
**Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡**
"Ada bawa obatnnya?" Leona bangkit dari pelukkan Pedro.
"Ada Kak." Wanita itu mengambil kantong kecil didalam tas munggil nya.
"Sini biar saya yang buka," Pedho mengambil kantong itu dari tangan Leona. Lalu mengeluarkan isi dari bungkusan obat-obat kecil tersebut.
"Kak," renggek Leona. Ia paling malas yang namanya minum obat. Apalagi obatnya pahit luar biasa, selain itu banyak lagi.
"Minum obat Leona Sayang, biar cepat sembuh," ucap Pedho penuh penekanan.
"Pahit Kak," ucap Leona sendu. "Tidak enak," sambung nya kesal.
Pedho geleng-geleng kepala dan gemes dengan renggekan Leona.
"Di mana-mana obat itu pahit Leona. Yang manis itu hanya senyum kamu," goda Pedho mencolek hidung Leona. "Ini minum dulu," sambil memberikan beberapa butir obat di tangan Leona.
Terpaksa wanita itu memasukkan benda tersebut kedalam mulutnya. Leona benci bau obat dan rumah sakit yang terasa menyengat dihidungnya. Apalagi rasa obat yang pahit benar-benar membuatnya ingin muntah saja.
"Jangan cemberut begitu," ucap Pedho terkekeh. "Mau pulang atau tetap disini?" tanya Pedho. "Tetap disini saja menemani saya," pintanya. Dia masih rindu Leona. Rasanya ingin selalu ditemani oleh wanita tersebut.
"Iya deh Kak. Aku tunggu Kakak saja. Setelah pulang dari kantor nanti. Aku mau mengajak Kakak belanja," ucap Leona.
"Iya si_"
"Pedho," panggil suara kearah pintu masuk.
Pedho dan Leona yang tengah asyik berbicara dan bercanda.
"Mama," ucap Pedho dan Leona bersamaan.
"Ehh Leona kamu ada disini juga?" ujar Anjani berjalan masuk kedalam ruangan Leona.
Tentu Anjani punya maksud jika sudah datang dikantor anaknya. Sebab Anjani tak begitu dekat dengan Pedho lantaran masa lalu yang membuat hubungan ibu dan anaknya itu menjadi renggang.
"Mama," Leona memeluk Anjani.
Anjani membalas pelukkan wanita ini. Leona akan tetap menjadi menantu kesayangan nya. Apapun yang terjadi ia akan lakukan segala cara agar Leona kembali ke dalam pelukan Pedro.
__ADS_1
"Apa kabar kamu Sayang?" Anjani melepaskan pelukkan Leona. Lalu mengecup kening wanita itu dengan sayang.
Sementara Pedho menampilkan wajah tak suka nya. Wajah yang tadinya berseri karena bahagia sekarang berubah menjadi kurang seperti awan yang hendak menurunkan hujan.
"Leona baik Ma. Mama apa kabar juga?" tanya balik Leona.
"Mama sehat Sayang," jawab Anjani duduk di sofa bersama Leona dan Pedho.
Anjani sengaja menemui Pedho karena ia baru saja mendapat kabar dari Tessa bahwa ada Leona di ruangan Pedho. Anjani tak bermaksud egois, ia tak mau jika Leona jatuh kedalam pelukkan Pedho. Leona hanya milik putra keduanya Pedro, bukan milik putra sulungnya Pedho.
"Pedho," panggil Anjani.
Namun lelaki itu tak menanggapi. Ia tetap menampilkan wajah datarnya. Ia tak suka dengan kedatangan ibunya. Pedho sudah tahu kalau Anjani datang pasti ada tujuan nya.
"Kak, dipanggil," Leona mengenggam tangan Pedho. Ia tidak suka jika lelaki ini diam. Aneh nya Pedho hanya akan hangat jika bersama nya.
Pedho tersenyum dan mengangguk. Tangan lelaki itu terulur mengusap kepala Leona.
"Ada apa Ma?" tanya Pedho dingin.
Tatapan Anjani tak beralih dari perlakukan kedua orang ini. Leona yang mengenggam tangan kanan Pedho. Sedangkan tangan kiri Pedho mengusap kepala Leona. Kedua otak ini tampak seperti pasangan romantis. Namun, Anjani takkan biarkan hal itu terjadi. Leona hanya boleh dimiliki oleh Pedro, anak keduanya.
"Apa kamu tahu kalau Tessa sudah kembali?" ucap Anjani sengaja membahas Tessa.
Namun Leona tetap tenang. Ia percaya jika Pedho berbeda dari Pedro. Meski kini ia belum mengetahui sepenuhnya bagaimana perasaan nya pada lelaki itu.
"Tahu," jawab Pedho singkat. Dia masih asyik memperbaiki rambut palsu Leona.
"Apa kamu masih mencintai nya?" tanya Anjani. Sungguh Anjani sangat tidak suka saat Pedho memperlakukan Leona seromantis itu.
"Tidak," jawab Pedho tegas.
Leona ingin bangkit dari dada Pedho. Namun lelaki itu malah menahannya dan mengedipkan matanya dengan jahil, agar Leona tetap bersandar didadanya.
"Kamu yakin?" tanya Anjani sekali lagi.
"Seribu persen," jawab Pedro.
"Kak, persen itu hanya ada seratus," ralat Leona.
__ADS_1
"Saya menambah sembilan ratus agar menjadi seribu," jawab Pedho sambil terkekeh. Leona ini ada-ada saja, dalam keadaan serius masih saja bercanda.
"Ehem," Anjani berdehem. "Leona sayang," sapa nya.
Leona bangkit dari pelukkan Pedho. Ia merenggut kesal karena lelaki itu memeluk nya seperti takut ia pergi. Dia jadi malu sendiri pada mantan itu mertuanya tersebut.
"Iya Ma?" sahut Leona.
"Malam besok kamu sibuk tidak?" tanya nya tersenyum lembut. Rasanya Anjani ingin merutuki Pedro yang meninggalkan wanita ini.
"Tidak Ma. Kenapa Ma?" tanya Leona
"Mama mau mengajak mu ke arisan teman Mama," jawab Anjani.
"Tidak boleh. Dia tidak boleh keluar malam," tolak Pedho. Pedho takut bagaimana kondisi Leona, wanita itu tidak bisa terkena angin malam. Apalagi Leona baris selesai kemoterapi, ia tak boleh lelah dan beraktifitas di malam hari.
Leona mengangguk. Entah kenapa perasaan tidak enak dengan ajakan Anjani. Wanita ini dulu tak pernah mengajaknya bertemu dengan teman-teman sosialita atau teman arisannya.
"Maaf ya Ma, bukan nya Leona menolak. Leona tidak bisa keluar malam," tolak Leona halus.
Pedho tersenyum. Leona benar-benar bisa diajak kerja sama. Tak salah ia mencintai wanita ini dengan perasaan yang dalam.
"Ya, padahal Mama, sudah menceritakan tentang kamu ke teman-teman Mama," ucap Anjani memasang wajah sendu berharap Leona akan berbelas kasihan padanya lalu mau menerima tawaran nya.
Hati Leona terenyuh. Ingin sekali ia menerima tawaran Anjani. Namun saat ia menoleh kearah Pedho, lelaki itu malah menggeleng dan memberi isyarat agar Leona tak menerima tawaran dan ajakan Anjani.
"Lain kali saja ya Ma," sahut Leona. Ia benar-benar tak enak hati. Akan tetapi hatinya tak pernah bohong, jika ia sudah merasa ada yang tidak beres dipastikan pasti akan terjadi sesuatu yang diluar dugaan.
"Iya tidak apa-apa. Masih ada waktu," ucap Anjani tersenyum kecewa. "Kapan-kapan main kerumah Mama, kita belajar masak lagi," ajak Anjani tak kehabisan ide.
Anjani tahu bahwa Leona ini wanita yang tidak bisa menolak jika ada yang meminta bantuan atau mengajaknya. Jika ia menolak berarti ada alasan lain yang tidak bisa ia jelaskan.
"Ohh boleh Ma," jawab Leona.
"Tidak," tolak Pedho tegas. "Dia tidak boleh lelah," ucap nya menegaskan.
Anjani dan Leona sontak melihat kearah Pedho.
"Sebenarnya kamu ada hubungan apa sama Leona? Kenapa kamu seperti mengekang dia?" tanya Anjani penuh selidik dan tatapan nya tak suka.
__ADS_1
"Dia calon istriku,"
**Bersambung.. **