Cinta Setelah Penyesalan

Cinta Setelah Penyesalan
Kembali ke Indonesia


__ADS_3

Happy Reading ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Leona membantu suaminya membereskan barang-barang mereka. Hari ini Pedho membawa Leona kembali ke Indonesia. Kondisi Leona sudah lebih membaik. Meski harus melakukan beberapa treatment karena kemoterapi yang mengenai tulang Leon.


โ€œSenang?โ€ tanya Pedho menutup kopernya.


โ€œSenang-senang. Aku rindu Yuna dan Mommy!" seru Leona.


Pedho terkekeh pelan. Mereka cukup lama berada di New York sampai keadaan Leona benar-benar pulih. Meski, sama sekali tak menyembuhkan penyakit yang bersarang di tubuh Leona. Setidaknya ada usaha untuk sembuh.


"Sayang, apa ada lagi yang ingin kamu bawa?" tanya Pedho memasukkan barang-barang Leona.


"Boneka Teddy Bear jangan lupa ya Kak," ucap Leona seperti anak kecil.


Pedho mengangguk dan tersenyum. Istrinya ini memang menyukai boneka yang dia belikan untuk Leona beberapa hari yang lalu.


Setelah membereskan barang-barang mereka. Kedua pasutri tersebut keluar dari kamar mewah di mansion Pedho.


Leona memeluk lengan suaminya dan bersandar dengan nyaman seperti anak kecil. Entahlah, dia suka sekali bermanja-manja dilengan Pedho. Apalagi tangan lelaki ini sangat besar dan kekar.


"Mau aku gendong saja?" tawar Pedho.


Leona mendengus kesal. Punya suami yang perhatian adalah kebahagiaan, tapi punya suami yang luar biasa perhatian membuat dia jenggah. Leona merasa seperti anak kecil yang tak bisa melupakan apapun.


"Kak, aku bisa jalan. Kenapa harus digendong? Aku tidak mau," tolak Leona.


Leona ingin mandiri dan mengerjakan segala sesuatu nya sendiri. Dia wanita kuat. Bukan wanita lemah seperti yang di pikirkan orang lain tentang nya.


Pedho tertawa pelan. Tangannya mengusap kepala plontos Leona. Istrinya ini lebih memilih kepalanya tanpa rambut dari pada harus dibungkus dengan rambut palsu.


"Ya sudah ayo," ajaknya.

__ADS_1


Lelaki itu mengenggam tangan sang istri. Beberapa bodyguard mengekor mereka dari belakang dan membawa barang-barang penting milik Leona.


Pedho memang mempetketat penjagaan pada istrinya, apalagi Tessa belum ditemukan sampai sekarang. Pedho takut jika Tessa akan berulah dan mencelakai Leona lagi.


Pedho mengenal Tessa, wanita itu memang licik. Bahkan Pedho sudah mengerahkan semua anak buah nya dan menyewa detektif untuk mencari keberadaan Tessa. Namun, hingga kini wanita itu tak jua menampilkan batang hidungnya. Entah kemana dia bersembunyi?


"Silahkan masuk Tuan Putri," ucap Pedho seraya mengulurkan tangannya dan mempersilahkan Leona masuk kedalam mobil.


"Terima kasih Tuan Tampan," balas Leona tertawa pelan lalu masuk kedalam mobil.


Pedho mengitari mobil dan ikut masuk lalu duduk disamping Leona.


Ricard menjalankan mobilnya dengan pelan. Lelaki itu seperti obat nyamuk yang harus menyaksikan kebucinan Pedho pada Leona.


"Apakah kamu merasa tidak nyaman, Sayang?" tanya Pedho mengusap bahu Leona yang bersandar didadanya.


"Tidak Kak. Tempat ternyaman ku adalah dada Kakak. Aku ingin selalu bersandar dada ini," ujar wanita itu melingkarkan diperut Pedho.


"Kamu yaa....," Pedho mengecup ujung kepala plontos.


'Apakah Anda tidak memikirkan perasaan saya, Tuan hiks hiks,' jerit Ricard dalam hati.


Setiap hari Ricard menangisi nasib nya yang jomblo dan harus di uji dengan melihat kemesraan Pedho dan Leona.


Leona menghirup udara segar ketika sudah sampai ke tanah air. Bagaimanapun menariknya New York, tetap Indonesia lah tempat paling nyaman untuknya.


"Kak, aku rindu sekali suasana ini," ujar Leona.


Pedho mengangguk dan tersenyum. Mereka sedang dalam perjalanan menuju kediaman Abraham. Untung sementara waktu, Pedho akan membawa sang istri tinggal bersama mertuanya. Sebab, Pedho sedikit was-was jika ada yang menganggu Leona lagi.


Mobil yang di kendarai oleh Ricard memasuki mansion mewah Abraham. Bangunan yang berdiri diatas dua hektar persegi tersebut. Terlihat mencolok dari bangunan yang lain nya.

__ADS_1


Leona turun dengan tak sabarnya. Sebab yang dia rindukan adalah sang ibu. Walau setiap hari berkomunikasi lewat video call, tetap saja tak membuat hati wanita cantik itu puas bertemu sang ibu.


"Sayang, pelan-pelan jalannya," tegur Pedho. Namun Leona tak peduli dia berjalan dengan cepat memasuki rumah mewah tersebut.


Pedho merenggut kesal. Dia tidak suka jika Leona mengabaikan nya seperti ini. Pedho sudah bayangkan jika mereka punya anak nanti. Bisa jadi wanita itu tidak peduli lagi padanya dan lebih fokus mengurus anak. Membayangkan nya saja membuat Pedho kesal setengah mati. Jika jiwa cemburu nya sudah meronta, dia malah berpikir tak ingin istrinya hamil.


"Leona," panggil Juliet sumringah.


"Mommy!" seru Leona.


Kedua wanita itu saling memeluk satu sama lain. Juliet benar-benar merindukan anak perempuan nya ini. Tiga bulan lamanya Pedho dan Leona berada di New York, selama ini juga Juliet tak bertemu anaknya.


Yuna tampak melamun diruangan kerjanya. Wanita cantik yang memiliki usaha restaurant tersebut, terlihat tak bersemangat. Padahal harusnya dia senang karena baru saja mendapat kabar jika Leona sudah kembali ke Indonesia.


"Kak Luiz," lirih Yuna. "Kenapa sulit sekali menggapai mu, Kak," gumam Yuna tersenyum kecut.


Seperti perempuan lainnya, Yuna ingin bahagia dengan dicintai oleh lelaki yang tepat. Menikah dan hidup bahagia. Jujur saja Yuna iri pada kehidupan Leona yang dicintai oleh Pedho dengan begitu sempurna. Sementara Yuna, lelaki yang dia cintai saja sama sekali tak menatap dia sebagai seorang perempuan.


Yuna sadar bahwa jalan takdir hidup manusia berbeda-beda. Namun, salahkah dia mengharapkan bahagia seperti Leona? Meski tubuh leona di gerogoti oleh penyakit mematikan. Setidaknya wanita itu bahagia karena sudah menemukan lelaki yang tepat.


"Kak Luiz, andai Kakak tahu. Betapa aku sayang sama Kakak. Aku ingin hidup bersama Kakak seperti Pedho dan Leona," ucap Yuna tersenyum getir.


Yuna mentertawakan nasib dan kisah percintaan nya. Sejak dulu, dia tak pernah menemukan lelaki yang tepat. Dirinya selalu tak dianggap ada. Padahal apa yang kurang, dia memberikan segalanya demi bahagia.


Wanita itu menoleh kearah figuran nya bersama Leona. Tampak mereka berdua seperti sedang tersenyum menatap kamera. Cuplikan kebahagiaan tersorot di bola mata.


"Leona," ucap Yuna mengusap foto tersebut. "Kamu harus bahagia bersama Kak Pedho. Aku tahu kamu bisa bertahan. Aku juga akan selalu ada untuk kamu. Meski aku sendiri butuh teman untuk sekedar bercerita," sambungnya seraya menghela nafas panjang


Dulu sebelum Leona menikah dengan Pedho, Yuna selalu menceritakan keluh kesahnya tersebut pada sang sahabat. Namun, sekarang sudah berbeda. Prioritas antara wanita single dengan seorang wanita bersuami tak bisa disamakan. Itulah yang membuat Yuna sadar.


"Na, maaf. Seperti nya aku tidak bisa menjadi kakak iparmu. Poor me, Na." Yuna terkekeh pelan, begitu bodohnya dia yang benar-benar berharap bahwa Luiz akan menaruh rasa padanya. Apalagi Leona meminta Yuna menjadi kakak iparnya dan menikah dengan Luiz. Namun yang namanya perasaan tidak bisa dipaksakan.

__ADS_1


Bersambung...


---


__ADS_2