Cinta Setelah Penyesalan

Cinta Setelah Penyesalan
Penyesalan orang tua


__ADS_3

Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡


Abraham dan Juliet bergetar ketika mendengar penjelasan Luiz.


"Apa maksud kamu Son?" tanya Abraham masih tak percaya. "Tidak mungkin Leona sakit," kilah nya


"Itulah kenyataan nya," jawab Luiz dingin. "Apa setelah kalian tahu, kalian akan tetap mengabaikan Leona?" tanya Luiz menatap kedua orang tua nya dingin.


Juliet menangis dipelukkan suaminya dengan isakkan tangis yang menggema. Ia tidak tahu jika putri nya itu menderita penyakit serius.


"Leona," tangis Juliet semakin pecah. "Maafkan Mommy, Sayang," ucapnya dengan penuh penyesalan dan rasa bersalah. Ia pikir Leona baik-baik saja karena wanita itu tidak pernah mengeluh apapun padanya atau sekedar merenggek kesakitan.


"Lalu bagaimana kondisi adik mu, Luiz?" tanya Alexander sambil mengusap punggung istrinya berusaha menenangkan wanita itu lewat usapan tangannya.


"Aku dan Pedho akan membawa Leona keluar negeri," jawab Luiz singkat padat dan jelas.


Abraham mengangguk. Perasaan bersalah kini menghantam dadanya. Sekarang ia sadar betapa ia bodoh yang selalu mengutamakan pekerjaan tanpa memikirkan anak-anaknya.


"Maafkan Daddy dan Mommy," ucap Abraham penuh penyesalan.


"Kenapa harus meminta maaf padaku. Kalian bersalah pada Leona. Bukan padaku," ucap Luiz sinis.


Terdengar suara mobil dari luar. Pasti itu Pedho yang mengantar Leona.


Abraham dan Juliet langsung keluar menyambut kedatangan Leona. Keduanya tampak tak sabar bertemu dengan putri mereka itu.


"Leona," panggil Juliet.


"Ehh Mommy. Daddy," wanita itu tersenyum sumringah.


"Leona," Juliet berhambur kearah anaknya.


Juliet memeluk Leona dengan lirihan penyesalan. Rasanya jiwanya bagai disambar petir ketika tahu penyakit yang bersarang di tubuh putrinya itu. Betapa ia bodoh yang tidak mengetahui kondisi putrinya sendiri. Leona tak baik-baik saja.


"Mommy kenapa?" tanya Leona heran sambil membalas pelukan ibunya.


"Maafkan Mommy, Sayang," ucap Juliet.

__ADS_1


Ia merasa gagal menjadi orang tua. Harusnya ia menjadi seorang ibu yang selalu siap siaga menemani anak nya itu. Leona tak hanya hancur dalam rumah tangga nya tapi kehidupan Leona juga berantakan apalagi dengan adanya penyakit mematikan ini.


"Leona,"


Abraham ikut memeluk kedua wanita hebat dalam hidupnya itu. Ia baru menyadari satu hal bahwa uang tidak lebih penting dari pada putrinya. Apalagi ketika ia tahu penyakit yang bersarang di tubuh Leona. Hatinya hancur berkeping-keping. Penyesalan kini mulai merasuk kedalam jiwanya. Ia sadar bahwa, ia bukan ayah yang baik. Selama ini ia hanya mementingkan uang dan ketenaran. Tanpa memikirkan bahwa anak nya itu hidup terlantarkan.


"Daddy dan Mommy kenapa?" tanya Leona heran sambil melepaskan pelukan nya. Kenapa kedua orang tua nya menangisi dirinya?


"Tidak apa-apa," kilah Abraham menyeka air matanya.


"Ayo Sayang masuk." Juliet menggandeng tangan anak perempuan nya dan membawa wanita itu masuk.


"Sore Paman," sapa Pedho ramah.


"Sore Pedho," balas Alexander. "Apa kabar kamu?" tanya Alexander.


Andai waktu itu ia tak gegabah menikahkan Leona. Mungkin yang akan menjadi menantu nya Pedho bukan Pedro.


"Sehat Paman. Paman apa kabar juga?" tanya Pedho balik.


"Seperti yang kamu lihat," jawab Alexander merangkul bahu Pedho. "Ayo masuk," ajaknya


"Kakak,"


"Hai Sayang," wajah Luiz yang tadi nya dingin langsung sumringah saat melihat Leona. "Baru datang?" ia menyambut adiknya dengan senyuman manis.


"Iya Kak. Di antar Kak Pedho," jawab Leona.


Leona bersyukur saat ia kehilangan Pedro dan cinta sejati nya. Tuhan mengirimkan orang-orang baik untuk menemani masa-masa sulit dalam hidupnya. Berjalan dalam keadaan patah hati seperti ini tentu tidak mudah. Ia butuh dukungan dari orang-orang yang sayang padanya.


Juliet menatap leona dengan perasaan bersalah. Ia terluka mengetahui putrinya sedang sakit dan Leona selalu saja bisa menyembunyikan rasa sakitnya karena ia tak mau membuat keluarga nya khawatir.


"Ayo kita makan. Mommy sudah masak masakan kesukaan kamu," ajak Juliet mencolek hidung Leona.


"Wah benarkah Mom!" seru Leona. "Ayo," ajak nya juga berdiri.


"Ayo Nak Pedho, ikut makan bersama kita," ajak Juliet.

__ADS_1


'Disisa akhir hidupku. Aku hanya ingin Daddy dan Mommy bersamaku sebelum kematian menjemput ku pergi. Dan Kak Pedho, aku akan belajar mencintainya. Mungkin dia adalah laki-laki yang Tuhan kirim untuk mengobati luka dalam hatiku,' ucap Leona dalam hati sambil tersenyum.


Mereka semua makan bersama dan diselingi dengan obrolan hangat. Abraham dan Juliet tampak begitu perhatian pada Leona. Perhatian yang dulu tak pernah mereka berikan karena kesibukan didunia bisnis dan pekerjaan.


Pedho tersenyum saat kedua orang tua Leona begitu peduli pada wanita yang dia cintai. Ia tahu dari dulu Leona sangat merindukan waktu bersama kedua orang tua nya.


Begitu juga Luiz. Ia sengaja memanggil kedua orang tua nya kembali ke Indonesia untuk membahas penyakit Leona. Luiz bersyukur karena keduanya sadar sebelum terlambat, karena kehilangan Leona adalah mimpi buruk yang tak ingin mereka alami termasuk Luiz.


"Sayang, kenapa wajah mu ada bintik-bintik nya?" tanya Juliet panik.


"Leona," Luiz dan Pedho berhambur kearah kursi Leona.


"Ehh." Leona terkejut. Lalu wanita itu memegang bagian wajahnya yang terasa perih. "Salah pakai skincare kali," kilah Leona. Padahal ia tahu, itu efek dari kemoterapi yang ia jalani.


"Obat kamu mana?" Luiz meronggoh tas kecil Leona.


"Sayang," Abraham juga panik.


"Kita bawa Leona ke sofa," Pedho langsung mengangkat tubuh wanita itu untuk duduk ke sofa.


"Kak, aku baik-baik saja," renggek Leona kesal. "Ini hanya bintik-bintik tidak bahaya," sambungnya tidak mau membuat keluarga nya khawatir.


"Ck, kamu ini. Ayo minum obatnya," ketus Pedho. Leona ini memang keras kepala, ia perlu di awasi kalau masalah minum obat.


"Leona, ayo minum Nak," ucap Abraham.


Membayangkan Leona pergi untuk selamanya membuat dada Abraham serasa di hantam oleh ribuan ton batu. Ia takkan sanggup. Ia takkan bisa. Ia ingin Leona tetap bersamanya dalam waktu lama. Ia tidak akan biarkan putrinya itu pergi. Abraham berjanji akan mencari pengobatan terbaik untuk kesembuhan anak perempuan nya itu.


Luiz mengambil alat-alat medisnya untuk memeriksa kondisi tubuh Leona. Sebagai seorang dokter yang selalu siap siaga, ia tak mau lenggah jika masalah Leona.


"Besok kita cek lagi ke rumah sakit. Kamu harus menjalani beberapa treatment untuk mengatasi cairan kemo yang masuk ke dalam tulang kamu," jelas Luiz pada adiknya.


"Kakak," mendengar nama rumah sakit Leona rasanya malas.


"Mommy, akan temani ya Nak. Jangan takut," ucap Juliet memeluk anaknya. Ia menahan lelehan bening di pipinya.


"Ada Daddy juga," sambung Abraham.

__ADS_1


Leona terharu. Hatinya hangat merasakan perhatian yang sudah lama hilang ini. Terakhir ia mendapatkan perhatian seperti ini, ketika ia masih sangat kecil. Sebelum kedua orang tua nya menyibukkan diri dengan pekerjaannya


Bersambung....


__ADS_2