
**Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺*
Leona Juliet, wanita cantik berusia 28 tahun. Wanita yang menikah dengan lelaki yang tak mencintai nya. Berharap lelaki itu memiliki perasaan yang sama seperti nya. Namun, kegigihan dan usaha nya dalam menunjukan cinta kepada sang suami tak jua ditatap oleh lelaki tersebut.
Leona menyerah, sebab dia bukan malaikat Tuhan yang akan selalu berbaik hati pada semua orang. Dia wanita biasa yang hatinya bisa saja mati. Lalu, ketika dia memutuskan menyerah, satu hal yang tak pernah dia bayangkan terjadi padanya. Dia di ponis oleh dokter menderita Sarkoma Jaringan Lunak, penyakit tersebut dikenal sebagai tumor ganas yang tumbuh di bagian jaringan lunak.
Lima tahun terjebak dalam pernikahan bersama orang yang salah. Membuat Leona seperti mati rasa dan seakan tak percaya lagi pada kata cinta. Bagi nya cinta itu semu. Cinta yang dia miliki di paksa mati oleh waktu.
Namun, Leona menyadari banyak hal, bahwa tak semua yang singgah akan menetap lalu tinggal. Ada yang hanya datang lalu pergi dan meninggalkan luka.
Setelah hari-hari sedih yang berlaku. Bulan-bulan pahit memulihkan hatinya. Leona menyadari satu hal; yang bukan untuknya. Sekeras apapun ia paksakan, tetap takkan menjadi miliknya. Yang dia perjuangkan sekuat usaha, jika hati yang dia harapkan tak memperjuangkannya sepenuh hati, tetap saja akan berlalu dan pergi bersama waktu.
Terbukti, bahwa dia dan Pedro akhir nya menjadi orang asing di istana cinta yang sudah dibangun dengan susah payah oleh Leona. Namun, siapa yang akan menyangka jika Tuhan memberikan ganti yang lebih dari mantan suaminya. Yaitu, Pedho mantan kakak ipar yang sekarang menjadi suami terbaik untuk Leona.
"Makan Sayang," ucap Pedho datang membawa nampan ditangannya.
"Terima kasih Kak," senyum wanita tersebut.
Betapa Leona beruntung memiliki suami sebaik Pedho, yang mencintai dia dengan tulus tanpa memandang masa lalu nya. Bahkan tanpa peduli bahwa dirinya sakit. Tidak semua laki-laki menerima wanita penyakitan seperti Leona. Tapi Pedho, adalah laki-laki yang mencintai wanita penyakitan tersebut dengan tulus tanpa peduli dengan kondisi sang istri.
"Bubur ayam!" seru leona tersenyum sumringah.
"Iya Sayang. Aku buatkan khusus untuk mu," jawab Pedho membanggakan hasil masakan nya.
"Terima kasih Kak," sahut Leona.
"Ya sudah makan dulu. Setelah ini minum obat," ujar Pedho.
__ADS_1
Begitulah keseharian Pedho, dia merawat istrinya dengan baik dan tulus. Memastikan bahwa wanita nya ini selalu baik-baik saja bersama nya.
Leona makan dengan lahap, dia tampak lapar sekali, apalagi bubur buatan Pedho sangat enak dan pas di lidah nya.
"Minum obat nya, Sayang." Pedho menyedorkan gelas dan beberapa bulir obat pada Leona.
"Terima kasih, Kak," ucap Leona mengambil bulir obat tersebut lalu menelannya bersama air didalam gelas.
Pedho menatap istrinya tersebut. Dia lega karena kondisi Leona sudah membaik. Kemarin memang sempat drop total dan menginap dirumah sakit beberapa hari. Berbagai pengobatan di jalani Leona. Kadang Pedho menangis sendiri, ketika melihat jarum-jarum suntik yang kejam itu menyiksa tubuh istrinya. Tak bisa Pedho bayangkan jika dia yang berada diruangan tersebut.
"Kakak tidak bosan?" tanya Leona menatap suaminya dengan cinta.
"Bosan apa, Sayang?" Pedho bertanya kembali sambil menyatukan tangan mereka berdua.
"Kakak tidak bosan bersama ku. Aku ini_"
Leona menatap bola mata suaminya. Mencari kebohongan dari tatapan mata itu. Namun, yang dia temukan adalah ketulusan. Leona bisa lihat dan nilai, bahwa cinta Pedho padanya tak main-main. Lalu, bagaimana dengan dia? Dia mencintai lelaki itu, sepenuh jiwa dan raganya. Akan tetapi Leona memiliki ketakutan tersendiri jika nanti dia malah menyerah ditengah jalan, dan pergi meninggalkan suaminya.
"Kamu berarti buat aku. Kamu pasti sembuh. Aku berjanji, kita akan hidup bahagia. Selamanya," ucap Pedho mengecup kening Leona dengan sayang.
Hidup terlalu pendek untuk dihabiskan dengan kesedihan berkepanjangan. Leona belajar menerima diri; bahwa dia memang berbeda dari yang lain. Kelak, suatu hari nanti dia menginginkan kebahagiaan serupa wanita lain, memiliki anak dan suami yang menemani detik-detik terakhir di setiap denyut nadi nya. Bahwa inilah takdir yang harus dia jalani. Leona tak boleh menyalahkan Tuhan atau keadaan, dia yakin tak sehelai rambut pun terjatuh jika tidak Tuhan izinkan. Begitu juga dengan rasa sakit yang sekarang menggerogoti tubuh nya.
.
.
.
__ADS_1
Anjani tampak duduk gelisah di kursi dekat kolam berenang. Segelas jus jeruk segar menemani wanita paruh baya itu.
"Bagaimana keadaan Leona apa dia baik-baik saja?" tanya nya pada Juliet yang kebetulan sedang berada dirumah nya.
"Dia baik-baik saja," sahut Juliet.
Juliet menatap Anjani penuh curiga. Pergerakan Anjani tak biasa. Apalagi Juliet tahu jika sampai sekarang, Anjani tidak merestui hubungan Pedho dan Leona. Besan nya tersebut masih keukeh memaksa agar Leona kembali pada Pedro, putra bungsunya.
"Di mana Tessa?" tanya Juliet.
Anjani mendelik kearah besan nya tersebut.
"Kenapa bertanya padaku? Aku bukan ibu nya," kilah Anjani menutupi kegugupannya. Dulu memang dia bekerjasama dengan Tessa untuk memisahkan Pedho dan Leona. Tapi sekarang dia tidak tahu dimana Tessa. Wanita itu menghilang beberapa hari yang lalu.
"Anjani aku tak main-main. Aku tahu rencana mu yang ingin memisahkan Pedho dan Leona," ucap Juliet to the point. Bukan apa, setelah ditelusuri oleh anak buah Pedho dan Luiz Ternyata Anjani bekerjasama dengan Tessa.
Anjani terdiam, "Aku ingin Leona kembali pada Pedro dan menajdi menantuku. Itu saja," sahut Anjani.
Anjani tak mengelak jika dia memang bekerja sama dengan Tessa. Dia mengakui hal tersebut, tapi dia tidak memiliki niat untuk menyakiti Leona. Anjani yang egois ingin wanita yang sudah disakiti oleh putranya itu kembali lagi bersama Pedro.
"Apa beda nya? Bukankah Leona tetap menantu mu karena dia istri Pedho?" tanya Juliet tak habis pikir. Tentu saja Juliet mengenal siapa Anjani mereka berteman sejak remaja. Seluk beluk kehidupan Anjani diketahui oleh Juliet.
"Pedho bukan anakku," jawab Anjani dingin. "Jadi tetap beda walau dia menikahi Leona," ujar Anjani lagi.
"Aku tahu," sahut Juliet. "Tapi dia bersamamu sejak kecil. Tidak bisakah kamu menganggap dia sebagai anakmu sendiri?" ucap Juliet seperti memohon.
Bukan apa, selama Anjani menganggap Pedho sebagai anak haram dalam hubungan rumah tangga nya. Maka hidup Leona takkan aman karena Anjani akan melakukan segala cara untuk menyatukan Pedro dan Leon
__ADS_1
Bersambung......