
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Leona mengeliat dibalik selimut tebal. Perutnya terasa berat. Dia membuka matanya. Tangan Pedho melingkar diperut wanita itu. Mereka telah melakukan malam pertama. Leona bersyukur akhirnya Pedho berani menyentuh nya. Dia tahu pria itu sangat mencintainya sehingga tidak mau jika dia terluka tapi Leona selalu menyakinkan Pedho bahwa semua nya akan baik-baik saja.
"Morning istriku," sapa Pedho tanpa membuka matanya.
"Kakak sudah bangun?" Leona menatap suaminya curiga.
Pedho membuka matanya dan terkekeh. Dia sampai ketagihan gara-gara malam pertama itu. Sebagai pria normal dia benar-benar dibuat mabuk. Apalagi istrinya masih tersegel dan belum di jamah pria. Pedho hampiri tak percaya jika Leona masih perawan. Pasalnya istrinya ini adalah janda. Apa Pedro tidak pernah menyentuh Leona sebelum nya?
"Morning kiss Sayang," ucap Pedho.
Pedho menghujani wajah Leona dengan ciuman bertubi-tubi. Kening. Pipi. Hidung. Kelopak mata. Hingga bibir. Pria itu selalu suka melihat istrinya yang malu-malu kucing.
"Ayo mandi," ajak Pedho langsung bangun padahal dia tidak memakai pakaian.
"Astaga Kak," pekik Leona menutup matanya malu. Apalagi milik suaminya sudah berdiri tegak.
"Kenapa Sayang?" Pedho tersenyum menggoda
"Kakak, malu," ucap Leona, wajahnya merah merona saat mengingat permainan panas mereka semalam. Setelah sekian lama menikah, baru kali ini Leona merasakan malam pertama.
Pedho terkekeh gemes "Kenapa harus malu? Bukankah semalam kamu sudah menikmati nya, Sayang?" goda pria itu sambil tertawa melihat wajah istrinya yang sudah memerah seperti tomat.
"Kakak," renggek Leona kesal.
"Sudah ayo mandi," ajak Pedho
Pedho menarik selimut istrinya. Hingga menampilkan seluruh tubuh Leona yang tanpa sehelai benang.
"Kak." Leona rasanya ingin menenggelamkan wajah nya di sungai.
Tak mau mendengar protes istrinya. Pedho langsung menggendong wanita itu, mereka berdua sama-sama tanpa pakaian.
"Awwwwwwww," rintih Leona menyembunyikan wajahnya didada bidang Pedho.
"Sayang kenapa? Apa ada yang sakit?" tanya Pedho panik dan kembali mendudukkan istrinya.
Wajah Leona kembali memerah, malu sekali rasanya.
"Kak, anu ku sakit"," adu Leona. Meski malu wanita itu tetap mengakui nya
"Sakit sekali ya Sayang? Maaf ya, awal-awal memang sakit. Tapi nanti kalau sudah sering dan biasa tidak akan sakit lagi sayang. Maafkan aku ya?" Pedho merasa bersalah. Habisnya terlena dengan kenikmatan dia sampai lupa dengan istri nya yang masih perawan itu.
"Biar aku lihat ya?" ucap Pedho.
__ADS_1
"Tapi Kak, aku malu." Leona menutup bagian bawahnya. Bagaimana mungkin dia mengizinkan suaminya melihat miliknya, mau ditaruh dimana wajahnya?
"Kenapa harus malu? Aku suamimu. Aku bahkan sudah melihat setiap inci tubuh mu. Biar kan aku melihat nya yaa?" bujuk Pedho tetap keukeh. Dia takut milik istrinya luka atau apalah namanya
Leona mengangguk, meski sangat malu. Dia memang merasakan sakit. Pedho ganas juga diranjang bahkan mereka melakukannya beberapa kali.
Pedho melihat milik istrinya dan memang sedikit memerah. Mungkin karena keganasan dirinya.
"Sayang tunggu sebentar yaa aku akan kompres dengan air panas," ucap Pedho.
"Kak jangan," cegah Leona dia masih malu.
"Sayang aku akan tetap mengompres nya. Aku takut infeksi dan kamu merasa tidak nyaman," sergah Pedho. "Pakai baju dulu, aku takut nanti Sayang masuk angin." Pedho memasang baju terusan ditubuh istrinya. Dia memperlakukan Leona seperti ratu
Leona menurut dan tidak protes lagi. Dia berusaha menahan rasa malunya. Sekarang Pedho adalah suaminya. Tidak ada satu hal yang tersembunyi antara suami dan istri. Jadi apapun bisa dilihat dan terlihat.
Pedho meminta pelayan membawakan air panas dan kain basah.
"Sayang aku akan kompres ya?" ucap Pedho meminta izin.
Leona mengangguk, "Tapi Kak aku malu." Leona mengigit bibir bawahnya.
Pedho gemes sendiri dia mencium bibir istrinya dengan singkat.
"Aku suamimu. Kita sudah satu bukan lagi dua. Aku dan kamu adalah kita," jelasnya dengan sabar.
Leona mengompres milik istrinya dengan sabar dan telaten. Sementara Leona menutup wajahnya dengan bantal. Ahhh kenapa bisa seperti ini? Benar-benar malu. Malu sekali. Tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata perasaan malu wanita tersebut.
"Sudah Sayang." Pedho meletakkan mangkuk besar itu keatas nakas.
"Ya sudah ayo mandi," ajak Pedho lagi.
Pria itu kembali menggendong sang istri dan masuk kedalam kamar mandi.
Setiap pagi. Siang. Sore mereka selalu mandi berdua. Pedho tidak mengizinkan Leona mandi sendirian takut jika wanita itu nanti kelelahan dan bisa berpengaruh pada kesehatannya.
"Aku baru sadar kalau Kakak itu tampan," goda Leona menatap suaminya yang tengah mengisi buth up
"Jangan menggodaku, Sayang," ketus Pedho menahan sesuatu. Adiknya bangkit lagi saat mendengar gombalan istrinya.
"Aku tidak menggoda, Kak. 'Kan memang benar suamiku tampan," tutur Leona terkekeh.
"Iya iya suamimu ini memang paling tampan dan kenapa baru sadar?" Pedho memasukkan Leona kedalam bathtub
"Karena kemarin masih ada Kak Luiz yang paling tampan Kak," sahutnya santai.
__ADS_1
Wajah Regan masam saat Leona memuji Luiz Tidak terima jelas.
"Jangan memuji laki-laki lain didepan suamimu, Sayang," ketus Pedho.
Leona tertawaan sendiri melihat wajah suaminya yang cemberut dan kesal.
"Maaf sayangku."
Leona menghujani wajah Pedho dengan banyak ciuman. Hingga membuat pria itu tersimpul kembali. Gemes sudah pasti
Pedho bisa bernafas lega saat dokter mengatakan beberapa sel kanker didalam tubuh Leona sudah berhasil dimatikan dan tidak lagi menyerang syaraf nya. Tidak sia-sia Pedho membawa istrinya berobat ke New York.
.
.
.
.
"Ck, enak saja. Kenapa Om mengusir Lea?" tanya Lea memincingkan matanya kesal.
"Aku sudah mengobati mu. Jadi silahkan keluar sana," usir Luiz.
Nafsu makannya seketika menghilang saat bertemu gadis aneh seperti Lea.
"Lea itu terluka karena Om," ucap Lea. Sebenarnya gadis itu tak mampu berjalan. Kalau sedikit saja tubuh nya tergores maka akan berakibat fatal.
"Saya sudah bertanggungjawab dengan mengobati kamu. Lalu apa lagi?" ujar Luiz tak habis pikir. Gadis ini membuat kepalanya pusing saja.
"Om, harus antar Lea ke ruangan Dokter Andika," ucap gadis itu tidak mau tahu.
Alis Luiz saling bertaut. Dia menatap gadis ini dengan curiga, bagaimana gadis ini bisa kenal Andika.
"Untuk apa bertemu Andika?" tanya Luiz memincingkan matanya curiga.
"Mau ambil sembako Om," jawab Lea asal sambil turun dari ranjang.
"Awwww,"
Segera Luiz menangkap tubuh gadis itu ketika saat Lea hampir terjatuh. Tangan Luiz memeluk pinggang ramping gadis belia tersebut, sedangkan tangan Lea memeluk leher Luiz.
**Bersambung....**
Hai guys... Mohon maaf malam pertama nya author skip yaa wkwkek...
__ADS_1
Belum di bolehin sama editor, soalnya mereka tahu kalau otornya masih polos.... ðŸ¤ðŸ˜”