
Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
"Kak Dika," panggil Yuna.
Langkah Andika terhenti ketika mendengar nama nya dipanggil. Lelaki itu tersenyum saat melihat siapa yang datang dengan senyum manis nya sembari meneteng rantang nasi di tangannya.
"Yuna," balas Andika sambil menunggu Yuna.
"Siang Kak," sapa Yuna
"Siang juga Yuna," sahut Andika tersenyum manis. "Tumben siang-siang kesini?" tanya Andika heran. Yuna jarang datang menemui nya kerumah sakit.
"Kakak sudah makan?" tanya balik Yuna.
Andika menggeleng, "Belum," jawab laki-laki itu karena dia memang belum makan siang.
"Kebetulan Kak, aku bawakan makanan untuk Kakak," sambil memamerkan rantang nasi ditangannya.
"Untuk ku?" ulang Andika memastikan sambil menunjuk dirinya.
"Iyalah Kak, untuk Kakak. Ini menu terbaru di restourant. Aku ingin Kakak mencicipi nya, lalu beri penilaian," jelas Yuna menyerahkan rantang berisi makanan.
Andika terkekeh, "Aku ini dokter Yuna. Bukan juri MasterChef," ucap Andika tertawa pelan.
"Hem, aku tahu Kak. Tapi biasanya dokter punya lidah perasa yang jeli terhadap makanan," sahut Yuna. Entah dari mana dia mendapatkan teori tersebut.
"Iya. Iya. Itu terserah," ujar Andika mengalah. Bukankah berdebat dengan perempuan takkan menang. Kaum hawa itu, adalah makhluk yang takkan mau mengalah walau dia memang salah.
"Untuk Luiz ada?" goda Andika.
Andika tahu jika Yuna menyukai Luiz. Tatapan wanita itu saja saat melihat Luiz terlihat berbeda dan tak seperti biasanya.
Yuna menghela nafas panjang. Sebagai seorang perempuan tentu dia menyukai sosok Luiz. Namun, Luiz tipe pria dingin tak tersentuh dan sulit sekali menaklukkan hati lelaki tersebut. Bahkan rasanya Yuna hampir menyerah.
"Kenapa?" tanya Luiz dengan kening mengerut.
Yuna hanya mengangkat bahu nya. Bukankah kopi jika didiamkan mata akan dingin. Mungkin seperti itulah gambaran hati Yuna. Saat asmara membara, dia mengejar Luiz seperti anjing berlari ingin mendapatkan tulang yang sengaja dilempar. Namun, setelah nya tulang itu malah semakin dilempar jauh, saat dia mempercepat kelajuan kaki nya tulang tersebut tak jua dia gapai. Akhir nya dia memilih berhenti dan berbelok arah.
__ADS_1
"Ehh Luiz," sapa Andika sambil melambaikan tangannya saat melihat Luiz keluar dari lift.
Luiz berjalan mendekat dengan wajah datarnya. Lelaki ini memang sulit ditebak apa yang dia pikirkan.
"Ada apa Dika?" tanya Luiz tanpa melihat Yuna.
"Apa kamu sudah makan siang?" tanya balik Andika, dia melirik Yuna yang tampak diam saja. Luiz dan Yuna seperti sepasang kekasih yang tengah bertengkar karena saling mendingin.
"Belum," jawab Luiz singkat pada dan jelas.
"Ya sudah ayo kita makan. Yuna membawakan makan siang untuk kita," ajak Andika.
Luiz terdiam menatap rantang nasi yang ada ditangan Andika.
"Aku masih kenyang," tolak laki-laki itu.
Tangan Yuna mengepal kuat. Hatinya terasa perih ketika mendengar penolakan lelaki itu. Entah apa salahnya sehingga Luiz terlihat tak menyukai nya. Padahal Yuna sangat menyukai Luiz dan berniat mencairkan gunung es tersebut. Tapi saat melihat sikap Luiz hari ini, Yuna tak mau menyiksa hati nya sendiri. Lebih baik dia mundur perlahan dari pada nanti malah tersakiti.
"Yakin tidak mau? Ini menu baru direstourant Yuna lho," tawar Andika sekali lagi. Luiz ini memang sulit ditaklukan. Dia seperti memasang tembok pemisah bagi lawan jenis. Akibat trauma masa lalu hingga membawa luka dalam.
Tanpa menunggu sahutan dari Andika lelaki itu malah melenggang pergi meninggalkan Andika dan Yuna.
Mata Yuna terasa panas. Sekuat tenaga wanita itu menahan lelehan bening yang hendak lolos dipelupuk matanya.
"Sudah, jangan sedih. Ayo temani aku makan siang," ajak Andika sambil merangkul bahu Yuna.
Yuna mengangguk dengan wajah cemberutnya. Mereka berdua masuk kedalam ruangan Andika.
"Jangan di masukkan dalam hati. Luiz memang seperti itu orang nya. Sesungguhnya dia orang baik," jelas Andika yang tak mau Yuna memikirkan sifat Luiz.
"Aku tidak memikirkan nya Kak. Hanya saja aku tak habis pikir, Kak Luiz punya dendam apa padaku? Aku tidak melakukan kesalahan padanya. Sejak pulang dari New York sifatnya tiba-tiba berubah," tutur Yuna yang bingung sendiri melihat sifat Luiz. Sebelumnya lelaki itu ramah padanya.
"Katanya tadi tidak mau memikirkan nya. Kenapa malah bertanya?" ujar Andika terkekeh pelan sembari membuka rantang nasi dari Yuna.
"Iya sih Kak," jawab Yuna tampak cemberut.
"Ayo makan," ajak Andika.
__ADS_1
"Kakak makan saja. Aku bawakan khusus untuk Kakak," sahut Yuna. Dia tidak nafsu makan karena memikirkan tatapan dingin Luiz padanya.
Andika makan saja dengan lahap dan membiarkan Yuna melamun sambil memikirkan sifat Luiz yang tiba-tiba berubah seperti bunglon.
Yuna pikir bisa menggapai hati Luiz yang dingin dan beku seperti es itu. Namun, semakin kesini dia paham bahwa perasaan tidak bisa dipaksakan. Yuna tak mau kisah cintanya berakhir seperti Pedro dan Leona yang memutuskan menjalani hidup masing-masing.
Yuna wanita dewasa yang tentu menginginkan hubungan serius. Dia sudah tak muda lagi. Dia ingin bertemu dengan lelaki yang tepat, lalu menikah dan hidup bahagia meski realita nya tak seperti itu.
"Bagaimana, Kak?" tanya Yuna melihat Andika yang tampak menyukai masakkan.
"Enak sekali. Aku suka," puji Andika sambil mengacungkan jempolnya.
Yuna memang memiliki bakat memasak. Saat kuliah juga dia mengambil jurusan tersebut untuk mendalami kemampuan nya. Hingga tak heran jika restourant yang dia bangun berkembang pesat. Tak hanya makanan saja yang menarik pelanggan, interior restourant pun menjadi tolak ukur dan daya tarik tersendiri bagi para pelanggan agar merasa nyaman, ketika menikmati makanan disana.
"Serius, Kak. Enak?" ulang Yuna sekali lagi
"Tapi masih ada yang kurang," ucap Andika.
"Apa Kak? Apa bumbu nya kurang? Atau rasanya kurang pas?" cecar Yuna. Chef yang satu ini memang ahli jika masalah masakkan karena memang itu pekerjaan nya.
"Senyum kamu," jawab Andika dengan senyuman manis nya.
Yuna terdiam menatap Andika. Iya, senyum Yuna hari ini memang memudar.
"Makanan ini tak enak jika kamu memasaknya dengan wajah masam seperti itu. Ayo dong tersenyum," goda Andika menarik sudut bibir Yuna agar tersenyum.
"Kakak," renggek Yuna kesal.
Andika terkekeh, "Nah tersenyum seperti ini 'kan jadi terasa lebih enak sambil disuguhkan senyum kamu," goda Andika lagi, lalu melanjutkan makannya.
Wajah Yuna merah merona mendengar gombalan dan godaan dari Andika. Sepolos itu dirinya, hanya dibilang senyum manis saja sudah membuat nya salah tingkah sendiri. Padahal Yuna bukan anak remaja yang baru pertama kali jatuh cinta. Dia sudah pernah merasakan pahit dan manis nya hubungan percintaan.
'Kak Luiz, jika kamu memang ingin aku menyerah. Aku akan menyerah dan pergi dari hidupmu, Kak. Semoga kelak Kakak menemukan seseorang yang benar-benar tepat untuk Kakak. Maaf, aku berharap terlalu banyak. Padahal aku tahu Kakak tidak akan mungkin jatuh cinta padaku,' batin Yuna tersenyum getir memikirkan nasib nya.
Ini yang di namakan patah hati sebelum jadian.
Bersambung......
__ADS_1