Cinta Setelah Penyesalan

Cinta Setelah Penyesalan
Menenangkan


__ADS_3

**Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺**


Suara ombak berdesir terdengar jelas di telinga. Pantai yang begitu indah dan menyenangkan oleh pasir putihnya. Tenang, damai dan nyaman, dengan ombak-ombaknya yang tipis memecah pantai.


Wanita itu duduk diatas pasir. Angin sepoi melambai-lambaikan wig yang terpasang di kepala nya. Kacamata hitam bertengger di hidung mancung nya. Ia hanya memakai baju pendek tanpa lengan dan celana diatas lutut. Kulit putihnya seperti terbakar oleh matahari. Namun, ia tak peduli. Ia asyik melamun menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan saat ini.


Leona Juliet, pengindap kanker Sarkoma Jaringan Lunak. Baru saja ia berpisah dengan cinta pertama dan suami yang ia elu-elukan selama kurang lebih lima tahun. Patah hati yang kini menyeruak masuk kedalam lobang-lobang kecil hatinya perlahan tertutup.


"Melamun?" tanya seorang pria yang duduk disampingnya. "Indah ya?" tapi tatapannya hanya tertuju pada wanita yang tengah memejamkan matanya.


"Iya Kak. Aku suka," jawab Leona tanpa membuka matanya.


Lelaki itu ikut tersenyum. Dalam diam ia memperhatikan wajah cantik wanita yang pernah menjadi adik ipar nya itu. Wanita berkelas yang telah di buang oleh suaminya.


"Masih memikirkan Perdro?" tebak nya.


Lelaki tersebut menahan perih di bagian dadanya saat ternyata wanita yang ia cintai dalam diam ini, masih memikirkan sang mantan suami. Padahal, ia tak memiliki hak untuk cemburu. Dia bukan siapa-siapa dari wanita itu.


"Hanya sedikit Kak," jawab Leona membuka matanya.


"Oh," Pedho hanya beroh-ria saja.


Sejenak kedua insan manusia itu terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Sambil sesekali mereka tertawa melihat Luiz, Andika dan Yuna yang sedang bermain papan selancar, di mana Yuna yang syok berani berteriak histeris ketakutan sambil memeluk Luiz dari belakang. Karena ia sedang di ajari Luiz untuk belajar naik benda tersebut.


"Kakak," panggil Leona.


"Iya Na, kenapa?" tanya Pedho tersenyum lembut.


"Kakak pernah jatuh cinta?" tanya Leona melihat kearah lelaki tampan itu.


Pedho terdiam. Ia menatap bola mata Leona yang indah dan meneduhkan hati. Apa wanita ini tahu jika saat ini, ia sedang jatuh cinta pada perempuan yang sejak dulu sudah mendiami hati nya?

__ADS_1


"Pernah," jawab Pedho. Tatapannya tak beralih pada Leona.


"Pada siapa Kak?" tanya Leona penasaran. Sebab selama ini ia tak pernah melihat Pedho bersama wanita atau dekat dengan kaum hawa.


Pedho pernah patah hati, ia di tinggal begitu saja oleh sang mantan kekasih dan lebih memilih bersama pria lain, demi mengukir kebahagiaan yang belum tentu akan menjadi miliknya.


"Someone," jawab Pedho singkat. Ingin Pedho katakan bahwa perempuan yang telah membuatnya jatuh hati itu adalah Leona.


Leona tersenyum, "Pasti wanita itu beruntung sekali Kak karena disukai oleh pria sempurna seperti Kakak," godanya bersandar di bahu Pedho lalu kembali mengangkat kepalanya.


'Wanita itu adalah kamu Na. Aku jatuh cinta sama kamu. Aku mencintai kamu, sejak lama. Sejak pertama kita bertemu. Tapi aku tahu kamu tidak memiliki perasaan apapun padaku,' ucap Pedho dalam hati.


Namun, sayang nya kalimat itu hanya berani ia ucapkan dalam hatinya. Ia tak memiliki keberanian untuk mengungkapkan seluruh perasaan yang telah menggebu didalam dadanya. Ia takut Leona semakin terluka ketika tahu bahwa ia mencintai wanita tersebut.


"Tidak juga," kilah Pedho memalingkan wajah nya ke sembarangan arah. Untuk kali ini ia tak sanggup menatap bola mata Leona. Ia takut hati nya akan semakin sulit berpaling dari perempuan itu.


"Kakak tahu tidak level tertinggi mencintai?" Pedho menggeleng. "Ketika kita ikhlas melepaskan seseorang demi kebahagiaan nya," jelas Leona.


"Tapi menurutku jika kita mencintai seseorang kita tidak akan rela melepaskan nya untuk kebahagiaan yang lain. Justru kita harus menyakinkan nya bahwa kita bisa memberikan kebahagiaan yang lebih besar dari itu," jelas Pedho. Ini sebagai ungkapan perasaan nya pada Leona. Hanya saja Leona tidak paham. Ia sama sekali tidak tahu dan tidak peka jika Pedho menaruh rasa padanya.


Leona mengangguk dan sebenarnya setuju. Tapi tidak dalam kisah percintaan nya. Dia tak bisa buktikan pada Pedro bahwa cintanya jauh lebih besar dari perasaan Tasya pada lelaki yang telah menjadi mantan suaminya itu.


.


.


.


"Na," panggil Yuna.


"Ehem," sahut Leona dengan deheman. Ia sedang asyik memperbaiki masker di wajah nya.

__ADS_1


Yuna duduk disamping Leona yang sibuk dengan benda di wajah nya.


"Na, aku rasa Kak Pedho suka sama kamu," ucap Yuna. Dia sudah lama curiga jika Pedho menyukai Leona. Tatapan tak biasa lelaki itu begitu terlihat. Laki-laki takkan bisa menyembunyikan tatapannya pada wanita yang ia cintai.


Leona terkejut mendengar penuturan sahabat nya itu. Ia sampai mendelik menatap Yuna dengan penuh selidik.


"Suka sama aku?" ulang Leona.


Yuna mengangguk, "Iya Na. Apa kamu tidak sadar selama ini? Tapi ini menurut penerawangan aku yaa!" seru Yuna sambil mengigit roti ditangannya.


Leona terdiam dan tampak berpikir. Bagaimana mungkin Pedho menyukai nya? Lelaki itu sama sekali tak menunjukkan rasa ketertarikan nya pada Leona.


"Tidak mungkinlah, Yun," kilah Leona. Kalau pun hal itu benar, Leona belum siap membuka hati kembali. Ia masih trauma atas patah hati yang masih ia rasakan.


"Ck, makanya jadi wanita itu peka sedikit." Yuna mendorong kening Leona dengan gemes nya


"Awww. Kasar," rintih Leona sambil mengusap keningnya.


"Coba kamu pikirkan kembali, mana ada lelaki yang mau berjuang setengah mati untuk seorang wanita yang sama sekali tidak ada hubungan darah dengan nya?" ucap Yuna. "Hanya Kak Pedho yang melakukan hal tersebut. Harusnya dia mendukung adiknya meski pun kamu sudah di sakiti. Tapi Kak Pedho justru membantu kamu lepas dari Pedro. Percayalah Leona, Kak Pedho itu suka sama kamu," sambung Yuna panjang lebar.


Leona menghembuskan nafas nya kasar. Sama sekali ia tidak pernah berpikir jika Pedho menyukai nya. Apa karena selama ini hatinya terlalu fokus pada Pedro, sehingga ia tak peka jika ada cinta lain yang menginginkan hatinya?


"Sudahlah. Tidak perlu dibahas," tak bisa dipungkiri jika Leona salah tingkah.


"Cieee. Ditinggal adiknya. Diambil Kakak nya," ledek Yuna sambil tertawa lebar.


"Yuna," renggek Leona. Pipinya bersemu merah. Untung saja ditutupi masker kalau tidak sudah pasti kelihatan dan dia akan di ledek habis-habisan oleh sahabat nya tersebut.


Yuna terkekeh pelan. Ia sangat setuju jika Pedho benar-benar menyukai Leona. Yuna berharap kali ini kisah cinta Leona, bukan lagi drama panjang yang membawa pada kepatahatian. Tapi jalan menuju sumber kebahagiaan.


"Kak Pedho itu tampan, baik hati, kaya raya, dan perhatian. Tidak salah nya Leona kamu membuka hati untuk Kak Pedho,"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2