Cinta Setelah Penyesalan

Cinta Setelah Penyesalan
Mempertahankan


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹 🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Leona mengelus perut ratanya. Senyumnya mengembang. Bahagia sekali ketika mengetahui dirinya sedang hamil. Impian Leona sejak dulu, bahkan ketika dia masih menjadi istri Pedro. Dia ingin merasakan seperti apa perjuangan seorang ibu melahirkan bayi nya.


"Selamat datang ya, Nak. Mommy tidak sabar bertemu denganmu," ujarnya sembari tersenyum simpul.


Sebahagia inikah menjadi Ibu hamil? Leona benar-benar bahagia. Impiannya, telah terwujud. Dia berjanji akan menjaga kandungan nya dengan baik.


"Sayang," panggil Pedho.


Pedho masuk kedalam kamar dan menghampiri istrinya.


"Kakak." Leona langsung berdiri dan memeluk suaminya dengan sayang. "Kak aku bahagia sekali," ucapnya membenamkan wajahnya didada bidang pria kesayangan nya itu.


Pedho hanya diam saja sambil mengelus kepala istrinya. Bukan tidak senang. Sangat senang malah. Semua pria didunia ini ingin menjadi seorang ayah, ingin bermain dengan anak-anak nya. Sama dengan Pedho. Tapi kenapa harus ada yang dikorbankan. Bagaimana dengan istrinya nanti? Apakah Leona bisa berjanji akan bertahan dengannya.


"Kakak tidak senang?" Leona melepaskan pelukannya sambil menatap wajah suaminya.


"Siapa bilang? Aku senang kok, Sayang," kilah Pedho memaksakan senyum diwajah tampannya.


"Tapi kenapa wajah Kakak tampak tidak bahagia?" Leona cemberut hendak melepaskan tangannya dari pinggang Pedho.


Secepatnya Pedho menarik wanita itu kembali mendekat padanya. Dia tersenyum simpul. Suka sekali melihat wanita ini marah. Terlihat manis, imut dan juga menggemaskan.


"Sayang." Pedho tersenyum.


"Iya Kak." Leona mendongakkan kepalanya dan menatap suaminya.


"Boleh tidak aku bicara sebentar?" pinta Pedho. Bagaimanapun Leona harus tahu dan sang istri harus mau mengugurkan kandungan nya.


"Bicara apa, Kak? Bicaralah," ucap Leona sambil tersenyum hangat.


"Ayo duduk dulu," ajak Pedho merangkul bahu wanita itu.


"Mau di sofa atau di kasur?"


"Di sofa saja, Kak. Aku ingin duduk dipangkuan mu!" seru Leona manja. Sejak hamil dia memang suka sekali duduk dipangkuan suaminya.


"Sini, Sayang." Pedho duduk duluan lalu menepuk pahanya, agar wanita itu duduk dipangkuan nya.

__ADS_1


Leona melingkarkan kakinya dipinggang Pedho lalu duduk dengan nyaman.


"Kakak mau bicara apa?" tanya Leona seraya menatap wajah suaminya.


Tangan Pedho memeluk pinggang Leona. Posisi mereka sangat intim. Namun siapa yang bisa melarang, karena memang mereka suami istri.


"Kakak mau bicara apa?" ulang Leona sekali lagi.


"Sayang, ada satu hal yang harus kamu tahu." Pedho menarik nafas nya dalam. Haruskah dia mengatakan ini? Dia bisa saja bertindak tanpa persetujuan Leona. Namun dia tidak mau istrinya tahu dan malah membencinya nanti.


"Apa yang harus aku tahu, Kak?" kening Leona berkerut heran. "Apa Kakak menyembunyikan sesuatu dariku? tanya wanita tersebut menyelidik. "Kakak selingkuh?" tuding nya memincingkan matanya curiga.


"Astaga Sayang, kira-kira kali. Bagaimana bisa aku selingkuh? Jauh darimu saja aku tidak bisa," protes Pedho. Dalam hidupnya selingkuh tidak ada bagi Pedho. Jangankan selingkuh melirik wanita lain saja dia sama sekali tidak tertarik.


"Ya terus Kakak mau bicara apa?" tanya Leona sekali lagi. Sungguh dia benar-benar penasaran.


"Sayang." Pedho melihat Leona serius


"Iya Kak?" Leona menatap bola mata Pedho. Suaminya ini tidak hanya tampan tapi juga berwibawa dan menarik


"Ini tentang kehamilan mu." Pedho berusaha menguatkan dirinya untuk mengatakan hal yang mungkin akan menyakiti sang istri.


"Kenapa Kak? Memangnya kenapa dengan kandungan ku?" tanya Leona bertubi-tubi. Kenapa perasaan nya tiba-tiba gelisah. Apalagi tatapan Pedho yang tak biasa.


Deg


Leona menggeleng. Apa maksud Pedho mengugurkan kandungan?


Sontak Leona turun dari pangkuan Pedho dan berdiri sambil menggeleng menatap suaminya.


"Apa maksud Kakak?" Wanita itu melihat suaminya kecewa. "Aku tidak mau, Kak," bentak Leona air mata tak bisa lagi di bendung dan keluar begitu saja.


"Dengarkan aku dulu, Sayang," ucap Pedho lembut.


Leona sudah terisak. Tidak sampai kapanpun. Leona tidak akan pernah mengugurkan kandungan nya. Leona rela kehilangan apapun didunia ini, asal tidak kehilangan calon anaknya.


"Selama kamu mengandung, kamu tidak boleh mengkonsumsi obat dan kemoterapi. Jika tidak kemoterapi sel kanker itu bisa tumbuh lagi, Sayang. Obat juga bahaya bagi janin bisa membuat calon bayi kita cacat," jelas Pedho berusaha merengkuh istrinya.


Leona menahan Pedho dengan tangan saat pria itu ingin mendekat kepadanya.

__ADS_1


"Tolong Sayang dengarkan aku. Aku mencintaimu. Aku tidak mau kehilangan mu, Sayang. Mari kita gugurkan bayi itu dan fokus pada kesehatan mu. Setelah kamu sehat dan pulih, kamu bisa hamil lagi. Kumohon, Sayang," ucap Pedho dengan permohonan sambil menangkup kedua tangannya didada.


Leona menggeleng dan berjalan mundur. Hal itu tidak akan pernah terjadi bagi Leona. Kandungan nya adalah nafas dan jiwanya.


"Tidak Kak. Aku tidak mau. Aku tidak mau. Aku tidak mau membunuh anakku," tolak Leona dengan keras.


"Tapi sayang_"


"Bayi ini tidak berdosa. Dia tidak tahu apa-apa. Aku akan melakukan segala cara agar dia bertahan sampai melihat dunia," ucap Leona sambil terisak, tangannya masih menahan Pedho agar tidak mendekat.


"Tapi aku tidak mau kehilangan mu, Sayang. Aku tidak mau." Pedho berusaha menjelaskan dengan tangis agar Leona mengerti keadaan.


"Jika aku pergi setidaknya ada dia yang menemani mu, Kak. Jika kami berdua pergi, lalu bagaimana denganmu? Kumohon jangan paksa aku karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau membunuh darah daging kita." Kali ini Leona benar-benar memohon pada suaminya.


Pedho tak bisa berbuat dan berkata apa-apa. Dia sudah menduga jika Leona tidak akan pernah mau mengugurkan bayi mereka. Apalagi Leona sudah sangat lama ingin memiliki anak dan hamil.


.


.


.


.


"Kenapa wajahmu?" tanya Andika melihat Yuna. Seperti biasa Yuna akan datang membawa makanan untuknya. Lama-lama keduanya akan terbiasa bersama.


"Ternyata sakit ya, Kak. Mencintai seseorang dalam diam," ucap Yuna lesu sambil bersandar di bahu Andika.


"Kan Kakak sudah bilang dari awal, Yuna. Jangan memaksa perasaan, kalau tak mampu ya menyerah," ucap Andika sambil geleng-geleng kepala.


"Kondisi Lea bagaimana, Kak?" tanya Yuna melihat Lea yang tertidur nyaman diatas ranjang. "Kayaknya, Kak Luiz perhatian sekali sama Lea?" sambungnya penasaran. Yuna curiga jika Luiz menyukai Lea.


"Hem, cemburu?" goda Andika.


"Iya cemburu. Tapi hanya sebatas cemburu. Tidak bisa memiliki bukan?" ketus Yuna.


Andika terkekeh. Lucu sekali kalau Yuna ini sedang cemberut. Entahlah, Andika pun tak mengerti sifat asli Luiz. Lelaki itu memang selalu dingin pada setiap wanita. Apalagi pernah merasakan sakit di masa lalu, sehingga membuat dia seperti memasang tembok pemisah antara dirinya dan kaum hawa.


"Ayo temani Kakak makan," ajak andika.

__ADS_1


"Aku kenyang, Kak. Makan sajalah. Lagian aku membawakan ini untuk Kakak,"


Bersambung...


__ADS_2