
5 tahun kemudian.
Seorang wanita berjalan keluar meninggalkan bandara. Kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya. Wajahnya tak hanya cantik tetapi juga memiliki daya pikat tersendiri.
Beberapa pria yang melihat nya langsung terpesona menatap kecantikan wanita tersebut.
"Hufh, sudah lima tahun ternyata," gumam nya dengan helaan nafas panjang.
"Kak Dhika kemana sih katanya mau jemput?" gerutu wanita itu. "Kalau begini bisa jemuran aku," gerutunya.
Wanita itu duduk dikursi tunggu dengan wajah kesalnya. Semua orang pasti benci yang namanya menunggu.
"Akhirnya." Dia tersenyum melihat selembar kertas di tangannya. "Apa aku lanjut spesialis saja disini? Kerja dirumah sakit Kak Dhika punya pengalaman tidak ya?" gumam nya lagi.
Selama lima tahun melawan kanker yang menggerogoti tubuhnya, wanita tersebut di nyatakan sembuh dengan segala pengobatan yang tentu nya memakan waktu dan tenaga. Setelah lima tahun terakhir, hidupnya hanya didedikasikan untuk kesembuhan. Namun, usaha tidak sia-sia. Dia dinyatakan sembuh secara total dengan catatan harus rutin menjalani pengobatan.
Dia juga mengambil sekolah kedokteran disalah satu universitas ternama. Setelah lulus dokter umum, dia berencana untuk spesialis di Indonesia dan bekerja di rumah sakit milik kakaknya.
"Universitas yang bagus di sini, apa ya?" gumamnya.
Wanita itu tampak sibuk dengan ponsel ditangannya. Dia jauh berbeda dari lima tahun yang lalu. Kini dia tumbuh dewasa dan menjadi wanita cantik yang mempesona. Ditengah kesibukan nya sebagai dokter, dia juga merambat ke dunia modeling. Sebab wanita itu memiliki banyak potensi yang bisa dia kembangkan.
Seketika wanita itu terdiam dan menatap sekeliling nya. Begitu banyak orang yang berlalu lalang, tetapi kenapa rasanya hampa? Dia merasa kosong dan seperti berada di dunia lain.
"Om Luiz," gumam nya merindukan satu nama yang selama lima tahun ini terus berada di bayangannya.
Ya wanita itu adalah Leania Pertama, wanita berusia 24 tahun yang sekarang sudah berprofesi sebagai dokter dan melanjutkan spesialis. Dia dinyatakan sembuh secara total dari kanker yang dia derita selama lima tahun ini.
Lea yang dulu manja dan sering membuat orang kezal kini tampak dewasa dengan bertambahnya usia. Dia kembali ke Indonesia karena Andika meminta wanita itu bekerja dirumah sakit milik nya.
.
.
"Ada apa?" tanya Luiz ketus ketika Andika masuk kedalam ruangannya.
"Bisa minta tolong?" Andika duduk disofa ruangan Luiz.
__ADS_1
"Apa?" tanya Luiz malas. Lelaki ini semakin hari semakin dingin.
"Tolong jemput keponakan ku di bandara. Aku tidak sempat, setelah ini mau langsung pulang. Anak KH kurang sehat," ucap Andika.
"Kenapa tidak suruh supir pribadi mu saja?" tanya Luiz tak habis pikir.
"Supirku sedang cuti," jawab Andika
"Ya suruh naik taksi saja. Masa harus aku yang jemput, memang nya aku supir taksi online apa?" gerutu Luiz.
"Ayolah Luiz. Tolong aku kali ini saja. Kamu 'kan sedang free tugas," renggek Andika.
Luiz merenggut kesal. Mentang-mentang dirinya yang belum menikah dia selalu menjadi sasaran orang-orang di sekitar nya. Belum. Lagi kalau ada ketiga anak Pedho dan Leona, alhasil dirinya menjadi bahan bully-an.
"Iya. Iya," ketus Luiz.
"Nah itu namanya baru sahabat," puji Andika.
Luiz memutar bola matanya malas. Andika kalau ada mau nya memang suka menggoda Luiz. Dia bosan dengan hidup Luiz yang datar-datar saja selama lima tahun ini.
Luiz mengambil kunci mobilnya. Lalu melenggang keluar dari ruangan. Meski menggerutu dan kesal tetapi lelaki tersebut tetap mengikuti perintah Andika.
Pria tersebut tampak melamun dengan tatapan kosong. Ingatan lima tahun yang lalu masih terngiang jels dikepalanya. Canda dan tawa Lea, seperti candu yang tak bisa luzi hilangkan di dibenak nya.
"Lea," gumam Luiz. "Apa kabar kamu Lea? Kenapa kamu tidak kembali? Saya sudah menunggu selama lima tahun. Saya tidak bisa memikirkan orang lain selain kamu. Saya rindu sama kamu, Lea," lirih Luiz.
Apa yang Luiz jalani hari ini tak pernah dia rencanakan. Tiba-tiba saja waktu berlalu begitu cepat. Lima tahun yang dia lewati tanpa Lea, hidupnya serasa hampa dan tak memiliki tujuan.
Luiz hanyalah lelaki yang belajar untuk tumbuh lebih tinggi. Agar kelak bisa meneduhkan saat lelap dan terik matahari untuk Lea. Meski tak pernah sehebat ayah Lea. Namun, dia ingin selalu berusaha menjadi lelaki yang bisa mengimbangi Lea. Mampu mendampingi wanita tersebut. Juga akan belajar menjadi seseorang yang baik untuk gadis tersebut. Kelak, semoga niat hati Luiz dikabulkan yang Mahakuasa. Menjadi lelaki yang pertama kali Lea tatap saat terbangun di pagi buta, serta lelaknuajg menjaga wanita itu di malam-malam yang lama.
Namun, kenapa hingga kini Lea tak jua kembali? Tidak kah gadis itu merindukan omelan dirinya?
Keasyikan melamun, Luiz sampai tak sadar jika mobil yang dia kendarai sudah sampai di bandara internasional Soekarno-Hatta. Lelaki itu turun dari mobil. Jas dokter masih melekat di tubuhnya.
"Sial, kenapa aku lupa meminta nomor ponselnya pada Dhika. Aku tidak kenal wajahnya," umpat Luiz mengusap wajahnya dengan kasar.
Lelaki itu meronggoh saku jas nya lalu beralih ke saku celana.
__ADS_1
"Hah, ponsel ku ketinggalan. Bagaimana ini?" gumam Luiz frustasi.
"Sudahlah, aku masuk saja. Mungkin Dhika sudah mengatakan pada nya kalau aku yang jemput," ucap Luiz.
Lelaki itu berjalan masuk, sebenarnya dia paling malas mengikuti perintah Andika yang selalu merepotkan nya.
Seketika langkah Luiz terhenti ketika melihat seorang wanita yang duduk dikursi tunggu sambil sibuk dengan ponsel ditangannya.
"Lea," gumam lelaki itu.
Beberapa kali Luiz mengucek mata nya takut salah lihat. Apakah benar itu Lea? Apakah Lea-nya sudah kembali?
Luiz berjalan pelan menghampiri wanita itu. Matanya berkaca-kaca, jantung nya berdebar kencang. Apakah ini akhir dari penantian nya selama lima tahun ini.
Lea melihat dua pasang kaki yang berdiri didepan nya, sontak gadis itu mengangkat pandangan nya.
Mata Lea membulat sempurna saat melihat siapa yang berdiri didepan nya. Wanita itu tanpa sadar langsung berdiri dari duduknya.
"Om Luiz," ucap Lea lirih.
"Lea."
Luiz langsung memeluk gadis itu dengan menangis bahagia. Begitu juga dengan Lea. Dia juga ikut menangis.
"Om Luiz," renggek Lea menangis.
Lima tahun bukan waktu yang singkat. Lima tahun serasa lima puluh tahun. Semua dilewati dengan perasaan rindu yang menggembang didalam dada. Rindu terasa menyiksa dan menghantam dada.
Luiz melepaskan pelukan Lea. Dia mengangkup wajah gadis yang sudah masuk kedalam hatinya selama lima tahun ini.
"I-ini kamu Lea?" tanya Luiz mengusap wajah Lea.
"Iya Om, ini Lea. Lea kangen banget sama Om hiks. Lea kangen di marahin sama Om. Lea kangen di gendong Om. Lea kangen semua hal yang didalam diri Om," ucap Lea sambil menangis segugukan.
"Saya juga merindukan kamu Lea. Sangat. Selama lima tahun tidak pernah sehari pun saya tidak memikirkan kamu. Maaf," ucap Luiz merasa bersalah. "Sekarang saya tidak akan biarkan kamu pergi lagi. Saya akan menjaga kamu sepenuh jiwa dan raga saya. Saya mencintai kamu Lea," ucap Luiz mengusap pipi basah gadis itu.
"Lea juga cinta sama Om," sahut Lea memang wajah tangan Luiz yang berada di wajah nya.
__ADS_1
Luiz mengecup bibir Lea dengan lembut. Ciuman pertama mereka. Ciuman kerinduan selama lima tahun ini. Semoga kali ini takdir berpihak pada Luiz untuk hidup bahagia bersama Lea, selamanya.
THE END.....