
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹 🌹🌹🌹🌹🌹
"Awwww." Leona meringgis sambil memegang perutnya.
"Sayang, kenapa?" tanya Pedho panik sambil loncat dari ranjang.
"Kak, perutku sakit sekali," rintihnya.
"Di-dima-na yang sakit?" tanya Pedho dengan suara panik nya. Siapa yang tak panik ketika membuka mata dia mendengar istrinya merintih kesakitan.
"Perut aku, Kak," jawab Leona
"Kita kerumah sakit ya, Sayang," ucap Pedho.
Lelaki itu menyimak selimut istrinya dan segara mengangkat tubuh lemah Leona. Tanpa peduli dengan dirinya yang masih memakai piyama tidur dan tidak memakai alas kaki.
Pedho semakin panik saat Leona terpejam di gendongannya. Jika Leona sudah pingsan seperti ini, pasti rasa sakit di bagian tubuhnya sangat menyiksa. Sebab Leona adalah wanita yang tak suka menunjukkan kelemahan nya pada orang lain.
Sampai dirumah sakit, Pedho berlari sambil menggendong Leona. Dibelakangnya ada Abraham dan Juliet yang ikut berlari seperti orang kejar-kejaran.
Leona langsung dimasukkan kedalam ruang pemeriksaaan. Wajah pucat wanita itu sudah seperti mayat. Bahkan seluruh tubuh Leona terasa sangat dingin.
“Luiz tolong istri ku" ucap Pedho dengan suara yang sudah tak tembus.
"Astaga Leona," pekik Luiz terkejut melihat adiknya. "Pedho, sebaiknya kamu menunggu diluar saja!" perintah lelaki itu.
"Tidak Luiz. Aku ingin menemani Leona didalam," tolak Pedho menggeleng.
"Pedho, tenangkan dirimu. Jangan gegabah. Leona pasti baik-baik saja. Duduklah," ucap Abraham menenangkan menantu nya tersebut.
Mereka duduk diruang tunggu. Pedho tampak gusar. Pria itu berdiri duduk dan berdiri duduk tidak tenang. Kenapa Luiz dan Andika lama sekali memeriksa Leona? Apa istrinya baik-baik saja? Tidak. Tidak. Leona tidak boleh kenapa-kenapa. Pedho takkan sanggup jika Leona sampai mengalami sesuatu yang buruk.
'Sayang, bertahan lah demi aku. Bertahan lah sayang. Aku tidak akan sanggup tanpamu. Kumohon jangan pergi. Jangan hilang. Kamu bilang mencintaiku, pasti kamu juga akan bertahan untukku 'kan?" batin Pedho mengusap wajahnya. Pria ini tidak hanya terlihat frustasi tapi juga depresi dan hampir gila.
Tidak lama kemudian Andika dan Luiz keluar dari ruangan pemeriksaan. Wajah kedua orang itu tampak kusut. Luiz bahkan beberapa kali mengembuskan nafasnya dengan kasar.
"Bagaimana keadaan istri ku?" cecar Pedho tak sabar. Abraham dan Juliet ikut berdiri.
__ADS_1
"Pedho," panggil Luiz pelan.
"Katakan Luiz, bagaimana kondisi Leona?" desak Pedho yang ingin segera tahu kondisi istri tercinta nya.
"Leona hamil."
Deg
Jantung Pedho seolah berhenti berdetak. Bukan. Bukan tidak senang. Tapi ini akan berbahaya untuk istrinya itu.
"H-hamil Luiz?" ulang Pedho sekali lagi.
Pedho setengah tak percaya. Bagaimana bisa padahal dia sudah meminta Luiz agar menyuntikkan obat penunda kehamilan ke rahim istrinya. Kenapa Leona bisa hamil?
"Iya Ped. Tapi untuk lebih jelasnya boleh di bawa ke dokter kandungan," sahut Luiz.
"Luiz, apakah istri ku akan baik-baik saja jika dia hamil?" tanya Pedho dengan mata berkaca-kaca. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada istrinya karena kandungan Leona?
"Seperti yang sudah aku jelaskan Pedho, bahwa kehamilan Leona cukup beresiko," sambung Luiz.
Bukan hanya Pedho yang tampak gusar tapi juga Luiz. Dia sebagai dokter tentu tahu bahwa penyakit Leona tak main-main.
Seluruh tenaga Pedho serasa melemas. Bagaimana bisa Leona tidak mengkonsumsi obat? Istrinya itu harus minum obat rutin agar sel kanker dalam tubuhnya mati.
Abraham memejamkan matanya. Menahan lelehan bening yang ingin mengalir dari pelupuk matanya. Kenapa penderitaan Leona tidak pernah berakhir?
Sementara Juliet terduduk lemah di bangku tunggu dengan bendungan air mata yang mengalir deras. Sebagai seorang wanita yang menginginkan kehadiran cucu, tentu dia senang ketika mendengar bahwa putrinya menggandung. Tapi kenapa kenyataan begitu suka mempermainkan hidupnya.
"Lalu apakah Leona masih bisa kemoterapi, Son?" tanya Abraham ikut menyambung. Dia juga terduduk disamping istrinya sambil mengusap bahu wanita yang menangis didalam dekapannya itu.
"Bisa. Ada beberapa teknik yang bisa dilakukan untuk Ibu hamil. Tapi tetap ada resiko nya. Untuk sementara Leona tidak perlu melakukan kemoterapi selama dia menggandung karena bisa saja ini berpengaruh untuk Ibu dan anak," jelas Luiz lagi. Saat mengatakan kenyataan ini, ada sesuatu yang seperti menghimpit dadanya.
Lagi-lagi Pedho melemas. Pria itu terdiam seperti patung hidup tidak bisa bergerak ditempatnya. Dia merasakan jiwanya hilang sebagian.
"Apakah ada cara lain Luiz, Andika?" tanya Pedho penuh harap barang kali masih ada cara lain.
"Cara satu-satunya adalah menggugurkan bayi dalam kandungan Leona."
__ADS_1
Deg
Bagaimana bisa mengugurkan bayi yang bahkan belum berbentuk itu? Dan Leona belum tentu mau pasti wanita itu akan memberontak lagi.
Pedho terduduk dilantai. Sambil menutup wajahnya. Bersandar dengan tatapan kosong.
Membunuh bayi yang baru disadari kehadiran nya itu sama saja membunuh dirinya sendiri. Apalagi saat Leona tahu, istrinya itu pasti takkan mau mengugurkan anak yang sudah lama di nanti kehadiran nya tersebut.
Yuna berjalan dengan setengah berlari menghampiri mereka.
"Kak, bagaimana keadaan Leona?" Cecar Rein nafasnya memburu. Tampak wajah Yuna sangat panik ketika mendapat kabar bahwa Leona masuk rumah sakit lagi.
Tak ada yang menjawab, mereka semua dengan pikiran masing-masing.
.
.
.
.
"Hufhhhh." Terdengar helaan nafas panjang. "Ck, tempat ini membosankan sekali. Kenapa Kak Dhika tidak menyuruh ku pulang saja sih?" gerutu Lea.
Gadis itu turun dari ranjang. Beberapa hari yang lalu dia dirawat karena kondisi nya yang menurun.
Lea berjalan keluar dari ruangan rawat inap. Gadis itu berjalan pelan, sebab kaki nya benar-benar berat untuk digerakkan.
"Dimana Om Tampan itu?" gumam Lea celingak-celinguk mencari keberadaan Luiz. "Ehh apa sih. Sadar Lea, dia itu suami orang." Secepatnya gadis itu menepis segala perasaan dipikiran nya. Lea masih saja mengira jika Luiz sudah menikah
Gadis tersebut berjalan tanpa tahu tujuannya kemana. Dia bosan sendirian didalam kamar. Tadi Luiz dan Andika keluar, katanya sebentar tapi dia sudah menunggu sekian lama belum juga melihat kedua pria tersebut.
Lea berjalan pelan saat melihat Luiz dan Andika didepan ruang pemeriksaan dan ada orang lain juga disana yang tentu nya tidak di kenal oleh nya.
"Lea, apa yang kamu yang kamu lakukan disini?" tanya Andika panik dan secepatnya dia menghampiri adik nya itu.
Luiz menatap kearah Lea. Ketika melihat gadis itu, dia kembali ingat pada adiknya Leona. Leona dan Lea adalah dua wanita berbeda namun sama-sama berjuang melawan sel kanker yang ada ditubuh nya.
__ADS_1
**bersambung... **