
**Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡**
"Kenapa kamu mengajak Tante bertemu?" tanya Anjani sambil meletakkan tasnya diatas meja.
Tessa menghela nafas panjang, "Pedho berangkat keluar negeri bersama Leona," jelas Tessa.
Kening Anjani berkerut heran. Saking tidak akrab nya dia dan Pedho, Anjani sampai tidak tahu masalah putranya itu. Apalagi sejak Pedro dan Leona bercerai, Pedho memilih tinggal di apartemen.
"Apa yang mereka lakukan disana?" tanya Anjani heran.
"Tante tidak tahu?" ucap Tessa melihat Anjani.
"Tahu apa?" kening Anjani berkerut. Apa yang dia tidak tahu tentang Pedho atau pun Leona?
"Leona menderita Kanker Sarkoma Jaringan Lunak," jawab Tessa.
Deg
Anjani menatap Tessa tak percaya. Mata wanita itu membulat sempurna saat mendengar penjelasan dari Tessa. Benarkah Leona menderita penyakit mematikan tersebut?
"Kamu serius?" tanya Anjani setengah tak percaya.
"Iya Tante, Leona sudah lama sakit, bahkan sebelum dia berpisah dengan Pedro," ucap Tessa menjelaskan
Anjani menutup mulutnya tak percaya. Wanita itu luruh di kursi nya dengan mata berkaca-kaca. Butiran bening lolos di mata wanita paruh baya tersebut. Dia sangat menyayangi Leona seperti anak kandung nya sendiri. Tapi, kenapa hal sebesar ini dia tidak tahu?
"Leona," lirih Anjani.
Anjani menatap Tessa, "Tessa, kita harus susul Pedho dan Leona keluar negeri. Bagaimanapun Leona harus lepas dari Pedho dan kembali pada Pedro. Tante tidak mau, hidup Leona menderita ditangan laki-laki yang salah." Anjani menyeka air matanya.
Tessa tersenyum licik dan memang itu yang dia inginkan memisahkan Pedho dan Leona. Sehingga dia bisa kembali bersama lelaki itu. Sampai kapanpun Tessa takkan melepaskan Pedho dalam hidupnya. Tujuan dia kembali ke Indonesia adalah untuk membuat lelaki itu kembali bertekuk lutut padanya. Jika Pedho belum dia dapatkan maka sampai kapanpun dia tidak akan pergi, sebelum semua misi nya berjalan lancar.
"Tante tidak perlu khawatir, aku dan Pedro yang menyusul mereka. Tante tenang saja," pungkas Tessa.
__ADS_1
Anjani mengangguk. Tatapannya terus terbayang pada wajah menantu kesayangan nya itu. Dia tidak tahu selama ini penderitaan Leona. Padahal dia sangat dekat dengan wanita tersebut.
"Lalu apa rencana kamu selanjutnya?" tanya Anjani.
"Membuat Pedho meninggalkan Leona," jawab Tessa.
"Caranya?" Dahi Anjani mengerut.
"Hadir didalam hubungan mereka. Aku memiliki beberapa teman dokter spesialis kanker yang bisa menyembuhkan Leona. Setelah nya aku akan menyuruh Pedho memilih, ingin Leona sembuh atau kembali padaku. Jika dia tidak bisa memilih aku, maka aku tidak akan menyuruh dokter tersebut mengobati penyakit Leona. Sangat gampang, bukan?" ujar nya.
"Tante akan bantu. Pedho harus meninggalkan Leona, agar Leona sembuh," ucap Anjani yakin. Nyawa Leona lebih penting dari segalanya.
"Kalau begitu Tante permisi. Tante akan menemui Pedro," pamit Anjani mengambil tasnya.
"Hati-hati, Tante," pesan Tessa.
Tessa mengambil ponsel yang ada didalam tas kecilnya. Dengan anggun wanita itu mengeser layar ponselnya.
"Hallo, pastikan wanita itu tidak hidup. Campurkan bahan-bahan aktif ke dalam obat yang di suntikan ke dalam tubuh nya. Jangan biarkan dia terbangun, aku ingin dia tertidur selamanya!" titah Tessa dengan tatapan menghunus ke depan.
"Leona. Leona. Aku tidak akan membiarkanmu hidup. Mati adalah jalan satu-satunya supaya Pedho menjadi milikku lagi. Dan kamu, akan menjadi insan yang terlupakan." Dia terkekeh pelan dan merasa semua misi dan rencananya akan berhasil.
Tessa sudah menyusun semua rencana untuk menyingkirkan Leona bahkan sebelum wanita itu berangkat ke luar negeri. Sekarang, dia hanya berpangku tangan sambil menyaksikan kehancuran Leona.
.
.
.
Pedro keluar dari kamarnya pakaiannya sudah rapi dengan stelan jas yang membelut tubuh nya serta tas yang dia tenteng berisi laptop dan beberapa berkas penting.
"Selamat pagi, Tuan," sapa Bik Lian.
__ADS_1
"Pagi Bik," balas Pedro duduk dikursi meja makan.
"Sarapan Anda sudah siap, Tuan," ucap Bik Lian sopan.
Pedro mengangguk lalu mengambil beberapa lembar roti yang sudah di olesi selai oleh Bik Lian.
Lagi, Pedro menatap sendu bangku kosong didepan nya. Teringat, beberapa bulan yang lalu sebelum dia dan Leona menjadi orang asing. Istrinya, selalu menyambut dia dengan senyuman manis dan semangat setiap pagi. Senyuman yang Pedro abaikan dan kini sangat ia rindukan. Dia ingin bertemu Leona, dia ingin meminta maaf dan mengatakan bahwa dia sangat menyesal telah menyia-nyiakan wanita sebaik Leona.
Pedro mengigit roti itu dengan tatapan kosong ke depan. Dia seperti patung hidup namun enggan bergerak. Tubuh nya bisa bergerak kemana-mana. Namun, hati dan pikiran nya berjalan ditempat yang sama yaitu berharap ada kesempatan untuk bisa kembali bersama wanita yang dia cintai.
"Tuan," panggil Bik Lian. Wanita paruh baya tersebut turut merasakan kesedihan seperti yang Pedro rasakan.
"Iya Bik?" Pedro menatap kearah Bik Lian sambil mengunyah roti didalam mulutnya.
"Anda harus belajar melupakan Nyonya," ucap Bik Lian menasihati. "Anda tidak bisa terus-terusan meratapi perpisahan dengan Nyonya, Tuan. Hidup ini akan terus berjalan seperti biasa. Bibi tahu ini berat untuk Tuan. Bibi juga merasa kehilangan yang sama seperti Tuan. Tapi Bibi ikhlas melepaskan Nyonya, asal dia bahagia," tutur Bik Lian.
Pedro terdiam dan melanjutkan makannya.
"Jika itu mudah, mungkin aku sudah lama melakukan nya Bik. Tapi mengikhlaskan Leona, bukan hal yang mudah aku lakukan, Bik," jawab Pedro.
Setelah sarapan pria tampan itu berangkat ke kantor. Beginilah hidupnya, sepi dan sendiri. Tidak ada siapapun yang menjadi penyemangat hidupnya. Sering Anjani meminta agar Pedro pulang kerumah. Namun, pria itu malah memilih tinggal dirumah lama nya. Rumah yang dulu menyimpan kenangan pahit bagi Leona. Di mana dia belum mencintai wanita yang berstatus istri nya tersebut.
"Ada apa Ben?" tanya nya memasang headset ditelinga nya
Pedro menggangguk dan paham saat sang assisten menjelaskan ditelpon.
"Leona, aku akan menyusulmu, Sayang," ucapnya
Pedro menancapkan mobilnya menuju bandara. Dia baru tahu jika sekarang Leona berada diluar negeri. Rasa marah dan kecewa merasuki pikiran laki-laki itu, karena dia tidak mengetahui keberangkatan wanita cintai ke luar negeri.
Pedro langsung turun dari mobil saat sudah sampai di bandara. Langkah nya kian lebar, ia seperti tak sabar. Ingin segera bertemu wanita yang membuat rindu nya melebar. Semoga saja, dia bisa bertemu Leona. Sekali saja, Pedro ingin memeluk Leona. Memeluk hangat nya tubuh wanita itu.
"Aku datang, Sayang. Kamu harus kuat demi aku. Aku berjanji, kita akan bersama kembali. Aku tidak peduli, jika Luiz mengusir ku dari sana. Aku hanya ingin bertemu dengan mu, itu saja," lelaki itu bermonolog sendiri sambil duduk dengan tenang dan menatap keluar jendela pesawat sebelum akhirnya pesawat yang dia tumpangi mengudara meninggalkan Indonesia
__ADS_1
Bersambung...