
Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
"Nona Tasya," panggil Ben.
"Ben." Kening Tasya berkerut heran melihat Ben tiba-tiba datang kerumah nya. "Kamu kapan datang? Tumben datang kesini?" tanya Tasya.
Ben Hosnan adalah asisten pribadi Pedro dan sekaligus orang kepercayaan Pedro untuk mengurus masalah perusahaan jika dia tidak ada ditempat.
"Ada Pedro?" tanya Tasya celingak-celinguk mencari keberadaan Pedro.
"Saya sendirian, Nona. Saya ditugaskan Tuan untuk mengurus cabang perusahaan Tuan yang ada disini," jelas Ben.
Tasya mengangguk dan mengajak Ben masuk kedalam rumah nya. Kehidupan Tasya berubah drastis sejak dia berpisah dari Pedro. Dirinya yang dulu memiliki kemewahan luar biasa dari lelaki tersebut, kini tak memiliki apa-apa bahkan kendaraan roda dua pun wanita itu tak punya.
"Duduk, Ben!" suruh Tasya.
Ben melihat banyak yang berubah dari diri Tasya. Dulu wanita ini angkuh dan sombong bahkan menatap dirinya rendah hanya karena seorang asisten yang di gaji oleh Pedro. Namun, sekarang Tasya terlihat berbeda dari biasanya. Sifat dan tutur bahasanya lebih lembut.
Tasya menyuguhkan segelas teh manis untuk tamu nya. Sebenarnya dia malu pada Ben, karena dulu dia pernah menghina lelaki hanya karena seorang asisten.
"Terima kasih, Nona," ucap Ben.
"Tidak perlu panggil aku Nona, Ben. Aku sekarang bukan majikan mu lagi," ucap Tasya memutar bola matanya malas.
Ben tersenyum simpul. Baru kali ini dia berbicara begitu dekat dengan Tasya. Biasanya wanita ini selalu kasar dan menyuruh dia seperti babu.
"Baiklah, Tasya," sahut Ben menyesap teh manis buatan Tasya.
Tasya menghela nafas panjang. Dia sempat mendapat pekerjaan disebuah rumah sakit di Bandung. Namun, lagi-lagi dirinya dianggap pelakor padahal dia tidak merayu suami orang. Alhasil Tasya di pecat dari rumah sakit tersebut, padahal dia baru masuk beberapa bulan saja.
Apapun yang Tasya lakukan untuk memperbaiki namanya, tidak akan bisa. Di mata semua orang dirinya adalah perebut suami orang. Hubungan nya dan Pedro yang kandas serta perceraian antara Pedro dan Leona, seolah menjadi boomerang bagi Tasya. Dia dihujat oleh netizen sebagai penyebab dari perpisahan dari pasangan suami istri tersebut.
"Tasya, aku datang kesini karena ingin mengajak kamu bekerja di perusahaan Tuan Pedro. Tuan meminta aku untuk mengajakmu," jelas Ben. Dia sedikit kaku berbicara seperti itu dengan Tasya karena biasanya dia berbicara formal pada Tasya.
Tasya terdiam, ternyata Pedro masih peduli padanya. Tasya tahu bahwa Pedro bukan pria jahat. Dirinya lah yahh jahat karena sudah menjadi penyebab Pedro patah hati.
__ADS_1
"Pedro meminta aku bekerja di perusahaan nya?" ulang Tasya sekali lagi untuk memastikan.
"Iya Sya," jawab Ben.
Tasya menghela nafas panjang. Sebenarnya dia tidak ingin bergantung pada orang lain lagi. Tetapi keadaan lah yang membuat wanita tersebut harus menentukan jalan hidupnya.
"Iya Ben, aku mau. Aku butuh pekerjaan," jawab Tasya
"Kalau begitu, besok kamu sudah boleh masuk," ucap Ben lembut.
"Sekali lagi terima kasih Ben," ucap Tasya.
.
.
.
"Kak, kenapa?" tanya Leona saat Pedho memeluknya dari belakang.
"Sayang, aku....." Pedho menghela nafas panjang.
Leona berbalik. Kepala wanita itu masih belum ditumbuhi oleh rambut. Namun, Leona enggan memakai rambut palsu. Dia sudah nyaman tanpa rambut tidak ribet saat mengurus ketiga anaknya.
"Kakak kenapa? Apa yang ingin Kakak katakan padaku? Jangan dipendam ya Kak, sekarang kita sudah satu. Masalah ku juga masalah Kakak, masalah Kakak juga masalahku. Kita saling membantu dan merangkul satu sama lain," ucap Leona mengenggam tangan lelaki itu dengan sayang. Tangan nya yang satu dia gunakan untuk mengusap pipi Pedho.
Pedho menatap Leona. Sejak kematian Adam dan Tessa, dia terus di hantui perasaan bersalah. Bukan bersalah karena dia membunuh tetapi merasa bersalah karena berbohong ada istrinya.
"Sayang, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Mungkin kamu akan marah atau bahkan membenci ku," ucap Pedho. Dia belum siap menerima kemarahan Leona padanya.
Leona penasaran apa yang akan dikatakan suaminya. Kenapa suaminya mengatakan hal tersebut? Memangnya apa yang sudah di lakukan Pedho sehingga Leona harus marah?
"Kak." Leona menyatukan tangan mereka. "Katakanlah, aku tidak akan membenci Kakak. Jika marah mungkin iya, tapi untuk membenci itu tidak mungkin Kak," ucap Leona.
Pedho mengangguk, "Sayang, aku..." Lidah Pedho terasa kelu saat ingin mengatakan yang sebenarnya. Dia tidak siap melihat reaksi Leona.
__ADS_1
Namun, bagaimanapun Pedho harus mengatakan bahwa dia penyebab kematian Adam dan Tessa.
"Sayang, aku yang sudah membuat Adam dan Tessa meninggal."
Deg
Leona mendengar tak percaya. Dia tidak tahu jika Adam dan Tessa meninggal. Pedho tak pernah mengatakan tentang hal tersebut padanya.
"Adam dan Tessa meninggal, Kak?" tanya Leona sekali lagi. Barangkali dia salah dengar.
"Iya Sayang," jawab Pedho.
Leona menutup mulut tak percaya. Adam adalah cinta pertama nya sejak duduk dibangku sekolah menengah. Dia cukup lama menjalin hubungan bersama lelaki tersebut. Setelah putus dari Adam dan menikah dengan Pedro, Leona tak pernah lagi mendengar kabar dari lelaki tersebut. Dia dan Adam putus karena Leona di jodohkan dengan Pedro. Terakhir pertemuan mereka sekitar 6 tahun lalu dan sejak saat itu, keduanya hidup masing-masing.
"Tapi kenapa Kakak membunuh mereka?" tanya Leona lembut. Dia ingin tahu alasan Pedho membunuh Adam dan Tessa.
Pedho menghela nafas panjang, laku menceritakan alasan dia memberikan hukuman hingga membuat kedua orang itu menemukan ajal nya. Pedho takkan mungkin memberikan hukuman sekejam itu jika Adam dan Tessa tidak menyakiti Leona.
"Jadi semua ini gara-gara aku, Kak?" ucap Leona merasa bersalah.
"Tidak Sayang, bukan karena kamu. Aku tidak bisa melihat orang menyakiti kamu. Kamu berarti buat aku dan aku tidak akan biarkan siapapun menyakiti kamu," ucap Pedho mengusap air mata istrinya.
"Kak, maaf ya. Kakak harus berkorban banyak demi aku. Maafkan aku, Kak," lirih Leona.
"Sayang, kamu tidak marah sama aku?" tanya Pedho mengusap pipi basah istrinya.
"Awal nya aku marah. Tapi setelah tahu alasan nya, aku merasa bersalah. Semua gara-gara aku, Kak," sahut Leona.
"Bukan karena kamu, Sayang. Jangan merasa bersalah," sergah Pedho menarik Leona kedalam pelukannya.
Leona membenamkan wajahnya didada sang suami. Sekarang, dia merasakan betapa besarnya cinta Pedho padanya. Leona bukan wanita labil yang tak merasakan pahitnya menjalin hubungan.
Adam adalah lelaki yang pernah menghabiskan waktu cukup lama bersama Leona. Lelaki yang dulu begitu dia cintai. Meski dalam hubungan Adam terlalu toxic dan kasar yang suka mengatur hidup Leona. Bahkan lelaki itu juga memiliki jiwa posesif yang tinggi.
Bersambung...
__ADS_1