Cinta Setelah Penyesalan

Cinta Setelah Penyesalan
Perasaan bersalah


__ADS_3

**Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡**


Pedro menjalankan mobilnya meninggalkan pantai. Dia menatap tajam mobil Pedho yang berada didepan. Permandangan yang membuat hatinya sakit ketika Pedho menggendong Leona masuk kedalam mobil.


"Kalian saja nanti. Aku takkan biarkan kalian bahagia diatas penderitaan ku. Leona, kamu hanya milikku. Aku singkirkan Kak Pedho dari hidup kamu," ucap Pedro dengan tatapan liciknya.


Pedro diam-diam mengawasi Leona dan Pedho, niat hati ingin lebih dekat dengan mantan istrinya itu. Tidak tahu nya hati nya malah dipatahkan oleh kenyataan.


Mobil Pedro terhenti disebuah caffe. Seperti nya ia hendak bertemu seseorang yang baru saja mengirim pesan padanya.


"Pedro Pannetha,"


"Ada apa memangil ku kesini?" tanya Pedro sambil duduk dikursi. Wajahnya tampak kesal.


"Kenapa dengan wajahmu?" tanya wanita itu dengan senyuman meledek. "Sedang melihat kemesraan mantan istrimu bersama kekasih baru nya?" sambung wanita tersebut tampak mengejek Pedro melalui pertanyaan dan senyuman di bibirnya.


"Jangan meledek ku," ketus Pedro. "Cepat katakan ada apa memanggil ku kesini? Aku tidak punya waktu untuk meladeni mu," sambil melirik arloji yang melingkar dipergelangan tangannya.


"Santai bro," wanita itu menyapu bahu Pedro. "Misi kita sama. Bukankah kamu ingin Leona kembali?" Dia tersenyum licik.


"Kamu tahu dari mana?" Pedro menatap wanita itu curiga.


"Aku tahu dari mana itu tidak penting." Dia mengangkat gelas tersebut lalu menyesap isinya. "Misi kita sama," tuturnya. "Aku ingin Pedho kembali padaku," sambungnya. Menyebut nama pria itu ia kembali merasakan luka dan teringat akan penolakkan Pedho padanya.


Pedro menatap wanita itu penuh selidik. Tentu saja ia mengenal siapa wanita ini. Mantan dari kakaknya yang dulu sering menghabiskan waktu bersama dia dan Tasya.


"Bukan nya Kakak yang meninggalkan Kak Pedho, kenapa sekarang ingin kembali padanya?" tanya Pedro tak habis pikir.


"Ya aku tahu, tapi sekarang aku menyesali nya dan aku ingin memperjuangkan cintaku kembali," ucap Tessa dengan nada lirih.


Ya wanita itu adalah Tessa. Wanita yang sempat menghabiskan waktu nya cukup lama bersama pria bernama Pedho. Namun, karena ego nya dan dia lebih mengutamakan karier, membuat ia kehilangan kesempatan untuk hidup bahagia bersama lelaki baik seperti Pedho.


Tessa ingin mengajak Pedro bekerjasama untuk mendapatkan cinta Pedho kembali. Sebab Tessa di minta oleh Anjani untuk menemui Pedro dan membahas hal ini.


"Lalu apa rencana kita?" tanya Pedro.

__ADS_1


"Gampang," Tessa tersenyum devil. Lalu dia membisikkan sesuatu ditelinga Pedro.


Pedro mengangguk paham lalu tersenyum devil. Dia manggut-manggut saat mendengar penjelasan Tessa.


"Baik Kak, aku setuju," jawab Pedro.


Biarlah Tessa berkhianat pada Tasya. Kali ini ia ingin memperjuangkan kebahagiaan nya dengan mendapatkan hati Pedho kembali.


"Bagus. Kita mulai jalankan rencana ini," ucap Tessa.


Tessa tidak akan melepaskan Pedho begitu saja. Apalagi Pedho adalah lelaki berkelas yang tidak mungkin ia tinggalkan.


Begitu juga dengan Pedro, baginya Leona hanya boleh dimiliki oleh dirinya. Pedho hanya orang baru di kehidupan Leona. Jadi, sampai kapanpun ia takkan biarkan kakaknya itu merebut kebahagiaan yang ingin dia dapatkan setelah berpisah dengan Leona.


.


.


.


"Jadi bagaimana Dik?" tanya Luiz.


"Lalu apa yang harus kita lakukan Dik?" tanya Luiz frustasi. Apapun yang terjadi ia tidak akan biarkan Leona pergi meninggalkan dirinya. Ia tidak bisa hidup tanpa adiknya itu.


"Tidak ada cara lain, kita harus membawa Leona keluar negeri," jawab Andika.


Terdengar helaan nafas panjang dari mulut Luiz. Lelaki tampan itu memejamkan matanya sejenak. Baru saja adiknya itu terlepas dari jeratan cinta sang suami yang tidak mencintainya. Sekarang ia malah di jerat oleh penyakit mematikan yang bisa saja membunuh Leona perlahan.


"Luiz, Tessa kembali," ucap Andika.


"Apa?" pekik Luiz terkejut. "Tessa kembali?" ulangnya sekali lagi.


Andika mengangguk, "Aku curiga dengan kedatangan nya. Seperti nya dia memiliki niat buruk terhadap Leona," imbuh Andika.


Tangan Luiz terkepal. Sebagai sahabat Pedho yang sering bertemu dengan Tessa pada zamannya, tentu Luiz tahu seperti apa liciknya wanita yang berstatus mantan kekasih Pedho itu.

__ADS_1


"Aku curiga dia bekerja sama dengan Pedro. Kemarin aku tidak sengaja melihat mereka di caffe Yuna. Mereka seperti membicarakan sesuatu yang serius. Mungkin saja itu rencana untuk mencelakai Leona," jelas Andika.


Luiz mengangguk paham, "Andika persiapkan semua keberangkatan Leona keluar negeri. Aku tidak bisa berlama-lama menahan Leona disini. Aku takut ini akan mengancam n


keselamatan Leona," titah Luiz.


"Baik,"


.


.


.


"Hoh, jadi wanita ****** itu sakit rupanya?" Tasya tersenyum licik saat menemukan sebuah kertas di kamar Leona.


Seperti biasa wanita tidak tahu malu itu masih saja tinggal dirumah Pedro, meski sudah di usir berulang kali.


"Leona. Leona. Sudah hidup menderita. Tidak pernah dicintai. Sakit pula. Kasihan sekali kamu," ucap Tasya dengan mengajek kertaz ditangannya. Bahkan wanita itu tampak tertawa kesenangan saat mengetahui jika Leona menderita penyakit yang mematikan.


"Tapi baguslah. Aku tidak perlu berepot-repot menyingkirkan kamu. Karena Tuhan yang baik itu ternyata sudah merestui rencana ku tanpa aku harus turun tangan, hahaha," wanita itu tertawa seperti orang gila. Ia sudah membayangkan penderitaan yang akan Leona jalani selama


Tasya membaringkan tubuhnya di ranjang Leona. Tempat ranjang yang Leona tempati selama lima tahun ia menikah dengan Pedro. Sekarang ranjang mewah ini di miliki oleh Tasya. Meski sudah di usir ribuan kalipun ia tetap saja tidak tahu diri.


"Pedro," wanita itu menatap langit-langit kamarnya. "Aku kangen kamu yang dulu. Kamu yang selalu sayang sama aku. Kamu yang sangat perhatian sama aku. Maafkan aku Pedro," disisi lain, perasaan bersalah Tasya kadang menyalahkan hatinya sendiri.


"Aku tidak akan membiarkan Mas Bisma hidup bahagia. Dia yang sudah menyebabkan aku kehilangan segalanya," tampik Tasya mencengkram dengan kuat sprei yang di tindih.


Tangan wanita itu menuntutnya mengusap perut ratanya. Masih terbayang ia berteriak kesakitan, saat benda tajam itu memasuki alat vitalnya. Sakit luar biasa meski sudah di suntikkan obat pereda sakit. Namun, tatap saja sakit nya menyeluruh dan masuk kedalam tulang-tulang.


"Maafkan Mama. Mama terpaksa membuang kamu," air mata nya luruh.


Ketika menyadari kesalahannya, perasaan bersalah itu menghantam dada Tasya. Ia rela membuang anak tak berdosa didalam kandungan nya demi obsesi nya mendapatkan hati Pedro kembali. Padahal percuma karena lelaki itu takkan mau lagi menerima dia.


"Semoga kamu bahagia disana, Nak,"

__ADS_1


Di keheningan malam wanita itu menangis segugukan menyesali segala rasa dihatinya. Membuang bayi tak berdosa. Membuat darah daging yang tak tahu apa-apa. Hanya karena kebodohan semata.


Bersambung....


__ADS_2