Cinta Setelah Penyesalan

Cinta Setelah Penyesalan
Sekretaris bar-bar


__ADS_3

Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡


"Ya Allah, ini seperti ujian akuntansi saja," keluh Rere.


Rambut gadis itu sudah berantakan akibat digaruk karena memikirkan angka-angka yang tertera disana benar-benar membuat kepala nya pusing luar biasa.


"Aku baru tahu kalau mencari uang itu susah, hiks," keluh Rere menyeka air mata nya yang tidak jatuh sama sekali.


Pedro menyuruh gadis tersebut membuat laporan keuangan untuk bahan meeting nya bersama para direksi. Dia tahu Rere tidak bisa karena gadis itu pasti belum paham. Hanya saja entah kenapa dia suka mengerjai gadis tersebut karena melupakan sarapan pagi nya.


"Apakah sudah selesai?" tanya Pedro berjalan kearah meja Rere.


"Sedikit lagi, Tuan," jawab Rere masih sibuk.


"Bisa tidak?" Pedro menahan tawanya apalagi melihat rambut Rere yang sudah berantakan akibat digaruk.


"Jangan meremehkan, Tuan. Begini-begini saya mahasiswi terbaik dikampus," jawab Rere bangga, ralat mahasiswi pembuat onar terbaik dikampus.


Rere kembali fokus pada berkas ditangannya. Sedangkan Pedro menunggu disamping meja gadis ih sambil sesekali menjelaskan.


Pedro akui jika Rere memiliki kemampuan yang bagus, hanya saja gadis ini lebih banyak bicara daripada bekerja. Pedro pusing karena Rere terus bertanya. Sebelum dijawab gadis itu tidak akan berhenti bertanya. Kadang Pedro merasa salah ambil jalan memilih Rere menjadi sekretaris nya. Namun, hanya gadis ini yang menarik perhatian nya.


"Sudah, Tuan," ucap Rere memberikan hasil laporannya


Pedro memeriksa laporan yang dibuat Rere. Lelaki itu manggut-manggut, walau menyebalkan tetapi dalam hal bekerja Rere bisa diandalkan.


"Oke. Bagus," ucap Pedro menutup berkas laporan nya. "Kamu ikut saya, kita makan siang di rumah orang tua saya," ajak Pedro.


"Saya di ajak, Tuan?" tanya Rere.


"Iya kamu, siapa lagi? Saya tidak kamu mati kelaparan," ketus Pedro kembali duduk di kursi kebesaran nya.


Rere merenggut kesal. Dihati pertama bekerja kedua nya sudah sering berdebat, bagaimana nanti?


Pedro menghela nafas panjang. Sebenarnya dia jenggah kalau sudah pulang kerumah kedua orang tua nya, dirinya pasti akan dikhotbahi. Apalagi Anjani memaksa lelaki itu tinggal bersama mereka. Namun, Pedro menolak dia masih ingin tinggal di rumah yang dia beli untuk Leona, anggap saja mengenang masa-masa indah di mana masih ada Leona disana.


"Kamu bawa tas saya!" suruh Pedro memberikan tas nya yang berisi laptop.


"Iya Tuan," sahut Rere.


Keduanya berjalan keluar dari ruangan Pedro. Rere sebagai pengganti Ben menjadi kaki tangan Pedro. Entahkah Rere bisa diandalkan seperti Ben. Pedro pun tak tahu, dia akan terus mengajari gadis tersebut hingga bisa.

__ADS_1


Mereka masuk kedalam mobil. Pedro duduk dibangku kemudi. Sementara Rere duduk dibangku penumpang.


"Siapa yang suruh kamu duduk dibelakang?" tanya Pedro menatap Rere tajam


"Tidak ada Tuan," jawab Rere polos sambil menggeleng


"Duduk didepan, kamu pikir saya supir kamu?" omel Pedro.


Rere menurut lalu pindah ke depan. Tetapi dalam hati gadis itu sudah menyumpahi Pedro dengan berbagai umpatan. Semua hewan yang ada di kebun binatang disebut satu-satu untuk meluapkan rasa kesalnya.


Rere baru mengerti bahwa mencari uang itu ternyata tidak segampang yang dia pikirkan. Baru hari pertama bekerja saja gadis itu sudah mengeluh.


"Tuan," panggil Rere.


"Kenapa?" ketus Pedro


"Tuan, tidak bosan mengomel terus? Perasaan ini hari pertama saya bekerja, kenapa Tuan marah-marah terus?" tanya Rere sembari menyinggung lelaki disampingnya.


"Itu karena kamu buat saya mengomel. Kamu itu lambat dan lelet seperti kura-kura," sindir Pedro.


"Tapi kura-kura menang lomba lari lawan kelinci, Tuan," sahut Rere.


"Ya siapa tahu jadi cerita kita," ucap Rere mengedipkan matanya jahil.


Pedro mendelik kearah gadis tersebut. Sungguh Rere bukan seleranya. Selain dia tak suka gadis muda, Rere juga bukan tipe nya. Apalagi sifat Rere yang bar-bar dan ceroboh.


Mobil Pedro memasuki kediaman kedua orang tua nya. Dia memang menepi selama ini agar bisa melupakan Leona. Sebab Pedro tak baik-baik saja jika membahas tentang wanita tersebut.


"Tuan, rumah nya besar sekali?" ucap Rere berdecak kagum. Padahal rumah nya tak jauh beda dengan Pedro.


"Jangan kampungan," sindir Pedro turun dari mobil.


Rere merenggut kesal. Seharian ini, boss nya selalu saja marah-marah tidak jelas. Suka menyinggung dan membuat nya jenggah. Tetapi walau begitu Pedro mengajari nya dengan sabar.


Mereka berdua masuk, tampak beberapa pengawal sudah berjejer rapi menyambut kedatangan mereka.


"Selamat datang, Tuan. Nona," sapa mereka.


Pedro tak menjawab, sementara Rere melambaikan tangannya seperti seorang model yang berjalan di karpet merah. Diam-diam Pedro menyembunyikan senyumnya sambil menggeleng kepala. Dia tidak tahu kenapa? Setiap kali melihat wajah sekretaris baru nya itu, emosinya terlihat labil. Suka marah-marah, suka mengomel tidak jelas. Pedro suka melihat Rere kesal.


"Pedro," sapa Anjani.

__ADS_1


"Ma," balas Pedro memberikan pelukan hangat pada ibu nya.


"Kamu apa ka_" ucapan Anjani terpotong saat melihat Rere yang berdiri di belakang Pedro, apalagi gadis itu tersenyum sambil melambaikan tangannya.


"Kamu siapa?" tanya Anjani menyelidik.


"Perkenalkan Nyonya, nama saya Rere. Saya sekretaris baru Tuan Pedro," ucap Rere memperkenalkan diri dan tak lupa mencium punggung tangan Anjani.


"Sekretaris baru?" ulang Anjani melirik Pedro curiga.


Anjani menatap Rere dari ujung kaki sampai ujung rambut, terlihat sekali jika gadis tersebut masih sangat muda. Apakah gadis ini putus sekolah atau bagaimana?


"Usia kamu berapa?" tanya Anjani penasaran.


"19 tahun, Nyonya. Setelah ini 20 tahun," jawabnya cenggesan sambil tersenyum manis.


Anjani kembali terkejut. Benar-benar masih muda jika untuk bekerja di perusahaan Pedro. Biasanya Pedro menerima karyawan diatas umur 25 tahun. Tetapi kenapa sekretaris nya sendiri masih berumur 19 tahun.


"Ben pindah ke Bandung Ma. Jadi dia akan menggantikan Ben," jelas Pedro.


"Oh begitu," ucap Anjani beroh-ria.


"Ya sudah ayo, kita langsung makan. Mama sudah siapkan makanan kesukaan kamu," ajak Anjani malah menggandeng tangan Rere.


Pedro mengangguk. Dia tidak peduli dengan Anjani yang memperlakukan Rere seperti itu.


Sejak perpisahan Pedro dan Leona, Anjani tak lagi berani mencarikan jodoh untuk Pedro. Dia tidak aku kejadian yang sama akan menimpa Pedro. Anjani percaya jika Pedro bisa memilih jodoh nya sendiri.


"Ayo makan," ajak Anjani. "Rere kamu makan saja yang kamu suka ya, jangan malu-malu anggap saja seperti rumah sendiri," ucap Anjani.


"Terima kasih, Nyonya," jawab Rere tersenyum malu. Dia pencinta makanan.


"Siang Tuan," sapa nya juga pada Alexander.


"Siang, Rere," balas Alexander.


Mereka berempat makan. Anjani memang sengaja mengundang Pedro makan siang hari ini. Ada yang ingin dia bicarakan dengan putranya tersebut.


Rere makan dengan lahap, seperti nya gadis itu benar-benar lapar. Bekerja dengan Pedro tak hanya menahan emosi dan mental. Tetapi juga rasa lapar dan dahaga.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2