Cinta Setelah Penyesalan

Cinta Setelah Penyesalan
Menanti mu


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Sejak Leona dinyatakan koma, Pedho menyiapkan ruangan VVIP yang dilengkapi dengan fasilitas mahal.


Pedho tak mengizinkan siapapun menyentuh Leona, termasuk Juliet dan Yuna. Dia memutuskan untuk merawat wanita itu sendiri dengan tenaga dan waktunya. Pedho ingin menghabiskan sisa hidupnya untuk menjaga sang kekasih hati. Meski pedho tidak tahu sampai kapan Leona betah tertidur seperti ini.


"Sekarang kamu sudah bersih dan wangi Sayang. Aku ingin mengganti bajumu tapi tidak bisa," ujar Pedho sendu. "Coba kamu bangun, aku pasti bisa memasangkan baju ditubuh mu," lirih Pedho.


Lelaki itu mengusap kepala Leona. Membersihkan wajah Leona dari minyak menggunakan tissue basah. Wajah sang kekasih pucat seperti tak berdarah. Sudah lama, sangat lama Leona terpejam begini. Tidak adakah niat agar bangun kembali?


Tak tahan. Tak tega. Air mata luruh lagi dipipi Pedho. Ternyata pura-pura kuat tak semudah yang Pedho bayangkan. Bagaimana pun dia berusaha tegar, tetaplah dia pria lemah dan rapuh saat melihat wanita yang begitu dia cintai terbaring tak berdaya.


"Ayo bangun Sayang. Sampai kapan kamu akan terus tertidur seperti ini. Aku merindukanmu. Aku selalu menantimu disini, menunggu kamu bangun," lirihnya. Air mata murahan lelaki itu jatuh lagi dipipi tampan nya.


Secepatnya Pedho menyeka air matanya. Tidak, dia tidak boleh terus-menerus menangis. Dia harus kuat. Demi Leona. Demi impian dan cita-cita nya. Pedho percaya kekasih hatinya akan sembuh. Leona akan kembali tersenyum padanya dan bermanja-manja seperti biasa.


Sambil terisak Pedho berbicara dengan Leona. Berharap wanita itu mendengar ucapannya. Rasanya Pedho tidak kuat? Apa yang harus dia lakukan? Jika bisa, Pedho ingin menggantikan posisi wanita yang terbaring itu. Biar dia saja yang sakit, asal Leona bangun dan sembuh.


Bagaimanapun Pedho tidak pernah memungkiri, bahwa Leona menjadi satu-satunya wanita yang penting dalam perjalanan hidupnya. Wanita yang tidak mudah dia hilangkan dari pikiran nya. Semesta dan harga berharga yang sangat dia perjuangkan. Tak ada sesak atau lelah ketika dia menunggu Leona seperti ini. Meski pedih dan perih saat melihat kekasih hatinya terbaring dengan tubuh lemah diatas ranjang. Namun, dia berusaha menjadi pria kuat di saat keadaan menghantam tubuh dan jiwanya. Tak banyak yang tahu, jantung Pedho takkan tenang saat rindu menghampiri nya. Tak ada tenang saat merindukan kemanjaan dan kecerewetan dari Leona.


Pedho tak akan pernah bisa lari. Pelukkan yang pernah melekat pada tubuhnya adalah kesungguhan hati. Dia tak akan bisa membunuh rindu dengan racun apapun. Perasaan nya dihantui kecemasan. Sesuatu yang akan kembali membawanya kembali mencari. Mencari kehangatan dari tubuh Leona. Mencari rasa rindu yang mulai mengembang dalam dada. Kapan semua ini akan berakhir? Dia lelah dengan hidupnya yang hampa tanpa suara yang sudah membuat nya candu.


.


.


.

__ADS_1


.


Pedro tiba di apartemen nya. Lelaki itu langsung duduk disofa dan menyalakan laptop nya. Dia tampak sibuk berselancar di tombol keyboard laptop yang ada dipangkuannya.


"Rumah sakit John Hopkins Hospital, Baltimore," gumam lelaki itu.


Pedho menutup laptop nya lalu bergegas keluar dari apartemen. Langkahnya terlihat lebar dan tak sabar.


"Leona, tunggu aku Sayang," ucapnya sambil masuk ke dalam mobil.


Lelaki itu menancapkan gas menuju rumah sakit. Beberapa hari dia mencari tempat Leona di rawat. Namun, seperti nya informasi tersebut sengaja di sembunyikan oleh Pedho dan Luiz, agar tak ditemukan oleh orang asing. Pedro yang memiliki banyak relasi di New York, dengan mudah menemukan rumah sakit tempat Leona di rawat.


Sampai dirumah sakit. Lelaki tampan yang sudah bergelar duda tersebut berjalan dengan setengah berlari. Dia seperti buru-buru.


Tak lupa Pedro bertanya pada perawat di mana ruangan Leona. Tentu nya harus melewati beberapa perdebatan karena ruangan Leona tidak boleh di ketahui oleh sembarangan orang.


"Damn ****," umpatnya ketika melihat para pengawal berjaga didepan ruangan Leona.


Pedro tetap maju dan tak peduli jika ada badai didepan nya. Dia hanya ingin bertemu Leona. Dia merindukan mantan istrinya itu. Dia ingin memeluk Leona sepuas hati nya, untuk melepaskan semua rindu yang mengendap didalam dada.


"Maaf Tuan, Anda siapa?" tanya salah satu pria berbaju hitam dengan badan kekar. Pengawal yang ditugaskan khusus menjaga ruang rawat Leona.


"Saya mau masuk," ujar Pedro tegas.


"Maaf, tidak boleh ada orang yang masuk tanpa izin dari Tuan Pedho dan Tuan Luiz," ucap salah satu nya tegas sambil menahan tubuh Pedro yang hendak menerobos masuk.


"Lepaskan. Saya ingin bertemu dengan istri saya. Minggir kalian," ucap Pedro memberontak dan bahkan suaranya terdengar menggema.

__ADS_1


Namun, kedua pengawal itu tetap tak memperbolehkan Pedro masuk. Keduanya ditugasnya untuk berjaga-jaga didepan ruang rawat Leona. Sebab Pedho curiga jika Tessa atau Pedro datang dan menyakiti kekasih hati nya itu lagi.


Pedho keluar dari ruangan mendengar ada suara keributan. Lelaki itu marah karena suara teriakkan Pedro terdengar dari luar.


"Kak," panggil Pedro.


"Ada apa?" tanya Pedho menatap adiknya dingin. Hubungan keduanya memang tak pernah akur, apalagi dulu Pedro pernah menjadi suami Leona.


"Izinkan aku bertemu Leona, Kak. Aku ingin melihat nya," pinta Pedro sambil menangkup kedua tangannya didada. Dia hanya ingin bertemu Leona, itu saja.


"Mau apa?" tanya Pedho lagi tanpa melihat sang adik.


"Aku hanya ingin melihat nya," jawab Pedro. "Tolong Kak, kali ini saja," mohon Pedro sekali lagi.


Pedho menatap adiknya dengan tajam dan juga dingin. Dia tidak mau Pedro bertemu Leona. Namun, saat melihat tatapan rapuh di mata adiknya itu ada rasa tidak tega dihati Pedho.


Lelaki itu masuk duluan ke dalam. Dia tidak bisa membiarkan Pedro menemui Leona seorang diri. Bisa saja Pedro memiliki niat yang buruk dan melakukan sesuatu yang jahat pada Leona. Maklum orang yang jahat seperti Pedro akan sulit berubah.


Pedro menyusul masuk. Jantung nya berdegup kencang seperti baru pertama kali bertemu Leona. Kali ini, ada rasa berbeda yang tidak bisa Pedro jelaskan lewat kata. Apakah perasaan cinta nya akan terbalaskan? Sedangkan Leona enggan menatap wajahnya.


Pedro mematung ditempatnya ketika tatapannya tertuju pada seorang wanita yang terbaring diatas brangkar dengan beberapa selang yang menempel dibagian tubuhnya yang lain. Wajah wanita itu tampak pucat seperti tak berdarah.


**Bersambung....... **


jangan lupa dukungan nya buat author yaaa guys ..


Love kalian semua banyak2....

__ADS_1


Maksih baut yang selalu nungguin. maaf lama update heheheh...


__ADS_2