Cinta Setelah Penyesalan

Cinta Setelah Penyesalan
Kaulah alasan


__ADS_3

**Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺**


"Cie cie cie. Yang lagi jatuh cinta, ciee," ledek Yuna sambil tertawa lebar melihat wajah mereka Leona saat dirinya meledek


"Yuna," Leona merenggut kesal. Pipinya bersemu merah, apalagi teringat ungkapan cinta dirinya pada Pedho, semakin membuat ia malu.


Juliet tersenyum menggeleng. Sudah tak heran lagi jika Leona dan Yuna suka saling mengejek seperti itu, karena memang sudah kebiasaan duanya.


"Sayang, ini bubur nya," Juliet meletakkan satu mangkuk bubur ayam diatas meja.


"Terima kasih Mommy!" seru Leona.


"Mom, aku mau juga," renggek Yuna manja seperti anak kecil.


"Sudah besar Yuna. Jangan manja," cibir Leona.


"Biarin," ketus Yuna.


Juliet hanya terkekeh saja. Lalu meletakkan satu mangkuk bubur ayam di depan Yuna.


Mereka bertiga menikmati bubur ayam buatan Juliet. Hidup Leona kini tak lagi pahit. Meski ia menderita penyakit. Namun, ia dikelilingi oleh orang-orang yang membuatnya semangat untuk berjuang melewan penyakit dalam tubuhnya. Leona yakin dia pasti sembuh. Meski itu terdengar tidak mungkin.


"Setelah itu minum obat yaa Sayang," seru Juliet.


"Iya Mom,"


Yuna tersenyum hangat melihat keharmonisan Juliet dan Leona. Dulu, Juliet tidaklah seperti ini. Dia merupakan wanita karier yang tidak sempat mengurus Leona, apalagi sampai memasak makanan kesukaan wanita tersebut.


"Yun, setelah ini temani aku ke butik sebentar ya," pinta Leona.


"Yoi, beres boss," Leona mengacungkan jempolnya.


"Ini obat nya Sayang," Juliet memberikan beberapa butir obat dan segelas air putih pada Leona.


"Terima kasih Mom," sambut Leona tersenyum tipis.

__ADS_1


"Mom, Leona ke butik sebentar," ucap Leona berpamitan dan tak lupa mencium kedua pipi Juliet.


"Iya Sayang kamu hati-hati. Setelah dari butik langsung pulang, jangan kemana-mana," pesan Juliet.


"Iya Mom," Leona mengangguk


Juliet sekarang mendedikasikan hidupnya sebagai seorang ibu rumah tangga. Ia tak lagi tertarik dengan dunia sosialitanya atau teman-teman arisan. Ia lebih suka dirumah menemani Leona dan mengurus keperluan anak perempuan nya itu. Melayani suami dan anak saat ini adalah pilihan bagi Juliet.


Rasa takut kehilangan Leona masih tak bisa ia kontrol. Kadang ia menangis dalam diam saat melihat senyum Leona yang tak memudar meski tubuh nya sekarang tak baik-baik saja.


Setelah selesai sarapan dan minum obat. Kedua wanita itu segera masuk ke dalam mobil untuk mengunjungi butik Leona yang sudah lama tak ia awasi.


"Oh ya Na, apa Kak Dhika suka memberitahu mu kalau bulan depan, kamu akan di bawa keluar negeri?" tanya Yuna melirik sahabat nya itu.


"Sudah Yun," Leona menghela nafas panjang.


Dalam hidup Leona, ia tak memiliki banyak impian untuk sembuh pun seperti nya mustahil. Ia hanya ingin bersama orang-orang yang dia sayang sebelum akhirnya ia pergi untuk selamanya.


'Aku berharap memiliki kehidupan bahagia serupa wanita lain. Menikah dan memiliki anak. Lalu hidup bahagia. Bisa menghabiskan waktu bersama setiap akhir pekan. Namun, Tuhan berkehendak lain. Disaat aku percaya akan ada nya cinta sejati. Aku justru di hadapkan dengan kenyataan bahwa tubuh sehatku takkan pernah kembali. Kadang aku bertanya, kenapa Tuhan menunjukkan rasa cintaNya dengan cara seperti ini? Tidakkah Tuhan tahu bahwa aku insan yang lemah. Aku tidak kuat menghadapi nya,' ucap Leona menangis dalam hati.


Tak hanya Leona yang memiliki ketakutan. Yuna pun sama. Ia sudah membayangkan hari-hari nya mati tanpa Leona. Hari-hari yang mungkin akan membunuh Yuna perlahan. Bukan Yuna tak sedih, sering sekali wanita yang di juluki sebagai jomblo akut itu menangis dalam keremangan berteman dengan bintang di langit malam.


"Aku tidak apa-apa Yun," Leona menyeka air matanya. "Aku hanya takut, jika sewaktu-waktu aku pergi meninggalkan Kak Pedho. Sekarang aku sungguh mencintai nya Yun. Kak Pedho seseorang yang membuatku bertahan hingga kini," lirik Leona.


"Jadikan cinta kamu sebagai motivasi kamu buat sembuh, Na. Kamu tidak mau 'kan melihat Kak Pedho sedih? Kamu harus kuat," ujar Yuna berusaha menguatkan Leona.


"Iya Yun,"


Pedho adalah salah satu alasan kenapa Leona ingin berjuang sembuh. Setiap kali menatap mata binar Pedho membuat hati ya terenyuh sakit. Ia membayangkan jika kematian benar-benar membawanya pergi, apa binar di mata lelaki itu akan tetap bersinar seperti saat ini. Atau bisa saja hilang bersama kepergiannya.


.


.


.

__ADS_1


Tessa turun dari mobilnya. Ia membuka kaca mata hitam yang menutup kedua matanya. Dia tersenyum licik ketika menatap nama butik yang ada didepan nya.


"Pantas saja Pedho begitu mencintai wanita ini. Leona bukan wanita sembarangan," sambil menggantung kacamata di kerah baju nya.


Tessa berjalan dengan langkah gontai dan senyuman liciknya. Ia sempat penasaran seperti apa wanita yang bernama Leona itu. Setelah mencari tahu identitas Leona, Tessa tak heran jika Pedho sungguh mencintai wanita ini. Leona wanita berkelas yang terlahir dari keluarga berada. Tak hanya itu prestasinya dalam dunia desainer cukup membanggakan.


"Selamat siang Nona, ada yang bisa kami bantu," sapa Ayu ramah


"Hem, apa benar itu butik milik Nona Leona?" tanya Tessa pura-pura tidak tahu


"Oh iya benar Nona," jawab Ayu


"Bolehkah saya bertemu dengan boss Anda. Saya ingin bertanya masalah desain baju yang saya lihat di akun media sosialnya," ucap Tessa. Tak lupa senyum licik nya ia tampilkan.


"Oh tentu boleh Nona. Nona Leona akan sangat senang jika bertemu dengan Anda," kata Ayu. "Mari Nona, ikut saya," ajak Ayu.


Tessa menganggumi desain-desain baju yang terpasang di beberapa manekin. Gaun-gaun indah hasil tangan Leona. Tak heran jika wanita itu mendapat predikat sebagai desainer terbaik karena memang gaun-gaun rancangan nya benar-benar memuaskan.


"Selamat siang Nona, ada yang ingin bertemu dengan Anda," lapor Ayu pada Leona yang tengah asyik dengan kertas ditangannya. Sedangkan Yuna malah sibuk memasang pewarna di kuku nya.


"Suruh masuk!" titah Leona tanpa melihat Ayu.


Tessa masuk kedalam ruang kerja Leona. Lagi-lagi ia kagum pada interior ruangan yang mewah dan rapi. Seperti nya Leona wanita pencinta kebersihan, terlihat dari tatanan barang-barang yang ada di ruangan nya.


"Selamat siang Nona Leona," sapa Tessa.


Leona mengangkat pandangan nya. Tentu saja dia masih ingat siapa Tessa.


"Eh Kak Tessa," Leona meletakkan pensil dan kertas nya. Meski ia suka cemburu jika membahas Tessa. Namun, ia tetap profesional.


"Silahkan duduk Kak!" seru Leona mempersilahkan Tessa duduk.


Sementara Yuna menatap Tessa penuh selidik. Yuna tidak mengenal Tessa. Tapi jika dilihat dari penampilannya wanita ini seperti wanita kelas atas.


"Terima kasih Nona," Tessa duduk disamping Yuna dengan senyuman lebar. Entah apa maksud kedatangan wanita itu kesini?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2