Cinta Setelah Penyesalan

Cinta Setelah Penyesalan
Nyaman


__ADS_3

**Happy Reading 🍡🍡🍡🍡 🍡🍡🍡🍡**


"Bisakah kamu berjalan cepat sedikit?" sindir Pedro yang jenggah melihat Rere berjalan seperti siput.


"Tidak bisa, Tuan. Ini berat sekali," keluh Rere. Dia membawa tas besar Pedro yang berisi laptop dan beberapa berkas penting.


"Ck, sini." Pedro mengambil alih tas dari tangan Rere. "Begini saja tidak mampu, dasar betina," singgung Pedro. Pokoknya kalau bersama Rere dia menjadi pria yang suka mengomel tidak jelas. Gadis ini selalu membuatnya kesal.


Bukan nya tersinggung gadis itu malah biasa saja sambil berjalan dibelakang Pedro. Sekarang seperti Rere yang jadi boss, sedangkan Pedro seperti sang asisten.


Keduanya masuk kedalam lift. Pedro tak henti-henti nya mengomel karena pekerjaan Rere yang tepat. Walau begitu, Rere selalu menyelesaikan pekerjaan nya tepat waktu.


"Lain kali kalau mau meeting itu jauh-jauh hari datanya sudah di siapkan. Kamu tahu 'kan saya tidak suka orang yang bekerja lelet seperti kamu," omel Pedro sambil mendorong kening Rere.


"Aww, Tuan. Kasar," jerit Rere mengusap keningnya. "Ini namanya kekerasan dalam pekerjaan," ketus Rere.


Pedro memutar bola matanya malas. Wajah lelaki itu tampak kesal setengah mati. Akhir-akhir ini dia terlalu banyak marah, seperti nya dia perlu pergi ke rumah sakit untuk mengacek tensi darah nya akibat Rere yang berulah.


Keduanya keluar dari dalam lift. Rere tersenyum penuh kemenangan ketika melihat Pedro membawa tas nya. Padahal gadis itu sengaja mengerjai bossnya. Karena Rere bosan mendengar Pedro yang marah-marah setiap hari.


"Tuan, biar saya saja yang menyetir," pinta Rere.


"Kamu bisa?" Pedro memincingkan matanya curiga.


"Weh jangan kan menyetir Tuan, buat mobil saja saya bisa," sahut Rere membanggakan dirinya.


"Awas kalau kamu menabrakkan mobil saya, akan saya gantung kamu di menara Eiffel," ancam Pedro.


"Menara Eiffel di Paris, kita di Indonesia. Anda tidak bisa menggantung saya Tuan," jawab Rere cepat sambil tersenyum tanpa dosa.


"Sudah ayo cepat. Lama-lama stress saya bicara sama kamu," omel Pedro masuk kedalam mobil.


Rere ikut masuk dan duduk dibangku kemudi. Lalu gadis itu melajukan mobil nya dengan pelan meninggalkan gedung perusahaan.


"Kamu tidak kuliah?" Pedro melirik Rere.


"Saya cuti, Tuan," jawab Rere.


Mana sempat dia kuliah, jika satu jam tidak kelihatan saja boss nya itu sudah berteriak mencari keberadaan dirinya.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Pedro heran. Padahal sayang jika tidak dilanjutkan, apalagi Rere memiliki potensi yang tinggi.


"Tidak sempat, kan setiap hari kerja, Tuan," jawab Rere kesal.


"Kan bisa kuliah malam," sahut Pedro.


"Malam hari saya juga masih kerja, Tuan. Anda lupa jika tengah malam Anda suka meminta laporan pada saya," ucap Rere sengaja menyinggung lelaki tersebut.


Bagaimana Rere tak kesal tengah malam saja Pedro dengan gilanya selalu meminta laporan padanya. Lelaki yang memberi nya waktu hanya beberapa jam saja. Bagaimana sempat kuliah?


"Kamu menyalahkan saya?" Pedro memincingkan matanya


"Saya tidak mengatakan hal seperti itu, Tuan," sahut Rere memaksa kan senyum.


'Pasal pertama boss tidak pernah salah. Pasal kedua jika boss salah kembali ke pasal satu. Pasal ketiga boss tidak pernah salah,'


Rere masih mengingat surat kontrak yang dia tandatangani sebelum bekerja disini. Ya mau menyalahkan Pedro juga percuma karena boss nya itu tidak akan merasa bersalah. Namun, setidaknya Rere bisa lepas dari perjodohan dari kedua orang tua nya.


Sampai direstourant, Rere memarkirkan mobilnya. Mereka berdua turun dari mobil.


"Kamu harus presentasi kan dengan baik," ucap Pedro memperingatkan.


Pedro tersenyum licik, dia sengaja mengerjai Rere untuk presentasi meeting kali ini. Dia yakin jika gadis ini tidak bisa. Jika Rere tak bisa, dia bisa marah-marah lagi dan menghukum gadis itu.


Mereka masuk kedalam ruang VVIP yang sudah dipesan Rere untuk meeting hari ini. Sebab Pedro tidak mau ditempat yang terbuka. Lelaki itu tidak suka ditempat ramai. Sejak perpisahan nya dengan Leona, dia benar-benar menutup diri.


"Selamat siang Tuan Rein," sapa Pedro.


"Selamat si_" Lelaki itu terkejut melihat ada Rere dibelakang Pedro.


Rere langsung kikuk, gadis itu melambaikan tangannya dan tersenyum tanpa dosa. Namun dalam hatinya ingin sekali pergi dari sini.


"Kenapa Tuan Rein?" tanya Pedro ketika melihat lelaki itu melirik kearah belakang nya.


"Oh tidak Tuan Pedro," sahut Rein sambil menyalami Pedro.


"Perkenalkan ini Rere, sekretaris saya. Dia yang akan mempersentasikan grafik yang saya buat," ucap Pedro.


Lelaki itu mendelik dan mendengar tak percaya. Dia menatap Rere dari ujung kaki sampai ujung rambut.

__ADS_1


"Anda yakin, Tuan?" tanya Rein sedikit ragu.


"Memang nya kenapa?" tanya Pedro heran.


"Oh tidak," sahut Rein sambil tersenyum.


'Sial kenapa ada Kak Rein disini? Jangan sampai Kak Rein bongkar identitas ku. Bisa dipecat aku, dan gagal membuktikan pada Daddy. Lalu aku disuruh menikah dan memiliki anak,' jerit Rere dalam hati.


Rein adalah kakak Rere, lelaki itu sudah mencari adiknya namun tak menemukan di mana Rere. Sudah lama Rere kabur dari rumah karena perjodohan yang direncanakan kedua orang tua nya.


"Re, ayo presentasi," suruh Pedro.


Keringat dingin mengucur didahi gadis itu. Bukan dia tak bisa hanya saja dia ketakutan melihat kakak nya ada disini.


Sementara Rein tersenyum saja. Disini ternyata adiknya itu bekerja. Tetapi Rein tidak marah, dia ingin Rere dewasa dan mandiri karena selama ini Rere hanya membuat masalah saja.


.


.


"Setelah ini Daddy dan Mommy akan mengajakmu keluar negeri," ucap sang ibu.


"Mom, Lea tidak mau pindah sekolah lagi," renggek Lea. "Lea disini saja sama Kak Dhika," pinta Lea.


"Lea sayang. Kondisi kamu tidak sehat. Kita akan menetap disana untuk mengobati penyakit kamu," jelas Alena menarik hidung putrinya dengan gemas. "Tidak mau jauh dari Om Luiz ya?" goda Alena


"Mommy, apa sih?" ketus Lea. "Bukan karena Om Luiz tapi Lea sudah nyaman disini, Mom." Lea mendesah pelan.


"Nanti kalau kamu sudah sembuh total. Kamu bisa kembali lagi ke Indonesia," sahut Alena.


Dia sudah jera meninggalkan Lea tinggal bersama Andika, sebab anaknya ini sangat nakal dan suka main kabur-kaburan. Padahal kondisi Lea sedang tidak sehat yang harusnya dipantau. Namun, anak gadis nya itu suka berulah.


Wajah Lea tampak sendu. Entah kenapa dia keberatan kembali keluar negeri, padahal dulu tinggal disana adalah tempat paling nyaman untuknya. Apa benar dia merindukan Luiz?


"Ayo makan dulu," ucap Alena.


Lea baru saja menjalani kemoterapi beberapa waktu lalu. Untung dia kuat makan sehingga daya tahan tubuhnya kuat.


Wajah Lea tampak kesal. Dia memeluk boneka kesayangan nya dengan erat. Kenapa rasanya sedih sekali saat ingin pindah?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2