bu," ucapnya menenangkan.


Tama tak habis pikir apa yang ada di pikiran Tasya. Dia wanita berpendidikan dan seorang dokter tapi tega membunuh anak nya sendiri. Bahkan ibu nya saja tidak di hiraukan.


"Ibu merasa gagal mendidik Tasya, Tam," ucap Lena penuh penyesalan.


Ia sangat menyanyangi Tasya, apalagi Tasya seorang aka perempuan yang harus di jaga dengan baik. Namun, apa yang sudah dilakukan anak nya itu sungguh diluar batas dan sangat keterlaluan.

__ADS_1


"Ini bukan salah Ibu. Jadi jangan menyalahkan diri Bu," ucap Tama.


Di keluarga nya hanya Tasya yang memiliki pendidikan tinggi. Dua adiknya sedang duduk dibangku sekolah menengah atas. Sedangkan kakak tertua nya Tama, bekerja sebagai kuli bangunan dengan penghasilan pas-pasan untuk menghidupi keluarga kecilnya.


Tasya terkadang menjadi tulang punggung keluarga, menyekolahkan kedua adiknya serta membiayai berobat sang ibu. Namun, beberapa waktu terakhir sifat Tasya berubah drastis. Lebih tepatnya saat ia berpisah dari Pedro.


.


.


.


"Dad, Mommy kangen sama Leona," ucap Juliet terdengar sendu. Sudah lama ia tak bertemu anaknya itu. "Setelah Leona bercerai dengan Pedro, Luiz tak memberikan kita kesempatan untuk bertemu anak kita," tuturnya sambil menghela nafas panjang.


"Sudahlah Mom. Luiz juga tidak mengizinkan kita," sahut Abraham. Pria paruh baya itu masih dendam pada putranya sendiri, Luiz dengan tega nya membawa Leona pergi dari rumah.


"Apa yang dikatakan Luiz memang benar," ucap Juliet. "Selama ini kita tidak pernah ada waktu untuk mereka," ungkap Juliet penuh penyesalan. "Kita sibuk dengan uang dan bisnis," sambungnya kemudian.


Abraham dan juliet belum mengetahui penyakit Leona. Setelah pertemuan mereka kemarin, sampai sekarang antara orang tua dan anak itu seperti hilang komunikasi.


Juliet merebahkan kepalanya di bahu Abraham. Mereka berdua sama-sama orang tua yang menganggap jika uang lebih penting dari segalanya. Tanpa memikirkan jika anak-anak mereka kekurangan kasih sayang.


"Kapan kita pulang ke Indonesia lagi? Aku rindu bertemu anak-anak," ujar Juliet melingkarkan tangannya di pinggang Abraham.


"Nanti. Setelah pekerjaan kita selesai," jawab Abraham.


.


.


.


Tasya menatap tak percaya kertas putih yang ada di tangannya.


"Dok, ini. Kenapa saya di pecat?" tanya Tasya menggeleng tidak.

__ADS_1


"Maaf Dokter Tasya. Peraturan dirumah sakit ini berlaku untuk siapa saja, termasuk Anda. Anda sudah melanggar aturan dan sumpah dokter," jelas Indra, direktur baru yang menggantikan posisi Bisma.


"Dok, tapi_"


"Mulai hari ini Anda bukan lagi relawan kedokteran dirumah sakit ini Dok. Maaf," ucap Indra. Dia saja tidak habis pikir saat melihat Tasya. Wanita ini terlihat baik-baik. Tapi kenapa perlakuan nya seperti binatang.


"Dok_"


"Silahkan keluar Dok. Saya masih memiliki banyak pekerjaan," usir Indra dengan hormat.


Tasya keluar dengan wajah jengkel dan juga marahnya. Dia adalah salah satu dokter berprestasi. Bagaimana bisa, rumah sakit memecat nya begitu saja hanya karena kasus perselingkuhan itu?


"Sial," umpat Tasya merobek surat Pemutus Hubungan Kerja tersebut.


"Aku tidak bisa seperti ini. Aku tidak boleh kehilangan pekerjaan ku," ucapnya frustasi. Tasya tak bisa hidup tanpa uang. Apalagi ATM berjalannya sudah tidak ada. Jika ia tidak bekerja, apa yang harus ia makan?


"Aku harus menemui Pedro. Hanya dia satu-satunya sumber keuangan ku,"


Tasya mengambil barang-barang dan memasukkan kedala kardus. Ia dipecat secara tidak terhormat bahkan tanpa di hargai dengan pesangon, akibat dari perbuatannya sendiri.


Wanita itu menjadi perbincangan hangat bagi seluruh karyawan di rumah sakit.


"Dasar Dokter tidak tahu diri. Suami orang saja di embat nya," sindir yang lain.


"Hamil diluar nikah. Tapi kemana isi perutnya?" celetuk yang lainnya mengejek Tasya sambil tertawa sinis.


"Untung istri Dokter Bisma orang baik. Coba saja kalau aku, sudah ku ledakkan kepalanya," sambung yang lainnya.


Tasya mengepalkan tangannya dengan kuat. Namun, wanita itu tetap berjalan tanpa peduli pada sindiran orang-orang yang ia lintasi. Meski telinganya panas, ia tetap menahan diri.


Tasya masuk kedalam mobil sambil membanting pintu mobil dengan kasar. Ia memukul stir mobil dan berteriak beberapa kali.


"Awas saja kamu Bisma. Aku akan hancurkan keluarga mu. Sebagaimana kamu menghancurkan aku," ucapnya dengan senyuman licik, "Dan kamu Leona, jika aku tidak bisa memiliki Pedro. Maka kamu juga tidak akan bisa. Aku juga akan menghancurkan hidupmu. Kamu tidak boleh bahagia diatas penderitaan ku,"


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2