Cinta Setelah Penyesalan

Cinta Setelah Penyesalan
05. Pedro & Rere


__ADS_3

Mobil Pedro memasuki pekarangan rumah Rere.


"Tuan kita benar-benar kesini?" tanya Rere gelisah.


"Kenapa? Kamu tidak mau menerima lamaran saya?" tanya Pedro memincingkan matanya curiga pada gadis tersebut.


"Ya jelas lah, kita tidak saling mencintai Tuan. Bagaimana bisa kita menikah?" ucap Rere melipat kedua tangannya didada.


"Siapa bilang tidak saling cinta?" Pedro melepaskan sealbeat nya lalu mendekati wajah Rere.


"Tuan." Rere menahan dada Pedro. "Jangan berbuat mesum pada gadis dibawah umur," ketus nya.


Pedro tersenyum dan tertawa lebar. Lucu sekali gadis ini dan anehnya kenapa hati Pedro bisa begitu nyaman bersama gadis menyebalkan tersebut.


"Cinta itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Jadi saya bisa mencintai kamu dan kamu bisa mencintai saya," jelas Pedro menyelipkan anak rambut Rere. Mereka masih berada didalam mobil yang terparkir dipekarangan rumah mewah Rere.


"Saya masih kecil, Tuan," sergah Rere memalingkan wajahnya kesembarangan arah. Dia selalu gugup melihat wajah Pedro dari dekat.


"Tapi sudah bisa buat anak kecil 'kan?" bisik Pedro menggoda gadis itu


Rere mencubit pinggang Pedro dengan gemes.


"Awww, kejam," ringgis Pedro.


"Makanya kalau bicara itu disaring, Tuan," ketus Rere setengah mendorong tubuh Pedro lalu keluar dari mobil.


Rere menatap mansion mewah keluarga nya. Sudah beberapa bulan dia tidak kesini. Niat hati ingin menepi tetapi malah harus bertemu dengan pria seperti Pedro. Alhasil Rere terjebak dalam permainan nya sendiri.


"Kenapa?" tanya Pedro berdiri disamping Rere.


"Saya takut Daddy dan Mommy jantungan kalau melihat calon suami saya malah berubah menjadi pria tua," singgung Rere.


Pedro mendelik. Padahal dia tidak terlalu tua, perbedaan usia mereka hanya 14 tahun. Pedro masih muda dan tampan karena dia sering berolahraga demi menjaga postur tubuhnya agar selalu sehat. Namun seketika lelaki itu tersenyum ketika Rere mengatakan bahwa dia adalah calon suami dari gadis kecil itu.


"Ayo," ajak Pedro menggandeng tangan Rere.


"Aish, jangan pegang-pegang Tuan," protes Rere menepis tangan Pedro.

__ADS_1


Namun, Pedro malah menangkap tangan gadis itu lalu melingkarkannya di lengan kekar milik Pedro.


"Ingat kita ini adalah calon suami istri," ucap Pedro menegaskan.


Rere merenggut kesal, sejak kapan dia menerima lelaki ini jadi calon suaminya? Tetapi entah kenapa gadis tersebut tidak bisa menolak? Jujur saja dia sudah merasa nyaman saat bersama Pedro, sehari saja tak bertemu dengan Boss menyebalkan nya tersebut, Rere merasa ada yang kurang dari dirinya. Apalagi pertemuan mereka selalu diselingi dengan pertengkaran dan perdebatan kecil.


"Ayo."


Keduanya masuk. Tampak para pelayan sudah berbaris rapi dan menyambut kedatangan tuan putri tersebut.


Pedro sudah yakin dengan hatinya sendiri. Dia mencintai Rere, karena gadis itu sudah masuk kedalam hidupnya. Kehadiran Rere mampu menghapus tentang Leona dihati nya. Oleh sebab itu Pedro tak bisa melepaskan Rere.


"Rere."


"Mom," gumam Rere


.


.


"Apa Anda yakin ingin menikahi putri saya, Tuan Pedro?' Tanya Miller


"Ya dan saya yakin," jawab Pedro.


"Apa yang membuat Anda ingin menjadikan Rere sebagai istri, Anda? Anda tahu kan bahwa dia belum dewasa sama sekali!" sambung Miller lagi.


Rere merenggut kesal ketika sang ayah mengatakan jika dirinya belum dewasa. Padahal sebentar lagi dia berusia 20 tahun.


"Saya mencintai nya. Saya menerima semua kelebihan dan kekurangan nya. Saya akan membimbing dia dan mencintai dia sepenuh hati saya," jawab Pedro tegas dan yakin pada keputusan nya.


Rere menatap Pedro, benarkah lelaki ini mencintai nya? Tetapi sejak kapan Pedro jatuh cinta padanya. Bukankah selama ini mereka berdebat dan bertengkar setiap kali bertemu? Lalu kapan lelaki itu mencintai nya?


"Rere, kamu tahu 'kan kalau kamu dijodohkan dengan Ricard. Apa kamu yakin akan menikah dengan Tuan Pedro atau menikah dengan pria yang jodohkan sama kamu?" tanya Miller pada anak perempuan nya tersebut.


Rere terdiam bingung, dia tidak tahu harus jawab. Dulu dia memang mencintai Ricard ketika dia kecil. Tetapi kenapa sekarang tidak ada lagi getaran yang dulu selalu membuat dadanya bergetar. Sementara bersama Pedro, Rere selalu merasa nyaman dan terlindungi. Semua perasaan yang dulunya takut kini benar-benar terasa aman ketika dia menemukan Pedro.


Pedro tetap tenang dan santai saja, dia yakin jika Rere akan memilih nya. Entah karena terlalu percaya diri atau sudah lama menduda, Pedro jadi yakin jika Rere akan memilih dirinya.

__ADS_1


"Re," panggil Metha pada anak perempuan nya tersebut.


"Iya. Rere memilih Tuan Pedro, karena Rere juga mencintai Tuan Pedro," jawab Rere jujur.


Hati Pedro berbunga-bunga ketika Rere mengatakan menyukai nya. Senyum lelaki itu menggembang, tepat seperti dugaan nya bahwa Rere juga memiliki perasaan yang sama padanya.


Miller tampak menghela nafas panjang. Bukan tidak setuju atau bagaimana, Pedro adalah pria berkelas yang terlahir dari keluarga yang kehidupan nya selalu di sorot oleh media. Miller hanya takut jika nanti Rere malah merasa tidak nyaman.


Namun, sebagai seorang ayah tentu Miller ingin anak nya bahagia. Meski mungkin pilihan nya tidak sesuai dengan pilihan Rere.


"Baiklah," jawab Miller. "Tuan Pedro, apakah Anda bisa mengajak orang tua Anda datang kesini untuk membicarakan pernikahan kalian?"


"Tentu," jawab Pedro cepat.


Rere menghela nafas panjang. Apakah keputusan nya sudah tepat? Rere tidak tahu. Dia berharap, Pedro benar-benar jodoh yang untuknya. Meski jujur saja Rere belum ingin menikah, dia bahkan masih berstatus mahasiswa cuti yang beralasan tidak punya biaya. Tetapi siapa sangka alasan tersebut justru mempertemukan nya dengan seorang duda tampan seperti Pedro.


.


.


Ricard memasukkan barang-barang nya kedalam koper. Lelaki itu berlapang dada menerima kenyataan bahwa Rere tidak memilih nya. Bukankah cinta terbaik adalah melepaskan seseorang demi kebahagiaan nya, asal Rere bahagia. Ricard rela melepaskan Rere bersama Pedro.


"Sayang sudah siap?" tanya nya pada seorang gadis yang juga tengah memasukkan barang-barang nya kedalam koper.


"Sebentar lagi, Kak," jawab Shella.


"Biar aku bantu," tawarnya.


"Tidak perlu Kak, ini tinggal sedikit lagi," tolak Shella.


Ricard duduk dibibir ranjang. Dia menatap gadis yang ternyata diam-diam memiliki rasa padanya tersebut. Hingga akhirnya Ricard memutuskan menjalin hubungan dengan gadis itu untuk menghapus jejak Rere di hatinya.


"Ayo Kak, sudah," ajak Shella.


Keduanya keluar dari apartemen. Ricard memutuskan pindah keluar negeri bersama Shella sang kekasih. Shella akan melakukan study nya disana. Sementara Ricard akan meneruskan usaha kedua orang tuanya.


Semua yang dimulai selalu menemukan akhirnya. Memang sudah menemukan takdirnya begitu. Hal itulah yang dirasakan oleh Ricard. Melepaskan Rere demi kebahagiaan gadis itu bukanlah hal yang mudah tetapi pilihan yang baik. Pergi dan menepi sejauh mungkin agar hatinya baik-baik saja. Ricard bahkan tak berminat untuk hadir di hari bahagia gadis pujaan nya itu. Biarlah Rere bahagia dan dia juga akan bahagia nantinya bersama, Shella.

__ADS_1


__ADS_2