
**Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡**
Penerbangan yang memakan cukup lama. Kini jet pribadi yang mengudara dari Indonesia ke Amerika mendarat di Bandara Internasional, Amerika.
Leona masih terlelap nyaman di gendongan Pedho. Wanita itu seperti nya sangat lelah. Sehingga ia tak tahu jika perjalanan yang memakan waktu berjam-jam tersebut kini telah sampai.
"Bisa Ped?" tanya Luiz. Kasihan juga Pedho menggendong Leona yang tampak nya sangat berat.
"Aku bisa Luiz," jawab Pedho.
Mereka semua keluar dari bandara. Pedho sama sekali tidak merasakan berat ketika menggendong Leona. Malah lelaki itu ingin selalu bisa membawa kemanapun wanita nya pergi.
"Kita langsung kerumah saja. Aku akan membawa beberapa alat medis disana," jelas Luiz.
Mereka mengangguk dan setuju dengan ucapan Luiz. Luiz dan Andika memang sudah menyiapkan segala keperluan Leona. Tak ada satu pun yang terlewatkan.
Tidak lama kemudian datang beberapa mobil berwarna hitam untuk menjemput keluarga besar tersebut.
Pedho masuk dengan pelan. Dia meletakkan Leona diatas pangkuan nya dan memangku tubuh lemah wanita itu.
"Sayang," panggil nya menepuk-nepuk pipi Leona.
"Pedho, tangan Leona dingin," pekik Luiz mengenggam tangan adiknya
"Sayang bangun," Pedho kembali menepuk pipi wanita itu. "Leona, bangun. Aku mohon buka matamu. Jangan bercanda Sayang," air mata lelaki itu menetes deras karena ketakutan
"Kita bawa Leona langsung kerumah sakit," saran Luiz.
Mobil yang seharusnya menuju rumah berbelok kearah rumah sakit. Wajah Leona tampak pucat dan tubuhnya dingin. Dia tidak sedang tertidur, mungkin saja dia sedang pingsan.
__ADS_1
"Leona, bertahan Sayang. Aku mohon. Tolong," tangis Pedho pecah sambil memeluk wanita itu dengan erat.
Luiz juga menangis segugukan. Tangannya menggenggam tangan dingin Leona. Kenapa tubuh adiknya dingin? Ada apa dengan leona? Tidak, tidak. Leona tidak boleh pergi. Dia harus bertahan.
Kedua lelaki itu menangis histeris didalam mobil. Sedangkan Yuna dan Andika menaiki mobil yang lain begitu juga dengan Abraham dan Juliet.
"Kak, ini kita mau kerumah sakit?" tanya Yuna heran.
"Iya Yun. Kita mengikuti mobil Pedho dan Luiz," jawab Andika.
Andika tampak duduk tak tenang. Dia penasaran, kenapa Leona langsung dibawa ke rumah sakit? Bukankah sesuai kesepakatan mereka tadi, bahwa Leona akan dirawat kerumah saja beberapa waktu sebelum menjalani perawatan yang lebih intensif.
Begitu juga dengan Abraham dan Juliet yang tampak heran saat mobil yang membawa anaknya menuju rumah sakit.
"Dad, ada apa? Leona baik-baik saja 'kan?" tanya Juliet panik.
"Tenang Sayang, putri kita baik-baik saja," ucap Abraham menenangkan istrinya. Padahal hatinya pun mulai tak tenang dan panik.
Sampai dirumah sakit. Luiz turun duluan membuka pintu mobil agar Pedho keluar dari mobil dan membawa Leona.
Pedho membawa Leona dengan setengah berlari, wajah nya pucat fasih dan matanya sembab karena menangis.
.
.
.
Pedho berjalan pelan menghampiri ranjang Leona. Alat-alat medis menempel dibagian tubuh wanita itu. Bahkan oksigen uap digunakan untuk membantunya bernafas.
__ADS_1
Pedho terduduk lemah di kursi samping ranjang Leona. Lelaki itu menunduk sejenak menatap wajah pucat sang kekasih hati. Wanita yang ia cintai kini terbaring dalam keadaan lemah dan tak berdaya.
"Sayang," lirihnya.
Pedho mengambil tangan Leona, lalu mengenggam nya dengan erat. Kenapa disaat dia merasa sebagai lelaki paling bahagia didunia ini, Tuhan justru menguji nya dengan begitu berat hingga membuat dadanya sangat sesak untuk bernafas.
"Kamu tahu...." Air mata Pedho luruh. "Sejak kamu masuk di hidupku. Aku merasa warna-warni itu memenuhi relung hatiku. Saat aku tidak percaya pada cinta sejati, kamu datang menawarkan hati. Walau kita sempat menjadi orang asing. Kini aku bisa memiliki mu. Tapi kenapa, kenapa takdir suka sekali mengecoh kita Sayang?" Pedho membenamkan wajahnya dilengan Leona. Tubuhnya bergetar karena tangisnya yang pecah.
"Tuhan, tolong kabulkan permintaan ku kali ini saja. Jangan bawa dia pergi. Aku tidak bisa hidup tanpa nya. Jika dia pergi aku juga akan pergi. Sebab aku takkan bisa hidup jika dia tidak ada," gumam Pedho. Pria tersebut beberapa kali mengecup punggung tangan wanita yang begitu dia cintai.
"Jika ada seni untuk merayu-Mu, maka aku akan mempelajari nya. Tak peduli jika aku harus melakukan hal yang tidak mungkin. Asal itu bisa membuat Leona bertahan disisiku, Tuhan,"
Bersama dentingan alat pendeteksi jantung, suara tangis Pedho saling menggema dan bersahutan. Pria yang tengah merasakan kepedihan dalam hatinya itu, kini mencurahkan isi hati pada Tuhan. Berusaha merayu Tuhan agar tak mengambil seseorang yang dia cintai. Meminta kepada Tuhan agar memberinya bahagia, kali ini saja. Walau hanya sebentar, Pedho tak bisa tanpa Leona.
"Sayang, hiks......" tangan nya terulur mengusap kepala plontos Leona.
"Kamu sudah berjanji tidak akan pergi. Tapi kenapa kamu tidak mau bangun? Kenapa Sayang?" tanya nya pada orang yang tidak sadarkan diri tersebut.
Hati Pedho kembali merasakan sakit ketik melihat jarum-jarum itu menusuk bagian tubuh Leona. Tak bisa Pedho bayangkan betapa menyiksa nya jarum-jarum tersebut saat masuk kedalam kulitnya.
Dokter mengatakan kondisi Leona sangat menurun. Untuk sembuh itu terdengar mustahil. Daya tahan tubuhnya rentan. Saat ini dia mengalami koma, sel kanker dalam tubuhnya sudah menyebar kebagian otak kanannya.
"Aku percaya kamu akan sembuh. Kamu bilang ingin menikah sama aku. Lalu kita memiliki anak dan hidup bahagia selama nya," ucap Pedho terkekeh seperti orang gila. Dia tertawa namun air mata yang jatuh dipipinya, menandakan bahwa ia terluka.
Pedho mengeluarkan cincin dari saku celananya. Cincin yang dia beli lima tahun yang lalu, saat ia sedang perjalanan bisnis ke Korea. Niat hati saat ke Indonesia, dia akan melamar Leona dan menikahi wanita tersebut. Namun, satu kenyataan pahit membuat hati Pedho terasa di jungkirbalik kenyataan ketika menyaksikan pernikahan sang wanita dengan adik kandungnya sendiri.
"Kamu mau 'kan menikah sama aku Sayang?" Pedho memasangkan cincin berlian itu di jari manis Leona. "Kamu tahu Sayang? Cincin ini aku beli saat kita mau tunangan, aku sudah lama menyimpan nya. Entah kenapa hatiku mengatakan hanya kamu yang pantas memakai cincin ini," tutur Pedho sambil mengusap jari Leona yang terpasang cincin.
Sementara Leona tak terganggu sama sekali pada ucapan lelaki itu. Ia terlelap dengan nyaman tanpa peduli akan suara-suara berisik didekatnya
__ADS_1
Bersambung...