
Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
Leona tersenyum mendengar pertanyaan Pedho. Jika ia tak mencintai Pedro mana mungkin ia bertahan hingga kini. Namun sayang cintanya tak bisa menggapai lelaki itu.
"Aku sangat mencintainya Kak," jawab Leona sambil tersenyum.
Apakah Leona tahu, jawabannya itu membuat hati pria yang didepan nya hancur tak berbentuk. Hatinya pedih saat wanita yang ia cintai dalam diam mencintai pria lain.
"Tapi cinta itu tidak harus memiliki kan Kak?" ucap Leona. "Setelah aku jatuh sakit. Aku mulai sadar. Hidup ini terlalu singkat jika dihabiskan untuk sesuatu yang belum pasti akan menjadi milik kita," Leona melirik Pedho yang menatapnya tak berkedip. "Dan seperti aku sekarang. Kadang aku seperti wanita bodoh mencintai lelaki yang sama sekali tak mencintai ku. Namun, kadang aku berpikir bukankah cinta memang menyakitkan, ia mampu menghancurkan hati berkeping-keping. Terkadang yang menyakiti kita bukan munsuh atau lawan kita tapi yang sering membuat kita patah hati adalah orang yang paling kita cintai," Leona menghela nafas panjang. "Seperti aku saat ini. Aku terlalu lama menyiksa diri dengan cinta yang tak pasti. Dan sekarang, aku menyadari segala hal bahwa aku tidak bisa terus begini. Melepaskan, bukan karena aku menyerah tapi aku tak ingin mati rasa ketika sudah terlalu sering merasakan sakit," imbuh Leona.
"Tapi aku akan baik-baik saja Kak," wanita itu masih tersenyum setelah mengungkapkan perasaan sakitnya.
Pedho menganggumi sosok Leona yang tidak larut dalam kesedihan nya. Lima tahun yang lalu mereka berkenalan. Leona sangat cerewet dan manja, namun tidak tergila-gila padanya. Hal itu membuat hati Pedho jatuh pada sosok gadis bernama Leona. Namun setelah ia pulang perjalanan bisnis ia dihadapkan dengan sebuah kenyataan bahwa gadis yang di jodohkan serta membuat ia jatuh cinta di nikahi oleh adiknya sendiri. Padahal Pedho sudah menyiapkan lamaran untuk mempersunting Leona.
"Ya kamu benar," Pedho terkekeh.
"Iya Kak. Setelah menemui Daddy dan Mommy serta Kak Luiz aku akan segera menggugat cerai Pedro. Keputusan ku tidak salah kan Kak?" ucap Leona melirik kakak iparnya itu.
"Sama sekali tidak," sahut Pedho terkekeh. "Hanya saja jangan menangis lagi kalau patah hati nanti," ledek Pedho.
"Kakak," Leona tersipu malu. Ia masih ingat kemarin menangis memeluk Pedho dan mengadu perbuatan suaminya. "Normal kan kalau aku masih bisa menangis?"
Pedho mengangguk. "Makanya bersyukur masih bisa menangis," Pedho mengacak rambut Leona yang panjangnya hanya sebahu itu. Leona tidak suka rambut panjang.
"Kak," Leona memukul pelan tangan Pedho.
Pedho tertawa lebar. Sifat aslinya terlihat hanya bersikap Leona, ia akan seperti anak kecil ketika berbicara dengan wanita itu. Andai Leona tahu sebesar apa cinta Pedho padanya. Andai Leona tahu bahwa Pedho adalah lelaki yang menangisi setiap malam didalam doa nya meminta agar Tuhan memberikan kesempatan pada wanita itu untuk hidup lebih lama.
__ADS_1
Ricard yang duduk dibangku depan tersenyum saja mendengar percakapan kedua manusia dibelakang nya. Tak pernah ia melihat Pedho sebahagia itu. Biasanya selalu itu selalu menampilkan wajah dingin dan tak bersahabat bak tak bisa disentuh oleh siapapun.
Sampai di restourant keduanya langsung turun sambil berbincang-bincang. Leona sudah menghubungi Andika untuk menyusul mereka. Sedangkan Yuna sudah menunggu karena restourant ini milik Yuna
"Kak," Leona langsung mengenggam tangan Pedho.
Pedho terkejut dan menatap kearah Leona yang tampak terdiam sambil menatap kedepan. Pedho ikut melihat arah tatapan Leona. Ya disana, di restourant langganan mereka terlihat Pedro dan Tasya yang tengah asyik makan berdua sambil saling suap-suapan seolah dunia milik mereka berdua.
"Brengsek," Pedho hendak maju dan menyerang Pedro.
"Jangan Kak," Leona memeluk lengan lelaki itu dan menggeleng. "Biarkan saja," ucapnya tersenyum getir. "Kita pesan ruangan VVIP saja, Yuna sudah menunggu Kak," ajak Leona matanya sudah berkaca-kaca dan pipinya panas. Andai ia tidak disana Pedho sudah pasti ia akan menangis dan mengadu dengan hebat tentang rasa sakit didadanya saat ini.
Pedho mengangguk. Rahangnya mengeras saat melihat lelehan bening jatuh di pelupuk mata Leona, meski wanita itu berusaha menyembuhkan nya tapi Pedho bisa melihat nya. Ia menatap Pedro penuh kebencian. Jika bukan karena Leona menahannya, Pedho akan menghajar Pedro lagi seperti kemarin.
"Na. Kak Pedho," sapa Yuna. "Ayo masuk," aja Yuna. Yuna memang menyiapkan ruangan privasi untuk para sahabat nya itu.
Andika sudah duduk dengan nyaman disana sambil memutar bola matanya kesal karena sudah lama menunggu.
"Kalian kemana saja sih? Aku sudah hampir jemuran menunggu kalian berdua," protes nya.
Namun kedua orang itu malah duduk tanpa peduli pada gerutuan Andika. Leona, menunduk menahan air matanya. Ia berusaha untuk tak menangis. Tapi tetaplah ia wanita yang punya hati dan memiliki perasaan sakit dan sensitif.
"Na," panggil Andika. "Kamu kenapa?"
"Na," panggil Yuna juga. "Kak, Leona kenapa?" tanya Yuna panik.
Pedho mengusap bahu Leona. Pasti sangat sakit melihat suami sendiri, bersama wanita lain.
__ADS_1
"Tadi, di luar ada Pedro dan Tasya," jawab Pedho.
"Apa?" pekik Andika dan Yuna bersamaan.
"Benar-benar keterlaluan," geram Yuna. "Kak ini tidak bisa di biarkan Kak. Secepat nya Kakak hubungi Kak Luiz dan orang tua Leona. Mereka harus tahu seperti apa kehidupan Leona. Biar mereka tidak menyalahkan Leona saat Leona pisah sama Pedro," ucap Yuna menggebu-gebu.
Pedho mengangguk. Luiz akan datang beberapa hari lagi. Ia sedang menyelesaikan beberapa pekerjaan nya disana. Begitu juga dengan orang tua Leona. Kenapa Pedho dekat dengan orang tua Leona? Karena awalnya memang dia yang dijodohkan dengan wanita itu. Namun entah apa penyebab nya yang membuat mereka mendadak menikahkan Pedro dan Leona, sebelum Pedho kembali ke Indonesia?
"Na," Yuna mengenggam tangan Leona. "Jangan sedih ya. Sebentar lagi kamu akan bebas dari laki-laki itu," sambil mengusap pipi Leona.
Leona mengangguk. Sebenarnya ia bukan wanita lemah. Ia tak perlu dikasihani. Ia bisa mengurus dirinya sendiri. Namun tetap saja hal yang bersangkutan dengan Pedro membuatnya seperti wanita bodoh.
"Ya sudah kita makan. Nanti kamu minum obat," ajak Pedho agar Leona tidak larut dalam kesedihan.
"Iya Kak," Leona mengusap pipinya.
Yuna sudah menyiapkan makanan istimewa untuk ketiga tamu terhormat nya. Menu terfavorit dan terpopuler di restourant nya.
"Na, bagaimana reaksi kemoterapi kamu?" tanya Andika di sela-sela makannya.
"Belum terasa Kak. Hanya kadang-kadang sesak nafas kalau mau tidur," jelas Leona.
"Nanti saya akan berikan obat lagi untuk sesak nafasnya," ucap Andika.
"Iya Kak,"
Leona bersyukur, ia memiliki sahabat dan kakak ipar yang begitu peduli padanya. Setidaknya ia tak sendirian menghadapi kenyataan pahit yang membuat hatinya tak berdaya.
__ADS_1
Bersambung...