
**Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺*
Alexander menatap putra nya jenggah. Setelah mendengar apa yang dilakukan Pedro pada Leona, ia sebagai seorang Ayah merasa gagal mendidik anaknya.
"Maaf Pa. Ma," Pedro hanya bisa menunduk menyesali semua perbuatannya.
"Harusnya kamu minta maaf pada Leona bukan sama Papa dan Mama," ucap Alexander tak habis pikir.
Pedro menunduk malu. Ia merasa tak pantas menjadi seorang suami. Sekarang ia menolak untuk bercerai dengan Leona. Namun apakah Leona masih mau mempertahankan dirinya yang sudah melakukan banyak kesalahan itu. Menyesal tak sepenuhnya bisa membuat yang pergi datang kembali, begitu lah sekarang posisi Pedro.
"Pa, Ma. Tolong aku. Aku tidak mau berpisah dari Leona," mohon Pedro. Kepada siapa lagi ia harus meminta tolong, agar perceraian nya dengan Leona di batalkan!
Jika Anjani menatap putranya dengan kasihan. Maka berbeda dengan Alexander yang melihat Pedro malas. Kenapa baru sadar sekarang jika dia tidak ingin berpisah dari Leona? Kemarin-kemarin kemana?
"Lalu bagaimana dengan Tasya-mu?" tanya Alexander. Meski ia sudah tahu apa yang terjadi antara Tasya dan anak lelaki nya.
Pedro menggeleng. Setiap kali menyebut nama Tasya luka di hatinya kembali teriris sakit. Rasa perih karena penghianatan itu kini perlahan membawa nya pada arus kebencian.
"Tasya mengkhianati ku Pa," sahut Pedro sendu. "Dia hamil anak dari pria lain," sambungnya menyeka air matanya.
Alexander tersenyum mengejek. Walau Pedro anaknya tapi ia sama sekali tidak membela apa yang sudah Pedro lakukan. Dia memang kasihan tapi untuk membantu Pedro kembali pada Leona, Alexander tidak bisa. Ia tidak mau Leona di sakiti lagi oleh Pedro.
"Kamu sudah rasakan berada di posisi Leona? Sekarang kamu paham 'kan sakit nya dikhianati?" Alexander geleng-geleng kepala. "Sebaiknya kamu lepaskan Leona. Sekuat apapun kamu menolak perceraian kalian, kamu tetap tidak akan bisa membuat Leona kembali sama kamu," ucap Alexander.
Pedro menggeleng. "Aku tidak bisa Pa. Aku sudah mencintai Leona. Aku ingin Leona tetap bersama ku. Aku yakin kami bisa bahagia," Pedro tetap keukeh meminta agar Leona bertahan dengan nya.
Seseorang akan sangat-sangat berarti setelah ia pergi. Meski tak ada jejak kaki. Namun, rasa sayang masih melekat di hati. Sekarang, Pedro tak bisa mengenggam Leona lagi. Ia berusaha mengejar namun takkan tergapai. Sebab ia sudah menjadi orang asing dari cinta yang dianggap pernah mati.
__ADS_1
"Bisa tidak bisa. Kamu harus bisa Pedro. Jangan buat Leona menderita lagi karena perbuatan mu," nasehat Alexander. Pedro ini memang keras kepala dan susah di atur. Andai saja dia dari awal menerima pernikahan ini dan mencintai Leona, pasti ia takkan menyesal seperti saat ini.
Pedro berdiri dari duduknya. Bertemu kedua orangtuanya sama sekali tidak memberinya solusi. Lelaki itu meninggalkan kediaman kedua orang tua nya.
"Hallo Ben, cari pengacara untuk mengurus perceraianku dengan Leona. Pastikan sidang ini kita yang memenangkan nya. Apapun alasannya aku tidak mau berpisah dengan Leona. Bayar berapa pun, asal Leona kembali padaku," setelah selesai berbicara didalam telpon lelaki itu menyimpan kembali ponselnya.
Sekarang Pedro akan melakukan berbagai cara agar tidak berpisah dari Leona.
"Leona sayang. Kamu tidak boleh meninggalkan aku. Kamu yang bilang kalau kamu cinta sama aku dan aku mohon Leona. Berikan aku satu kesempatan lagi untuk memperbaiki hubungan kita. Aku berjanji akan menjadi suami yang baik untuk kamu," ucap Pedro pada dirinya sendiri.
Kehilanganmu Leona bagai kehilangan separuh dari hidupnya. Ia baru menyadari jika perasaan nya sudah berpaut pada istrinya itu. Namun, ia terlambat menyadari semua rasa yang seharusnya ada.
Pedro masuk kedalam rumah nya. Sudah hampa tengah malam. Dia ingin kerumah sakit menemui sang istri. Tapi Pedro yakin bahwa ia akan diusir dari sana oleh Pedho dan Andika.
"Malam Tuan. Ada Nyonya Tasya menunggu Anda," lapor Bik Lian. Bik Lian merasa kehilangan Leona. Seandainya ia bisa ikut Leona, pasti wanita paruh baya itu akan merasa senang dan juga bahagia.
"Pedro," Tasya tersenyum menyambut Pedro.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Pedro menata Tasya tak suka.
Tasya menahan emosinya. Tak pernah Pedro bersikap dingin dan ketus padanya. Biasanya lelaki itu memperlakukan nya bak ratu dongeng.
"Kamu baru pulang Sayang?" wanita itu langsung memeluk lengan Pedro dengan agresif. Bagaimana pun, Pedro harus kembali menjadi miliknya. Ia rela menggugurkan bayi dalam kandungan nya demi bisa bersama Pedro
"Jangan peluk-peluk," Pedro menepis kasar tangan Tasya. "Sebaiknya kamu pergi Tasya," usir Pedro.
"Aku tidak akan pergi sebelum kamu kembali sama aku," sahut Tasya santai lalu duduk di sofa.
__ADS_1
Urat malu wanita itu seperti sudah putus. Ia yang bermain api, lalu dia juga yang ingin memadamkan api tersebut. Ia masih mengharapkan sesuatu yang sudah jelas-jelas tidak akan bisa dia dapatkan lagi.
Pedro tak peduli, ia berjalan masuk menuju kamarnya. Tasya malah mengikuti lelaki itu dan ikut masuk kedalam kamar Pedro tanpa rasa takut sedikitpun.
"Apa yang kamu lakukan Tasya?" Pedro menatap wanita itu tajam. "Aku sudah katakan sama kamu. Kita tidak ada hubungan apa-apa lagi dan aku bukan kekasihmu," suara Pedro naik satu oktaf. Tak ada lagi rasa cinta dan sayang nya untuk wanita yang ada didepan nya ini.
"Pedro, aku tidak mau pisah sama kamu. Aku akan gugurkan bayi dalam kandungan ku, asal kamu balik lagi sama aku," ucap Tasya memegang lengan Pedro.
Pedro mendengar tak percaya. Ia baru sadar bahwa wanita yang ia cintai ini berhati iblis. Ada wanita yang tega ingin membunuh bayi nya sendiri hanya karena obsesi.
"Kamu sudah gila," Pedro menghempaskan tangan Tasya dengan kasar. "Sekarang kamu keluar dari kamar aku," usir nya.
"Aku tidak mau," tolak Tasya.
Kesabaran Pedro mulai habis. Ia menarik Tasya dengan paksa untuk keluar dari kamar nya.
"Pergi kamu," Pedro mendorong Tasya dengan kasar.
"Awwww," Tasya terjerembab diatas lantai. "Sayang kenapa kamu kasar sekali?" ia berdiri sambil meringgis kesakitan karena lututnya luka.
Pedro tak menanggapi lelaki itu menutup pintu kamar nya dengan kasar. Nafasnya memburu menahan amarah.
Sementara Tasya merenggut kesal. Wanita tidak tahu diri itu masih berharap di perlakukan seperti ratu setelah melempar batu.
"Aku tidak akan menyerah Pedro. Kamu harus jadi milik ku. Aku akan singkirkan siapapun yang menghalangi aku, termasuk Leona," setelah berkata demikian wanita itu melenggang pergi dari rumah Pedro.
Antara obessesi dan cinta, begitu yang di rasakan oleh Tasya. Ia tidak bisa kehilangan Pedro karena lelaki itu adalah gudang uang nya. Cinta, dia tidak tahu sebesar apa cinta nya Pedro. Karena jika ia mencintai lelaki itu ia takkan mengkhianati Pedro dan mencari cinta yang lain
__ADS_1
Bersambung..