
**Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡**
Tasya masih menangis segugukan di apartemen miliknya. Pedro telah pergi meninggalkan dia. Kenapa siapa lagi ia akan mengadu dan beradu?
"Arghhhhhhhhhhhhh," wanita itu memukul perutnya berulang kali. "Kenapa kamu hadir disini? Kehadiran mu membuat hidupku hancur," pekik Tasya.
Ia tidak menerima benih yang tumbuh di rahim nya. Bagaimana nasib anak nya nanti jika tahu bahwa dirinya lahir dari hubungan yang salah?
"Apa yang harus aku katakan pada Ibu? Ibu pasti akan sangat kecewa padaku. Hiks hiks," tangisnya kian pecah seakan mampu memecahkan keheningan malam yang begitu dingin menyeruak masuk kedalam bulu-bulu kulit.
"Ini semua gara-gara Leona," hardik Tasya. "Leona, aku takkan biar kamu merebut Pedro dari aku. Pedro milik ku, kamu hanya orang ketiga di hubungan kami," ucap Tasya.
Tasya begitu membenci Leona. Mempengaruhi agar Pedro tak mencintai istri nya adalah hal yang mudah Tasya lakukan. Tapi tetap ia tak sehebat Leona dalam banyak hal. Ia wanita yang terlahir dari keluarga miskin. Hingga ia dengan enteng nya melakukan dosa dan hubungan terlarang tersebut.
"Aku harus menemui Mas Bagas," wanita itu menyambar tas nya. Dia masuk kedalam mobil yang dibelikan Pedro untuk nya.
"Aku tidak mau anakku lahir tanpa Ayah. Mas Bagas harus bertanggungjawab. Aku tidak peduli dia sudah memiliki istri dan anak," tekad Tasya.
Tasya menyesal karena sudah terbuai dengan permainan lembut Bagas. Sementara Pedro tak pernah menyentuh nya. Lelaki itu selalu mengatakan untuk menjaga Tasya dan tidak mau wanita itu hancur karena dirinya.
Tasya memarkir mobilnya di parkiran rumah sakit. Dia keluar dari mobil dan berjalan dengan gontai menuju ruangan Bagas. Tidak ada yang tahu hubungan mereka. Keduanya menjalin hubungan gelap tersebut cukup lama.
"Mas Bagas," Tasya langsung membuka pintu.
Bagas yang tengah asyik dengan berkas pasien diatas meja nya terkejut. Lalu dia menatap Tasya dengan marah.
"Tasya, bisakah kamu ketuk pintu dulu sebelum masuk?" ketus Bagas kesal.
"Mas," Tasya menghampiri Bagas lalu memeluk lelaki yang tengah duduk di dikursi kebesarannya itu.
"Ada apa Tasya?" tanya Bagas terkejut.
__ADS_1
"Mas," renggek Tasya sambil menggigit bibir bawahnya menahan tangis.
"Kenapa?" tanya Bagas menyelidik.
"Aku hamil,"
Deg
Bagas menatap Tasya tak percaya. Beberapa kali lelaki itu mengerjab-ngerjabkan matanya.
"Anak siapa?" tuding Bagas menatap Tasya penuh selidik.
"Maksud kamu apa Mas? Ini anak kamu," jawab Tasya sambil menunjuk perutnya.
Bagas menggeleng. "Lagian bukan hanya aku yang menyentuh kamu," ucap Bagas menatap Tasya jijik.
"Mas, aku melakukan nya hanya sama kamu," jelas Tasya.
"Mas, kenapa kamu tega bicara seperti itu? Aku memang pernah melakukan nya sebelum sama kamu. Tapi kamu yang terakhir dan ini anak kamu," sentak Tasya meneriaki telinga Bagas
"Stop Tasya," bentak Bagas menunjuk wajah Tasya. "Kamu tahu, hubungan ini hanya saling menguntungkan. Aku tidak pernah mencintai kamu. Aku sudah tegaskan dari awal. Jika terjadi sesuatu aku tidak akan tanggung jawab," tegas Bagas
"Sekarang kamu keluar dari ruangan aku," usir nya.
"Aku tidak mau Mas. Mas harus bertanggungjawab dan menikahi ku," ucap Tasya berlinang air mata.
Bagas tertawa menggelora. Lucu dan juga menjijikan. Dalam bayangan dan benak nya ia sama sekali tidak pernah berpikir untuk menikahi Tasya. Ia hanya memanfaatkan Tasya untuk memuaskan nafsu nya semata. Dilihat dari sisi manapun Tasya takkan seimbang dengan istri nya yang cantik dan memiliki segalanya.
"Jangan pernah bermimpi Tasya. Sebaiknya kamu gugurkan bayi itu dan semua masalah selesai," saran Bagas dengan enteng nya.
"Kamu jahat Mas!" hardik Tasya. "Aku akan mengatakan semua nya sama istri kamu, Mas. Aku akan katakan bahwa anak yang aku kandung ini. Anak kamu," ancam Tasya. Dia tidak peduli lagi. Tasya hanya ingin Bagas bertanggungjawab. Dia tidak ingin anak nya lahir tanpa seorang Ayah. Kasihan nanti anaknya akan jadi guncingan orang-orang.
__ADS_1
"Ohh silahkan Tasya," Bagas tersenyum licik. "Tapi jangan lupakan satu hal, nyawa Ibu kamu ada di tangan ku. Jika kamu berani mengatakan pada istriku. Maka kamu harus bersiap-siap untuk kehilangan Ibu mu selama nya," ancam Bagas. Ia bisa melakukan apa saja untuk membalas Tasya. Ia takkan diam jika Tasya berani mengatakan pada istrinya tentang hubungan gelap tersebut.
"Kamu tega, Mas," Tasya hendak melayangkan pukulan di wajah Bagas. Namun lelaki itu dengan kuat mencengkram tangan Tasya.
"Jangan pernah berani sentuh aku Tasya. Kamu wanita menjijikan," lalu ia menghempaskan tangan Tasya dengan kuat hingga membuat wanita itu meringgis kesakitan.
"Awwww,"
Bagas menarik tangan Tasya dan menyeret wanita itu keluar dari ruangan nya.
"Pergi kamu," dia mendorong tubuh Tasya hingga terjerembab di lantai.
Untung suasana rumah sakit sudah sepi karena memang hampir tengah malam. Bagas belum pulang karena sedang menyelesaikan beberapa data pasien yang masuk dalam list rumah sakit.
Tasya meringgis kesakitan. Ia memegang perutnya yang nyeri akibat dorongan dari Bagas. Wanita itu berdiri sambil memegang perutnya. Air mata keluar berlimpah ruah.
"Kamu jahat Mas. Aku tidak akan biarkan kamu bahagia. Aku akan hancurkan kamu. Seperti yang sudah kamu lakukan sama aku," ucap Tasya menatap pintu ruangan Bagas.
"Maafkan Mama Sayang. Mama tidak bisa mempertahankan kamu. Mama belum siap menerima kamu di kehidupan Mama," sambil mengusap perut ratanya.
Tasya bertekad untuk membunuh bayi dalam kandungan nya. Dia tidak bisa mempertahankan bayi yang tidak di inginkan ini. Dia tidak mau menjadi bahan guncingan orang-orang ketika mereka tahu bahwa ia menggandung anak dari pria yang sudah memiliki istri.
Tasya melangkah menelusuri koridor rumah sakit. Tangannya memegang perutnya yang terasa sakit akibat dorongan keras Bagas padanya.
Tasya adalah dokter cantik dan berprestasi. Ia salah satu dokter muda yang namanya masuk dalam daftar sepuluh dokter terbaik. Kecekatan nya dalam menangani pasien membuat ia banyak di kagumi, baik dari kaum adam maupun kaum hawa.
Namun sayang jalan yang ia ambil salah. Ia pikir bisa memuaskan nafsu yang menggelora. Kenyataan nya ia malah terjebak dengan permainan nya sendiri. Padahal Pedro sangat mencintainya. Rela meninggalkan sang istri demi bersamanya. Tasya malah membuat diri nya berada di ujung jalan tak bertujuan.
Kini, Tasya merasa sendiri. Pedro telah pergi. Namun, ia takkan lepaskan lelaki itu. Ia akan kejar sampai Pedro kembali ke dalam pelukan nya. Pedro miliknya. Lelaki itu tak boleh hilang. Dia dan Pedro harus tetap bersama. Tasya yakin bisa membuat Pedro kembali ke dalam pelukan nya, meski itu terdengar tak mungkin.
Bersambung...
__ADS_1