
**Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺**
Tessa memasukkan beberapa barang nya dengan buru-buru. Dia tidak bisa berlama-lama disini, jejak nya sudah diketahui oleh Pedho. Tessa tak mau berakhir mengenaskan seperti dokter yang di perintahkan untuk membunuh Leona.
"Aku harus segera pergi, sebelum Pedho dan Luiz menemukan ku," ucap Tessa.
Wanita itu keluar dari apartemen nya sambil menyeret koper ditangannya. Dia tampak buru-buru dengan langkah yang lebar.
Tessa telah menjadi buronan Pedho. Wanita itu bersembunyi di apartemen sang kekasih yang selama ini diam-diam membantu melancarkan aksinya.
"Ayo Adam, jalan," ajaknya sambil masuk dan memasang sabuk pengaman.
"Tidak perlu takut, Sayang," ujar Adam sambil terkekeh melihat kearah Tessa.
"Ck, kalau sampai Pedho menangkap ku bagaimana?" ketus Tessa sambil memperbaiki posisi duduknya.
Adam tertawa lebar sambil menyetir, "Tenang saja Sayang. Selama ada aku, kamu aman," godanya sambil mencolek dagu Tessa.
Tessa terdiam sambil melipat kedua tangannya didada. Model cantik itu tampak berpikir keras sambil menatap keluar jendela mobil. Wajahnya terlihat serius, lalu dia tersenyum licik.
"Apa kamu sudah menyiapkan semua nya, Adam?" tanya Tessa tanpa melihat pria itu.
"Tentu, jangan meragukan ku. Aku bisa bekerja lebih cepat dari yang kamu duga," sahut Adam mengerlingkan matanya jahil.
"Bagus." Tessa tersenyum devil. "Pedho. Pedho. Mau sampai kapan kamu akan terus berlari dan aku takkan menyerah untuk mengejarmu. Tunggu aku, Sayang," ucap Tessa penuh keyakinan.
Adam tersenyum sambil menggeleng saja. Adam adalah teman ranjang Tessa yang saling menguntungkan satu sama lain. Dia membantu Tessa melancarkan rencananya karena dia mendapatkan sesuatu yang adil dari wanita itu.
Keduanya memiliki misi yang sama yaitu menghancurkan kebahagiaan Pedho.
"Leona juga akan jatuh ke tanganku," sahut Adam.
Ya Adam adalah mantan kekasih Leona. Lelaki itu marah dan menaruh dendam ketika Leona pergi meninggalkan nya dan menikah dengan Pedro, lelaki yang dijodohkan dengan wanita tersebut.
__ADS_1
Adam ingin Leona merasakan sakit yang dia rasakan. Dia dulu memang posesif pada Leona, karena Leona wanita berkelas yang tentu nya diincar oleh banyak pria. Hubungan yang mereka jalani cukup lama. Namun, sayang keduanya tak mendapat restu dari orang tua Leona. Lantaran wanita ini telah dijodohkan dengan pria lain.
"Jadi apa rencana kita selanjutnya?" tanya Adam melirik Tessa.
Tessa menatap Adam dan tersenyum licik. Setelah sekian lama mencari, akhirnya dia menemukan orang yang bisa diajak kerja sama untuk mendapatkan hati Pedho kembali. Sementara Pedro, Tessa tidak suka karena Pedro tidak bisa mencelakakan Leona dengan alasan mencintai wanita itu. Sedangkan Adam memiliki rencana yang sama yaitu menghancurkan Leona karena rasa sakit di hati nya, ketika wanita itu memilih pergi meninggalkan dirinya.
"Ikuti permainan ku. Kita akan saksikan bersama kehancuran Leona. Dengan begitu, rasa sakit yang pernah kamu rasakan akan terbalaskan," ucap Tessa dengan senyuman liciknya.
Adam mengangguk paham. Setelah putus dari Leona, lelaki itu hampir stresss karena dia begitu mencintai wanita yang telah lama menjadi kekasih nya. Namun, Leona malah memilih pria yang baru dia temui beberapa waktu.
Sampai di bandara kedua orang itu masuk tergesa-gesa, sebelum jejak mereka diketahui oleh anak buah Pedho. Pedho sudah lama mengincar Tessa, wanita tersebut begitu ahli bersembunyi. Hingga dia kewalahan mencari keberadaan Tessa yang benar-benar liar.
"Korea Utara," ucap Tessa.
.
.
.
Pedro menginjak rem mendadak saat mobilnya hampir menabrak seseorang wanita yang hendak menyebrang.
"Sial," umpatnya memukul stir mobil. "Siapa sih?" gerutunya. Dengan wajah kesal lelaki itu keluar dari mobil.
"Kam_" seketika mata Pedro membulat sempurna ketika melihat wanita yang hampir dia tabrak tadi.
"Tasya," ujar Pedro heran.
Tasya meringgis kesakitan, ternyata mobil Pedro menyenggol nya hingga dirinya terjatuh di aspal dan membuat kaki wanita itu terkilir.
Pedro terdiam menatap wanita yang pernah dia cintai itu. Wanita yang dulu dia sanjung sepenuh hati dan berharap cinta nya akan benar-benar berlabuh pada Tasya. Namun, nyatanya wanita ini malah membuat dia terjebak dalam rasa trauma yang dalam. Disaat yang bersamaan dia harus tahu kenyataan bahwa istrinya sakit. Sayang nya terlambat untuk dia menyadari bahwa cinta yang bersemayam dalam hati, terlambat untuk dimiliki.
Tasya berdiri sambil menahan sakit di kaki nya. Wanita itu berpegangan pada dinding mobil Pedro.
__ADS_1
Sementara Pedro hanya terdiam, tanpa berniat untuk membantu Tasya.
'Apakah aku seburuk itu, Pedro? Bahkan saat aku terjatuh seperti ini, kamu sama sekali tak berniat membantu ku berdiri,' batin Tasya
Namun, Pedro heran kenapa Tasya tak mengejarnya seperti dulu. Ya dia ingat setelah pertengkaran mereka. Tasya pergi dari rumah dan menghilang begitu saja. Pedro pun tak pernah lagi melihat Tasya dan mereka baru saja bertemu setelah sekian lama.
Tasya berdiri pelan, bagian kaki nya sedikit membiru. Wanita ini baru datang beberapa hari yang lalu dari Bandung, dia ingin mengambil beberapa berkas nya di kampus tempat dia kuliah dulu. Tasya masih berusaha mencari pekerjaan.
"Awww," rintih wanita itu hampir terjatuh.
Pedro tetap tak peduli. Dia hanya menatap Tasya dengan dingin. Entahlah, rasa yang dulu begitu menggetarkan dada. Kini seolah hilang dan pergi entah kemana? Dia tak memiliki simpati apapun pada Tasya.
"Tasya, tunggu." Pedro mencengkram tangan wanita itu.
"Ada apa?" tanya Tasya dingin.
Bukan, bukan Tasya tak rindu sosok yang menjadi tempat ternyaman untuk dia pulang, dulu. Tapi Tasya menyadari banyak hal bahwa Pedro takkan menerima dia lagi. Lelaki itu telah benci pada nya.
"Kamu mau kemana?" tanya Pedro. Bagaimanapun wanita ini pernah menjadi bagian terpenting dalam hidup nya. "Kaki kamu luka," sambung nya kemudian.
"Aku mau ambil ijazah dan mencari pekerjaan," jawab Tasya memaksakan senyum.
Pedro merasa aneh dengan Tasya yang berubah. Dulu wanita ini manja sekali padanya. Pedro juga ingat kalau Tasya wanita yang mengejar dia setengah mati.
"Kaki kamu luka," ulang Pedro sekali lagi.
"Aku tidak apa-apa ini hanya terkilir. Nanti juga sembuh," sahut Tasya.
Padahal kami Tasya membiru karena dan sedikit mengeluarkan darah. Namun, dia mengatakan bahwa kaki nya baik-baik saja.
"Naiklah ke dalam mobil. Nanti aku obati, aku telah menabrak mu jadi aku harus bertanggungjawab," ucap Pedro dingin. Sebenarnya lelaki itu masih peduli pada Tasya. Jujur saja menjalin hubungan dalam jangka waktu yang panjang, tidak akan mudah hanya untuk melupakan segala perasaan yang dulu nya pernah ada.
"Tidak perlu. Aku bisa obati sendiri," tolak Tasya tersenyum ramah. Tasya tak mau terjebak lagi dalam perasaan nya. Tak mudah bagi dia melupakan Pedro hingga sampai ada dititik ini.
__ADS_1
"Jangan menolak. Aku takut luka kamu infeksi." Pedro masih keukeh meminta Tasya ikut bersama nya.
Bersambung.....