
Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡 🍡🍡
Anjani pulang dengan wajah kesal nya. Niat hati datang ke kantor Pedho, adalah untuk meminta putranya itu kembali pada Tessa agar tak menganggu Leona. Namun, malah apa yang Pedho katakan. Ia mengatakan jika Leona adalah calon istrinya.
"Awas saja kamu Pedho," umpat Anjani kesal. "Mama tidak akan biarkan kalian bersatu. Leona hanya milik Pedro," ucap Anjani tegas.
Wanita itu masuk kedalam mobilnya dengan wajah kesal dan terus menggerutu.
Anjani menjalankan mobilnya. Emosinya masih membuncah dan belum stabil, apalagi ketika mendengar pengakuan Pedho.
"Hallo Tessa, temui Tante di restourant biasa,"
Anjani kembali melanjutkan perjalanannya. Wajahnya masih merah padam. Bahkan ia mencengkram dengan kuat stir mobil tersebut.
Mobilnya terhenti didepan sebuah restourant mahal. Wanita itu turun dengan langkah lebar. Meski tak muda lagi. Namun, Anjani tetaplah wanita cantik kelas atas apalagi perawatan yang mahal selalu ia lakukan agar menjaga wajahnya tetap awet muda.
"Tante," Tessa langsung berhambur memeluk Anjani.
"Iya Sayang," Anjani mengusap punggung Tessa.
Anjani dan Tessa memang dekat sejak dulu. Meski awalnya Anjani sempat kesal saat Tessa meninggalkan Pedho. Namun, ketika wanita itu kembali dengan tujuan ingin memperbaiki hubungan nya, Anjani setuju karena ia tidak ingin Pedho lebih dekat dengan Leona.
"Sudah jangan menangis," Anjani melepaskan pelukan nya. "Ayo duduk," kedua wanita itu segera duduk di kursi.
"Maafkan aku Tante," Tessa menunduk malu. "Pedho, menolakku," ia masih mengingat wajah dingin Pedho yang mengatakan sudah tak mencintai nya lagi.
"Kamu tenang saja. Pedho akan jadi milik kamu lagi," ucap Anjani menenangkan wanita tersebut sambil mengusap lengan Tessa dengan lembut.
"Tapi Pedho sudah memiliki kekasih," sergah Tessa.
Tessa minder melihat betapa cantiknya Leona. Apalagi wanita itu terlihat manja pada Pedho. Pedho memang tipikal pria yang menyukai wanita manja seperti Leona. Menurut nya wanita manja pada pria itu memang sudah sewajarnya.
"Bukan. Dia mantan istri Pedro," jawab Anjani.
Tessa terkejut. Ia melihat kearah Anjani yang sudah memasang senyum manis padanya.
"Mantan istri Pedro?" tanya Tessa setengah tak percaya.
Anjani mengangguk, "Namanya Leona," jelas Anjani. "Tapi kamu tenang saja. Tante tidak akan biarkan Pedho dan Leona bersatu. Pedho itu hanya milik kamu dan Leona kembali pada Pedro," ucap Anjani yakin.
Tessa sedikit bingung dengan bahasa Anjani. Ia belum paham maksud dari wanita paruh baya itu. Apa artinya ia memiliki kemungkinan besar untuk kembali pada Pedho?
"Tapi Pedho terlihat mencintai wanita itu, Tante," Tessa menghela nafas panjang.
__ADS_1
Anjani tersenyum licik. Ia sudah memiliki sejuta rencana untuk menyatukan Pedro dan Leona serta Pedho dan Tessa. Tessa adalah salah satu calon menantu yang di inginkan oleh Anjani. Tidak hanya terlahir dari keluarga kaya. Tapi wanita ini juga berkelas, apalagi ia seorang model papan atas yang namanya sekarang masih hangat di perbincangkan oleh media internasional.
.
.
.
"Sial," umpat Pedro melempar berkas diatas meja nya. "Apa saja kerja kalian? Bagaimana bisa penjualan bulan ini menurun?" Pedro duduk sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Maaf Tuan. Turun nya nilai penjualan karena banyak investor yang menarik saham mereka," jelas Ben.
"Apa alasannya mereka menarik saham?" tanya Pedro tak habis pikir.
Lelaki itu tampak frustasi dengan dari yang sudah bergeser kemana-mana. Sedangkan jas nya tergantung nyaman di sandaran kursi.
"Ini karena berita perceraian Anda dengan Nona Leona, Tuan," jawab Ben takut-takut.
Pedro memejamkan matanya sejenak. Emosi sudah naik di ubun-ubun nya. Sejak ia dan Leona berpisah harga saham di perusahaan nya menurun. Banyak investor yang menarik uang mereka kembali, padahal kerja sama saja belum selesai. Sebegitu berpengaruh nya Leona dalam hal bisnis Pedro.
Leona adalah wanita berkelas yang terlahir dari keluarga berada. Tidak hanya kaya dan cantik tapi ia juga memiliki pengaruh didunia desainer. Hingga tak heran jika namanya pun banyak diperbincangkan dalam majalah terkini atau televisi swasta.
Skandal Tasya yang hamil diluar nikah juga menjadi salah satu penyebab turunnya harga saham di perusahaan Pedro. Beberapa investor mengetahui hubungan gelap Pedro dan Leona.
"Baik Tuan. Kalau begitu saya permisi." Ben melenggang pergi dari ruangan Pedro.
Pedro menyenderkan punggungnya lelah. Lelaki itu tampak kacau. Tak hanya memikirkan masalah perusahaan tapi juga ia masih mengejar cinta Leona agar kembali padanya. Namun, hingga kini wanita itu masih enggan berbicara dengan nya.
"Leona, setelah kamu pergi. Aku benar-benar kehilangan segalanya. Perusahaan dan kamu," ucap Pedro. Ada penyesalan dari nada suara lelaki itu. "Aku menyesal telah menyia-nyiakan mu," lirih Pedro.
Masalah Pedro semakin bertambah karena Tasya setiap hari meneror lelaki itu. Meminta agar kembali lagi padanya. Entah kenapa, hati Pedro tak kasihan sama sekali melihat keterpurukan Tasya karena wanita itu yang telah mengkhianati dan meninggalkan dia.
.
.
.
"Kak bagaimana kalau Mama salah paham?" tanya Leona kesal. Pedho ada-ada saja yang mengakui dirinya sebagai calon istrinya.
"Apa susah nya? Kita menikah saja," sahut Pedho asal dan tak lupa senyum menggoda dari lelaki itu.
"Kak," Leona menghadap Pedho. "Kakak yakin benar-benar cinta sama aku?" tanya Leona. "Aku sakit Kak,"
__ADS_1
"Saya tidak peduli," jawab Pedro cepat.
"Tapi aku bisa saja pergi meninggalkanmu," ucap Leona sendu.
"Saya akan memperketat penjagaan agar kamu tidak pergi dari saya," sergah Pedho cepat.
"Aku menyusahkan," ujar Leona.
"Saya menyukai hal tersebut," jawab Pedro.
"Tapi aku tidak akan bisa membuatmu bahagia Kak," ucap Leona lagi. Wajah wanita itu tampak sendu.
"Jika begitu saya yang akan membuat kamu bahagia," jawab Pedho.
"Jika kita menikah aku belum tentu bisa memberimu anak," ucap Leona.
"Kita bisa angkat anak," jawab Pedro.
"Kalau aku lumpuh bagaimana?" Leona masih mencari alasan.
"Saya akan jadi kursi roda mu yang selalu siap membawa mu kemana saja," kata Pedho.
"Kak," renggek Leona.
"Kenapa lagi Sayang?" tanya Pedho gemes sendiri dengan wanita ini. Ia tak sabar saat Leona mengakui perasaannya.
"Idih panggil sayang, seperti sudah diterima saja cintanya," singgung Leona
Pedho tertawa lebar, "Tidak perlu kamu mencintai saya. Saya mencintai kamu, itu saja yang perlu kamu tahu," jawab Pedho.
Wajah Leona kembali merona saat mendengar gombalan dari Pedho. Meski kalimat itu sederhana tapi mampu membuat hatinya bergetar. Benar kata puisi cinta itu sederhana, namun mampu memporak-porandakan hati seseorang.
"Buang semua pikiran kotor kamu itu," Pedho mengusap kepala Leona.
"Kak Tessa?" Leona mengangkat kepalanya menatap Pedho.
"Dia orang di masa lalu," jawab Pedho.
"Tapi bagaimana kalau dia tetap memaksa untuk kembali pada Kakak?" Leona sudah pesimis duluan. Dia memang harus berhati-hati dalam memutuskan kepada siapa hatinya akan berlabuh.
"Saya akan menolak,"
Bersambung....
__ADS_1