Cinta Setelah Penyesalan

Cinta Setelah Penyesalan
Eksekusi


__ADS_3

**Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺**


"Bagaimana, Ricard? Apa kamu sudah menemukan siapa orang itu?" tanya Pedho.


Tatapan lelaki itu seperti elang yang menajam dengan nyalang. Indra penglihatan nya seperti mampu menusuk kedalam sanubari.


"Saya sudah menangkap orang nya, Tuan," jawab Ricard.


"Bawa ke hadapan ku!" titah Pedho.


"Baik Tuan," sahut Ricard.


Pedho masuk kedalam sebuah gedung tua yang terlihat seperti berumur puluhan tahun. Lelaki tampan tersebut melangkah lebar diikuti oleh Ricard yang mengekor dari belakang.


Setelah melakukan berbagai penyelidikan akhir nya Pedho menemukan satu kejanggalan. Ya dia janggal atas kritisnya Leona kemarin. Pasti ada seseorang yang sengaja memasukkan sesuatu atau menyuntikkan sesuatu kedalam tubuh Leona.


Awalnya Pedho tak curiga. Namun, ketika Luiz menjelaskan bahwa beberapa bagian tubuh Leona memar seperti keracunan atau alergi. Ada tulang-tulang Leona juga yang bermasalah. Setelah melakukan test darah di laboratorium, ternyata memang ada zat kimia yang sengaja di masukkan melalui infuse hingga mengalir masuk kedalam tubuh Leona.


Pedho murka saat mengetahui hal tersebut. Bagaimana bisa rumah sakit terbesar dan termewah di Amerika memiliki dokter yang mau disuap dengan uang? Pedho yakin, jika ada dalang di balik semua ini. Tidak mungkin seorang dokter akan mencelakai pasien nya jika tidak disuruh seseorang. Apalagi dokter yang merawat Leona, orang Amerika asli yang tentu nya belum mengenal Leona sebelumnya. Lantas, motif apa yang membuat dia mencelakai Leona?


Pedho duduk disebuah kursi tengah-tengah ruangan gelap tersebut. Kursi yang memang sudah di siapkan untuknya. Dia bukan mafia. Namun, sewaktu-waktu dia bisa lebih kejam dari Yakuza jika ada yang menganggu kehidupan nya. Apalagi ini bersangkutan dengan nyawa Leona.


"Bawa dia!" perintahnya.


Pedho duduk dengan tenang. Ditangannya terselip rokok yang dia sesap, hingga mengeluarkan asap yang mengumpal lalu menyemburkan nya keatas kepala hingga mengeluarkan gumpalan-gumpalan berwarna abu-abu.


Ricard dan anak buah nya menarik seorang pria paruh baya yang sudah sekarang dengan tubuh luka-luka. Wajahnya biru dan lebam akibat pukulan dari anak buah Ricard.


Brakkkkkkkkkkkkkk


Ricard mendorong lelaki tersebut hingga tersungkur tepat didepan kaki Pedho.


"Ini orang nya, Tuan," ucap Ricard

__ADS_1


Pedho mengangguk. Dia menginjak putung rokok ditangannya hingga api nya mati dan hancur.


"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Pedho melipat kedua tangannya didada. Menatap lelaki paruh baya itu dengan tajam. Tak ada rasa kasihan ketika melihat wajah menggenaskan dari lelaki yang telah mencelakai sang kekasih hati.


Lelaki paruh baya itu tak menjawab. Buliran keringat menetes didahinya, wajahnya tampak pucat fasih dan badannya bergetar hebat. Dia seperti sedang melihat setan ketika tatapannya dan Pedho bertemu. Sungguh menyeramkan sekali lelaki tersebut.


"Apa dia bisu, Ricard?" tanya Pedho meledek. Sebab dia cukup mengenal dokter ini. Pedho sangat kecewa pada dokter tersebut, padahal dia sudah sangat percaya. Jika sang dokter bisa membantu kesembuhan Leona.


"Tidak, Tuan," jawab Ricard.


"Katakan, siapa menyuruhmu. Sebelum aku benar-benar membuatmu bisu!" ancam Pedho menatap tajam pria yang sudah sekarat tersebut.


Saat mengingat kondisi Leona yang kritis, seperti menyalakan api membara dalam diri Pedho. Seperti nya orang-orang benar-benar ingin melihat sisi jahat dirinya. Dia akan tunjukkan siapa dirinya.


"M-maaf Tuan." Dokter tersebut menunduk.


"Aku tidak menyuruhmu untuk minta maaf. Aku hanya meminta mu, mengatakan siapa yang menyuruhmu," sentak Pedho dengan rahang mengeras dan tangan yang terkepal kuat.


Haruskah dia mengeluarkan ginjal lelaki ini agar mengatakan siapa yang menyuruhnya. Pedho hanya tak ingin salah tebak walau sebenarnya dia sudah tahu siapa dalang di balik semuanya.


"Huh, seperti nya dia benar-benar bisu Ricard," ledek Pedho tersenyum licik.


Pedho berdiri dari duduk nya. Dia melangkah mendekati lelaki paruh baya tersebut.


"Ricard," panggil Pedho.


Ricard mendekat, "Ini, Tuan," ucap sang asisten memberikan sebuah belati pada Pedho.


"Hem, kamu tahu ini apa?" ucapnya tersenyum licik sambil memainkan belati tersebut di wajah sang dokter.


"Kamu tahu? Wanita yang hampir saja kamu bunuh itu adalah wanita yang sangat aku cintai. Jika sampai dia pergi meninggalkan ku karena dirimu. Maka, kamu harus menerima siksaan neraka yang tak pernah terbayangkan. Aku akan menyiksa mu dan semua keturunan mu. Aku tidak peduli kamu meminta ampun dengan menangis darah," ucap Pedho penuh penekanan. Sorot matanya terlihat mengandung emosi.


"M-maaf, Tuan," ucap lelaki paruh baya itu dengan keringat dingin yang mengucur.

__ADS_1


"Katakan siapa yang menyuruhmu." Pedho mencengkram dagu pria tersebut dengan kuat


Sang dokter meringgis kesakitan. Ingin memberontak tapi tidak bisa karena tangan dan kaki nya diikat sangat kuat.


"CEPAT KATAKAN, BRENGSEK," bentak Pedho. Kesabaran nya mulai habis saat pria tersebut tak menjawab.


"B-baik, Tuan saya akan jawab," sahut lelaki itu yang tak mampu menahan sakit dibagian dagu nya.


"Bagus." Pedho menghempaskan dagu lelaki itu dengan kasar. "Cepat katakan siapa yang menyuruhmu. Sebelum kesabaran ku, habis!" hardik Pedho.


"S-saya di-disu-ruh ol-eh, Nona Tessa," jawab lelaki itu jujur.


Pedho mendengar tak percaya. Ini benar-benar keterlaluan. Sejahat itu wanita yang dulu dia cintai. Dia tak menyangka, wanita lemah lembut yang dia pikir akan menjadi pendamping hidupnya. Malah tega mencelakai nyawa orang. Hampir saja dia kehilangan Leona gara-gara mantan kekasihnya tersebut.


Pedho menatap lelaki itu dengan penuh amarah.


Sretttttttttttttttttt


Dia langsung menyayat leher lelaki tersebut hingga darah muncrat dan mengenai wajahnya.


Sang dokter tergeletak ditanah dengan tubuh kejang-kejang dan menghembuskan nafas terakhir nya dengan simbahan darah dibaju dan tubuhnya.


Ricard memalingkan wajah nya. Pedho, membunuh tanpa ampun. Tanpa membiarkan munsuhnya mengerang kesakitan.


"Ricard, bereskan!" titah nya berdiri sambil memberikan belati tersebut pada Ricard.


Di Amerika, Pedho memiliki markas khusus yang dia gunakan jika ada yang berani bermain-main dengannya. Terkhusus para koruptor yang berkedok karyawan perusahaan. Dia tidak suka basa-basi atau sekedar bertanya-tanya ingin mati seperti apa, baginya membunuh seseorang yang sudah menganggu hidup nya adalah hal yang menyenangkan.


Pedho menatap orang yang sudah tak bernyawa itu. Sedangkan Ricard dan para anak buahnya sibuk menarik lelaki itu seperti karung beras, sehingga darah berserakan kemana-mana.


"Tessa, aku tidak akan melepaskan mu. Aku akan membalaskan apa yang kamu lakukan pada Leona. Kamu tidak akan bisa lari." Pedho tersenyum licik. Namun, tatapannya menunjukkan kebencian.


Tessa tidak tahu sisi buruk Pedho. Selama putus dari nya, Pedho menjadi pribadi yang kejam dan tak memiliki belas kasihan. Tessa telah salah mencari munsuh, dia pikir Pedho benar-benar akan kembali kedalam pelukannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2