Cinta Setelah Penyesalan

Cinta Setelah Penyesalan
Pulang ke rumah


__ADS_3

**Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡**


Hari ini kondisi Leona sudah sedikit membaik. Senyumnya juga menggembang, seolah tak ada beban yang terselip di hatinya. Padahal itu lah cara Leona mengatasi luka yang membuat ia seperti wanita lemah.


"Ayo Sayang pelan-pelan." Luiz membantu adiknya turun dari ranjang.


Leona bernafas panjang. Akhir nya ia bisa membebaskan diri dari bau rumah sakit yang menyengat serta obat-obat yang membuat hidungnya sesak.


"Mau pakai kursi roda? Di gendong? Atau jalan sendiri?" tawar Luiz tak lupa senyuman menggoda nya.


"Aku jalan saja Kak," sahut Leona sambil tersenyum.


Andika ikut tersenyum melihat kemesraan dua kakak beradik itu. Keduanya tampak saling menyanyangi satu sama lain.


"Hati-hati Cinta. Sebaiknya pakai kursi roda saja," ucap Yuna. Dia adalah sahabat yang selalu siaga menjaga Leona.


Leona menggeleng. Dia masih kuat berjalan. Dia bukan wanita lemah. Dia kuat. Sekuat hatinya.


"Aku jalan saja Yun," ujar Leona.


"Ya sudah, ayo pelan-pelan. Kakak bantu," Luiz mengiring langkah Leona.


Luiz adalah satu-satunya alasan kenapa Leona tetap bertahan dalam rasa sakit yang seperti hendak membuat seluruh tubuhnya berhenti bekerja. Leona takut jika suatu saat nanti penyakit ini benar-benar akan menghilangkan dirinya. Apakah ia memang akan pergi meninggalkan dunia ini.


Tidak ada Pedho hari ini. Lelaki itu sedang mencari pengacara untuk mengurus sidang perceraian Pedro dan Leona. Sebab, Pedho tahu jika nanti Pedro akan melakukan segala cara untuk menggagalkan perceraian mereka.


Mungkin Pedho dianggap sebagai lelaki pecundang yang menginginkan kehancuran dalam rumah tangga adiknya. Namun, yang Pedho lakukan adalah demi Leona. Ia tidak mau wanita itu menderita lagi bersama adiknya Pedro.


"Pelan-pelan masuk nya Sayang," Luiz melindungi kepala Leona dengan tangannya saat perempuan tersebut hendak masuk ke dalam mobil.


Yuna menyusul masuk. Wanita yang satu ini memang menempel bak prangko pada Leona. Entah tujuannya menjaga Leona atau memang dia sedang sibuk menatap ketampanan Luiz yang membuat dia tak bisa berpaling.


"Na, Minggu depan sidang perceraian kamu akan di laksanakan. Apa kamu sudah siap?" sambil menyetir Luiz melirik adiknya.


Leona terdiam sejenak. Jika ditanya apakah ia siap? Jelas ia tak pernah siap. Tidak ada wanita yang menginginkan pernikahan nya berakhir dengan kata pisah. Namun, bagaimana ia bisa bertahan? Jika perasaan yang selama ini ia perjuangkan, tak menginginkan semua rasa yang melebur lara.

__ADS_1


"Aku sudah siap Kak," jawab Leona yakin.


Seminggu kedepan, hari itu akan tiba. Dimana ia telah melepaskan cinta yang ia pupuk dengan susah payah selama lima tahun. Tak pernah Leona bayangkan dalam hidupnya, jika pada akhirnya cinta hanya singgah sementara lalu pergi dan hilang dalam peraduan.


"Kamu pasti bisa," ucap Luiz menyemangati Leona dengan mengusap kepala adiknya itu.


"Iya Na, kamu pasti bisa. Semangat Leona," seru Yuna menimpali sambil mengepalkan tangannya diudara.


Luiz dan Leona terkekeh. Yuna ini selalu jadi komedian gratis yang siap membuat Leona tertawa. Entah dengan panggilan cinta-nya, atau dengan ucapan nya yang asal keluar.


"Terima kasih Yun," ucap Leona.


.


.


.


"Bagaimana Ricard?" tanya Pedho. Ia tengah sibuk dengan berkas menumpuk diatas mejanya. Selama Leona sakit, lelaki itu menemani sang calon mantan adik ipar nya dirumah sakit.


"Baik. Bawa dia kehadapan ku," suruh Pedho tanpa melihat Ricard. Tangannya sibuk membubuhkan tanda tangan diatas berkas yang telah menumpuk tersebut.


"Baik Tuan,"


Tidak lama kemudian Ricard masuk bersama seorang pria paruh baya dengan kaca mata tebal dan setelan jas rapi yang menjadi ciri khas bahwa dia seorang pengacara.


"Selamat siang Tuan, perkenalkan nama saya Wahyu. Saya salah satu pengacara yang saat ini sudah banyak menangani kasus perceraian," ucapnya memperkenalkan diri.


Pedho mengangguk. Sebenarnya ia tak suka basa-basi. Ia tak peduli seberapa banyak kasus perceraian yang telah di tangani oleh lelaki paruh baya itu. Dia hanya mau, lelaki ini bisa membantu proses perceraian antara Pedro dan juga Leona.


"Saya mau kamu memenangkan persidangan Leona Minggu depan. Apapun alasan dari suaminya itu tidak akan menganggu gugatan kita untuk melanjutkan persidangan. Kamu paham?" tegas Pedho.


"Siap Tuan. Saya paham," jawab Wahyu. "Pengajuan gugatan cerai sudah ada ditangan saya. Saya akan pelajari terlebih dahulu Tuan," sambung Wahyu.


"Bagus," sahut Pedho. "Dan jangan beri celah kuasa hukum Pedro mencari kesalahan kita," tegas Pedho.

__ADS_1


Wahyu mengangguk. Dia adalah salah satu pengacara yang sudah sering menangani masalah kasus perceraian para kliennya. Tidak hanya senior dalam dunia hukum. Wahyu juga selalu memenangkan uji banding dari pada klien nya.


"Baik kalian boleh keluar," usir Pedho sambil mengibaskan tangannya.


"Saya permisi Tuan," pamit Wahyu.


Pedho kembali melanjutkan pekerjaan nya. Ini adalah perempuan kalinya ia menangani kasus yang melibatkan kuasa hukum. Entah, kenapa Pedho sangat takut jika adiknya melakukan segala cara untuk menggagalkan sidang perceraian mereka.


Pedho menutup berkas nya. Lelaki itu tampak menghela nafas panjang. Lalu ia hembuskan perlahan.


"Leona," lirihnya. "Aku akan melakukan segala cara untuk membuat kamu bahagia. Aku takkan biarkan lagi Pedro menyakiti kamu. Meski aku tahu kamu tidak akan pernah melihat aku sebagai seorang laki-laki. Tapi tak apa, asal kamu bahagia aku rela melakukan apapun." Pedho tersenyum kecut.


Lina tahun lamanya Pedho harus menyaksikan wanita yang ia cintai bahagia bersama adiknya. Dia pikir Leona benar-benar bahagia dan Pedho hampir saja pergi agar melupakan cinta yang ada di hatinya. Namun, ia salah wanita yang dia cintai itu sama sekali tak bahagia. Pedho murka bukan main. Jika Pedro bukan adiknya mungkin saja ia sudah menghabisi lelaki itu.


"Tuan, Nona Leona sudah pulang dari rumah sakit," lapor Ricard


Pedho mengangguk. Hari ini Leona memang sudah pulang. Dia tidak sempat mengantar wanita itu kembali kerumah karena sibuk dengan pekerjaan yang menumpuk diatas meja kerjanya.


"Ricard," panggil Pedro.


"Iya Tuan?" Ricard kembali berbalik. Ricard tak hanya asisten yang bekerja mencari uang. Tapi ia juga menjadi salah satu orang kepercayaan Pedho yang selalu bisa di andalkan.


"Bagaimana wanita itu?" tanya Pedho. Wajahnya kembali dingin.


"Dia mengugurkan kandungan nya Tuan. Sedangkan Tuan Bisma mencoba menutupi kasus ini, sebab itu berpengaruh bagi nama baik rumah sakit," jelas Ricard.


"Hem," Pedho berdehem dan tampak berpikir keras. "Bisma masih saja licik untuk menyembunyikan kedoknya," Pedho geleng-geleng kepala. "Ricard, bongkar kasus ini ke media. Ayumi harus tahu seperti apa suami nya itu," perintah Pedho.


"Iya Tuan," Richard mengangguk. Lalu keluar dari ruangan Pedho.


Bersambung....


maaf baru update guys..


makasih buat yang udah nungguin..

__ADS_1


__ADS_2