Cinta Setelah Penyesalan

Cinta Setelah Penyesalan
Berangkat keluar negeri


__ADS_3

**Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺 🌺


Setelah menyiapkan segala keperluan Leona selama berada diluar negeri, hari ini Luiz dan Andika akan membawa wanita cantik itu untuk terbang ke negeri Paman Sam. Berharap mencari kesembuhan dan Tuhan memberikan Leona satu kesempatan untuk hidup kembali.


Abraham dan Juliet ikut berangkat bersama Yuna juga yang tak mau jauh dari Leona. Tentu nya Pedho yang setia mendampingi.


Pedho mendapat restu dari Abraham dan Juliet untuk menjadi seorang kekasih dari Leona. Meski awalnya kedua pasangan tersebut sempat keberatan. Namun, akhirnya Pedho berhasil meyakinkan calon mertuanya bahwa ia tidak sama dengan Pedro, sang adik.


Kondisi Leona semakin menurun. Kemoterapi yang ia jalani selama beberapa waktu terakhir, membuat saya tahan tubuhnya tidak stabil.


"Ayo,"


Pedho menggendong wanita yang dia cintai kedalam pelukannya. Kepala plontos yang kini tak bisa Leona tutupi lagi terlihat jelas disana.


"Kak," panggil Leona wajahnya sangat pucat.


"Iya Sayang, kenapa?" tanya Pedho dengan senyuman lembutnya.


"Wangi parfum Kakak enak. Aku suka," wanita itu mengendus-enduskan hidungnya didada bidang Pedho.


Pedho terkekeh. Sambil berjalan pelan memasuki bandara lelaki itu menggendong Leona panjang pelan dan telaten seakan takut jika wanita yang ada digendongannya ini akan terjatuh.


Leona melingkarkan tangannya dileher Pedho. Jujur dia lelah. Seluruh tubuhnya sakit. Ia sempat histeris ketika melihat matanya bengkak seperti zombie, dia pikir dirinya sudah menjadi hantu. Ternyata itu adalah efek dari kemoterapi yang mereka jalani.


Abraham merangkul bahu istrinya yang menangis segugukan. Kondisi semakin memburuk. Bahkan wanita itu sudah tak mampu berjalan. Beberapa anggota tubuh nya melumpuh akibat kemoterapi yang masuk kedalam tulang-tulang nya.


Begitu juga dengan Yuna. Ia berjalan ditengah antara Luiz dan Andika sambil menunduk dan menahan lelehan bening diwajahnya.


"Kamu harus kuat," bisik Luiz pada Yuna. "Jadilah penyemangat untuk Leona. Jangan tunjukkan air matamu," ucapnya dingin.

__ADS_1


Yuna mengangguk dan menyeka air matanya. Sebagai sahabat yang sudah menganggap Leona sebagai adik, ia tak bisa kuat untuk menahan air matanya saat Leona drop total seperti itu. Yuna benar-benar takut kehilangan Leona untuk selamanya.


Mereka masuk kedalam pesawat. Pedho mendudukan Leona dengan pelan di kursi.


"Terima kasih Kak," ucap Leona tulus.


"Sudah tugasku Sayang. Jangan berterima kasih," sahut Pedho.


Pedho duduk disamping wanita itu. Dia menarik Leona masuk kedalam pelukannya.


"Tidurlah Sayang." Pedho menepuk-nepuk bahu Leona sambil mengusapnya dengan pelan.


"Iya Kak." Leona melingkarkan lengannya dipinggang Pedho.


Luiz menatap adiknya sendu. Tak bisa dia bayangkan bagaimana hidupnya tanpa Leona. Selama ini, Leona lah yang membuat dia bersemangat untuk menjalani hidupnya.


"Son," Abraham menepuk bahu Luiz. "Lakukan apapun untuk adikmu," ucapnya.


Wajah mereka semua sama-sama menunjukkan kesedihan. Apalagi melihat betapa menderitanya Leona menahan sakit yang menyerang bagian tubuhnya. Tak kala Leona meringgis kesakitan saat dadanya terasa sesak dan nafasnya tersendat. Termasuk Andika yang notabene orang luar dan bukan siapa-siapa Leona, ia juga merasakan ketakutan yang sama seperti orang lain.


Yuna bersandar di bahu Andika. Tatapan nya tertuju pada Leona yang dipeluk oleh Pedho dan terlelap nyaman disana. Bayangan Yuna membawa nya mengulang masa-masa yang ia lewati bersama Leona. Mereka berdua bersahabat sejak remaja. Kedua orang tua Yuna merupakan sahabat baik Abraham yang sekarang menetap di Singapura.


Andika melirik Yuna yang bersandar di bahu nya. Wanita ini sama cerewet nya dengan Leona. Meski begitu, Yuna dan Leona adalah wanita-wanita berkelas yang menutupi jati diri mereka lewat kecerewetan yang selalu mereka tampilkan.


"Tidak izin dulu sama punya bahu?" sindir Andika terkekeh.


"Ehh Kak Dhika," Yuna bangkit dari bahu Andika dan cenggesan malu. "Maaf Kak, suka khilaf kalau lihat yang bening-bening," kata Yuna sambil menampilkan rentetan gigi putihnya. "Maaf ya Kak. Bahu Kakak jadi kotor," Yuna menyapu bahu Andika. Sial, ketombe kering dikepala nya malah melekat di jas putih yang Andika pakai.


"Tidak apa-apa bersandarlah," Andika menarik kepala Yuna dan menyandarkan kembali di bahu nya.

__ADS_1


"Kak,"


"Tidak apa-apa," sahut Andika.


"Kak, boleh peluk lengannya. Aku mau tidur," pinta Yuna. Tak lupa senyum genitnya.


Andika terkekeh, lalu mengangguk dan membiarkan Yuna memeluk lengannya sambil bersandar dengan nyaman di bahu dokter tampan tersebut.


Sementara Pedho, mengusap kepala plontos Leona. Beberapa waktu terakhir wanita ini tidak mau lagi memakai rambut palsu. Dia menerima rambut nya yang takkan mungkin tumbuh lagi.


'Ketika ku beranjak tidur. Kadang ku takut tak bangun lagi dan berada di tempat yang asing, sepi sendiri ku kedinginan,' ucap Leona dalam hati. Matanya terpejam erat seolah ia sedang tertidur. Padahal ia sedang menyembunyikan rasa sedihnya.


'Izinkan aku membuatnya bahagia Tuhan. Jangan hilangkan dia dari hidupku, selama nya. Panjangkan umurnya. Sehatkan badannya. Sembuhkan sakitnya. Dia adalah harta paling berharga dalam hidupku. Tolong, kali ini biarkan kami bersama dalam waktu yang lama,' batin Pedho.


Pedho menangis dalam diam sambil meresapi pelukkan hangat yang begitu nyaman. Bukan, Pedho bukan lelaki kuat sepenuhnya. Bukan ia tak rapuh saat ini. Bukan ia tak takut. Semua perasaan negatif malah selalu merasuki jiwanya. Namun, Pedho berusaha kuat karena dia tidak mau membuat Leona semakin sedih. Ia harus menjadi penguat.


Pedho memeluk Leona dengan erat. Lelehan bening di pelupuk matanya tak bisa lagi di ajak kerjasama, dia keluar sesuka hati dan menyakiti perasaan dalam naluri. Bisakah Tuhan mengabulkan permintaan nya? Bisakah Tuhan tetap membiarkan Leona berada didalam pelukkan nya seperti ini? Apakah perlu Pedho membujuk Tuhan untuk tak mengambil Leona dari sisinya? Agar tak mengambil Leona dari hidupnya.


"Kak," lirih Leona.


Air mata Pedho jatuh dipipi Leona sehingga membuat mata nya terbuka.


"Kakak kenapa menangis?" tanya Leona setengah berbisik. Untuk berbicara saja, suaranya sudah hampir tak tembus. Penyakit menyebalkan itu benar-benar menyiksa tubuhnya.


"Saya bahagia memiliki kamu, Leona," sahut Pedho. "Jangan pergi ya. Apapun yang terjadi, bertahan lah," ucap Pedho. Lelaki tersebut menangis tertahan. Apakah Leona tahu, jika saat ini Pedho ingin rasanya meluapkan semua rasa takutnya dengan tangis yang menggema?


Tangan Leona terulur mengusap pipi Pedho. Tangan wanita itu terasa dingin dan pucat ketika menyentuh pipi kekasihnya.


"Aku bahagia punya Kakak. Terima kasih Kak, sudah mau mencintai wanita penyakitan seperti aku," ucap Leona pelan. Suara nya saja seperti tertahan di kerongkongan.

__ADS_1


Pedho mengecup kening wanita itu dengan sayang. Ciuman yang hangat dan terasa menyentrum diseluruh tubuhnya. Tak pernah Pedho secinta ini pada wanita, bahkan Tessa yang dulunya begitu berarti tidak bisa dibandingkan dengan perasaan nya pada Leona.


Bersambung......


__ADS_2