
**Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Tessa dan Adam sampai ke negara tujuan mereka. Ya keduanya akan bersembunyi disini sampai Pedho menyerah mengejar mereka.
"Apa kamu bisa jamin kalau disini aman, Adam?" tanya Tessa menelusuri ruangan apartemen yang terlihat mewah.
"Percaya padaku. Aku tak pernah gagal dalam merencanakan sesuatu," sahut Adam menyombongkan dirinya. Lelaki itu menyandarkan punggungnya di sofa.
Tessa ikutan duduk. Wanita itu tampak gelisah tak menentu. Bagaimana tak resah jika Pedho mengejar nya seperti setan?
"Kenapa?" tanya Adam dengan kening mengerut.
"Entahlah, aku takut Pedho menemukan kita disini. Kamu tahu 'kan kalau Pedho memiliki banyak jaringan," ujar Tessa.
Adam mengangguk setuju. Sebenarnya mereka berdua salah mencari munsuh. Namun, demi membalaskan dendam dan rasa sakit, keduanya seolah tak peduli. Selama rasa sakit itu bisa dibalaskan, maka apapun akan dilakukan.
"Aku punya ide!" seru Adam tersenyum devil.
"Apa?" tanya Tessa memincingkan matanya melihat kearah Adam.
"Good news," sahut Adam.
Adam membisikkan sesuatu ke telinga Tessa. Wanita itu tampak mengangguk paham dengan senyuman miringnya.
"Ternyata kamu cukup pintar, Adam," goda Tessa duduk dipangkuan lelaki itu.
"Ya dan kamu salah karena sudah meremehkan ku," jawab Adam melingkarkan tangannya di pinggang Tessa.
Adam dan Tessa adalah dua manusia yang saling memuaskan satu sama lain. Namun, tanpa ikatan pernikahan. Mereka saling menguntungkan dalam segala hal demi membalaskan segala rasa sakit yang menghantam dada.
"Aku yakin Pedho takkan bisa melawan kita. Saat itulah kita akan menghancurkan Leona," ucap Admin menyusuri leher jenjang milik Tessa.
"Kamu benar. Pedho akan jadi milikku lagi," sahut Tessa menahan ******* yang hampir keluar dari mulutnya.
__ADS_1
"Yess, that's right, Baby," sahut Adam seraya sibuk menyesap leher Tessa.
.
.
Pedro tak berbicara apapun. Dia menyetir tanpa ekspresi.
Begitu juga dengan Tasya yang duduk disamping kemudi. Wanita itu seperti nya masih mengingat perkataan yang Pedro lontarkan padanya. Pengusiran lelaki itu seperti benar-benar menguak luka dihati nya.
"Apa yang kamu lakukan di Jakarta? Bukankah kamu sudah pulang ke Bandung?" tanya Pedro tanpa melihat Tasya.
"Aku sedang mengambil ijazah untuk melamar pekerjaan," jawab Tasya yang juga enggan melihat Pedro.
"Pekerjaan apa?" tanya Pedro penasaran. Pasalnya Tasya sudah di blacklist di rumah sakit mana pun.
"Apa saja yang bisa menghasilkan uang," jawab Tasya lagi.
Ya Tasya rela bekerja apa saja. Dia butuh uang, ibu nya sedang sakit parah sementara kedua adiknya juga membutuhkan uang untuk biaya sekolah. Tak ada jalan lain serta pilihan yang membuat Tasya memilih, selain bekerja.
"Bagaimana keadaan Ibu?" tanya Pedro lagi. Walau pria tersebut sudah tak bersama Tasya, namun dia tetap peduli pada orang tua dari mantan kekasih nya tersebut.
"Ibu stroke," jawab Tasya dengan mata berkaca-kaca. "Aku sadar Pedro, bahwa yang aku lakukan pada Leona selama ini memang salah. Aku telah merebutmu darinya," sambung Tasya sambil menyeka air matanya.
Tasya sangat menyesal dengan perbuatan nya. Dia telah menyakiti wanita baik hati seperti Leona. Mengambil Pedro dari wanita tersebut dan menghancurkan rumah tangga mereka. Tasya sadari, bahwa sekarang dia telah menerima karma dari kejahatan nya. Harusnya dia mendengar nasihat sang ibu sejak awal. Namun, dia masih berharap bahwa Pedro adalah lelaki yang akan menetap bersamanya hingga maut memisahkan.
Kedua orang yang pernah saling mencintai dalam waktu yang lama tersebut, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sikap Pedro yang dingin membuat Tasya tak nyaman. Dulu, pria ini begitu menyanyangi dan mencintai nya serta memperlakukan dia seperti ratu.
"Bagaimana kabar Leona?" tanya Tasya memecahkan keheningan.
Atmosfer didalam mobil terasa dingin, yang terdengar hanya deru mesin mobil yang menggema.
"Baik," jawab Pedro singkat.
__ADS_1
Setiap kali mengingat Leona, hatinya kembali berdenyut sakit. Setelah Leona menikah dengan kakak nya, Pedro tak pernah lagi melihat wanita tersebut. Apalagi Pedho sama sekali tak mengizinkan istrinya keluar.
"Kamu masih mencintainya?" tanya Tasya lagi.
Tasya harus membunuh segala perasaan yang menggebu didalam dada. Dia berusaha melupakan Pedro. Namun, kenapa hari ini mereka dipertemukan. Dalam ruang takdir yang menyakitkan. Jika waktu bisa di ulang kembali, Tasya tak ingin menganggu hubungan Pedro dan Leona. Dia akan mencari kebahagiaan ditempat lain. Namun, dirinya yang dulu terlalu berambisi untuk bahagia. Sehingga rela melakukan apa saja untuk mendapatkan Pedro.
"Masih. Perasaan ku tak berubah," jawab Pedro.
Tasya memejamkan matanya, menikmati setiap rasa sakit yang terasa menyeruak didalam sana. Sakit, sangat sakit. Beginikah dulu perasaan yang dirasakan oleh Leona. Mencintai lelaki yang mencintai wanita lain.
Sekarang, Tasya berada diposisi ini. Dimana dia masih mencintai Pedro, bahkan perasaan nya tak berubah sama sekali meski sudah berlangsung sekian lama. Namun, apalah daya jika Pedro menganggap dirinya, seorang wanita yang tak pantas untuk di cintai.
"Akan tetapi aku mulai sadar bahwa cinta tak bisa dipaksakan," sambung Pedro.
"Kamu ingin menyerah?" Tasya melirik mantan kekasih nya tersebut.
Tasya masih ingat betapa depresi nya Pedro, saat kehilangan Leona. Lelaki itu seperti tak memiliki semangat hidup. Saat putus dari nya, Pedro tak segila itu. Namun, ketika berpisah dari Leona. Dia seperti orang gila yang kehilangan arah dan tujuan hidupnya.
"Aku tak mau menganggu Leona lagi. Aku akan merelakan dia bahagia bersama Kak Pedho. Aku sudah ikhlas melepas nya," ucap Pedro.
Setelah melihat Pedho dan Leona bersanding di pelaminan. Pedro mulai sadar bahwa dia tidak lagi memiliki kesempatan untuk mendapatkan hati Leona kembali. Wanita itu sudah tak mencintai nya, Pedro bisa lihat dari tatapan mata Leona yang biasa saja padanya.
"Maaf Pedro, seandainya dari awal aku memilih pergi dari hidup kamu. Pasti kamu dan Leona hidup bahagia," ucap Tasya merasa bersalah.
"Aku tak menyalahkan mu. Ini salah ku yang lambat menyadari perasaan yang seharusnya aku perjuangkan," sahut Pedro.
Tasya tidak salah. Dirinya lah yang salah, harusnya dia bisa tegas atas perasaan nya sendiri bukan malah membiarkan hatinya berpoligami. Pedro yang membuat rumah tangga nya hancur, bukan orang lain. Dia tidak bisa membedakan antara cinta dan obsesi. Sekarang, dia harus menikmati penyesalan nya seumur hidup.
"Pedro, berhenti disini saja," pinta Tasya sambil melepaskan sealbeat di tubuhnya.
Pedro menepikan mobilnya.
"Terima kasih Pedro, sudah mengantarku," ucap Tasya mengangkup kedua tangannya didada.
__ADS_1
Bersambung...