
Setelah diberi hukuman tidak makan oleh Pedho serta kondisi yang sekarat karena luka di bagian wajah dan tangannya. Adam dan Tesa menemukan ajal nya, keduanya tergelatak tak bernyawa di ruangan tempat mereka dipenjara.
Pedho menatap kedua orang itu dengan dingin. Padahal Tessa sudah mengenalnya sejak remaja, harusnya wanita itu tahu bahwa berurusan dengan seorang Pedho akan berakhir mengenaskan. Apalagi mereka berdua berencana mencelakai istrinya. Bahkan Tessa rela mengubah wajahnya menjadi Leona, agar mantan kekasihnya tersebut kembali lagi padanya.
Namun, sayang seribu sayang. Pedho bukan lelaki yang mudah di kelabui. Dia memiliki banyak jaringan di berbagai negara. Sehingga kemana pun Adam dan Tessa melarikan diri takkan terlepas dari genggamannya. Pedho sudah mengetahui semua rencana busuk kedua orang yang sudah tak bernyawa tersebut.
Siapapun yang berani merencanakan sesuatu dan mencelakai Leona. Maka bersiaplah menerima hukuman yang akan membawa mereka hidup ke neraka. Sebab tak ada yang remeh jika berbicara tentang Leona.
"Kembalikan mayat mereka ke keluarga nya. Pastikan tidak ada tuntutan atau pidana. Bayar kompensasi nya!" titah Pedho.
"Baik Tuan," sahut Ben.
Keluarga besar Tessa tinggal di China. Sedangkan wanita itu menetap ke Amerika karena karirnya berada disana. Sementara Adam hanya seorang jurnalistik biasa. Orang tua nya juga tinggal diluar negeri. Di Indonesia dia bergabung dengan salah satu perusahaan furniture dibagian desain.
Pedho menatap anak buah nya yang mengeluarkan tubuh Adam dan Tessa dari balik jeruji besi. Lama lelaki itu menatap wajah wanita yang dulu dia cintai.
Dulu Pedho bagai budak Tessa. Apa saja yang di perintahkan perempuan itu, Pedho pasti mengikuti nya. Bahkan jika disuruh menyebrangi lautan mungkin lelaki itu akan menurut, karena dia benar mencintai Tessa.
Namun, setelah tahu penghianatan Tessa. Apalagi ketika wanita itu lebih memilih karier dari pada dirinya. Semua perasaan yang ada pun kian menghilang.
Pedho berjongkok menatap jenazah Tessa. Dia tidak membunuh Adam dan Tessa, dia hanya memberikan hukuman sesuai dengan perbuatan perempuan tersebut. Adam dan Tessa mati karena tidak makan dan kehabisan darah saat Pedho melukai tubuh keduanya.
"Selamat jalan mantan. Terima kasih sudah menunjukkan padaku bahwa cinta yang pernah kamu berikan adalah palsu. Semoga kamu tenang di alam sana dan sampaikan maafkan pada malaikat yang kamu temui disana," ucap Pedho meledek.
Lalu lelaki itu beralih pada Adam, mantan kekasih istrinya. Dia paham perasaan sakit hati Adam ketika Leona memilih lelaki lain. Namun, rasa sakit itu tidak harus di balas dengan dendam. Cukup lupakan orang yang di sayang dan biarkan dia bahagia bersama pilihannya.
"Adam, terima kasih pernah menjaga istriku. Aku akan mengenang mu hingga nanti," ucap Pedho juga pada jenazah Adam.
Jenazah Adam dan Tessa di masukkan kedalam mobil. Jenazah itu akan dikirim ke luar negeri dan dikembalikan pada keluarga mereka.
Pedho melipat kedua tangannya didada dan tersenyum puas. Jika Pedro juga berani melakukan hal-hal yang mencelakai istriny, mungkin akan memberikan hukuman yang sama. Pedho tak peduli sekalipun itu adiknya, berani mengusik hidupnya. Berarti siap menanggung segala resiko.
"Silahkan, Tuan," ucap Ricardo membuka pintu mobil.
Pedho masuk kedalam mobil. Baru beberapa jam saja dia sudah merindukan Leona dan ketiga anaknya.
Mobil yang di kendarai oleh Ricard memasukinya pekarangan rumah mewah Pedho.
__ADS_1
Lelaki itu turun dari mobil dengan langkah lebar seolah tak sabar. Tak ada yang tahu bahwa Pedho telah menangkap Adam dan Tessa selain Luiz dan Andika. Tak heran lagi jika Pedho melakukan hal-hal seperti itu.
"Sayang," panggil Pedho.
Lelaki itu langsung mencium kening Leona yang tengah menyusui bayi-bayi nya.
"Kenapa Kak?" tanya Leona melihat wajah Pedho yang seperti tidak tenang. "Sudah selesai meeting nya?" sambung wanita anak tiga itu.
"Sudah, Sayang," jawab Pedho.
Pedho tak bisa bayangkan bagaimana ekspresi Leona saat tahu bahwa dirinya telah membunuh Adam dan Tessa. Pedho tak bermaksud menghabisi nyawa kedua orang itu. Hanya saja dia tidak bisa menahan diri karena amarah yang membuncah.
"Sayang, peluk aku sebentar," pinta Pedho.
Leona mengangguk, wanita itu meletakkan ketiga bayi nya, lalu memeluk sang suami.
"Aku isi baterai dulu," ucap Pedho memeluk Leona.
Segala rasa takut dan khawatir yang memnuncah didalam dadanya akan hilang ketika dia memeluk wanita ini. Entahlah, Leona seperti memiliki magnet yang mampu menarik nya masuk dan tenggelam sangat dalam. Entah kenapa ada perasaan bersalah ketika melihat Adam dan Tessa tergeletak tak bernyawa. Walau Pedho tidak membunuh kedua orang itu secara langsung. Tetapi dia yang telah menyebabkan kematian mereka.
"Maafkan aku, Sayang," lirih Pedho.
"Tidak Sayang. Aku hanya merindukanmu seharian ini," ucap Pedho.
"Kakak." Leona geleng-geleng kepala sambil tersenyum gemes.
"Kakak sudah makan belum?" tanya Leona.
"Belum Sayang," jawab Pedho tersenyum. Kenapa ketika melihat senyuman Leona ada perasaan bersalah di hati lelaki tampan itu.
"Ya sudah Kakak, tunggu disini. Aku siapkan makan siang untuk Kakak," ucap Leona.
"Tidak Sayang. Biarkan pelayan saja. Kamu disini yaa," cegah Pedho.
Entah kenapa dia takut jika jauh dari Leona. Pikirannya melalang buana menempuh jalanan terjal.
"Kakak yakin bisa makan selain masakkan ku?" goda Leona.
__ADS_1
"Untuk hari ini tidak apa-apa, Sayang. Aku ingin menghabiskan waktu bersama kalian berempat," ucap Pedho.
"Iya Kak," sahut Leona mengalah.
.
.
.
"Kenapa Yun?" tanya Andika sambil duduk disamping wanita itu.
"Tidak Kak," kilah Yuna.
"Masih memikirkan Luiz?" tebak Andika.
"Sedikit Kak," jawab Yuna sambil menarik piringnya. Saat ini mereka tengah makan berdua.
"Yun," panggil Andika.
"Iya Kak?" sahut Yuna melirik lelaki tersebut.
"Yun, setelah aku pikir-pikir...." Andika menatap Yuna.
"Pikir-pikir apa, Kak?" tanya wanita itu bingung.
"Bagaimana kalau kita mulai hubungan sebagai pasangan?" saran Andika.
Yuna terkejut mendengar ucapan lelaki tersebut.
"Maksud Kakak?" tanya Yuna tak mengerti.
"Begini Yun, kita kan sama-sama sedang patah hati. Kamu patah karena Luiz dan aku patah hati karena masa lalu ku dan sampai sekarang aku belum bisa bangkit, perasaan ku belum bisa melupakan dia." Andika menghela nafas panjang.
"Kita bisa belajar saling jatuh cinta. Aku tahu kamu tidak punya perasaan sama aku. Sama aku juga. Tapi tidak ada salahnya kita mencoba," ucap Andika menatap Yuna dengan senyuman manis.
Yuna tampak terdiam. Tawaran ini tidak salah. Mungkin yang dikatakan Andika benar bahwa dia harus membuka hati untuk orang baru, tapi apakah orang itu adalah Andika?
__ADS_1
Bersambung...