
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Tit tit tit tit tit tit tit
"Dok, jantung pasien melemah," lapor salah satu perawat
"Percepat tekanannya," perintah Luiz
Tit tit tit tit tit
Para Dokter dan perawat dibuang panik. Bagaimana tidak, layar monitor yang menunjukkan kinerja jantung Leona tiba-tiba menunjukkan garis lurus memanjang disertai dengan suara yang menggema.
"Leona," teriak Pedho seraya memeluk tubuh kekasihnya dengan tangis. Tidak, tidak. Leona-nya tidak boleh mati.
"Leona, kumohon jangan pergi. Ku mohon Leona. Bertahan demi aku, hiks hiks," Pedho menguncang tubuh lemah Leona.
Beberapa waktu terakhir selama berada di Amerika, kondisi Leona semakin menurun. Wanita itu tidak sadarkan diri sama sekali. Meski setiap hari diajak berbincang oleh Pedho. Namun, wanita tersebut tetap tak merespon baik dengan suara ataupun gerakkan tubuh.
Pedho masih menangis histeris memeluk tubuh Leona. nafasnya tersengal-sengal dan memburu. air mata sudah tak terhitung berapa banyak yang jatuh dipipinya.
"Permisi Tuan, biarkan Dokter memeriksa keadaan Nona," ucap beberapa perawat laki-laki pada Pedho.
Pedho melepaskan pelukkannya dan sedikit bergeser. Kekasih nya itu sempat kejang-kejang sebelum akhirnya tak bergerak sama sekali.
"Dok, jantung pasien berhenti berdetak," lapor salah satu perawat
"Ambilkan CPR," titah salah satu dokter yang bertugas menangani Leona dan tentunya dibantu oleh Luiz dan Andika.
"Ini, Dokter,"
Pedho yang memberontak dipasung oleh beberapa perawat laki-laki. Pria itu seperti orang gila yang habis obat. Dia berteriak memanggil nama Leona dan saling bersahutan dengan alat pendeteksi jantung yang sedari tadi berbunyi.
Sang dokter menarik nafas dalam lalu menekan alat itu berulang kali didada Leona.
Tit tit tit tit tit
'Leona kumohon buka matamu. Kembali Leona. Kembali Na. Kembali, kumohon Leona,' ucap Andika dalam hati sambil membantu para dokter menangani Leona.
__ADS_1
Dengan tangis Luiz membantu menekan berulang kali dada Leona menggunakan alat penyentrum. Berharap sentruman yang diberikan pada tubuh adiknya, bisa membuat wanita itu kembali bernafas.
Luiz menghentikan aksinya. Dia menggeleng sambil berjalan mundur dengan air mata yang membanjir deras membasahi pipi tampannya. Seluruh tubuhnya terasa mati rasa.
Tit tit tit tit tit
Garis lurus terlihat jelas memanjang, menandakan bahwa jantung Leona tidak lagi berdetak seperti biasanya dan tak menunjukkan reaksi pernapasan jantung didalam sana.
"Luiz, bagaimana Leona?" tanya Pedho dengan suara serak dan tubuh yang lemah
Luiz menggeleng, "Kita kehilangan dia, Pedho," jawab Luiz dengan lidah kaku. Luiz merasa tubuh nya tak memiliki roh untuk berdiri. Dia menolak dengan keras, jika sang adik dipanggil oleh sang pencipta.
"TIDAK. TIDAK. TIDAK," teriak Pedho menggema. Sementara para dokter dan perawat yang lain hanya bisa diam, dengan perasaan campur aduk.
"Leona tidak mungkin meninggal. Dia masih hidup. Dia masih hidup," tolak Pedho berulang kali. Tidak, dia tidak bisa hidup tanpa Leona. Wanita itu adalah jantung hatinya. Wanita itu alasan dia mampu melawati semua rasa sakit yang menjelajar di seluruh tubuhnya.
"Sayang, aku mohon. Buka matamu. Aku tidak bisa tanpa mu, Leona. Jangan pergi. Jangan pejamkan matamu Sayang, ayo buka matamu," desak Pedho menguncang tubuh sang kekasih dengan kembang berharap Leona akan mendengar suara nya, lalu kembali terbangun dan menatap nya dengan cinta.
Tubuh Leona kaku seketika. Tangannya dalam sekejap membiru. Wajahnya pucat tanpa darah. Seluruh aliran darah dalam tubuhnya telah berhenti bekerja.
"Andika. Luiz, cepat hidupkan Leona-ku. Aku akan membayar berapapun yang kalian mau. Tolong hidupkan dia. Hidupkan dia, Luiz. Ku mohon tolong aku. Bagaimana aku bisa hidup tanpa nya? Tolong, Andika. hidupkan dia," Pedho menarik kerah baju Luiz dan Andika secara bergantian dan memaksa kedua lelaki itu menghidupkan wanita nya kembali.
Tangis Luiz juga terdengar mengisak. Tak bisa dibohongi, bahwa dia merasakan separuh jiwa nya pergi. Leona adalah adik kesayangannya. Adik satu-satunya yang dia miliki didunia ini, saudara kandung sedarah.
"Leona," Pedho kembali berjalan kearah brangkar wanita yang sudah terbaring kaku tersebut.
Abraham, Juliet dan Yuna masuk kedalam ruang rawat Leona. Ketiga nya mematung seperti disambar petir disiang bolong.
Semua mematung ditempatnya saat tatapan mereka terfokus pada Leona yang sudah terbaring kaku lemah dan tak bergerak sama sekali.
"LEONA," teriak Yuna.
"LEONA," teriak Juliet histeris.
"LEONA." Abraham langsung tersungkur dilantai.
Juliet dan Yuna berhambur memeluk tubuh Leona yang masih terpasang alat-alat medis. Keduanya berteriak memanggil Leona dengan tangisan yang menggema didalam ruangan tersebut.
__ADS_1
"Leona." Juliet menangis dengan hebat. Memeluk tubuh putrinya yang sudah tak bernyawa.
"LEONA. LEONA. LEONA. LEONA." Wanita itu terus memanggil nama putrinya.
"Leona," Luiz yang tadi nya hanya terdiam kini menangis histeris. Memeluk Leona sambil menguncang tubuh sang adik dan berusaha membangunkan wanita yang sudah tak mungkin mendengar suaranya itu.
Pedho seketika diam. Tubuhnya tak bisa bergerak. Pasokkan udara didalam paru-paru nya mulai menipis. Dia sudah tak mampu menangis. Terasa jiwanya menghilang entah kemana. Tidak mungkin. Tidak percaya. Kekasih hatinya. Wanita hebat yang sudah mengubah hidupnya. Memberikan segalanya padanya, kini terbaring kaku tanpa darah. Apakah sejahat itu takdir padanya? Tidakkah Tuhan kasihan dan memberinya sedikit kebahagiaan?
Andika memeluk Pedho yang terdiam. Suara tangisan terdengar bersahutan didalam ruangan Leona. Semua orang menangis ketika wanita cantik yang berjuang melawan kankernya itu dinyatakan pergi untuk selamanya.
"Leona, jangan tinggalkan aku. Jangan pergi Leona. Aku mohon. Aku tidak punya sahabat lagi yang bisa ku ledek. Hanya kamu satu-satunya sahabat yang paling menyebalkan didunia. Jika kamu tidak ada, siapa yang akan menjadi temanku? Aku tidak mau berteman dengan orang lain, pasti kalau makan mereka suruh aku yang bayar. Kalau sama kamu, kita bisa bayar bersama hiks hiks." Yuna meraung dan merintih seraya menggoyangkan kaki dingin sahabat nya itu.
Semua orang menolak kepergian Leona. Kenapa secepat ini? Kenapa Tuhan tak memberikan mereka kesempatan untuk bersama lebih lama? Leona sudah cukup menderita dalam pernikahan nya. Lalu dia dikejutkan dengan penyakit mematikan ini. Ia berjuang mengorbankan segala hal, agar diberikan kesempatan untuk menghirup udara segar. Namun, kenapa Tuhan malah membuatnya hilang selama nya. Tidakkah Tuhan kasihan pada wanita rapuh tersebut? Hatinya disiksa dengan hebat. Tubuhnya dipaksa untuk kuat. Hingga akhir nya dia harus pergi selamanya dari permukaan bumi ini.
.
.
.
.
Pedro menikmati penerbangan yang cukup memakan waktu lama antara Indonesia ke Amerika.
"Kenapa perasaan ku tiba-tiba tidak enak?" tanyanya pada diri sendiri sambil mengusap tengkuk nya yang terasa dingin.
"Leona, semoga baik-baik saja, Sayang," lirih Pedro.
Bersambung....
Apakah Leona benar-benar meninggal?
Bagaimana read Pedro saat tahu mantan istrinya itu sudah berpulang ke pangkuan sang pencipta???
Yuk ikutin kisah nya.
Author harap gak ada yang maki-maki author di part ini...
__ADS_1
Love kalian banyak-banyak...
Untuk part ini author nulis nya sambil nangis, karena keingat sama almarhum Papa yang meninggal 5 tahun lalu..... Hiks...