
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Nafas Leona memburu. Wanita cantik itu mengomel dengan mulut komat-kamit seperti dukun baca mantra saat mendengar ucapan Tessa.
"Aish, ingin sekali ku sumpal dengan kain mulut wanita itu," omel Leona.
Yuna terkekeh. Dia pikir tadi Leona akan sabar dan biasa saja. Ternyata saat wanita ini mengomel dunia bisa menjadi sasarannya.
"Cie, yang cemburu," ledek Yuna tertawaan menggelora melihat ekspresi kesal Leona.
"Aku tidak cemburu. Aku hanya kesal," kilah Leona. Wajah nya merah merona. Ya tentu saja dia cemburu hanya dia tidak berani mengakui perasaannya itu karena takut terlihat bucin pada Pedho.
"Hem, baguslah kalau kamu tidak cemburu. Aku jadi penasaran apakah benar yang dikatakan Tessa?" ucap Yuna melirik sahabat nya dengan senyuman menggoda.
"Yuna," Leona mendesah. "Kamu itu sahabat siapa sih? Aku atau nenek lampir itu?" renggek Leona menguncang tangan Yuna.
Yuna lagi-lagi tertawa lebar. Leona kalau cemburu lucu. Wajahnya merah dan suka salah tingkah. Membuat Yuna semakin semangat menggoda sahabat nya itu.
"Makanya kalau cemburu itu mengaku saja, apa susah nya," sindir Yuna geleng-geleng kepala sambil terkekeh gemes.
"Tahu ah," ketus Leona melipat kedua ditangannya didada.
Tidak lama kemudian terdengar mobil dari luar yang berhenti tepat didepan butik.
"Pasti Kak Pedho," seru Yuna. "Ya sudah karena Kak Pedho sudah datang, aku lanjut ke restourant dulu," pamit Yuna. "Bye. Bye cinta. Cup," Yuna mengecup pipi Leona.
"Yuna," teriak Leona mengusap pipi nya kesal.
Yuna keluar setengah berlari sambil tertawa lebar. Menjadi kesenangan sendiri untuknya saat menggoda Leona. Dia suka melihat wajah kesal wanita cantik itu.
Ayu dan Chika ikutan tertawa melihat tingkah kedua sahabat itu. Sudah tak heran lagi kalau Leona dan Yuna rusuh karena memang keduanya sama-sama suka jahil.
"Dasar sahabat lucnat," cibir Leona mengusap pipi nya bekas ciuman Yuna.
Pedho masuk kedalam ruangan Leona dengan senyum lebar sambil meneteng kantong kresek ditangannya.
"Selamat siang Sayang," sapanya ramah.
__ADS_1
Namun wajah Leona malah tampak kesal. Mulutnya mengoceh tidak jelas. Pedho tersenyum sambil menggeleng, dia sudah tahu apa yang membuat kekasihnya itu kesal. Pasti karena kedatangan Tessa tadi.
Pedho meletakkan kantong kresek nya diatas meja. Ia membawakan makanan kesukaan kekasihnya itu.
"Tidak disambut calon suami nya datang?" goda Pedho sambil duduk disamping Leona.
"Tahu ah aku sedang merajuk," ketus Leona.
Pedho tertawa pelan. Dia suka Leona cemburu. Menurut nya saat Leona cemburu justru terlihat imut di mata Pedho.
"Yakin merajuk? Saya bawakan fizza, kesukaan kamu!" bujuk Pedho.
Leona tak menanggapi, wanita itu masih saja kesal karena kedatangan Tessa.
"Sayang," Pedho berjongkok didepan Leona.
Leona memalingkan wajahnya sambil menahan senyum. Inilah yang dia suka dari Pedho, saat dirinya marah lelaki ini tidak marah kembali. Pedho akan membujuk Leona dengan lembut.
"Saya salah ya?" ucap Pedho.
Wanita itu masih enggan melihat wajah sang kekasih. Jantung nya selalu berdegup kencang saat menatap wajah tampan Pedho.
"Kakak," renggek Leona.
"Iya Sayang, kenapa?" tanya Pedho.
"Tadi Kak Tessa datang," jawab leona dengan bibir menggerutu kesal.
"Lalu?" kening Pedho berkerut heran.
"Iihh kenapa hanya lalu? Kenapa tidak terkejut?" protes Leona.
Lagi-lagi Pedho hanya bisa menahan senyumnya. Dia menyukai kemanjaan Leona dan sama sekali Pedho tidak keberatan.
"Iya, kenapa dia datang hmm?" tanya Pedho
"Dia bilang....," Leona memainkan jari-jari Pedho.
__ADS_1
"Dia bilang kalau, Kakak pernah tidur sama dia. Terus kalian pernah punya anak dan terus juga dulu....,"
Bukannya terkejut dengan penjelasan Leona. Lelaki itu malah tersenyum ketika melihat wajah calon istri nya yang kesal dan juga cemberut.
"Kak, kenapa malah tersenyum?" Leona merenggut kesal.
"Ayo lanjutkan Sayang..." suruh Pedho. "Tessa bilang apa lagi?" sambung nya menyatukan tangannya dan Leona.
"Kok, Kakak terlihat suka saat membahas Tessa. Kakak masih memiliki rasa padanya?" tuding Leona. Wanita memang selalu begitu selalu mencari alasan untuk menciptakan perdebatan.
Lagi dan lagi Pedho tak mampu menahan tawanya. Ia tertawa lebar ketika mendengar pertanyaan Leona yang mengatakan jika dia masih memiliki perasaan pada Tessa. Sejak Leona masuk ke dalam hidup Pedho. Ia sama sekali tak memiliki perasaan apapun pada wanita itu. Leona adalah wanita yang sekarang ada di dalam hati Pedho. Tidak ada wanita lain, selain kekasih hatinya ini.
"Kakak," Leona menghentakkan kakinya kesal ketika melihat Pedho yang masih mentertawakan dirinya.
Pedho sampai sakit perut saat mentertawakan Leona. Lelaki itu mengusap perut nya beberapa kali sampai tawanya mereda.
Pedho menatap Leona dengan penuh cinta. Tangannya terulur menyingkirkan anak rambut wanita itu, lebih tepatnya rambut palsu yang sekarang masih Leona pakai.
"Kamu percaya sama apa yang Tessa ucapkan?" tanya Pedho
Leona tampak terdiam. Lalu wanita itu menggeleng.
"Kenapa tidak percaya?" tanya Pedho lagi. Rasanya ia tak sabar menjadikan Leona sebagai miliknya nanti.
"Kata hati aku bilang Kakak tidak mungkin melakukan itu," jawab Leona jujur.
"Kamu percaya kata hati kamu, bagaimana kalau itu benar?" tanya Pedho. Seperti nya ia tertarik untuk menguji Leona.
"Hari tidak pernah bohong Kak. Kalaupun itu benar, aku tidak keberatan menerima masa lalu Kakak. Bagiku itu adalah masa yang sudah berlalu. Kalau sama aku lain cerita. Aku tidak peduli, seburuk apa Kakak dulu. Sekarang, aku hanya ingin mencintai Kakak tanpa syarat," jelas Leona.
Hati Pedho langsung tersentuh mendengar ucapan Leona. Begini kah rasanya ketika sudah menemukan orang yang tepat?
Pedho menarik Leona masuk kedalam pelukan nya. Hidupnya dan hatinya hanya tentang Leona, wanita yang selalu bisa membuat jantung nya berdebar.
"Terima kasih Sayang sudah percaya pada saya dan menerima saya apa adanya. Saya harap apapun yang kamu dengar tentang saya, tidak akan mengurangi rasa sayang kamu," ucap Pedho. Dalam hidupnya ia mengucapkan banyak rasa syukur karena di berikan kesempatan luar biasa untuk bisa bersama wanita sebaik Leona.
"Tidak akan Kak. Aku mencintai Kakak apa adanya. Kakak yang sudah buat aku bangkit dari patah hati setelah di patahkan oleh Pedro. Terima kasih kembali Kak," balas Leona melingkarkan tangannya di pinggang kekar Pedho.
__ADS_1
Pedho terkekeh. Inilah tugasnya menjaga Leona dan mencintai wanita itu tulus apa adanya. Pedho pun sama, ia tak memandang masa lalu Leona. Baginya, bersama wanita ini adalah sebuah kesempatan yang tidak boleh di sia-siakan.
**Bersambung..... **