
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Kami memutuskan persidangan ini selesai," ucap Hakim memutuskan mengakhiri persidangan.
Pedro luruh begitu saja. Pria itu sampai berlutut dilantai dengan wajah menunduk. Lelehan bening lolos dipelupuk matanya. Kenapa ia lambat menyadari perasaan nya yang begitu mencintai sang istri? Ia mencintai Leona namun setelah penyesalan yang ia rasakan
Leona juga menyeka air matanya dengan bernafas lega. Kini ia akan memulai hidup yang baru. Tanpa Pedro lagi disisinya. Ia akan melupakan mantan suaminya dan fokus pada kesehatan. Leona percaya akan ada kebahagiaan yang telah datang menantinya. Semoga saja tidak ada lagi luka yang terasa begitu memerihkan dada.
Bagaimanapun Leona tidak pernah ingin memungkiri, bahwa Pedro adalah salah satu lelaki terpenting dalam proses perjalanan hidupnya. Pedro orang yang tak mudah di lupakan oleh Leona. Semesta yang pernah ia perjuangkan. Tak ada sesak di hatinya, meski pedih rasanya berpisah dengan lelaki yang masih ia cintai. Leona tahu, jantung nya tak akan tenang saat rindu menghampiri. Tak akan tenang saat semua kenangan pulang menagih janji-janji itu.
"Leona,"
Pedro kembali sujud dikaki mantan istrinya itu. Ia memohon agar Leona mau memberikan dia kesempatan kedua untuk hidup bersama.
"Leona tolong kasih aku satu kesempatan lagi. Aku mohon. Aku mencintai kamu. Aku tidak bisa berpisah dari kamu. Hidupku akan hampa Leona," mohon Pedro.
Pedro menangis dalam sujud nya dikaki Leona. Meminta keajaiban terjadi agar menyatukan mereka kembali. Dia menyesal telah menyia-nyiakan permata indah seperti Leona.
Tak peduli dia menjadi tontonan, dia ingin Leona kembali padanya. Pedro rela kehilangan apa saja, asal jangan kehilangan Leona dalam hidupnya. Ia ingin bahagia sekali ini saja.
Leona tetap menggeleng. Menolak untuk kembali bersama. Apapun yang Pedro lakukan untuk membuatnya kembali. Ia tidak bisa kembali lagi. Luka yang Pedro turihkan dihatinya telah membekas dan menusuk sangat dalam.
"Maaf Pedro. Aku tidak bisa," jawab Leona tegas. Jika dulu ia mudah luluh hanya karena senyum Pedro. Namun sekarang, meskipun menatap air mata Pedro yang terjatuh, tidak ada lagi getaran dalam dadanya.
"Leona," Pedro menatap Leona dengan sedih ia tak sanggup menghadapi perpisahan ini.
"Perasaan ku sudah seperti dulu lagi Pedro. Jadi mengertilah. Jangan membuat diri mu semakin tersiksa seperti ini," Leona menepis tangan Pedro yang memeluk kakinya.
"Leona,"
Pedro tercekat melihat perubahan Leona. Tak pernah Leona sekasar ini pada.
"Pedro ayo kita pulang. Kenapa kamu masih memohon perempuan tidak tahu diri ini?" Tasya menarik tangan Pedro agar bangkit dari lantai. "Dan kamu perempuan tidak tahu diri. Jangan pernah kamu menganggu Pedro lagi. Kamu dan dia sudah berpisah," ucap Tasya memperingatkan sambil menatap Leona dengan sinis nya.
"Lepaskan Tasya," Pedro menepis tangan Tasya dengan kasar.
__ADS_1
"Awww Pedro," rintih Tasya meringgis kesakitan.
"Maaf ya Nona. Harusnya Anda peringatkan lelaki ini, agar tidak menganggu kehidupan Leona lagi," sentak Pedho. "Ayo Na," Pedho menarik tangan Leona agar keluar dari ruangan persidangan.
"Leona," panggil Pedro
"Leona, tolong jangan pergi," teriak lelaki itu menangis histeris di lantai sambil berteriak memanggil nama Ross seperti orang gila.
Pedro berlari menyusul istrinya tanpa peduli dengan panggilan Tasya padanya.
Luiz, Pedho, Leona dan Yuna berjalan keluar tanpa memperdulikan teriakkan Leona yang memanggilnya.
"LEONA,"
"LEONA,"
Pedro mengetuk-ngetuk kaca mobil agar Leona keluar dari sana.
Leona hanya menatap sendu wajah mantan suaminya itu. Jujur saja, dia masih cinta dan sayang pada pedro. Bagaimana pun Pedro adalah orang yang pernah menghabiskan hari-hari bersama nya selama lima tahun. Meski lima tahun ini hanya kenangan buruk yang Leona dapatkan selama ia dan Pedro menjadi pasangan suami istri.
'Terima kasih untuk lima tahun yang boleh kita lewati bersama. Meski disini akulah yang mengenang masa itu karena aku yang paling terluka. Sedangkan kamu hanya menghadirkan luka lalu perlahan menusuk semakin dalam hingga rasa yang seharusnya masih menggebu didalam dada. Kini telah membuat nya tiada."
'Sampai bertemu di titik terbaik Pedro. Meski kini kita telah asing. Ketahuilah satu hal, perasaan ku sama sekali tak berubah meski di sadarkan oleh perpisahan. Semoga kelak ketika kita bertemu lagi, kita masih memiliki kesempatan untuk saling bercerita tentang merah dan hitam nya jalan ini. Aku tak pernah baik-baik saja ketika berpisah dengan mu. Tetapi inilah akhir dari takdir cinta yang pernah bersemayam cukup lama."
Pedho menjalankan mobilnya meninggalkan kantor Pengadilan Agama.
Sepanjang perjalanan Leona menatap kosong kearah jendela mobil. Wanita itu berkali-kali menyeka air matanya dengan kasar. Setelah perjalanan sulit dan penderitaan cukup panjang. Akhirnya dia melepaskan statusnya menjadi istri Pedro.
"Leona," panggil Luiz
Leona menoleh kearah kakaknya. Ia tersenyum pada Luiz
"Iya Kak?"
"Jangan terlalu dipikirkan. Kamu hanya butuh waktu dan proses lama untuk bisa benar-benar melepaskan Pedro," ucap Luiz mengusap punggung adiknya.
__ADS_1
Leona mengangguk, "Terima kasih Kak," Leona bersandar dibahu Luiz. "Aku akan mencoba melepaskan Pedro. Meski sulit," wanita itu memejamkan matanya.
Luiz terdiam dengan tangan yang masih mengelus punggung adiknya. Perjalanan yang tak mudah. Luiz dan Pedho benar-benar menumpas kasus Pedro dan mencari bukti-bukti tanpa sepengetahuan Leona. Karena keduanya tahu jika Pedro tidak akan mau berpisah begitu saja dengan Leona
.
.
.
.
"Leona,"
Pedro meringguk diranjangnya. Pria itu seperti orang yang sudah gila. Penampilan nya begitu berantakkan.
"Pedro," twriak Tasya, "Sampai kapan kamu akan seperti ini? Tolonglah Pedro, sadar kalau Leona tidak mungkin kembali lagi sama kamu," hardik Tasya dengan nafas memburu menahan emosi dan amarah
Pedro bangkit dan menatap Tasya dengan tatapan benci.
"Keluar kamu dari kamar aku," usirnya.
"Tidak mau," tolak Tasya
"Tasya, aku mohon. Sebelum aku bersikap kasar, sebaik nya kamu," tegas Pedro sambil mendorong tubuh Tasya keluar dari kamarnya
Brakkkkkkkkkkkkkk
Lelaki itu membanting pintu dengan kasar.
Pedro terduduk dibalik pintu sambil menutup wajah nya dengan kedua tangannya. Ia menangis hebat. Kamar ini seolah menjadi saksi bisu kepatahatian yang Pedro rasakan.
"Leona, maafkan aku," rintihnya.
Ia tak puas menangis di kantor pengadilan. Hingga sekarang air mata nya pun masih saja menetes karena kehilangan sosok wanita yang ia cintai setelah ia menyesal.
__ADS_1
Bersambung..