
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Pedro masuk kedalam mobil, ia memang sudut bibirnya yang terasa perih akibat pukulan dari Pedho.
Lelaki itu melajukan mobilnya meninggalkan kediaman kedua orang tuanya. Baru saja Tasya mengabari agar minta jemput di bandara.
"Kenapa Papa dan Mama selalu bilang Tasya bukan wanita baik? Apa ada yang tidak aku tahu tentang Tasya? Tapi aku tidak peduli siapa Tasya, aku mencintai nya," tegas Pedro pada dirinya sendiri. "Aku juga bisa melepaskan Leona. Aku tidak bisa kehilangan dia," gumam Pedro. "Dan aku takkan biarkan Kak Pedho mengambil Leona dariku. Aku takkan biarkan itu terjadi," lelaki itu mencengkram dengan kuat stir mobilnya.
Mungkin ia egois. Tapi ia tak bisa melepaskan dua wanita itu. Ia mencintai Tasya. Namun ia tak bisa melepaskan Leona. Ia sama sekali tak mencintai Leona tapi ia tak bisa berpisah dan kehilangan istrinya itu. Ia sudah terbiasa dengan Leona. Dengan sikap manja Leona dan sikap cerewet wanita itu.
Meski beberapa hari ini, sikap Leona jauh berubah. Pedro tidak tahu apa sebenarnya yang sudah terjadi pada istrinya itu. Kenapa istrinya bisa sedingin itu padanya. Leona biasanya bersikap manja dan cerewet, kadang suka membuatnya kesal setengah mati. Jujur saja Pedro merindukan sikap manja Leona yang dulu. Ia berharap sikap istrinya itu kembali seperti dulu lagi.
Pedro turun dari mobil saat sudah sampai di bandara. Senyumnya mengembang ketika melihat Tasya yang melambaikan kearahnya.
"Sayang," panggil wanita itu.
Rasa sakit di hati dan wajah Pedro terasa hilang ketika melihat senyuman manis Tasya.
"Sayang,"
Kedua orang itu saling memeluk melepaskan kerinduan. Cukup lama Tasya berada di Bandung untuk merawat Ibu nya dan baru kembali ke Jakarta. Ia sangat rindu pada lelaki ini.
"Aku merindukan mu," ucap Tasya lembut penuh cinta.
"Aku juga merindukan mu Sayang," balas Pedro.
Kedua nya saling menatap seolah sudah bertahun-tahun tak bertemu.
"Ayo," ajak Pedro menggandeng tangan Tasya dan mengambil alih koper wanita itu.
"Ayo Sayang," Tasya dengan manja memeluk lengan Pedro.
"Manja," Pedro gemes sambil mengacak rambut Tasya.
"Biarin, 'kan sama pacar sendiri," sahut Tasya terkekeh sambil merebahkan kepalanya di lengan Pedro. "Ehh Sayang, wajah kamu kenapa?" Tasya baru sadar jika wajah kekasih itu lebam.
"Biasalah, anak laki-laki," sahut Pedro asal. Tidak mungkin ia menjelaskan bahwa luka di wajahnya adalah pukulan dari kakak nya Pedho.
__ADS_1
Tasya tersenyum lalu masuk kedalam mobil dan disusul oleh Pedro.
"Sayang, malam ini kamu menginap di apartemen ku ya. Aku kangen sama kamu," renggek Tasya manja.
Pedro tampak terdiam. Biasanya ia akan senang jika Tasya mengajaknya menginap di apartemen wanita itu. Tapi kali ini kenapa perasaan nya begini? Apa sebenarnya yang terjadi.
"Maaf Tasya, malam ini aku tidak bisa menginap," tolak Pedro lembut. Ia tak ingin menyinggung perasaan wanita nya itu.
Wajah Tasya langsung berubah masam. "Kenapa? Biasanya juga kamu menginap di apartemen!" wanita itu merajuk dengan melipat kedua tangannya didada, kesal sudah pasti.
Pedro tersenyum. "Maaf Sayang, aku lagi banyak pekerjaan dirumah,"
"Pekerjaan kamu kan bisa di kerjakan di apartemen ku," ucap Tasya kesal. Ia menatap curiga lelaki disampingnya ini. "Atau kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari aku?" tudingnya.
Pedro malah terkekeh. "Tidak Sayang. Tidak sama sekali. Aku benar-benar sedang memiliki banyak pekerjaan dirumah yang tidak bisa aku tinggal," padahal itu hanya sebuah alasan. Entah kenapa ia ingin melihat wajah Leona untuk lebih lama.
"Kalau begitu, aku saja yang menginap dirumah mu," pinta Tasya.
"Tasya tidak bisa be_"
"Kamu tidak mau juga. Sebenarnya kamu ini kenapa sih? Tahu ahhh aku merajuk," putus Tasya.
"Tasya_"
"Aku tidak mau tahu. Aku harus menginap dirumah mu," tegas Tasya tidak menerima penolakan. "Kalau kamu menolak. Aku tidak mau bertemu kamu lagi," ancamnya.
"Baiklah. Baiklah," Pedro mengalah. "Sudah. Jangan cemberut lagi," ia mengusap kepala wanita nya itu.
Tasya mengangguk lalu kembali memeluk lengan Pedro. Ia rindu pada lelaki ini. Selama di Bandung, Pedro jarang menghubungi nya. Ia takut jika Pedro jatuh cinta pada Leona.
Pedro hanya tersenyum, padahal hatinya sedang kacau memikirkan reaksi Leona ketika membawa Tasya ke rumahnya nanti. Rumah itu adalah rumah mereka berdua. Rumah yang mereka beli di awal pernikahan.
.
.
.
__ADS_1
"Bagaimana kondisi kamu?" tanya Pedho.
"Sedikit lebih baik Kak," jawab Leona. "Ehem, ohh ya Kak. Aku punya rekomendasi iklan buat Kakak. Kakak boleh lihat dulu dehh," Leona menunjukkan layar iPad nya. "Ini produk yang Kakak luncurkan 'kan?" tanya nya.
Pedho mengangguk. "Konsepnya bagus. Ini kamu yang buat?" tanya Pedho sambil manggut-manggut melihat kearah layar iPad Leona.
"Iya Kak. Jadi rencana aku, produk ini mau aku buat iklan bareng desain baju aku yang baru di luncurkan kemarin. Bagaimana Kak?" ucap Leona sambil meletakkan iPad nya.
"Ide bagus. Why Not," sahut Pedho. "Sudah minum obat?" ia mengalihkan pembicaraan. Dari tadi Leona terus membahas pekerjaan.
"Heheh belum Kak," Leona cenggesan. "Lagian aku sudah tidak apa-apa Kak," sambungnya.
"Kamu ini yaaa," Pedho gemes. "Ayo kita makan dulu. Setelah itu kamu minum obat," sambil menutup laptop didepannya. Saat ini mereka berada di ruang kerja Pedho.
Mungkin memang salah jika Pedho mendekati Leona. Tapi ia tak peduli, sesuai dengan janjinya untuk menjaga Leona dan memastikan jika wanita itu baik-baik saja.
"Kak, aku ajak Yuna makan siang dengan kita. Boleh yaa?" Leona sibuk dengan ponselnya.
"Boleh. Sekalian ajak Dika," sahut Pedho yang duduk disamping Leona
"Iya Kak,"
Pedho, Andika dan Yuna telah bekerja sama untuk mencari dokter terbaik agar menangani penyakit Leona. Ketiganya akan bekerja keras agar Leona bisa sembuh. Meski Leona sendiri, pesimis atas kesembuhan nya.
"Kak,"
"Iya," Pedho melirik wanita itu.
"Huffhhh, apakah keputusan aku pisah sama Pedro, adalah keputusan terbaik?" tanya Leona. Lebih tepatnya meminta pendapat.
"Menurut mu bagaimana? Apa kamu siap berpisah dengan nya?" ucap Pedho.
Leona terdiam. Ia juga bingung, apakah ia siap atau tidak.
"Sebenarnya aku tidak siap Kak. Tapi aku tahu kalau Pedro tidak akan mencintaiku Kak," Leona tersenyum kecut. "Aku akan lepaskan dia untuk Tasya. Lagian Papa dan Mama sudah tahu masalah rumah tangga kami. Jadi tidak ada yang perlu aku sembunyikan lagi kan?"
Pedho mengangguk. "Ikuti kata hatimu," balas Pedho. Jauh didalam lubuk hati Pedho ia senang jika Leona sungguh berpisah dengan Pedro. Namun, ia tak bisa melihat wajah sedih wanita ini.
__ADS_1
"Kamu sangat mencintai Pedro?" tanya Pedho. Saat menanyakan hal itu, hatinya teriris sakit menerima kenyataan bahwa wanita yang ia cintai mencintai lelaki lain, yaitu suaminya sendiri.
bersambung.....