Cinta Setelah Penyesalan

Cinta Setelah Penyesalan
Menyerah


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Tessa menghembuskan nafasnya kasar saat tahu jika Pedho dan Leona sudah berangkat keluar negeri. Entah apalagi rencana wanita itu selanjutnya. Dia seolah tak bosan untuk menarik simpati Pedho agar kembali kedalam pelukannya. Namun, cara apapun yang dia lakukan tetap takkan bisa membuat lelaki tersebut bersimpati padanya.


"Kamu mau menyerah?" Tessa menatap Tasya yang mengadu padanya.


"Percuma Tes. Apapun yang aku lakukan tidak akan membuat Pedro kembali lagi padaku. Aku sadar bahwa aku memang salah," ucap Tasya sendu sambil menyeka air matanya.


Bentakan Pedro padanya membuat hatinya teriris sakit. Dia tidak mau memaksa Pedro dan malah membuat lelaki itu membenci nya nanti.


"Kamu bisa mencoba lagi Tasya. Ayo dong jangan menyerah," ucap Tessa menyemangati. Meski sepenuhnya dia tidak mendukung Tasya, dia hanya memanfaatkan Tasya untuk melancarkan rencananya.


Tasya menggeleng, "Aku menyerah Tes. Aku akan pulang ke Bandung dan merawat Ibu disana," jelas Tasya seraya menarik nafas dalam.


Tessa merenggut kesal. Jika Tasya menyerah, siapa lagi yang bisa dia ajak bekerja.


'Hmm, Pedro dan Tante Anjani bisa aku peralat untuk menyingkirkan Leona,' batin Tessa tersenyum licik.


Tasya menyambar tasnya, "Aku permisi dulu Tes," pamitnya.


Tasya berjalan keluar dari cafe. Matanya membengkak karena menangis setelah di bentak dan di usir oleh Pedro. Percuma dia terus berusaha dan mengemis, lelaki itu takkan menyimpan rasa simpati padanya.


Tasya masuk kedalam mobilnya. Sejenak ia memejamkan matanya sambil menarik nafas sedalam mungkin lalu menghembuskannya dengan kasar.


"Pedro, maaf. Aku memang tidak seharusnya menganggu mu lagi. Aku akan pergi dari hidup kamu, seperti yang kamu mau. Aku minta maaf karena sudah membuat kamu kecewa," ucapnya.


Sambil menyetir wanita itu menangis hebat didalam mobil. Awalnya dia tidak akan menyerah untuk mendapatkan cinta yang dulu dia miliki. Tapi saat melihat sorot mata kebencian dari tatapan Pedro padanya, membuat dia sadar bahwa apapun yang dia lakukan takkan bisa mengembalikan rasa sayang lelaki tersebut padanya.


Sampai di kediaman Pedro. Wanita itu turun dari mobil, tampak mobil Pedro sudah terparkir di garasi yang artinya lelaki itu sudah pulang dari kantor.


Tasya masuk dengan langkah gontai. Malam ini, dia akan pergi dari rumah Pedro dan memutuskan meninggalkan lelaki itu. Tasya akan memilih jalan hidupnya sendiri. Meski rasa cinta yang ada di hatinya tak juga memudar oleh waktu. Dia hanya berusaha untuk tidak memaksa sesuatu yang bukan menjadi takdir nya.


Tasya memasukkan barang-barang nya ke dalam koper. Beberapa bulan terakhir dia menempati kamar milik Leona. Tidur dengan nyaman di dalam kamar wanita yang telah dia rebut suaminya tersebut.

__ADS_1


"Leona, selamat kamu menjadi pemenang nya. Meski pun kamu akhirnya tidak bersama Pedro, tapi kamu bahagia bersama Kak Pedho. Kamu bisa menang kali ini, tapi nanti aku juga akan bahagia di jalan ku sendiri," ucap Tasya menatap foto besar Leona yang terpasang di dinding kamar.


Tasya keluar dari kamar sambil menyeret kopernya.


"Pedro," panggilnya pada lelaki yang tengah makan sendiri di meja makan.


Pedro menoleh. Ia menatap koper yang Tasya seret. Tak ada niat dari lelaki itu untuk bertanya atau sekedar menahan Tasya untuk tetap tinggal.


"Aku pamit," ucap Tasya terasa berat. Ia menatap Pedro sepuasnya. Setelah ini, ia akan pergi dari hidup Pedro. Lebih baik sadar diri dari pada berimajinasi tinggi.


Pedro mengangguk tanpa menjawab. Dia kembali melanjutkan makannya.


"Pedro," panggil Tasya sekali lagi.


Pedro menoleh. Keningnya berkerut heran seolah bertanya, ada apa?


"Semoga kamu bahagia. Aku hanya ingin berpesan, berhenti mengejek Leona karena dia tidak akan kembali sama kamu. Sama seperti aku yang mengejar kamu dan kamu tidak akan kembali padaku. Menyerah lah, pilih jalan bahagia mu sendiri." Setelah berkata demikian, Tasya melenggang pergi.


Sementara Pedro, terdiam mendengar ucapan Tasya. Lelaki itu seperti sedang memikirkan sesuatu.


Terlambat sudah semua rasa yang dulunya membuncah dada, kini benar-benar semu dihati.


.


.


.


"Bu."


Tasya berjalan mendekati ranjang Lena. Wanita itu terduduk dibibir ranjang saat melihat ibu nya terbaring lemah. Terakhir mereka bertemu saat ia bertengkar hebat karena mengugurkan bayi dalam kandungan nya.


"Maafkan aku, Bu." Tasya merebahkan kepalanya didada Lena. "Aku menyesal, Bu," ucapnya.

__ADS_1


Entah apa yang membuat wanita tersebut menyadari semua kesalahannya. Padahal bukan pertama kali Pedro membentak nya. Namun, ucapan Pedro yang ia dengar kemarin seolah menurihkan luka yang sangat dalam dihati Tasya.


"Aku baru sadar apa yang Ibu katakan. Jika mengambil sesuatu dengan paksa maka tidak akan bisa digenggam selamanya. Aku sekarang menyadari hal itu, Bu. Maafkan aku." Tasya menangis segugukan sambil mengenggam tangan Lena.


Lena mengalami kelumpuhan permanen saat mendengar apa yang terasa pada Tasya. Apalagi keduanya berakhir dengan pertengkaran saat Tasya memilih kembali ke Jakarta untuk bersama Pedro.


Lena yang tak bisa bergerak hanya merespon dengan bola matanya yang bergerak-gerik. Dia merasa gagal menjadi seorang ibu. Dia merasa gagal mendidik Tasya menjadi wanita yang benar. Sudah sering dia menceramahi anaknya tersebut. Namun, Tasya sama sekali tidak mendengar apa yang Lena katakan.


"Kamu terlambat," ucap Tama masuk kedalam kamar ibu nya.


"Kak," Tasya menyeka air matanya.


Tama meletakkan bubur dan segelas air putih diatas nakas. Waktunya ia menyuapi ibu nya itu untuk makan.


"Kak, maafkan aku," ucap Tasya dengan sungguh-sungguh. Dia benar-benar menyesali perbuatannya.


"Kenapa minta maaf pada Kakak? Kamu tidak melakukan kesalahan apapun pada Kakak. Ibu lah orang yang kamu sakiti," sahut Tama menatap adiknya kecewa.


Tama anak sulung dari empat bersaudara. Dia yang mengayomi adik-adik nya. Namun disisi lain dia juga sudah memiliki istri dan anak yang harus dia utamakan.


Tasya menunduk, jarinya saling meremas satu sama lain. Air mata menetes di pipi nya. Dia baru menyadari jika kesalahan nya membuat sang ibu jatuh sakit.


"Bu, makan dulu ya," ucap Tama duduk dibibir ranjang.


Lelaki yang sudah menjadi ayah dari satu anak itu begitu menyayangi sang ibu. Meski tak bisa sepenuhnya mengurus Lena karena dia memiliki tanggung jawab lain sebagai seorang suami dan ayah.


Tasya menatap sendu kedua orang yang telah dia sakiti hatinya tersebut, terlihat rapuh saat dia melakukan kesalahan besar dalam hidupnya.


"Kenapa kamu kembali?" tanya Tama menatap adiknya dingin.


"Aku akan tinggal disini Kak," jawab Tasya. "Aku akan merawat Ibu," ucapnya sambil mengusap lengan keriput Lena.


Hati Tasya terasa sakit saat melihat Lena yang terbaring lemah dan tak bisa bergerak. Perbuatan kejamnya membuat penyesalan yang takkan bisa dia hilangkan dalam hatinya.

__ADS_1


**Bersambung.... **


__ADS_2