
**Happy Reading 🍡 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡**
Kata orang-orang jatuh cinta adalah salah satu bagian paling menyenangkan dalam hidup. Jatuh cinta bisa merubah sifat seseorang. Jatuh cinta juga bisa membuat semangat kembali membara ketika melihat orang yang di cintai.
"Kenapa senyam-senyum sendiri?" tanya Luiz, tangan nya menepuk bahu Pedho.
"Tidak," kilah Pedho.
Percakapannya dengan Leona tadi siang membuat hatinya sedikit membaik. Tak apa misalnya Leona takkan bisa membuka hati untuk dia. Asal Pedro selalu berada disamping Leona, itu saja sudah lebih dari cukup.
"Apa rencana kita selanjutnya, tentang pengobatan Leona?" tanya Pedho serius. "Aku takut Pedro kembali mengejar Leona," ungkap Pedho tampak gelisah.
Andika mengangguk, "Bagaimana kalau kita bawa saja Leona keluar negeri?" saran Andika.
Luiz dan Pedho mengangguk setuju. Ketiga pria seangkatan dan berbeda usia hanya beberapa bulan saja, tampak menunjukkan ekspresi yang sama.
"Pedho," panggil Luiz.
"Iya?" Pedho menatap sahabatnya itu.
"Kamu cinta sama Leona?" tanya Luiz menyelidik wajah Pedho.
Pedho menghela nafas panjang. Mau mengelak bagaimanapun semua orang sudah menebak dari raut wajah nya bahwa ia menyukai Leona. Pedho memang tak bisa menyembunyikan perasaan nya setiap kali berada didekat wanita itu. Jadi, wajar saja jika semua orang tahu.
"Iya," jawab Pedho tegas.
Luiz dan Andika saling melihat satu sama lain. Sudah lama mereka curiga pada Pedho yang memperhatikan Leona tak biasa.
"Aku akan memperjuangkan dia," sambung Pedho.
"Aku mendukung mu," Luiz menepuk bahu sahabat nya.
"Aku juga," sambung Andika.
Pedho tersenyum menatap kedua sahabatnya. Ia bernafas lega saat kedua lelaki ini mendukung perjuangan nya. Jika memang ia harus berjuang untuk Leona, Pedho akan lakukan. Tak peduli jika Leona belum mencintainya atau bahkan takkan mencintainya, Pedho akan berjuang demi cintanya.
"Pedho, kirim orang mu untuk mengawasi pergerakan Pedro dan Tasya. Aku curiga mereka berdua sedang merencanakan sesuatu untuk Leona!" titah Luiz.
__ADS_1
"Aku sudah meminta Ricard mengirim pengawal bayangan untuk mengawasi pedro," sahut Pedho.
"Ya sudah, ayo kita istirahat. Besok kita harus kembali ke Indonesia," ajak Luiz.
Mereka masuk kedalam kamar masing-masing untuk mengistirahatkan tubuh dari segala lelah yang mendera hari ini.
Pedho membaringkan tubuh nya diatas ranjang. Ia menatap langit-langit kamar dengan senyuman lebar.
"Leona," gumam lelaki itu tersenyum. "Aku tak pernah menyangka jika hati ini sungguh berpaut padamu. Semoga saja aku bisa meluluhkan hatimu Leona. Aku akan buktikan padamu, bahwa tidak semua laki-laki sama. Aku berbeda dari Pedro," ucapnya bermonolog sendiri.
Memendam perasaan dalam waktu yang cukup lama bukanlah hal yang mudah bagi Pedro. Ia harus berperang dengan hatinya sendiri ketika menahan perih saat Leona dan Pedro bersama didepannya. Ia pernah menepi. Namun tak bisa pergi. Hatinya selalu mengatakan untuk kembali. Karena ia takkan tenang meninggalkan Leona sendiri.
Pedho memejamkan matanya dengan senyum. Berdekatan dengan Leona membuat hatinya tenang dan nyaman. Wanita itu selalu membuat ketakutannya menghilang.
Pedho membuka matanya ketika mengingat penyakit Leona.
"Semua akan baik-baik saja Sayang. Ada aku yang akan menemani mu hingga nanti. Aku akan pastikan kamu sembuh dan kita bisa hidup bahagia, meski itu hanya angan ku," Pedho tersenyum kecut. Perasaan nya belum terbalaskan oleh cinta yang ia harapkan. Namun, ia masih saja ia berharap.
.
.
.
"Tidak. Tidak." Ia menepis perasaan nya yang kacau.
Sementara Yuna sudah terlelap sambil mengeluarkan dengkuran keras. Wanita yang satu ini memang bar-bar dan tidak menjaga sikap sama sekali.
"Masa iya, Kak Pedho suka sama aku?" Leona masih memikirkan percakapan nya dengan Yuna tadi.
Wanita itu terduduk sambil mengusap wajahnya kasar. Ia bukan merasa tersanjung saat Pedho menyukainya. Ia hanya merasa bersalah karena ia belum siap membuka hati untuk orang baru. Apalagi Pedho adalah kakak dari mantan suaminya.
"Hufh," Leona menarik nafas panjang.
Wanita itu turun dari ranjang dan lupa memakai alas kaki. Ia dan Yuna memilih satu kamar, maklum wanita pasti suka bergosip makanya harus ditempatkan pada kamar yang sama.
Leona berjalan keluar dari kamarnya. Villa tempat ia menginap sangat mewah dan nyaman dengan segala fasilitas lengkap didalam nya.
__ADS_1
Wanita itu berjalan keluar menuju balkon dan melihat permandangan laut di malam hari.
"Aku tidak punya angan-angan dihari esok. Masih bisa hidup malam ini saja sudah sebuah keistimewaan bagiku," lirih Leona. Lelehan bening itu berhasil lolos dipelupuk matanya.
Leona merasakan bahwa kondisinya saat ini tak baik-baik saja. Ia berpura-pura kuat didepan semua orang supaya tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya ia merasakan sakit yang luar biasa.
Leona mengusap kulit lengannya yang terdapat bintik-bintik merah. Semakin hari penyakit ini semakin merajalela dan menyebar ke bagian tubuh yang lain. Kemoterapi sama sekali tak menyembuhkan dan hanya memajangkan usia sesat.
"Aku tak berani lagi jatuh cinta. Kak Pedho, maaf. Aku tidak pantas untukmu Kak. Aku tidak mau Kakak repot karena aku. Aku hanya wanita penyakitan yang hidup bergantung pada obat dan rumah sakit," Leona memejamkan matanya. Tangannya memegang penyangga sebagai kekuatan kakinya berdiri.
Liburannya kali ini sedikit mengobati luka yang mengangga didalam sana. Meski tak sepenuhnya ia bisa melupakan bayangkan Pedro. Namun, ia tak mau terjebak dengan masa lalu.
Pedho, adalah lelaki baik. Bukan Leona tak memiliki getaran saat berada di dekat mantan kakak ipar nya itu. Tapi, Leona sadar bahwa hidupnya takkan lama. Tidak ada orang yang benar-benar sembuh total dari penyakit kanker. Hal itu lah yang membuat Leona pesimis bahwa ia takkan sembuh.
"Leona,"
Wanita itu langsung berbalik ketika mendengar ada yang memanggil namanya.
"Kak Pedho," gumam Leona.
Pedho berjalan menghampiri wanita itu. Matanya tak bisa tidur. Niat hati ingin menikmati angin malam ditepi pantai dan tidak tahu nya ia malah bertemu dengan wanita ini.
"Kenapa keluar malam-malam?" lelaki itu memasangkan jacket di tubuh Leona.
"Terima kasih Kak," Leona memeluk jacket itu karena jujur saja ia keding.
"Disini dingin, tidak baik untuk kesehatan mu," ucap Pedho memperingati.
"Aku tidak bisa tidur Kak," sahut Leona. Kenapa sekarang ia merasa canggung?
Pedho menatap bintang di langit malam yang berjejeran menampakkan diri, seolah pesonanya begitu menggoda.
"Kak," panggil Leona.
"Iya Leona?" Pedho tersenyum hangat. "Ada yang sakit?" tanya nya. Ia berusaha menampilkan wajah tenang, namun tetaplah ia panik jika wanita-nya merasakan sakit dibagian tubuh.
Leona menggeleng, "Tidak kak," jawab nya tersimpul.
__ADS_1
Sebenarnya Leona ingin menanyakan perasaan Pedho padanya. Supaya ia bisa memikirkan, hal apa yang harus ia lakukan. Namun, kenapa lidah nya terasa kelu sekali. Tatapan Pedho malam ini mampu menebus indra penglihatan Leona dan merasuk kedalam jiwa.
Bersambung....