Cinta Setelah Penyesalan

Cinta Setelah Penyesalan
Poligami Hati


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA BUDIDAYAKAN LIKE DAN VOTE YA GUYS......


Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Ya sudah biar aku antar saja,"tawar Yuna.


"Wahh boleh," senyum Leona. "Kak Pedho, biarkan Yuna saja yang mengantarku pulang. Terima kasih Kak untuk hari ini," ucap Leona pada Pedho dan Andika.


"Iya Na. Kamu hati-hati. Kalau ada apa-apa jangan lupa hubungi," pesan Andika.


Pedho mengantar kedua wanita itu sampai didepan mobil. Sebenarnya Pedho ingin mengantar Leona. Tapi wanita itu menolak karena ia tidak mau salah paham nanti dan malah membuat Pedro berpikiran yang tidak-tidak tentang dia. Meski hubungan pernikahan mereka takkan mungkin bisa diperbaiki lagi.


"Kalian hati-hati," senyum Pedho. "Na jangan lupa minum obatnya ya. Kalau sampai rumah segera hubungi saya," ucap Pedho sambil mengusap kepala Leona dengan lembut.


"Iya Kak terima kasih," entah kenapa sentuhan Pedho terasa hangat dan nyaman dikepala wanita itu. Ia merasa terlindungi saat Pedro mengusap kepalanya.


Yuna menjalankan mobilnya meninggalkan restourant.


"Cieeeee," ledek Yuna.


"Cieee apa?" Leona geleng-geleng kepala sambil tersenyum.


"Seperti nya ada yang kecantol cinta Kakak ipar ini?" goda Yuna sambil ngakak keras.


"Yuna," wajah Leona merona. Kenapa ia bisa salah tingkah. "Jangan aneh-aneh," kilahnya.


"Memangnya kenapa?" ujar Yuna. "Lagian sebentar lagi kamu akan pisah sama Pedro. Lepaskan adiknya, ambil Kakak nya!" seru Yuna.


Leona hanya terkekeh saja. Yuna memang suka menggoda dirinya. Ya walau pun begitu, Yuna adalah sahabat terbaiknya.


Setelah kemoterapi Leona tidak diperbolehkan membawa mobil nya sendiri. Andika takut wanita itu tiba-tiba ngedrop sendiri, bisa bahaya. Saat Pedho menawarkan untuk mencarikan Leona supir pribadi. Namun wanita itu malah menolak tidak mau. Untung Yuna siap siaga mengantar jemput nya.


"Yun, kira-kira aku akan patah hati tidak ya kalau pisah sama Pedro?" ucap Leona meminta pendapat.

__ADS_1


"Itu kamu yang tahu Na. Aku hanya bisa mendukung. Tapi aku yakin kamu bisa lewati ini. Kamu yang kuat," Yuna mengusap bahu Leona.


Leona mengangguk. Benar yang diucapkan Yuna. Hanya dia sendiri yang tahu perasaan nya seperti apa.


Sampai di kediamannya, Leona langsung turun.


"Kamu tidak mau masuk dulu?" tawarnya pada Yuna.


"Tidak Na. Aku buru-buru. Pekerjaanku direstourant masih banyak," tolak Yuna.


"Ya sudah terima kasih cintaku," goda Leona mengedipkan matanya jahil.


Yuna mendelik. "Aku masih suka yang bentuk batangan," ketus Yuna.


Leona ngakak. Dia suka menggoda Yuna dengan ucapan mautnya itu. Sehingga membuat sahabat nya kesal bukan main.


Setelah berpamitan Leona turun dari mobilnya. Tak lupa ia melambaikan tangan bersamaan dengan mobil Yuna yang menjauh dari rumahnya. Leona menatap rumah mewah nya bersama Pedro. Rumah ini milik Pedro yang ia beli untuk hadiah pernikahan mereka. Namun sejak pertama kali rumah ini dibeli sampai sekarang, rasanya masih sama yaitu sunyi seperti tak ada penghuni nya sama sekali.


"Sebentar lagi rumah ini akan terasa asing. Semoga aku mampu melewati semuanya," ia menarik nafas panjang.


"Leona," Pedro menyambut kedatangan istrinya itu sambil tersenyum.


Leona membalas dengan senyum, bagaimana pun ia tidak bisa membenci suaminya ini.


"Hai Pedro," sapanya. "Kamu ka_" suara Leona tertahan ketika melihat Tasya keluar dari punggung Pedro.


Leona terdiam sejenak. Menatap Pedro dan Tasya secara bergantian. Ia pikir sapaan Pedro adalah karena hatinya sudah melembut untuk Leona. Namun nyatanya, lelaki itu hanya menutupi aib nya sendiri.


"Na, maaf ya. Malam ini Tasya menginap disini. Ia belum bisa kembali ke apartemen," jelas Pedro tak enak hati. Apartemen yang di maksud Pedro, adalah milik nya yang ia belikan secara langsung untuk Tasya. Leona tidak mengetahui itu. Karena memang masalah keuangan ia tidak tahu menahu.


"Sore Leona," sapa Tasya melambaikan tangan nya.


Leona berusaha menahan nafas yang terasa tercekat di lehernya. Tangan wanita itu terkepal sangat kuat. Rahangnya mengeras. Wajahnya merah padam. Hati wanita mana yang tidak akan sakit jika sang suami mengajak selingkuhan nya menginap dirumah mereka.

__ADS_1


Pedro tahu jika istrinya itu marah. Ia juga tak mau membawa Tasya menginap di rumahnya. Tapi ia tidak mau menginap di apartemen Tasya karena satu dan lain hal terutama ia ingin melihat wajah Leona untuk waktu yang lama.


"Iya," Leona melewati Pedro begitu saja.


"Na," panggil Pedro menatap punggung istrinya.


Sedangkan Tasya merenggut kesal. Ia curiga jika Pedro menaruh hati pada Leona. Tatapan lelaki itu kini mulai berbeda. Ada tatapan rindu dan damba terhadap Leona. Bisa saja perlahan perasaan Pedro untuk Leona tumbuh dengan sendirinya. Dan Tasya takkan biarkan itu terjadi.


"Kenapa?" tanya Leona tanpa berbalik.


"Kamu kenapa?" tanya balik Pedro. Lelaki ini tak memiliki hati, sudah mengajak selingkuhan nya datang malah bertanya kenapa?


"Tidak apa-apa," jawab Leona melenggang masuk kedalam kamarnya.


Bik Lian yang melihat ketiga orang itu hanya menghela nafas panjang. Ia mengasihani nasib Leona yang memiliki suami seperti Pedro. Pedro memang tak pernah bersyukur memiliki istri sebaik dan secantik Leona. Istri sempurna yang memiliki segalanya. Tak hanya cantik dan baik hati tapi Leona juga kaya raya dan memiliki segalanya.


"Sayang, kenapa?" Tasya memeluk lengan Pedro.


"Tasya, aku antar kamu pulang. Seperti nya kamu tidak bisa menginap disini," ucap Pedro. Ia sungguh tak nyaman melihat tatapan mata Leona.


"Ck, aku tidak mau Pedro. Lagian kenapa? Aku malas di apartemen sendirian. Kecuali kamu mau ikut," cemberut Tasya.


Pedro menghela nafas panjang. Ia selalu tak bisa melawan Tasya. Entahlah, setiap kali apa yang Tasya ucapkan ia menurut begitu. Entah karena cinta atau memang bodoh.


"Ya sudah kamu kembali ke kamarmu, aku mau istirahat," suruh Pedro.


"Tapi_" Tasya merenggut kesal saat Pedro meninggalkan nya begitu saja.


Pedro memang lelaki bajingan tapi ia tidak pernah meniduri Tasya. Meski wanita itu sudah sering mengajak Pedro tidur bersama. Namun tetap saja Pedro menolak. Ia tidak mau merusak Tasya. Ia ingin melakukan itu ketika sudah sah menjadi suaminya.


Tasya menghentakkan kakinya kesal. Lalu menyusul masuk kedalam kamarnya. Kamar tamu yang memang tersedia untuk siapa saja yang menginap dirumah mewah ini.


"Kasihan Nyonya Leona," gumam Bik Lian. "Pasti rasanya sakit sekali," imbuhnya sambil menyeka air matanya. Entah kenapa Bik Lian yang merasakan kepedihan hati Leona. Ia sudah bayangkan bagaimana sakitnya menjadi wanita itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2