
**Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡 🍡🍡🍡🍡**
Leona sudah memantapkan dirinya untuk mengakhiri kisah cinta yang akan berhenti cukup sampai disini. Meski rasa sakit dan kehilangan akan menemani dia. Namun, ia percaya jika perlahan rasa yang dulunya menggebu kini perlahan menjadi debu.
"Pagi Kak," Leona duduk di kursi meja makan dengan wajah sumringah.
Luiz tersenyum, apalagi melihat kepala plontos Leona. Akibat kemoterapi yang Leona jalani. Dia harus kehilangan rambut panjang yang dulu ia jadikan sebagai mahkota di kepalanya.
"Pagi juga cantik," balas Luiz. "Ayo sarapan, Kakak sudah buatkan roti kesukaan kamu," Luiz mengoleskan selai diatas roti yang dia panggang. "Ini Sayang," sambil memberikan roti tersebut pada adiknya.
"Terima kasih Kak!" seru Leona mengambil dengan sumringah roti tersebut.
"Mau kemana? Sudah rapi?" goda Luiz terkekeh.
"Mau ke butik Kak. Aku sudah lama tidak kesana," jawab Leona sambil mengigit roti yang diberikan Luiz padanya.
"Yakin, mampu?" Luiz menatap Leona. Dia takut adiknya ini drop tiba-tiba yang bisa mempengaruhi kesehatan nya.
"Iya Kak. Aku di temani Yuna," jelas Leona. "Ohh ya Kak. Setelah sidang perceraian ku dan Pedro, bagaimana kalau kita liburan saja?" tawar Leona. Dia merindukan suasana pantai yang dingin dan menyejukkan hati. Apalagi ditemani dengan air kelapa yang segar untuk membasahi tenggorokannya yang kering.
"Boleh Sayang. Asal kamu sembuh," sahut Luiz.
Leona mengangguk dan melanjutkan makannya. Setidaknya hari ini kondisinya sudah jauh lebih baik. Dia bisa beraktifitas seperti biasa meski dengan penampilan baru tanpa rambut di kepala plontosnya.
"Pagi Na. Pagi Kak Luiz," sapa Yuna baru datang. Dia tersenyum malu melihat wajah tampan Luiz pagi hari.
"Pagi," jawab Luiz mengangguk.
"Sudah siap Cinta?" Yuna melirik Leona.
"Sudah Yun," Leona berdiri dan menyambar tas nya. "Kak, aku berangkat dulu ya." Tak lupa ia memberikan kecupan singkat dipipi Luiz.
"Iya Sayang, hati-hati," pesan Luiz.
Kedua wanita itu masuk ke dalam mobil. Yuna menjalankan mobilnya.
"Ya ampun, tampan sekali sihh," Yuna kesem-kesem tidak jelas sambil menyetir.
Leona mendelik. Siapa lagi yang di lamunkan Yuna kalau bukan Luiz.
__ADS_1
"Na, ada bawa obat kan?" Yuna melirik sahabat nya. Leona ini wanita ceroboh yang suka sekali mengabaikan kesehatan nya.
"Ada," jawab Leona.
Wanita itu memperbaiki sal yang menutupi bagian lehernya. Sedangkan di bagian kepala mulus tanpa satu rambut pun. Namun, tak ada kesedihan di wajah wanita itu. Ia terlihat kuat dan baik-baik saja. Seperti tak terjadi sesuatu padanya.
Yuna tersenyum kearah Leona. Semoga setelah perceraian Leona dan Pedro, kehidupan Leona baik-baik saja.
Sampai dibutik Leona langsung turun. Sedangkan Yuna menuju restourant nya.
"Selamat pagi Ny_"
Para karyawan terhenti ketika melihat kepala Leona tanpa sehelai rambut.
"Pagi semua," sapa Leona memasang senyum nya.
"Pagi Nyonya," sahut Chika dan Ayu bersamaan.
"Nyonya, kenapa dengan rambut Anda? Kenapa di pangkas semua?" tanya Chika yang tak mampu menahan rasa penasaran nya.
"Ohh, ini terlalu panas. Jadi aku kikis saja semuanya," kilah Leona. Memang tidak banyak orang yang tahu kalau dia sakit kecuali keluarga nya, bahkan kedua orang tua nya pun belum tahu kondisi sang putri saat ini.
"Saya ada urusan pribadi," jawab Leona asal. "Ayu, tolong bawakan teh hangat di meja saya. Jangan di kasih gula," perintah Leona.
Ayu mengangguk. Meski sebenarnya bingung, tidak biasanya Leona minum teh tanpa gula. Biasanya wanita ini sangat suka yang manis.
.
.
.
Pedro masuk ke dalam mobilnya. Lelaki itu murka ketika mendapat surat panggilan dari pengadilan. Beberapa hari lagi adalah sidang perceraian nya dengan Leona. Ia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Karena ia takkan melepaskan Leona sampai kapan pun.
"Kamu tidak akan bisa lepas dari aku Leona. Tidak akan pernah bisa. Selama nya kamu milikku. Takkan kubiarkan siapapun memisahkan kita termasuk Kak Pedho," ucap Pedro dengan yakin.
Lelaki itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Entah kemana ia akan pergi. Ia tidak sedang ingin ke kantor karena terlihat dari kaos yang dia pakai.
Sampai di butik Leona, Pedro langsung turun dan membanting pintu mobil dengan kencang. Ia harus bicara empat mata pada Leona.
__ADS_1
"Selamat pagi Tuan. Selamat datang, mencari Nyonya yaaa?" sambut Kang Asep.
"Iya Kang, Leona nya ada?" tanya Pedro tampak tak sabar.
"Ada Tuan. Nyonya baru datang. Silahkan masuk Tuan," pria paruh baya itu membuka gerbang dan mempersilahkan Pedro masuk ke dalam.
Pedro masuk dengan langkah lebar. Ia harus bertemu Leona. Ia akan menolak surat panggilan itu.
"Selamat datang Tuan," sapa Chika dan Ayu bersamaan menyambut kedatangan Pedro.
"Di mana istriku?"
"Nyonya ada di ruangannya Tuan. Silahkan masuk," ucap Chika mempersilahkan dan tak lupa ia tersenyum sopan.
Pedro masuk kedalam ruangan Leona. Tampak Leona tengah sibuk dengan pensil dan kertas yang ada di tangannya.
"Leona," panggil Pedro.
Leona mengangkat pandangan nya. Wanita itu terlihat santai saja. Lalu ia menyeruput teh buatan Ayu dan kembali melajutkan coretannya diatas kertas polos.
"Ada apa Pedro?" tanya nya tanpa melihat wajah sang suami yang sebentar lagi akan menjadi mantannya.
Pedro berjalan mendekat. Matanya berkaca-kaca melihat penampilan dan kondisi Leona. Jauh sekali perubahan istrinya itu. Jika dulu selalu tampil cantik, sekarang hanya wajah pucat yang ia tampilkan.
"Leona, apa maksud surat panggilan itu?" tanya Pedro menatap Leona yang enggan melihat padanya.
"Belum paham?" Leona meletakkan pensilnya. Lalu menghela nafas panjang
"Aku sudah bilang kalau aku tidak mau kita berpisah Leona," jelas Pedro penuh penekanan. "Aku sudah mencintaimu dan aku mau kita berdua memperbaiki hubungan kita," sambungnya.
"Memperbaiki? Pedro, tidak ada yang bisa kita perbaiki,"
Leona menatap suaminya sinis. Dia bukan lagi wanita lemah yang mengemis perhatian dan cinta pada Pedro. Dia sekarang adalah seorang wanita yang tumbuh dari luka. Hingga ia tak membiarkan hatinya di permainkan oleh Pedro.
"Pedro, sudah berapa kali aku katakan. Bahwa perpisahan ini tidak akan bisa kita hindari. Aku melepaskan mu untuk kebahagiaan mu. Jadi, jangan memaksa aku untuk membatalkan perceraian kita," ucap Leona. "Bukankah dulu kamu yang menginginkan kita berpisah Pedro, kenapa sekarang malah kamu yang tak ingin kita berpisah?" Leona geleng-geleng kepala dengan senyuman sinisnya.
"Aku menyesal Leona. Sekarang, aku tidak mau berpisah dengan mu," ucap Pedro sendu. Suara nya serak seperti menahan tangis berharap masih ada satu kesempatan untuknya hidup bersama sang istri.
"Penyesalan mu tidak akan membuat aku kembali, Pedro. Aku masih mencintaimu, tapi untuk kembali sama kamu. Aku minta maaf," Leona menangkup kedua tangannya didada.
__ADS_1
Bersambung...........