Cinta Setelah Penyesalan

Cinta Setelah Penyesalan
Penyesalan Anjani


__ADS_3

**Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺**


Anjani berjalan masuk kedalam kamar rawat Leona. Disana tampak ada Pedho yang memberi susu pada ketiga anaknya secara bergantian.


Tatapan wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Melihat betapa menderitanya hidup Leona, dia menyesal pernah berpikir memisahkan Pedho dan Leona. .


Anjani juga menyadari jika memperlakukan Pedho dengan tidak baik, hanya karena Pedho bukan anak yang keluar dari rahimnya. Padahal selama ini Pedho selalu menghormati dia sebagai seorang ibu tanpa memandang status.


"Pedho," panggil Anjani.


Tidak boleh banyak orang yang masuk kedalam ruangan rawat inap Leona. Wanita yang masih terlelap nyaman itu, harus membutuhkan tempat yang tenang dan terhindar dari suara-suara berisik yahh menggema.


Pedho mengalihkan pandangan nya. Lelaki itu mengangguk tanpa tersenyum. Dia tidak masalah jika sang ibu tak menerima nya. Hanya saja, Pedho tak habis pikir. Kenapa Anjani tega bekerjasama dengan Tessa dan Pedro hanya untuk memisahkan dirinya dan Leona?


Anjani berjalan masuk dengan pelan sambil menghela nafas panjang.


"Ada apa, Ma?" tanya Pedho dingin.


Sejak tahu bahwa ibu nya bersengkongkol dengan sang mantan kekasih untuk memisahkan dirinya dan Leona, lelaki ini tampak berhati-hati dengan ibu nya. Pedho tak mau memberi sang ibu celah untuk menyakiti istri dan anaknya, apalagi sampai memisahkan mereka.


Anjani menatap ketiga cucu kembarnya. Tampak ketiga anak itu kompak menunjukkan ekspresi mereka yang sedang tidur.


"Mama, minta maaf," ucap Anjani penuh penyesalan. "Mama sudah jahat sama kamu," sambungnya.


Pedho terdiam sambil membiarkan Anjani melanjutkan kata-kata nya. Lelaki itu fokus menatap wajah sang istri yang masih terpejam dan enggan untuk bangun.

__ADS_1


"Mama sudah salah menilai kamu," tuturnya lagi dengan wajah sendu.


"Aku selalu salah di mata, Mama," sahut Pedho menatap Anjani. Sejak kecil saja dirinya sudah di asingkan. Diberikan kasih sayang yang berbeda dari adiknya Pedro.


Mata Anjani berkaca-kaca, lelehan bening itu lolos dipelupuk matanya. Masih saja terngiang di kepala nya, bagaimana dia mengajari anaknya itu berjalan. Ketika duduk di bangun Pendidikan Anak Usia Dini, Anjani berdandan cantik untuk merayakan hari ibu bersama putranya.


"Ada yang ingin mata katakan sama kamu," ucap nya menyeka air matanya dengan kasar.


Pedho tega duduk tenang dikursi sambil ranjang Leona, dengan menggenggam tangan istrinya dengan erat.


"Katakanlah!"


Anjani menghela nafas panjang. Sudah saat nya Pedho tahu tentang apa yang dia sembunyikan selama puluhan tahun ini. Sekarang, Anjani sudah berdamai dengan masa lalu. Rasa sakit ketika tahu bahwa suaminya memiliki anak bersama pria lain, kini mulai terhapuskan. Dia ingin menjadi ibu serta nenek yang baik untuk anak dan cucu-cucu nya.


Lalu Anjani menceritakan semuanya. Sejak Pedho lahir hingga tumbuh dewasa.


Alexander dan Anjani menikah karena perjodohan, disisi lain Alexander sudah memiliki kekasih bernama, Ayunda. Sebelum menikah dengan Anjani, Ayunda sudah menggandung anak dari Alexander. Sehingga Ayunda memilih pergi dan merawat anaknya sendiri. Namun, sayang takdir berkata lain. Ayunda meninggal ketika melahirkan Pedho.


Saat itu Anjani belum juga hamil, sehingga Alexander mengambil putranya dan meminta Anjani untuk merawat putranya. Sebelum Anjani tahu siapa ibu kandung Pedho, wanita itu merawat Pedho dengan kasih sayang. Meski sedikit ada keterpaksaan. Namun, dia merasa senang karena akhirnya memiliki anak meski bukan daging nya sendiri. Hingga akhirnya, Alexander mengungkapkan kebenaran. Anjani tiba-tiba hamil setelah menikah lama dan lahirnya Pedro. Mulai saat itu rasa sayang Anjani pada Pedho tidak ada lagi. Dia selalu menganggap jika Pedho adalah anak pembawa sial. Apalagi, Ayunda telah menjadi orang ketiga dalan hubungan rumah tangga mereka.


Rencana pernikahan Pedro dan Leona juga atas dasar keinginan Anjani. Sejak pertama kali bertemu wanita itu dia sudah jatuh cinta dengan karakter Leona yang ramah. Namun, dia tidak mau jika Leona harus menikah dengan Pedho. Entah kebetulan, atau memang sudah direncanakan di hari pertunangan. Pedho sedang melakukan perjalanan bisnis keluar negeri. Saat itulah Anjani mengambil kesempatan untuk menjodohkan Pedro dengan Leona.


"Maafkan Mama, Pedho. Mama yang sudah memisahkan kamu dan Leona," ucap Anjani sambil terisak. "Mama melakukan nya demi Pedro. Tapi sekarang Mama sadar, bahwa Leona hanya untuk kamu," sambung nya menangis segugukan.


Pedho mencengkram kuat ujung baju nya menahan emosi dan juga amarah. Dadanya serasa di himpit oleh ribuan balok yang terasa diremas-remas lalu mengeluarkan banyak darah.

__ADS_1


Tak masalah jika Anjani memperlakukan nya tak adil, karena memang wanita itu bukan ibu kandungnya. Hanya saja yang membuat Pedho marah, ternyata pernikahan nya yang batal karena rencana Anjani yang menginginkan Leona menikah dengan anaknya Pedro.


"Maafkan Mama, Pedho."


Anjani berlutut di kaki Pedho, berharap anak nya ini memberikan maaf padanya. Dia sungguh menyesal karena telah jahat pada lelaki tersebut.


Pedho melepaskan genggaman tangannya pada Leona. Lelaki itu mengangkat bahu Anjani agar berdiri. Pedho merasa anak yang durhaka saat Anjani berlutut seperti itu didepan kaki nya.


Tangan Pedho terulur mengusap pipi wanita paruh baya ini. Bagaimanapun Anjani adalah wanita yang sudah merawatnya sejak kecil. Meskipun ketika menginjak usia remaja dirinya sudah kehilangan sosok itu. Namun, rasa sayangnya pada Anjani lebih besar dari apapun.


"Aku sudah memaafkanmu, Ma. Mama sudah merawatku sejak bayi. Aku sudah merasakan dari awal bahwa Mama bukan Mama kandung ku. Aku tidak merasa ada ikatan batin antara kita. Namun, aku tetap menyanyangi mu, Ma," ucap Pedho berkaca-kaca. Hati anak mana yang tak sakit, jika dirinya diperlakukan berbeda dari saudara nya sendiri.


"Pedho."


Anjani berhambur memeluk Pedho. Rasa penyesalan itu begitu menyeruak masuk.


"Mama juga menyanyangi mu, Pedho. Maafkan Mama yang selama ini di penuhi dengan amarah dan kebencian," kata Anjani.


Pedho mengusap punggung sang ibu. Dia paham perasaan Anjani. Dia pun akan merasakan sakit yang sama jika tahu orang yang kita cintai memiliki orang dan bahkan sudah memiliki anak.


Lama Anjani memeluk Pedho, meluapkan semua emosi dan rasa yang membuncah didalam dada. Rasa sakit hati dan kecewa atas penghianatan suaminya telah membuat wanita paruh baya tersebut gelap mata. Hingga tega melakukan apa saja untuk membalaskan rasa sakit hatinya pada Pedho yang notabene tidak tahu apa-apa.


Pedho melepaskan pelukan ibu nya. Tangannya kembali mengusap pipi basah Anjani.


"Jangan menangis lagi, Ma. Nanti istri dan anak-anak ku bisa terbangun mendengar suara Mama yang jelek itu," celetuk Pedho terkekeh.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2