
**Happy Reading 🌺🌺🌺 🌺🌺🌺🌺🌺🌺**
Pedro turun dari mobil nya. Ia berjalan tergesa-gesa ketika Tasya menelpon dan meminta ia datang ke apartemen.
Wajah lelaki itu tampak panik. Dia takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada kekasih hatinya, Tasya.
"Tasya," Pedro berhambur kearah Tasya saat melihat wanita itu terduduk disofa sambil menangis, "Tasya, apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?" cecar Pedro panik sambil menguncang bahu wanita itu.
"Pedro," Tasya menatap Pedro dengan linangan air mata.
"Iya kenapa Sayang? Ayo cerita sama aku," tangannya mengusap lembut pipi Tasya dan mengikis air mata di wajah kekasih nya.
"Pedro, maafkan aku," Tasya terisak. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan semua yang terjadi pada nya kepada pria-nya ini.
"Kamu minta maaf kenapa?" tanya Pedro lembut. Tangannya menggenggam tangan Tasya.
Pedro tak pernah bersikap lembut pada wanita lain, selain Tasya. Ia tak bisa membentak Tasya. Bahkan ketika membentak wanita itu kemarin, dia merasa bersalah. Merasa ada sesuatu yang salah didalam dirinya.
"Pedro," lidah Tasya seolah kelu, "Aku, aku....," Tasya menggeleng. Dadanya bergemuruh. Penyesalan yang tertinggal didalam sana tak bisa ia jelaskan lewat kata-kata.
"Kamu kenapa?" tanya Pedro. "Pelan-pelan saja ceritanya yaaa Sayang," ujar Pedro.
Tasya menatap bola mata Pedro. Dia yakin lelaki ini akan menerima dia apa adanya, setelah tahu apa yang terjadi. Pedro mencintainya nya, pasti Pedro takkan keberatan menerima kondisi dirinya yang sekarang.
"Pedro, aku....," Tasya mengambil benda pipih panjang di atas meja. Lalu memberikan nya pada Pedro.
Mata Pedro membulat sempurna dengan menatap tak percaya benda yang ada ditangannya. Lalu lelaki itu melihat Tasya yang sudah menangis sambil menunduk.
Pedro sontak berdiri sambil menggeleng. Tubuh nya seketika melemah. Aliran darah dalam tubuh nya seperti berhenti mengalir.
Nafasnya tak beraturan. Wajahnya merah padam. Ia mencengkram dengan kuat benda yang diberikan Tasya padanya.
"Maafkan aku Pedro. Maafkan aku," Tasya berlutut didepan lelaki itu. "Aku... aku tidak bermaksud mengkhianati kamu," ucapnya menangis tersedu-sedu sambil memeluk kedua kaki Pedro.
__ADS_1
Pedro memejamkan matanya. Hati nya bagai di timpa oleh ribuan ton batu. Rasa perih menjalar memasuki tulang-tulang di beberapa bagian tubuh nya. Ia seakan tak mampu berdiri menopang berat badannya.
"Siapa?" tanya nya menatap kosong kedepan tanpa berani melihat wajah sang kekasih.
"Mas Bagas, Pedro. Aku.. aku terpaksa karena aku...,"
"Apa yang kurang sama aku Tasya? Apa kasih sayang yang aku berikan sama kamu salah?" cecar Pedro. Ia masih tak bergerak. Namun, mulut yang berbicara menandakan emosi yang bisa saja meledak dengan kekerasan.
"Aku minta maaf Pedro," hanya kata maaf yang bisa diucapkan Tasya. "Aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu," mohon Tasya memeluk kedua kaki Pedro.
Pedro mengangkat kedua bahu wanita itu agar berdiri. Dia mengusap pipi Tasya yang basah. Menatap wanita ini, ia seperti melihat rasa sakit yang selama ini Leona rasakan akibat keegoisan dan kebodohan yang membawanya pada luka dalam.
"Temui dia, minta dia bertanggung jawab," ucap Pedro. "Maaf Tasya, aku memang mencintai kamu. Tapi aku tidak menerima kamu lagi," ucap Pedro menolak Tasya.
"Pedro," Tasya menggeleng.
"Aku tidak percaya, kamu berani menyakiti aku seperti ini," ungkap Pedro. Hati lelaki mana yang takkan patah ketika mengetahui wanita yang selama ini ia jaga dengan susah payah. Ternyata menggandung anak dari pria lain.
"Maaf Tasya," Pedro melepaskan genggaman tangan wanita itu. "Aku tidak bisa," tolak Pedro tegas. "Mulai sekarang kita tidak memiliki hubungan apa-apa lagi."
Setelah berkata demikian, Pedro melenggang pergi meninggalkan Tasya yang masih terisak sambil bersimpuh di lantai.
"PEDRO," teriak Tasya menggema.
"Maafkan aku. Tolong jangan pergi," pekik nya berharap Pedro akan kembali di pelukkan nya.
"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks," Tasya menutup wajah nya dan menangis dengan hebat. Merenungi nasib dan kebodohan nya selama ini.
Tanpa sepengetahuan Pedro, Tasya melakukan hubungan gelap dengan direktur rumah sakit tempat ia bertugas. Sebagai wanita normal yang sudah dewasa, Tasya merindukan sentuhan dan kebutuhan biologis nya. Namun, ia tak dapatkan itu dari Pedro. Dia selalu menerima penolakan ketika ia ingin menyerahkan diri.
Sepandai-pandainya menyembunyikan bangkai pasti akan tercium, begitulah yang cocok di sematkan pada Tasya. Ia berusaha menutupi kebusukan tentang perselingkuhan nya didepan Pedro. Namun, siapa sangka kini kebusukan itu teruak dan tercium oleh pria yang dia cintai.
Hubungan gelap nya meninggalkan benih yang tak seharusnya ada disana. Tasya selalu mengkomunikasi obat penunda kehamilan untuk menutupi siapa dirinya. Dan lihatlah, karena ia telah mengkhianati cinta yang berharap akan menjadi pelabuhan terakhir nya, semua kebenaran tentang siapa ia terbongkar.
__ADS_1
Lelaki yang ia jadikan selingkuhan sudah memiliki istri dan anak. Tidak mungkin lelaki tersebut akan meninggalkan keluarga lama nya dan menikahi Tasya. Tasya hanya sebagai alat pemuas nafsu semata disaat pria itu jauh dari istrinya. Sekarang, tidak akan ada yang mau menerima kehadiran bayi tak berdosa itu. Apa yang harus Tasya lakukan?
.
.
.
"Arghhhhhhhhhhhhh,"
Bugh bugh bugh bugh
Pedro memukul stir mobil berulang kali, melampiaskan emosi nya lalu berteriak.
"Kenapa Tasya? Kenapa?" pekiknya terdengar menggema.
Lelaki itu menangis didalam mobil dengan badan bergetar. Sesekali ia ikut memukul dadanya, berharap sesak yang mengendap terlepas dari sana. Pasokkan udara terasa menipis, lagi dan lagi ia pukul dadanya. Siapa tahu bisa melegakan.
Namun, sehebat dan sekuat apapun ia menangis dan memukul dadanya hingga pecah dan hancur, takkan mengembalikan semua kepercayaan yang sudah runtuh.
Pedro tak menyangka, jika wanita yang dia anggap sebagai belahan dalam jiwanya, tega menurihkan luka yang menimbulkan kekecewaan dan kebencian.
Tasya, adalah wanita yang begitu Pedro cintai sepenuh hati. Ia memberikan segala yang tak Tasya miliki. Agar wanita itu merasa bangga memiliki sesuatu yang ia beri. Namun, apa yang ia dapat dari cerita yang berharap menjadi tempat paling nyaman untuk ia pulang. Ia justru berhenti bertualang. Memperjuangkan cinta yang kini telah hilang.
Pedro mengusar kepala nya kasar. Penampilan nya kusut dan kusam. Rambut acak-acakan dan mata yang sembab. Dia menjalankan mobilnya meninggalkan kediaman Tasya. Lebih tepatnya, apartemen yang Pedro belikan untuk kekasih hatinya.
"Leona," Pedro menggeleng ketika menyebut nama istrinya yang sebentar lagi akan menjadi mantan.
"Maaf, sekarang aku merasakan betapa sakitnya di khianati,"
Kata orang hukum karma itu berlaku. Mungkin itulah yang sedang Pedro terima saat ini. Ia sedang menghadapi karma nya sendiri.
Bersambung...
__ADS_1