
Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
"Pa, ayo kita susul Pedho dan Leona ke New York," ajak Anjani merenggek.
"Mama, buat apa sih Ma? Kan sudah ada Pedho, biarkan dia saja yang mengurus Leona disana," sahut Alexander geleng-geleng kepala tak habis pikir dengan permintaan aneh istri nya ini.
"Pa, tapi Mama ingin melihat wajah Leona Pa. Mama kangen sama dia," jelas Anjani berusaha memberi pengertian.
Bukan berbohong dia sungguh merindukan mantan menantu nya itu. Memang sudah lama dia tam bertemu dengan Leona. Terakhir, saat di butik Leona sebelum dia tahu jika mantan menantu nya itu menderita sakit parah.
"Kalau Mama kangen 'kan bisa telpon Pedho. Bisa video call dan bicara sama Leona," saran Alexander sibuk dengan bulu yang ada ditangannya. Dia memang sudah pensiun dalam mengurus perusahaan dan dia berikan sepenuhnya perusahaan tersebut pada anaknya, Pedro. Sementara Pedho mengurus perusahaan yang dia rintis dari nol.
"Ya sudah kalau Papa tidak mau, Mama saja yang berangkat," ucap Anjani memutuskan dengan bibir yang menggerecut kesal.
"Jangan aneh-aneh Ma, Mama tidak boleh pergi kalau tidak sama Papa," tegas Alexander.
Sebelum nya, Pedho sudah memberitahu ayah nya agar sang ibu tidak dibiarkan berangkat ke Amerika, apalagi seorang diri. Sebab Pedho sudah tahu jika ibu nya tersebut memiliki niat yang jahat terhadap nya dan Leona. Diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun, Pedho mengutus pengawal bayangan untuk mengawasi pergerakan Anjani dan juga Pedro. Tentu saja dia harus hati-hati, sebab segala sesuatu yang bersangkutan dengan Leona adalah hal yang penting bagi Pedho.
"Kalau begitu ayo Pa, kita ke Amerika," renggek Anjani memeluk lengan suaminya dengan manja. Bahkan wanita paruh baya yang masih cantik itu merebahkan kepalanya di lengan Alexander.
"Tidak mau, Ma. Kita disini saja, kenapa?" Alexander memutar bola matanya malas. "Ma, kamu masih ingin menyatukan Pedro dan Leona 'kan?" Alexander menatap istrinya curiga.
Anjani mendelik. Dari mana suaminya tahu jika dia memiliki niat untuk menyatukan kembali putra dan menantu kesayangan nya.
"Kalau iya memang nya kenapa Pa?" tanya Anjani. "Lagian Papa juga tahu kalau sekarang Pedro sudah mencintai Leona. Tidak ada yang salah kalau mereka rujuk lagi. Mama setuju saja," tuturnya.
"Mama. Mama." Alexander geleng-geleng kepala. "Mama sudah tahu 'kan kalau sekarang Leona sudah bersama Pedho. Apa Mama tidak menghargai perasaan anak sulung kita?" ujar Alexander tak habis pikir.
__ADS_1
"Pedho anak Papa dengan wanita itu, bukan anak Papa sama Mama," ralat Anjani.
Alexander menghela nafas panjang, "Anjani please jangan ungkit masa lalu," ucap Alexander memohon. Setiap kali mengingat hal tersebut hatinya selalu luka. Ada goresan yang menyayat didalam sana.
"Kenapa Pa? Papa takut Pedho tahu, kalau dia itu anak haram dari wanita yang Papa selingkuhi?" Anjani melipat kedua tangannya didada. Sejak kecil dia tidak menyukai putra sulungnya itu.
Alexander meletakkan buku bacaannya. Lelaki paruh baya itu melenggang pergi meninggalkan sang istri. Apa Anjani tahu, bagaimana pengorbanan Alexander untuk bangkit dari patah hati ini?
Alexander masuk kedalam sebuah ruangan rahasia yang dia jaga selama puluhan tahun terakhir. Tidak ada yang boleh masuk kedalam ruangan ini, termasuk istri dan anak-anak nya. Ini adalah ruangan pribadi tempat dia mengadukan keluh kesahnya.
Alexander mengunci pintu. Dia berjalan gontai menatap sebuah foto dengan ukuran besar yang sengaja terpajang di dinding ruangan.
"Ayunda," lirihnya. "Maafkan aku," ucapnya sendu.
Tangannya terulur menggapai wajah wanita cantik yang tengah tersenyum menatap kearah kamera. Sangat cantik wanita tersebut sampai dirinya seolah tak mampu berpaling untuk sekedar menoleh kearah samping. Namun sayang takdir Tuhan malah memisahkan mereka dengan cara seperti ini.
"Maaf, aku belum bisa menjadi Ayah yang baik untuk anak kita," ucapnya penuh dengan perasaan bersalah.
"Aku berjanji akan menjaga anak kita sepenuh hati. Semoga kamu tenang di alam sana. Aku merindukan mu, Ayunda," lalu dia mendaratkan ciuman dikening wanita yang ada di foto tersebut.
.
.
.
Anjani merenggut kesal. Dia menatap punggung suami nya malas.
__ADS_1
"Anak haram seperti nya tidak pantas bahagia," ucap Anjani.
Kebencian nya pada Pedho telah mendarah daging. Namun, dia sendiri tak mampu melawan kekerasan hati Pedho.
"Pedho, Mama takkan biarkan kamu bahagia sama Leona. Kamu itu tidak pantas untuk bahagia. Bahkan kelahiran mu saja, mengorbankan nyawa wanita lain," ucap Anjani tersenyum licik.
Wanita cantik itu menyambar tasnya lalu melenggang pergi dan masuk kedalam mobil. Entah kemana ia akan pergi? Semua rencana yang dia lakukan untuk memisahkan Pedho dan Leona gagal. Semesta seperti tak memberi dukungan padanya.
Seperti biasa wanita ini akan menemui Tessa, patner dalam perencanaan segala hal-hal jahat yang dia rencanakan.
"Kenapa wajah Tante kusut begitu?" tanya Tessa tenang. Wanita licik bergelar model tersebut, menunjukkan gaya anggun nya. Dia seperti wanita biasa yang tak memiliki pemikiran jahat seperti yang lainnya.
"Kamu belum berangkat ke Amerika?" tanya Anjani tanpa menjawab pertanyaan Tessa. "Apa sudah ada dokter yang kamu katakan kemarin?" tanya nya lagi, menagih janji-janji Tessa yang dia ucapkan tempo hari.
"Tidak perlu buru-buru Tante. Dia sedang menuju kesini," jawab Tessa. "Aku tidak bisa ke sana. Sebab Pedho mengawasi pergerakan ku. jika aku ke New York, dia akan curiga," jelas Tessa sambil menyeruput jus dalam gelasnya.
"Hem." Anjani hanya berdehem lalu kembali melamun. Terlihat wanita paruh baya itu menghela nafas panjang.
"Tante khawatir pada Leona," ujarnya. "Takut terjadi sesuatu padanya," sambung nya lagi.
Anjani tidak tahu saja jika menantu kesayangan nya itu bahkan sudah di ponis mati. Lantaran jantungnya yang tiba-tiba berhenti bekerja. Jika wanita itu tahu, mungkin saja dia akan depresi dan menangis ketakutan.
Sementara Tessa tersenyum devil. Tidak ada yang tahu, jika kritisnya Leona adalah hasil dari rencananya. Namun, Tessa tak mau memberitahu Pedro atau pun Anjani. Dia menjalankan rencananya tanpa pengetahuan siapapun, kecilai seseorang yang ada dibelakang nya.
"Tante tenang saja, dia akan baik-baik saja. Aku akan segera mengirimkan dokter tersebut ke New York. Tapi sebelum nya aku perlu bertemu Pedho," ucap Tessa.
"Iya Tessa. Kalau bisa cepat, Tante sangat berharap Leona segera sembuh," pinta Anjani penuh harap.
__ADS_1
'Aku ingin dia mati bukan sembuh. Maaf calon ibu mertua. Untuk kali ini, aku akan menyingkirkan menantu kesayangan mu itu. Selama dia ada di bumi, Pedho takkan bisa menjadi milikku,' ucap Tessa dalam hati.
Bersambung.....