Cinta Setelah Penyesalan

Cinta Setelah Penyesalan
Memendam rasa


__ADS_3

Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡


Luiz masuk kedalam ruangan. Lelaki itu duduk dikursi kebesarannya. Terlihat dia lelah. Entah apa yang membuatnya lelah? Orang pendiam tanpa banyak bicara memang susah ditebak. Wajah datar setiap hari dan irit bicara adalah ciri khas yang membuat orang lain tak bisa menebak apa yang sedang membuat nya resah.


Luiz menatap kosong langit-langit ruangan nya. Tatapan lelaki itu tampak sendu.


"Yuna," gumam nya.


Bukan, bukan Luiz tak memiliki rasa pada sahabat adik nya itu. Hanya saja dia terlalu pengecut untuk kembali jatuh cinta setelah ditinggalkan dan dipatahkan dengan hebat. Luis tak siap merasakan sakit untuk yang kesekian kalinya. Dia bukan pria yang kuat dalam hal perasaan. Terkadang dia lemah karena hatinya sendiri.


"Maaf, Yun," lirihnya. "Kamu pantas mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari aku. Aku takut tidak bisa mencintaimu sepenuh hati. Aku juga takut saat aku benar-benar jatuh cinta, kamu malah pergi meninggalkan luka yang sama seperti orang yang pernah ada," ucap Luiz bermonolog sendiri.


Jujur saja Luiz cemburu ketika Andika memeluk Yuna saat mereka di New York. Dia marah. Dia ingin memberontak. Tapi apa hak nya. Dia sama sekali tak melupakan hak atas hidup Yuna. Bahkan mungkin untuk cemburu saja, Luiz tidak pantas.


Dia yang mendinginkan Yuna. Dia yang membuat wanita itu berhenti mengejarnya. Semua itu, bukan karena Luiz tak memiliki rasa. Dia cukup sadar diri karena perasaan nya yang belum benar-benar pulih karena trauma masa lalu. Dia masih terjebak dengan cinta yang telah mematahkan hatinya dengan hebat.


"Yuna, kamu adalah wanita yang baik. Kamu harus menemukan lelaki yang lebih baik dari aku. Mungkin, Andika bisa menjadi salah satunya," ucap Luiz lagi tersenyum getir.


Luiz kembali melamun sambil menatap keluar jendela ruangannya yahh transparan. Rumah sakit ini memang mewah dan elit. Ruangan para dokter saja memiliki fasilitas lengkap layaknya hotel bintang lima. Hingga tak heran jika rumah sakit ini, menajdi salah satu rumah sakit termahal dengan pelayanan yang baik.


"Aishh, aku lapar," gerutu nya.


Tadi dia menolak ajakan Andika karena Luiz tak mau semakin menyakiti Yuna. Padahal dia menyakiti menyangkal hatinya sendiri. Dia lah yang paling tersakiti, namun dia bisa menyembunyikan rasa sakit itu lewat tatapan dingin nya.


Luiz merenggut kesal. Perutnya tak bisa diajak kerja sama. Lelaki itu berdiri sambil melepaskan jas kedokteran miliknya. Lalu melenggang keluar.


Brakkkkkkkkkkkkkk


"Awww," rintih seorang gadis yang ditabrak oleh Luiz.


"Maaf. Maaf. Nona, saya tidak sengaja," ucap Luiz menangkup kedua tangannya didada dan hendak membantu gadis tersebut berdiri.


"Tidak perlu," tolak gadis itu menepis tangan Luiz, lalu berdiri.

__ADS_1


"Apa ada yang luka?" tanya Luiz merasa bersalah karena gadis itu seperti meringgis kesakitan.


"Kaki saya patah," jawab gadis kesal dan juga ketus. "Makanya Dokter, kalau jalan itu mata dan kaki di gunakan secara bersamaan. Jangan melamun. Laki-laki putus cinta kok melamun," sindirnya mengelus lututnya yang sedikit merah akibat terjerembab ke lantai.


Luiz mendelik, dia menatap aneh gadis itu. Dalam hati lelaki tersebut berpikir, bagaimana bisa gadis ini tahu jika dia sedang patah hati? Apa gadis ini seperti cenayang yang bisa membaca pikiran orang.


"Awww," rintih gadis itu saat hendak berjalan, kaki nya sedikit mengeluarkan darah.


"Biar saya bantu," tawar Luiz merasa kasihan dengan gadis yang ditabrak tadi.


"Tidak perlu. Bantuan Anda tidak akan membuat rasa sakit di kaki saya sembuh," kelakar gadis itu menatap Luiz dengan jenggah.


Lagi-lagi Luiz menatap gadis ini aneh. Masih muda. Tapi kenapa mulutnya seperti cabai, pedas level sepuluh.


Gadis itu memaksa kakinya berjalan sambil sesekali meringgis kesakitan. Mulutnya komat-kamit seperti dukun baca mantra. Dia mengabsen seluruh nama bintang buas dan mengutuk Luiz dengan kesal. Padahal dia buru-buru tapi karena bertemu Luiz dia jadi terlambat.


Luiz mengekor gadis keras kepala itu. Bagaimanapun dia penyebab gadis kecil itu jatuh.


"Awwww," rintih gadis itu berpegangan pada tembok. Entah apa yang terjadi pada tubuhnya, dia sama sekali tak boleh terbentur sedikit pun.


"Dok_" gadis itu terkejut dan sontak memeluk leher Luiz dengan cepat kalau tidak mungkin dia akan jatuh lagi.


"Dokter lepaskan saya," pekik gadis itu memberontak sambil menggoyangkan kaki nya.


"Diam. Kamu mau saya cium," ancam Luiz.


Gadis itu langsung terdiam dan menutup mulutnya lalu menggeleng dengan wajah polosnya dan mata nya yang mengerjab-ngerjab. Hal itu sukses membuat Luiz terpesona karena perempuan yang di gendong ini malah terlihat imut dan juga menggemaskan.


"Menurutlah," ketus Luiz. Lelaki itu diama tersenyum penuh kemenangan, ketika melihat gadis itu malah terdiam seperti anak ayam dan takut pada induknya.


Luiz membaw gadis tersebut masuk kedalam ruangan nya. Tadinya tidak ada darah, hanya merah saja. Kenapa sekarang lutut gadis itu malah mengeluarkan banyak darah?


Luiz meletakkan dengan pelan wanita itu diatas brangkar ruangannya. Segera dia mengambil obat-obat luka untuk menahan darah yang keluar.

__ADS_1


"Tadi hanya tergores. Kenapa sekarang malah darahnya banyak?" tanya Luiz tak hampir pikir.


"Hiks hiks, Om Dokter sakit," renggek gadis itu segugukan. Air matanya benar-benar jatuh. Dia tidak tahan sakit.


"Tahan sebentar, saya akan obati," ucap Luiz


Gadis tersebut itu mengangguk patuh. Dia mengenakan dress pendek selutut dan sneaker shoes yang membungkus kaki jenjangnya.


Cukup lama Luiz mengobati luka di kaki gadis itu. Dia heran, ada yang tak beres dengan gadis ini. Tidak mungkin luka tergores tapi bisa mengeluarkan darah yang banyak.


"Siapa nama mu?" tanya Luiz menyimpan obat-obat itu kembali.


"Untuk apa Om Dokter menanyakan nama saya?" tanya nya memincingkan matanya curiga. "Om Dokter ingin culik saya, terus minta tebusan begitu pada Daddy dan Mommy?" tuding nya.


Luiz menggeleng, dengan gemes lelaki itu mencentil kening sang gadis.


"Awww. Kejam," rintihnya mengusap jidatnya.


"Kamu pikir saya penculik bocah ingusan seperti kamu?" ujar Luiz tak habis pikir. Tega sekali gadis ini mengatakan dirinya penculik.


"Ya siapa tahu. Bisa saja seperti di novel-novel, berkedok sebagai dokter tapi sebenarnya penculik agar mudah mencari mangsa," tuduh gadis itu.


Luiz tak menanggapi. Bisa gila dia jika meladeni gadis kecil ini.


"Siapa nama kamu?" tanya Luiz sekali lagi


"Lea, Om," jawab gadis itu sambil menekan-nekan perban di lutut nya.


"Jangan panggil Om. Kamu pikir saya Om-om," protes Luiz tidak terima dia dipanggil om


"Terus Lea harus panggil apa? Bapak?" ujar nya tampak berpikir keras.


"Sudahlah. Kamu sudah bisa jalan 'kan, sekarang keluar dari ruangan saya," usir nya.

__ADS_1


"Idih, tidak punya hati sekali Om. Kaki Lea masih sakit Om. Lea begini juga gara-gara Om," gerutu Lea.


Bersambung....


__ADS_2