Cinta Setelah Penyesalan

Cinta Setelah Penyesalan
Memendam rasa


__ADS_3

**Happy Reading 🌺 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺**


"Om," panggil Lea.


"Ada apa?" ketus Luiz sambil menyetir.


Dia menatap Lea jenggah. Entah kenapa setiap hari gadis ini menempel terus padanya. Tadi Luiz menjemput Lea ke sekolah nya, sontak saja dia di kira ayah dari gadis itu sehingga semua siswa-siswi memanggil nya om.


"Om, tidak rindu sama Kak Yuna?" goda Lea seraya menaik turunkan alisnya menggoda lelaki tersebut.


"Tidak," jawab Luiz cepat.


"Hm." Lea melipat kedua tangannya didada. "Om, sebenarnya Om itu suka 'kan sama Kak Yuna?" tanya Lea.


Luiz tak mejawab dia tetap fokus menyetir tanpa peduli dengan pertanyaan Lea. Toh gadis ini kalau di ladeni memang itu mau nya.


"Om!" Lea menarik ujung baju Luiz dengan. "Jangan hanya diam Om, Lea merasa lagi satu mobil sama kulkas," protes Luiz.


"Hmmm." Luiz hanya berdehem.


"Om, kenapa tidak sama Kak Yuna saja sih? Dia baik cantik dan rajin menabung," ucap Lea. "Jangan sampai Om menyesal kalau Kak Yuna diambil Kak Dhika. Apalagi setiap hari Lea lihat, Kak Yuna datang ke rumah sakit membawakan bekal makan siang untuk Kak Dhika," jelas Lea panjang lebar sembari mengunyah snack ditangannya.


"Astaga, pedas-pedas." Segera gadis itu mengambil botol berisi air di dashboard mobil.


"Makanya kalau makan itu lihat-lihat," sindir Luiz. Lelaki itu menepikan mobilnya saat melihat Lea kesusahan membuka tutup botol.


"Aish Om, pedas," ucap Lea sambil mengibas-ngibaskan tangannya.


"Sini," ketus Luiz mengambil botol itu lalu membuka. "Cepat minum." Dia membantu Lea menunggak isi dalam botol tersebut.


"Aish, kenapa masih pedas ya Om?" ujar Lea.


"Makan yang begini saja sudah merasa pedas. Lagian kamu beli snack tidak lihat-lihat. Main asal ambil saja," omel Luiz.


"Om, Lea itu sedang kepedesan kenapa Om malah mengomel sih?" protes Lea.


"Karena kamu itu ceroboh dan suka membuat masalah. Makanya saya mengomel," ucap Luiz memutar bola matanya malas. "Masih pedas?" tanya nya walau suka mengomel tapi lelaki itu perhatian.


"Masih Om. Lea minum es saja Om," ucap Lea menangis segugukan. Entahlah, kenapa hanya pedas sedikit saja dia tidak bisa?


"Ck, tidak bisa. Sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit," sahut Luiz ketus. Lea ini sama saja seperti adiknya Leona yang tidak mau pantang jika masalah makanan.

__ADS_1


Luiz memarkir mobilnya di lobby rumah sakit.


"Jangan turun. Biar saya yang buka pintu," ketusnya sambil turun duluan.


Lea memutar bola matanya malas. Sebenarnya dia jenggah mendengar Luiz yang marah-marah tapi perhatian.


"Ayo," ajaknya mengulurkan tangan agar Lea keluar dari mobil.


"Iya Om," sahut Lea menyambut uluran tangan lelaki tersebut.


"Awwww," rintih nya


"Lea." Sontak saja Luiz memeluk pinggang ramping gadis itu dengan wajah panik nya. "Ada apa?" tanya nya


"Tidak tahu Om, kenapa kaki Lea sangat sakit ya." Gadis tersebut meringgis kesakitan.


"Biar saya gendong," tawar gendong.


"Tidak mau, Om," tolak Lea.


Kening Luiz berkerut heran. Tidak biasanya Lea menolak saat ingin di gendong oleh dirinya. Biasanya wanita ini menempel padanya seperti prangko.


"Jadi mau jalan sendiri?" Luiz menaikkan alisnya menatap gadis itu heran.


"Lalu?" Luiz benar-benar heran dengan tingkah Lea.


"Lea jalan nya sambil peluk lengan Om saja," ucap Lea sambil tersenyum menggoda lelaki tersebut.


"Alasan," sindir Luiz


"Tahu saja Om," sahut Lea cenggesan.


"Ayo," ajak Luiz meminta gadis itu memeluk lengannya.


"Terima kasih Om Dokter," senyum Lea sumringah.


Mereka berjalan masuk, Lea berjalan pelan sekali. Dibalik wajah ceria yang suka membuat orang kesal sebenarnya gadis itu memendam kepedihan didalam dadanya. Dia membayangkan jika suatu saat dirinya benar-benar akan pergi meninggalkan dunia ini. Tetapi saat melihat Leona yang pernah berjuang melawan kanker, Lea percaya bahwa ada mujizat dibalik semua rasa sakitnya.


"Om, kita langsung ke ruangan Kak Dhika ya. Soalnya perasaan Lea tidak enak," ucap gadis tersebut.


Langkah Luiz terhenti. Dia menatap gadis yang tinggi nya hanya sebatas dada tersebut.

__ADS_1


"Tidak enak bagaimana?" tanya nya. Walau terlihat cuek dan dingin tetapi lelaki tersebut tak mampu membendung perasaan khawatir nya.


"Tawar, Om," sahut Lea asal sambil mengusap betis nya.


Tanpa pikir panjang Luiz langsung menggendong tubuh Lea. Entah kenapa perasaan nya kini takut, apakah karena Luiz sudah terbiasa dengan Lea? Hampir setiap hari gadis ini menganggu nya. Hidup Luiz yang awalnya datar hitam dan abu-abu, namun saat kedatangan Lea dalam hidupnya hari-hari yang hng dulunya membosankan karena sikap dinginya kini perlahan memiliki warna.


"Om, Lea lelah," ucap Lea lirih menyandarkan kepalanya di dada Luiz. Lelah.


Luiz terdiam dan terus berjalan tanpa ekspresi, tanpa peduli dengan para perawat yang menatapnya dengan kagum. Luiz dan Andika adalah dokter muda dan tampan di rumah sakit ini, keduanya menjadi incaran para dokter dan perawat jomblo.


Luiz membawa Lea masuk kedalam ruangan Andika. Bayangan pertama kali dia bertemu Lea terngiang-ngiang dikepala lelaki itu. Kini perasaan itu malah membuncah dada. Tidak mungkin dia menyukai Lea, bisa dikira pedofil dirinya nanti. Rentang usia nya dan Lea hampir 20 tahun. Lea lebih cocok jadi anaknya dari pada kekasih atau istrinya. Namun, Luiz tak bisa bohong jika kehadiran Lea perlahan menggeser posisi Yuna dihatinya.


"Kak Dhika," panggil Lea.


Andika yang tampak serius berbincang-bincang dengan Yuna sontak menoleh kearah pintu masuk.


"Astaga, Lea." Sontak Andika berdiri. "Kamu kenapa?" tanya nya panik sambil menghampiri kedua orang yang baru datang itu.


"Lea menggantuk, Kak," sahut gadis itu malah menguap beberapa kali.


"Lea, Kakak serius." Andika juga serius.


Sementara Luiz merenggut kesal. Ada-ada saja gadis yang didalam gendongan nya ini. Padahal dia dan Andika sudah khawatir setengah mati.


"Lea kamu baik-baik saja?" tanya Yuna ikut berdiri menghampiri Luiz dan Lea.


"Lea lapar, Kak," jawab gadis itu.


Andika setengah melirik Yuna. Terlihat sekali jika wajah Yuna berubah drastis saat melihat Luiz. Andika paham perasaan Yuna. Dia dan Yuna sudah berjanji untuk mencoba membuka hati masing-masing dan memulai lembaran baru bersama orang yang baru.


"Kamu ya Lea." Yuna mendengus kesal sambil memutar bola matanya malas.


Lea malah tertawa lebar. Tawa untuk menutupi segala luka yang membelit dadanya. Ya, sebelum benar-benar pergi meninggalkan dunia ini setidaknya dia tidak memberikan kesan yang buruk bagi orang-orang yang mengenalnya.


"Astaga Lea, hidung kamu," pekik Andika.


Luiz meletakkan tubuh Lea dengan panik. Sedangkan Andika langsung mengambil alat medis nya.


"Lea." Yuna juga tampak panik.


Luiz mengambil kapas lalu memasukkan kapas tersebut di lubang hidung Lea agar mencegah darah yang keluar dari sana.

__ADS_1


"Om panik ya?" Masih sempat-sempatnya gadis itu bercanda disaat seperti ini.


Bersambung....


__ADS_2